REVIEW Deesert

WP_20160511_007[1]

Move on dengan balik ke kota asal sama kayak ngaku move on, tapi balikan sama mantan. (hlm. 6)

KINARA GAYATRI ADIHARJA. Dia memang sudah bosan dan lelah dengan semua aktivitasnya selama ini. Sebagai presenter acara kuliner, menyenangkan baginya bisa mencicipi banyak makanan dari berbagai daerah, sesuai hobinya. Namun, lama-kelamaan semua itu sudah tidak menarik lagi. Sudah lama hatinya ingin berhenti, tetapi terus dipaksa. Kali ini, Naya tidak mau memaksakan diri lagi.

Tidak munafik, begitu mendengar kabar kalau rating acara yang dibawakannya ini terus turun, ada bagian dirinya yang merasa sangat kecewa. Entah apa yang salah. Timnya sudah sering membuat perubahan demi memancing penonton, yang awalnya dia hanya membawakan acara sendirian, terkadang juga mengundang bintang tamu dari kalangan selebritas.

Seperti yang seharusnya dilakukan orang patah hati, satu-satunya jalan untuk sembuh adalah move on. Itu yang sedang dia coba lakukan. Menyusun lagi hidup dari awal memang terdengar sedikit menakutkan. Setidaknya, berada di sana dan kembali ke tengah keluarga setelah semua keruwetan yang dilihatnya di Jakarta akan lebih menenangkan, daripada dia tetap berada sendirian di sini dan tidak melakukan apa-apa.

Kelihatan banget masih patah hatinya. Udah berapa tahun sih ditinggal? (hlm. 12)

Mungkin terdengar bodoh kalau orang lain tahu alasan perubahannya itu karena satu laki-laki. Tetapi, bagi Naya, Dewa tidak pernah hanya menjadi laki-laki biasa. Dewa selalu lebih dari itu. Sayangnya, perasaan itu tidak terbalas.

Rasa sakit yang sama masih sering terasa setiap kali dia mengingat kenangan buruk itu. Hal yang membuatnya tidak pernah percaya penuh kepada laki-laki. Setelah dengan Dewa, Naya mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki lain, tetapi tidak ada yang berjalan dengan baik. Kalau Dewa yang selalu diyakininya sebagai malaikat baik hati saja bisa menyakitinya begitu dalam, apalagi laki-laki lain?

Waktu yang berlalu, tidak berpengaruh banyak. Enam tahun berselang, frasa sakitnya tidak berubah. Karena itulah, Naya memilih menghindari topik tentang Dewa. Daripada membahas Dewa, yang pasti akan membuat luka hatinya terbuka lagi, lebih baik dia menghindar.

Meskipun sebelumnya banyak laki-laki yang menjadi pacarnya, Dewa tetap adalah cinta pertamanya. Dia tidak akan mengelak, meskipun hal itu berakhir buruk. Dia hanya perlu mengabaikan perasaannya lagi, menganggap semua hal yang terjadi dengan laki-laki itu pada masa lalu hanya ilusi. Tidak pernah menjadi kenyataan.

Laki-laki itu boleh saja membuatnya patah hati, tapi Naya tidak akan pernah mengizinkan siapa pun menghancurkan hidupnya. Termasuk Dewa.

Laki-laki tetap saja laki-laki. Isi kepala dan logika mereka sama saja. Ujung-ujungnya mereka tetap bisa memutuskan pergi tanpa merasa repot memberikan penjelasan. Benar-benar menyebalkan. (hlm. 57)

Bagaimana rasanya bertemu dengan mantan? Itulah yang dialami Naya dalam novel ini. Permasalahannya lagi adalah Dewa, adik kelasnya semasa sekolah yang juga sekaligus mantannya itu ternyata sama-sama balik ke Palembang. Jika dirinya balik dari Jakarta dan berhenti jadi presenter acara kuliner, sementara Dewa balik dari Australia dan sudah bermetamorfosis menjadi chef pastry lumayan ternama di negara tersebut ketika masa kontraknya habis malah justru pulang kampung dan ingin mendirikan cake & bakery idamannya. Intensitas pertemuan mereka semakin deras karena Naya bekerjasama dengan Lulu untuk mendirikan sebuah kafe dan Dewa untuk sementara waktu menjadi chef pastry di kafe tersebut sambil menunggu cake & bakerynya selesai dibangun.

Masalah semakin rumit ketika Naya dan Dewa masing-masing memiliki (mantan) kekasih yang sama-sama masih mengejar cinta mereka. Apakah mereka bersatu atau kembali ke (mantan) kekasih masing-masing?

