REVIEW Finally Mr. Right

WP_20160504_004[1]

“Aku tahu kamu nggak sempurna dan hidup kita nggak akan pernah seperti dongeng. Tapi, aku yang tak sempurna ini nggak sanggup hidup tanpa kamu yang nggak sempurna itu. Kurasa hidup kita akan spektakuler.” (hlm. 2)

Ava punya impian tentang pernikahannya. Salah satu impian tersebut adalah mewujudkan pernikahan secara tematik bersama dua sahabatnya; Cindy dan Disti. Ketika dua sahabatnya itu sudah merencanakan secara matang pernikhan mereka di tahun depan, Ava masih kelabakan mencari pasangan impian. Bahkan dia memiliki semacam scraftbook yang isinya berisi seputaran pernikahan yang diimpikannya itu, terutama sederet gagasan tentang hubungan sepasang kekasih ideal. Scraftbook ini semacam panduan mencari jodoh atau menyusun wedding organizernya sejak kelas 2 SMP.

“Jangan salah sangka, Va. Kita ini sayang sama lo. Kita nggak mau lo lihat lo menaruh harapan muluk-muluk pada orang yang bahkan nggak lo kenal secara realistis. Kita udah males lihat lo kepincut sama cowok yang mirip si anu atau profesinya sama kayak si itu.” (hlm. 28)

“Kamu butuh laki-laki tulen, bukan laki-laki yang kelihatannya aja loncat keluar dari novel roman.” (hlm. 243)

Cindy dan Disti sampai lelah dan angkat tangan soal selera dan kriteria pria idaman Ava. Dalam pencarian pasangan, Ava mematok standar yang tinggi bahkan muluk. Misalnya saat pacaran dengan Hans hanya karena merasa Hans mirip Ringo Star yang sama-sama sebagai drumer.  Ava tahu, jika Hans bukan Ringo Star. Namun dia sulit memungkiri jika Ava selalu memberi perhatian lebih pada drummer secara otomatis.

Begitu juga saat berpacaran dengan Didit yang mirip Matt Damon. Di scraftbooknya itu, juga berisi kumpulan profil selebritas para pria idolanya. Jadi ketika mencari pasangan, patokan Ava adalah seleb-seleb idolanya itu.

Membaca kisah Ava seperti berkaca pada diri sendiri. Saya memang nggak seperti Ava yang punya banyak patokan dan standar dalam mencari pasangan, saya lebih susah mencari yang klik dan nyambung. Karena berapa kali berkenalan dengan pria berbagai profesi sampai sekarang belum ada yang klik. Apalah arti tamvaan dan mapan tapi kalo ngobrol nggak nyambung x))

Ehem, ada adegan di perpustakaan di halaman 16; Aku dan Didit duduk berkenalan di perpustakaan universitas setelah selama beberapa hari dalam seminggu duduk di meja yang sama. Agaknya kami harus berterima kasih kepada dosen-dosen yang memberi tugas dengan materi sulit. Dan, terima kasih pada kebiasaan suka menundaku.

“Ganti pola hidupmulah, sesekali, kalau itu masalahnya. Ganti pola pikir jika perlu. Menjadi unik dan menonjol itu tidak melulu lewat desain atau produk baru.” (hlm. 41)

Selain membahas masalah pencarian jodoh, lewat karakter tokoh Ava yang merepresentasikan hidup menjadi enterpreneur. Ada banyak keuntungan ketika kita bekerja untuk sendiri. Tanpa adanya intimidasi dari atasan. Bebas dari hiruk pikuk macet. Bisa bangun siang. Bebas menuangkan ide yang ada dipikiran kita tanpa terkena batasan pimpinan.

Pesan moral dari buku ini adalah kita nggak pernah tahu siapa jodoh kita. Mau sekuat apa pun atau sejauh apa pun kita pun kita melangkah, kadang tanpa disadari si jodoh nggak jauh-jauh dari kehidupan kita. #eaaa

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kesuksesan memang hutuh keberanian dan optimisme. (hlm. 8)
  2. Kalau kamu ingin sukses, kamu harus fokus. Dan untuk itu, kadang-kadang kamu harus menginvestasikan seluruh waktumu. (hlm. 44)
  3. Ada lho cinta yang layak diperjuangkan apa pun taruhannya. (hlm. 60)
  4. Jalan pikiran tiap orang kan beda. (hlm. 111)
  5. Tiap orang punya prinsip dan idealisme masing-masing. (hlm. 190)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Memang susah ya bersahabat dengan mantan. (hlm. 11)
  2. Penting nggak sih bersahabat dengan pacar? (hlm. 12)
  3. Tentu saja tidak ada proses putus cinta yang menyenangkan. (hlm. 17)
  4. Manusia tidak luput dari kesalahan. (hlm. 17)
  5. Agaknya tiap orang punya rentang batas yang berbeda-beda dalam menentukan bentuk perhatian yang ingin mereka terima. (hlm. 33)
  6. Kalau memang nggak mau cerita ya nggak apa, itu hakmu. (hlm. 38)
  7. Cinta kan layak diperjuangkan juga meskipun taruhannya bisnis gagal atau duit hilang. (hlm. 59)
  8. Tidak semua orang bisa kita pegang kata-katanya, bahkan orang yang sudah kita kenal lama sekalipun. (hlm. 61)
  9. Kadang-kadang –karena nggak mau kecewa- begitu kamu menaruh harapan pada seseorang, kamu lantas mengesampingkan apa yang sebenarnya kamu butuhkan. (hlm. 91)
  10. Kalau nggak berani maju, kapan bisa suksesnya ya? (hlm. 104)
  11. Piknik ke mana pun, dengan bujet seberapa pun, tak menjadi masalah. (hlm. 106)
  12. Kamu kan bisa berteman baik dulu, nggak perlu buru-buru jadi pacar. (hlm. 109)
  13. Kamu terlalu banyak berpikir, terlalu berencana. (hlm. 123)
  14. Kita kan masih usia dua puluhan. Ngapain buru-buru mikir nikah dan masa depan? (hlm. 133)
  15. Anak dua puluhan macam kamu begini yang bikin negara nggak maju-maju. Udah nggak zamannya usia muda untuk jadi alasan untuk hidup santai sesuai perencanaan. (hlm. 134)

 

Keterangan Buku:

Judul                                     : Finally Mr. Right

Penulis                                 : Shita Hapsari

Penyunting                         : Fitria Sis Nariswari

Perancang sampul           : Titin Apri Liastuti & labusiam

Pemeriksa aksara             : Intan Puspa

Penata aksara                    : Martin Buzcer

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 322 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-116-6

6 thoughts on “REVIEW Finally Mr. Right

  1. Wahhh aku ngerasa kesentil banget pas baca kalimat “Kamu butuh laki-laki tulen, bukan laki-laki yang kelihatannya aja loncat keluar dari novel roman.” Temen aku sering banget ngomong beginian. Katanya, aku sering pacaran sama tokoh novel. Wkwkwk

    Menarik syekali novelnyaaaaaaa. Penasaran itu Ava akhirnya nemu cowok tulen beneran gak ya? Heheu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s