REVIEW Pengantin Pengganti

pengantin pengganti

“Yang satu sudah dua puluh dua tahun, yang satu sebentar lagi dua puluh tahun, dan satunya lagi masih SMA. Kalian bertiga mau jadi apa?” (hlm. 14)

“Kalau sampai terjadi apa-apa dengan adik-adikmu, kamu bisa apa?” (hlm. 15)

Kalimat itu sudah beratus-ratus  kali atau mungkin malah ribuan kali ia dengar sepanjang hidupnya. Sebagai anak paling tua di keluarga ekstrasuperketat seperti keluarganya ini, ia harus bertanggung jawab atas ulah kedua adiknya. Aturan ekstraprotektif di keluarganya bisa dibilang akibat kejadian yang menimpa mereka bertiga ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Beatrice teringat ketika ia dan adik-adiknya mengikuti kunjungan ke kebun binatang yang diadakan sekolah. Karena orangtuanya melambung sebagai pengusaha terkenal, mereka menjadi sasaran penculik yang meminta uang tebusan. Seluruh keluarga dalam rombongan panik ketika mengetahui tiga bersaudara Wibisono hilang.

Peculikan itu memberikan efek sangat besar bagi Papa dan Mama mereka. Beatrice untungnya yang saat itu tidak menyadari dirinya diculik, malah merasa ketakutan orangtuanya berlebihan.

Beatrice sendiri sampai sekarang tidak dapat menjelaskan bagaimana ia bisa membawa adik-adiknya lepas dari para penculik –yang kemudian mendekam dalam tahanan- dan malah asyik duduk di warung kopi untuk menyantap makanan tanpa tahu sekian banyak orang yang kelabakan mencari mereka.

“Kenapa orangtuamu sampai memaksa mencarikan suami untukmu?”

“Kamu tidak terpaksa?”

“Aku serius mencari istri.”

“Orangtuaku takut aku salah pilih pacar, dan berakhir dengan laki-laki yang salah. Mereka sangat protektif terhadapku dan kedua adikku. Dan, mengingat aku mulai terjun membantu perusahaan keluarga, mereka benar-benar tidak ingin aku salah langkah.” (hlm. 23-24)

“Aku berencana menunggu tunanganku pulang sekaligus menutupi rasa malu orangtuaku. Kamu berencana menunggu beberapa tahun lagi untuk mencari laki-laki yang tepat sambil berharap orangtuamu tidak mengganggumu dengan segala upaya mengenalkanmu pada laki-laki yang mereka anggap pantas.” (hlm. 28)

Atas dasar itulah Beatrice menyetujui saran orangtuanya untuk dijodohkan agar dia bebas dari sikap protektif mereka. Lain halnya dengan Nico, si dokter muda yang juga menyetujui perjodohan ini dengan alasan untuk menutupi rasa malu keluarganya karena gagal menikah dengan pacarnya yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Masing-masing mempunyai alasan untuk menyetujui melangsungkan pernikahan yang didasari atas perjodohan ini.

“Apa kamu tahu seluk-beluk calon suamimu? Seperti apa dia ketika praktik dengan teman-temannya? Bagaimana kehidupan dia sehari-hari?” (hlm. 45)

Sejujurnya, saya membeli buku ini dengan dua alasan; covernya yang meleleh dan judulnya yang bikin kepincut. Temanya pun menarik, seputar perjodohan. Sayangnya dari awal sampai akhir cerita, saya malah tidak menyukai kedua tokoh utamanya. Beatrice yang cenderung kekanakan, keras kepala, manja dan gampang banget meledak macam petasan. Ya maklum sih, soalnya anak #HorangKayah. Begitu juga dari sosok Nico. Biasanya saya suka ama cowok-cowok tipikal cowok dingin macam kulkas karena bikin penasaran, tapi tidak untuk kali ini. Sosok Nico cenderung dingin, pelit (perhitungan banget, padahal dokter kan banyak uangnya, apalagi dia juga anak orang kaya), dan terlalu mengatur segala sesuatunya. Meskipun kurang puas dengan para tokohnya, saya malah jadi penasaran dengan tulisan Astrid Zeng yang lain dan ternyata udah lumayan banyak!😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Semua akan terjawab dengan sendirinya begitu waktu berlalu. (hlm. 125)
  2. Jangan dipaksakan untuk mengingat-ngingat. (hlm. 150)
  3. Hanya ibu yang tahu mana yang terbaik untuk anaknya. (hlm. 192)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Anak siapa yang dini hari seperti ini baru pulang? (hlm. 12)
  2. Zaman sekarang tidak banyak yang setuju dijodohkan. (hlm. 26)
  3. Bagaimanapun di zaman modern seperti ini perjodohan bukan hal lumrah. (hlm. 27)
  4. Bolos sesekali tidak ada salahnya. Ini semua demi kamu. (hlm. 46)
  5. Jangan main sembarangan masuk. (hlm. 50)
  6. Tidak perlu memamerkan foto seharga puluhan juta rupiah hanya untuk beberapa menit ditayangkan di sela-sela resepsi. (hlm. 65)
  7. Pinjam? Kamu pikir ini pensil? Pakai acara minjam-meminjam. (hlm. 67)
  8. Siapa yang melarang aku mau mandi kapan dan berapa kali? (hlm. 80)
  9. Aku tidak biasa makan dilihat orang yang tidak mau makan. (hlm. 102)
  10. Tawamu sudah membuatku mengerti apa yang kamu rasakan. (hlm. 104)
  11. Gosip apa lagi yang sudah mampir di telinga kalian? (hlm. 137)
  12. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidak baik untuk kamu. (hlm. 190)
  13. Sesekali jangan berpikir yang tidak-tidak. (hlm. 198)
  14. Kamu sekarang kok pintar menghindar? (hlm. 224)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Pengantin Pengganti

Penulis                                 : Astrid Zeng

Editor                                    : Irna Permanasari

Desain sampul                   : Marcel A. W.

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 264 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2583-5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s