REVIEW You Had Me at “Hello”

WP_20160507_001[1]

Sudah bukan zamannya menikah dengan cara dijodohkan. (hlm. 60)

INANA dan ZORA adalah kembar identik. Kadang Ina tidak yakin kalau mereka memang benar-benar kembar identik. Kian dewasa, ada makin banyak terbentang perbedaan di antara keduanya. Minat dan kesukaan mereka tidak selalu sama. Selain ketertarikan berbeda soal fashion, mereka juga berbeda pendapat seputar dunia memasaka. Ina menguasai keterampilan memasak lauk pauk, Zora lebih bisa diandalkan untuk urusan kue kering.

Persamaan mereka adalah umur hampir dua puluh tiga tapi mash belum lulus kuliah. Dimulai dengan aksi belanja gila-gilaan yang angkanya bisa membuat penderita sakit jantung langsung mendapat serangan. Malamnya mereka berdua menghadiri pesta di sebuah klub trendi yang baru dibuka, Phoebe. Meski si kembar tidak suka mencicipi minuman beralkohol, mereka tetap rajin menyambangi tempat seperti itu bersama dua sahabat mereka, yaitu Milly dan Uci.

“Kamu sudah dewasa, Pa. Kenapa harus dijodohkan?”

“Papa sudah menemukan orang yang tepat untuk kalian. Laki-laki dari keluarga baik-baik yang pasti bisa membimbing kalian supaya tidak separah ini. Papa akui, papa salah mendidik kalian. Papa memberikan segalanya karena ingin kalian bahagia. Papa memberikan segalanya karena ingin kalian bahagia. Tapi ternyata, papa malah menciptakan dua anak nakal yang…mengecewakan.” (hlm. 6)

“Dijodohkan? Kita sebenarnya hidup di zaman apa, sih? Dan papa kok tega…”

“Kita hidup di zaman yang salah. Aku sih tahu kalau kita memang salah. Sangat salah. Tapi kok papa menghukum kita separah ini, ya? Terlalu berlebihan.”

“Dijodohkan? Ya ampun! Kecuali papa bisa menemukan cowok sekeren Jason Godfrey atau yang memiliki mata seindah Josh Lucas. Tapi aku sungguh tidak yakin. Paling banter papa merekomendasikan cowok bertampang Hugh Laurie.” (hlm. 8)

Kemarahan papa mereka memasuki masa puncak. Sudah angkat tangan dengan kedua anak gadisnya ini. Bagi papa, menjodohkan mereka adalah salah satu jalan keluar paling gampang untuk mengubah hidup mereka yang hedon. Ya, selama ini Ina dan Zora hidup sangat berkecukupan bahkan bergelimang harta sampai mereka lupa menyelesaikan kuliah yang merupakan tanggung jawab mereka tidak hanya untuk masa depan mereka tapi juga pertanggungjawaban sebagai anak ke orangtua yang telah membesarkan mereka selama ini.

“Selama ini, papa selalu menuruti semua keinginan kalian. Dua puluh tiga tahun itu bukan waktu pendek, kan? Bahkan papa tidak akan meminta ini kalau kalian tidak membuat ulah. Papa ingin membuat kalian mengerti kalau tiap perbuatan itu ada konsekuensinya, entah itu perbuatan baik atau buruk.” (hlm. 23)

“Kali ini papa serius. Kecuali kalian memang punya pilihan sendiri yang memenuhi syarat, kamu dan Zora lebih baik segera menikah. Silahkan bikin pusing suami-suami kalian. Papa capek.” (hlm. 63)

PicsArt_14_05_2016_21_27_14[1] Ina dan Zora adalah representasi remaja zaman sekarang. Selalu hidup senang karena ada orangtua yang selalu membanjiri dengan materi. Hingga akhirnya orangtua mereka menyesali jika selama ini keliru dalam mendidik mereka. Ina dan Zora sebenarnya juga menyadari kelakuan yang telah mereka perbuat selama ini, tapi jika sampai papa menjodohkan untuk menebus kesalahan yang mereka perbuat selama ini, jelas mereka menolak mentah-mentah. Hari gini dijodohkan? Apa kata dunia?!? #TossAmaInaDanZora

Masalah satu belum selesai, timbul masalah yang lain. Ina yang agak ceroboh dan gegabah ini kembali membuat masalah, menabrak seseorang. Untuk menebus kesalahannya, dia harus mau menikah dengan orang yang ditabraknya itu.

Belum selesai permasalahan perjodohan dengan Martin yang dilakukan oleh orangtuanya, kini malah dipaksa menikah dengan Alistair yang ditabraknya. Ini namanya sial pangkat dua bagi Ina x)) #PukPukIna

“Kenapa saya? Rasanya bapak dan ibu pasti punya banyak mengenal perempuan lain yang bersedia menikah dengan Alistair secara sukarela. Kita bahkan tidak saling kenal..”