Nuansa Palembangnya cukup kental, ada beberapa kali selipan martabak har. Duh, jadi pengen martabak itu yang ngehits banget di Palembang. Dulu pernah nyoba sekali pas diajakin saudara ke Palembang mampir ke sana. Kira-kira ini penampakannya hasil googling.

martabak har

Kemudian ada juga selipan mie celor:

Mie_Celor

Ehem, mau juga donk dibuatin Pumpkin Sponge Cake ama Dewa:

pumkin sponge cake

Selain membahas kisah percintaan dengan mantan adalah adanya selipan pengetahuan seputaran berbisnis kuliner khususnya berkonsep kafe. Misalnya bagaimana susahnya mencari karyawan yang murah senyum, susahnya juga menjadi chef pastry yang idenya sejalan dengan konsep kafe, termasuk arti pentingnya sebuah kafe memiliki media sosial yang merupakan tips promosi paling cepat, mudah, efisien dan menjangkau terutama lapisan remaja.

Oya, sebenarnya dari beberapa tokoh yang ditampilkan yang menjadi pilihan favorit justru Damar, kakak satu-satunya yang dimiliki Naya. Sebagai pengganti peran ayah, Damar sangat bertanggung jawab sekali untuk kehidupan Naya dan ibunya. Terlihat sekali Damar sebagai kakak yang menyayangi ibunya dan juga sangat melindungi Naya. Adegan paling favorit yang ada Damar ada di halaman 131 dan 224.

Abis baca buku ini jadi mikir, mungkin hikmah dari pulang kampung ini siapa tahu nanti dapat jodoh yang nggak jauh-jauh daerah sendiri macam Naya😀 #eaaa #ngarep

Beberapa selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Cari kerja kan nggak gampang. (hlm. 6)
  2. Nggak usah bahas orang yang udah nggak ada juga. Nggak penting! (hlm. 12)
  3. Kamu tuh jangan kelamaan jomblo. Keburu expired ntar. (hlm. 13)
  4. Dua kali diselingkuhi seharusnya cukup buat kamu intropeksi diri. (hlm. 30)
  5. Emang ada gitu yang masih pakai kata ‘kece’? emangnya kata itu kayak mie instan, ada kadaluwarsa dan nggak bisa dipakai lagi? (hlm. 37)
  6. Cinta monyet zaman SMA. Nggak usah dianggap serius. (hlm. 40)
  7. Cinta yang semu pasti akan segera berlalu dan terlupakan. (hlm. 44)
  8. Senyum karena kewajiban sama senyum dari hati tuh rasanya beda. (hlm. 47)
  9. Udah putus, tetep ye kompak. (hlm. 51)
  10. Cowok gitu aja, galaunya lama banget. (hlm. 83)
  11. Percuma kerja terus, tapi nggak ada tujuan. Mending nikah, nabung buat anak nanti. (hlm. 131)
  12. Doyan banget sih lari dari cewek pas lagi ada masalah. (hlm. 151)
  13. Kamu ya, gitu banget. Ada gosip bangus nggak cerita-cerita. (hlm. 159)
  14. Sama mantan kamu nggak perlu setia deh. (hlm. 169)
  15. Kamu nggak bisa ngarepin dia paham gitu aja. Kalian itu udah jauhan, harusnya jangan macet komunikasi. (hlm. 243)

Kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Niat nikah bakal dateng seiring ketemunya calon yang tepat. (hlm. 84)
  2. Nanti juga dapat kalau udah rezekinya. (hlm. 193)
  3. Satu hubungan itu harus berjalan dua arah. Nggak bisa cuma kamu, atau cuma dia. Harus dua-duanya. (hlm. 243)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Deesert

Penulis                                                 : Elsa Puspita

Penyunting                                         : Dila Maretihaqsari

Perancang sampul                           : Nocturvis

Pemeriksa aksara                             : Septi Ws & Kiki Riskita

Penata aksara                                    : Nuruzzaman

Penerbit                                              : Bentang

Terbit                                                    : 2016

Tebal                                                     : 318 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-291-121-0

2 thoughts on “REVIEW Deesert

  1. Kalo aku tokoh favoritenya Dewa dong hihihi mau banget punya cowok kayak Dewa😄 Sama nih mbak pengen banget dibuatin pumpkin sponge cake ny si Dewa. Ohya plus snack bumbu dapurnya hehehe :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s