REVIEW Cafe Waiting Love

WP_20160331_017[1]

Sejak awal kehidupan, setiap orang sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat. (hlm. 43)

Dari awal cerita, nuansa di kafe sangat terasa sekali. Mulai dari para pekerjanya, orang yang berlalu-lalang datang dan pergi, menu yang disajikan hingga konflik di dalamnya. Banyak sekali tokoh yang dijabarkan dalam buku ini. Begitu juga dengan pengunjungnya. Setiap tokoh memiliki karakter yang kuat dan detail.

LI SIYING. Merupakan seorang pelajar jelas 3 SMA di Putri Hsinchu. Bekerja di cafe yang harum, dia bisa mempelajari berbagai pengetahuan mengenai cara meracik kopi serta aneka rasanya, bekerja bersama Albus yang berwajah dingin, serta belajar dari Nyonya Bos muda yang humoris dan tidak dapat ditebak itu mengenai perenungannya tentang filosofi kehidupan. Itu baru dinamakan kehidupan sepulang sekolah yang sehat dari seorang siswa SMA.

Bagi Siying, bekerja sambilan sepulang sekolah terasa lebih keren dibandingkan harus pergi les. Walaupun ayahnya menentangnya, tapi Siying sudah membicarakannya dengan ibunya. Selama nilai ulangannya tidak mengalami kemunduran, dia boleh bekerja untuk menambah uang jajan dan tidak perlu pergi les.

“Kalau begitu setelah kau pulang dan mandi, banyaklah membaca buku dulu, baru tidur.”

“Seorang Albus yang begitu dingin kenapa bisa lebih memedulikan pelajaran sekolahku dibanding diriku sendiri?” (hlm. 14-15)

Kemampuan menghapal Siying tidak tinggi, jadi Siying mengandalkan mengerjakan soal latihan untuk meningkatkan kemampuan pelajarannya. Uwow…sama banget ama Siying, meski sama-sama anak IPS, lemah soal menghapal tapi gampang mengingat. Jadi, saya bakal mengingat sebuah tulisan yang ada di suatu buku bahkan ingat kalimat di buku apa halaman berapa, tapi susah urusan menghapal yang di luar kepala. Jadi, ketika masih sekolah & kuliah saya mengakali kelemahan ini dengan menuliskan hal-hal yang penting ke dalam buku tulisan yang berbentuk diary. Misalnya saja, dulu suka banget pelajaran Bahasa Indonesia, saya akan merangkum semua hal penting tentang Bahasa Indonesia mulai dari berbagai macam majas, sampai daftar buku apa saja yang masuk daftar Balai Pustaka, Pujangga Lama maupun Pujangga Baru ditulis tangan. Yup, lebih baik tulisan sendiri meski jelek tapi ingat daripada membaca tulisan orang lain meski bagus sekalipun susah ingat, nggak nempel di otak x))

Oya, suka ama selipan perbedaan antara kehidupan SMA vs masa perkuliahan. Ada kalimat bagus di halaman 17 tentang masa kuliah; “Masuk kuliah pastilah suatu proses kehidupan yang seperti sihir, bisa mengubah siswa SMA yang bagaikan zombi seakan bisa terlahir kembali.”

Masa-masa remaja pasti punya gebetan. Seperti halnya Siying ini yang diam-diam menyukai Zeyu yang tiap kali datang ke kafe tempat Siying bekerja. Diam-diam memperhatikan. Diam-diam berharap Zeyu putus dari pacarnya. Demi seseorang yang disukai, nekat memilih universitas yang sama dengan sang gebetan. Aakkk…saya pernah banget ngalamin masa kayak gini juga, saking bingung mau milih jurusan apa saat kuliah, hampir memilih jurusan yang sama dengan kakak kelas. Untungnya hanya ‘hampir’, nggak sampai terjerumus dengan menjebak diri untuk masuk ke sebuah jurusan atau universitas yang bukan kita minati. Dan ternyata saya bisa masuk ke universitas yang lebih tinggi daripada universitas si kakak kelas, wkwkwk… x)) #sombong #dikepruk

Banyak hal-hal menarik dari buku ini meski di awal agak membingungkan mau dibawa kemana jalan ceritanya karena begitu detail menjabarkan para tokoh sampingan. Yang paling menarik tentunya dengan nama-nama menu yang ada di kafe ini. Yang paling ngakak adalah saat Raja Sembarang Pesan –pengunjung kafe yang suka memesan secara random- memesan kopi Luak Sumatra yang memang benar-benar ada, bahkan sangat mahal harganya. Perlu diketahui, kopi itu adalah produk khas Sumatra yang terbentuk dari kotoran binatang bernama luak, yang hanya memakan biji-biji kopi tertentu. Aroma spesifik dari sekresi kelenjar di dalam tubuh luak itu membuat harum coklat yang pekat tercium dari kotoran binatang tersebut. Tapi kini luak semakin langka, sehingga jumlah produksi kotoran mereka sepanjang tahun di seluruh dunia tidak mencapai 45 kg. Omong-omong soal kopi luak Sumatra, di halaman 10-12 ketika Albus yang biasanya dingin iseng ama ulah si Raja Sembarang Pesan, bikin ngakak banget! X))

