REVIEW Art Paper Love

art paper loveMana ada mahasiswa tampang preman kayak lo! (hlm. 3)

Berhati-hatilah ketika menolong orang lain yang tidak dikenal. Bukan, bukan karena pamrih. Tapi siapa tahu orang yang kita tolong itu malah jatuh cinta kepada kita. Repot bukan?!? #eaa #PukPuk

Begitulah yang dialami Inge. Niat hati ingin menolong seniornya, malah berimbas sang cowok menyukainya. Bahkan langsung menjadikannya pacar tanpa meminta persetujuannya. Eric, nama cowok itu. Gondrong dan galak. Perawakannya mirip preman pasar. Meski begitu, sesungguhnya dia memiliki hati yang baik. Apakah Inge akan terus menerima Eric, sedangkan di satu sisi ada Aga yang nyaris sempurna dan sosok mantu idaman bagi ibunya?

“Kamu boleh benci sama aku, atau lebih dari itu. Silahkan. Aku cuma nggak mau lihat kamu jalan sama cowok lain.” (hlm. 94)

Mahasiswa yang kuliah jurusan seni dan desain, biasanya cenderung eksentrik; tampilan urakan dan rambut gondrong. Jadi terkesan sangar. Padahal belum tentu yang semrawut gini hatinya sangar juga loh. Malah mahasiswa-mahasiwa seni dan desain ini biasanya memiliki otak encer yang nantinya bermasa depan cerah….😀 #PengalamanPunyaMantanAnakSeni

“Tante kira desainer itu cuma menggambar seperti pelukis. Tapi, ternyata prosesnya panjang dan rumit, ya.” (hlm. 67)

Lewat buku ini, terasa sekali nuansa kuliahnya, nggak cuma sekedar tempelan belaka. Maklum, jurusan yang dibahas dalam buku ini sama dengan jurusan yang digeluti oleh penulisnya, yaitu berhubungan dengan desain. Beberapa adegan yang menampilkan nuansa kampus, terutama Jurusan Desain Multimedia:

  1. Inge melihat beberapa benda yang diletakkan di meja bagian depan sebagai objek gambar. Kendi berbahan tanah liat, gelas kaca, botol plastik, dan termos air  stainless steel. (hlm. 33)
  2. Kuliah Nirmana selesai. Kuliah ini mempelajari tentang elemen dasar seni rupa (garis, bentuk, bidang, volume, warna, ukuran, ruang, tekstur) dan prinsip seni rupa (irama, kesatuan, dominasi, keseimbangan, proporsi, pola). Terdiri atas nirmana dua dimensi dan tiga dimensi. (hlm. 37)
  3. Inge juga kaget ketika menemukan fakta bahwa kuliahnya pada tahun pertama ini lebih banyak berkutat pada materi yang berat. Benar-benar di luar bayangannya. Inge pikir kuliah jurusan Desain Multimedia jauh lebih menyenangkan dari ini. (hlm. 45)
  4. “Contohnya gini, sebelum bikin animasi, proses awalnya berupa sketsa yang digambar pake tangan di atas kertas, dan sketsa itu adalah ide spontan yang keluar dari kepala  kita. Nah, gimana bisa menuangkan ide secara visual di atas kertas kalo menggambar aja nggak becus? (hlm. 47)
  5. Kuliah Gambar Sketsa hari ini berlokasi di daerah Pasar Senen, tepatnya perempatan lampu merah yang ramai, padat, dan panas. Para mahasiswa jurusan Desain Multimedia telah tiba di lokasi dan mengambil posisi masing-masing untuk mendapat hasil gambar sketsa terbaik. (hlm. 50)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Berlelah-lelah dahulu, beristirahat kemudian. (hlm. 51)
  2. Suasana hati yang enak biasanya akan lebih mudah untuk diajak berbincang lebih dekat. (hlm. 193)
  3. Kalo kita masih saling menyayangi, kita juga harus belajar saling memaafkan. (hlm. 237)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jadi orang jangan pelit. (hlm. 2)
  2. Kamu nggak perlu capek-capek jemput aku. Nanti kamu capek loh! (hlm. 30)
  3. Buat remaja SMA yang masih labil dan gampang terbakar emosi, siapa yang tahan kalo hampir setiap hari diejek dan diledek sebagai anak narapidana sama teman-teman sekolahku sendiri? Juga dijauhi saudara-saudara? (hlm. 61)
  4. Dengan filsafat maka sebuah masalah bukannya jadi lebih jelas, tapi malah semakin rumit. (hlm. 81)
  5. Laki-laki kan memang begitu. Untuk bersenang-senang, dia akan pacaran dengan cewek manapun. Kalau untuk serius, dia harus selektif. (hlm. 149)
  6. Di dunia ini masih banyak, kok, cowok yang lebih baik dari si dia. Jangan dibawa ribetlah. (hlm. 179)
  7. Cinta itunggak punya logika, atau cinta itu buta, juga kalo cinta itu sanggup menghancurkan atau melembutkan hati paling keras sekalipun. (hlm. 181)
  8.  Harusnya lo bangga punya temen cewek kayak gue. Kagak cengeng. Kagak pernah nyusahin. (hlm. 212)
  9. Nggak usah ikutan jadi orang yang sok suci. Hidup itu cuma sekali. Harus kita nikmatin sepuasnya. (hlm. 213)

Judulnya; Art Paper Love memang merepresentasikan isi novel buku ini yang berceita seputaran dunia kampus desain dengan bumbu-bumbu percintaan di dalamnya. Bukan cinta biasa. Dan bukan cowok biasa. Karena cowok kalem sudah terlalu mainstream, cowok macam Eric inilah bagi yang memasuki masa-masa kuliah bisa dikatakan yang cowok banget; baik hati meski tampang preman!😀

Cover dan bookmarknya sama-sama unyu dan terlihat tipikal anak kuliah jurusan desainyang bawa tas ransel dan buku sketsa/ gambar; ada tokoh Eric yang bagai kingkong dan Inge yang bagai barbie :*

Keterangan Buku:

Judul                                     : Art Paper Love

Penyunting                         : Riesna Kurnia

Ilustrasi sampul                 : Lidia Puspita

Perancang sampul           : Prasajadi

Pemeriksa aksara             : Septi Ws, Rika Amelina

Penata aksara                    : Tri Wahyudi

Ilustrasi naskah                 : Zarki

Penerbit                              : PlotPoint Publishing

Terbit                                    : Maret 2014

Tebal                                     : 238 hlm.

ISBN                                      : 978-602-9481-58-7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s