“Tadi kan saya sudah bilang, salah satu alasan paling kuat adalah karena kami mengenal ayah dan ibumu dengan cukup baik. Itu poin yang bagus. Jangan salah sangka, ini tidak ada hubungannya dengan uang. Keluarga Damanik tidak membutuhkan tambahan harta. Kami cuma membutuhkan seorang menantu dan istri untuk Alistair.” (hlm. 61)

Jawaban sederhana itu agak telak meninju perasaan Ina. Dia tidak tahu apakah alasan itu bisa dinilai cukup kuat. Namun setidaknya dia sedikit terhibur karena siapa orangtuanya dijadikan dasar pertimbangan.

Ina membenci hubunan yang berawal dari perjodohan. Baginya, itu jenis hubungan basi yang sudah benar-benar tidak cocok lagi di zaman ini. Martin saja yang direkomendasikan Navid, papanya ditolaknya mentah-mentah, apalagi Alistair yang sama sekali tidak dikenalnya. Meski dari segi fisik Alistair memang menawan. Walaupun Binar, ayah Alistair mengaku berteman baik dengan Navid, Ina tidak tertarik untuk mengonfrontasi hal itu pada papanya.

Karena berada diantara dua pilihan yang cukup sulit, daripada menerima perjodohan dengan Martin, Ina lebih memilih menikah dengan Alistair. Ini bukan spoiler. Justru kisah dalam novel ini dimulai. Kisah antara Ina dan Alistair yang menikah tidak diawali dengan dasar cinta. Mampukah bertahan?

“Aku tahu, kita tidak menikah karena cinta. Tapi aku janji Ina, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatmu bahagia. Aku ingin pernikahan ini berhasil. Jangan kira kalau semua yang diawali dengan cinta bergelora itu akan bahagia selamanya. Cinta juga bisa habis. Kita bisa belajar untuk saling mencintai. Oke, pasti memang tidak mudah. Tapi tidak mustahil. Aku akan berusaha sungguh-sungguh.” (hlm. 122)

“Kalau ingin pernikahan kita berhasil, kita harus berusaha lebih keras dibanding pasangan lain. Mereka punya cinta, kita sebaliknya. Kita juga tidak boleh saling menyimpan rahasia.” (hlm. 123)

Memang tidak mudah menikah dengan bukan cinta yang menjadi pondasi sebuah hubungan. Apalagi menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenal. Dalam kenyataan hidup, ada yang meniti rumah tangga berakhir bahagia karena saling pengertian satu sama lain, tapi banyak juga yang kandas karena kuatnya pertahanan sebuah hubungan. Jalan manakah yang akan dipilih Ina dan Alistair dalam novel ini?

Pesan moral dalam buku ini tentang masalah untuk orang-orang yang terlanjur menyerahkan hatinya dengan total sekaligus tidak punya akal sehat. Dalam sebuah hubungan, tidak hanya dibutuhkan soal cinta semata, tapi juga komitmen dan pengertian terhadap pasangan. Karena itu adalah kunci menuju rumah tangga yang bahagia.

PicsArt_14_05_2016_21_24_22[1]Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Susah memang bicara dengan orang yang buta sama dunia hiburan! (hlm. 8)
  2. Menikah bukan cuma karena dia punya pekerjaan yang diidamkan para mertua. (hlm. 21)
  3. Kalau mau menenangkan perang dengan senjata seadanya, butuh taktik. Bukan langsung melabrak dan ngomel. (hlm. 25)
  4. Apa anak muda sekarang tidak lagi bersalaman saat memperkenalkan diri? (hlm. 34)
  5. Kalau kamu begitu mudah ditipu, apa itu salahku? (hlm. 119)
  6. Apakah sesama karyawan tidak boleh terlibat asmara? (hlm. 139)
  7. Cinta memang buta. (hlm. 140)
  8. Hidup manusia memang aneh ya. (hlm. 153)
  9. Bukan salahku kalau dia tidak bisa melupakanku. Tapi bukan berarti hidupku tidak boleh berlanjut, kan? (hlm. 164)
  10. Kenapa semua perjalanan yang melibatkan orang yang baru menikah selalu dilihat sebagai bulan madu? (hlm. 182)
  11. Dengarkan nasihat orang yang sedang kasmaran. Jangan pernah main-main dengan hatimu. (hlm. 223)
  12. Apa begini caramu menyelesaikan masalah rumah tangga? Tiap kali bertengkar langsung minggat? (hlm. 262)

Keterangan Buku:

Judul                                     : You Had Me at “Hello”

Editor                                    : Afrianty P. Pardede

Penerbit                              : PT Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 354 hlm.

ISBN                                      : 978-602-02-7005-0

PicsArt_14_05_2016_21_23_08[1]

6 thoughts on “REVIEW You Had Me at “Hello”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s