WP_20160331_016[1]

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ada suatu hal yang bernama Matematika, dan Matematika itu memerlukan konsentrasi penuh. (hlm. 23)
  2. Cinta tidak membicarakan perasaan bersalah. (hlm. 59)
  3. Biasanya, orang yang memiliki penciuman yang luar biasa tajam merupakan seorang jenius yang memiliki kekuatan super. (hlm. 134)
  4. Masa muda lebih penting dari apa pun juga. (hlm. 137)
  5. Takdir memang seperti ini, sangat menarik. Semula kau ingin berkelana ke utara, tapi dia malah membuatmu terbang ke selatan, bahkan berpindah dengan sukarela. (hlm. 191)
  6. Orang yang cermat biasanya pintar. Ditambah sedikit usaha, mengerjakan apa pun pasti akan berhasil. (hlm. 197)
  7. Semuanya sama-sama butuh usaha. Tapi usaha yang dimaksud bukanlah berusaha untuk membuktikan sesuatu pada orang lain. Berusaha itu ya berusaha. Kalau sudah berusaha, tentunya tidak akan ada penyesalan setelahnya. (hlm. 212)
  8. Biarlah semuanya berjalan dengan alami saja. (hlm. 244)
  9. Mulai dari persahabatan lalu bertunas menjadi cinta, barulah akan memiliki dasar yang kokoh. (hlm. 262)
  10. Mungkin hubungan persahabatan juga memerlukan ujian. Hanya hubungan kekeluargaanlah yang memiliki dasar paling kuat. (hlm. 273)

WP_20160331_015[1]

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Ingatan seseorang akan terus bertambah. Semakin lama semakin banyak, semakin rumit. (hlm. 5)
  2. Tak ada seorang pun yang dari awal bisa langsung menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya. (hlm. 6)
  3. Keunggulan yang dimiliki orangtua adalah memiliki uang. (hlm. 11)
  4. Sekelompok cowok yang merasa dirinya ganteng berusaha untuk berteman dengan para cewek. Benar-benar kebanyakan membaca novel. (hlm. 14)
  5. Ternyata di universitas itu ada berbagai jenis orang dan berbagai macam cerita. (hlm. 27)
  6. Tolak saja dia, katakan padanya hal semacam itu sangat tidak dewasa. (hlm. 34)
  7. Masa muda itu begitu indah. Melakukan hal bodoh apa pun tetap akan dianggap pahlawan. (hlm. 75)
  8. Usiamu masih muda tapi sifatmu sudah seperti ibu-ibu. (hlm. 89)
  9. Orang berjiwa busuk bagaimanapun juga akan tetap berjiwa busuk, hanya berpikir untuk mendapatkan sesuatu dengan mudahnya. Sedikit pun tak pantas untuk diberi simpati. (hlm. 90)
  10. Hubungan antarmanusia, benar-benar tidak seharusnya selemah itu. Tapi, hubungan antar kekasih malah seringnya harus putus sampai tuntas dahulu, baru bisa saling membebaskan. (hlm. 91)
  11. Mungkin memiliki sebuah aib bisa mengubah orang jadi seperti seorang pecandu; jika satu hari saja tidak mengalami kejadian yang memalukan maka seluruh tubuhnya akan alergi dan gatal-gatal. (hlm. 103)
  12. Semakin dia sering membeli barang-barang berkualitas bagus, dia semakin menyadari bahwa amatlah sepi rasanya bila tidak punya seseorang untuk menikmatinya bersama. Lagi pula, semua orang di masyarakat ini memerlukan teman, bukan? (hlm. 145)
  13. Mungkin komunikasi antarpria tidak memerlukan kata-kata, cukup mengandalkan hormon dan komik. (hlm. 152)
  14. Seorang pria di dalam hidupnya harus memiliki sebuah luka bekas yang bagus. (hlm. 163)
  15. Mungkinkah kita dapat melihat karakter seseorang dari jenis klub yang diikutinya? (hlm. 169)
  16. Kau harus pura-pura melepaskan untuk bisa menangkapnya lebih erat. Cara ini selalu berhasil setiap kali. (hlm. 201)
  17. Walaupun ujian akhir semester sangat tidak disukai orang, tetapi ada saatnya hal itu selesai juga. (hlm. 271)
  18. Seorang gadis walaupun mati beku, juga tidak akan dengan mudahnya menyerahkan tangan sendiri untuk digandeng oleh seorang pria. (hlm. 274)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cafe Waiting Love

Penulis                                 : Giddens Ko

Penerjemah                       : Julianti

Penyunting                         : Arumdyah Tsasayu

Proofreader                       : Selsa Chintya

Cover designer                 : Bambang ‘Bambang’ Gunawan

Penerbit                              : Haru

Terbit                                    : Januari 2016

Tebal                                     : 404 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7742-70-3

WP_20160331_014[1]

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s