REVIEW Purple Eyes

PicsArt_20_05_2016_8_42_01[1]“Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian.” (hlm. 124)

SOLVEIG. Aslinya bernama Lyre. Dulunya dia adalah gadis Inggris berumur 24 tahun dengan wajah aristokratis, mata coklat indah, dan rambut coklat menyentuh leher. Alih-alih membiarkan Lyre beristirahat dengan tenang, Hades menyuruh gadis itu untuk menjadi asistennya. Lyre menggantikan gadis sebelumnya, yang kontraknya sudah habis.

Lyre sadar dia tidak akan bisa menolak perintah Hades, meski dia sendiri tidak tahu mengapa Hades memilihnya. Dia hanya tahu bahwa dirinya harus membantu Hades, salah satunya adalah mengarsip data orang-orang yang sudah mati.

Setelah 120 tahun setelah kematian Lyre, Hades punya tugas baru untuknya; menemani dewa itu pergi ke bumi untuk sebuah urusan. Lyre menurut padanya, seperti yang seharusnya. Lyre pikir urusan itu akan berjalan lancar, tenang, dan baik-baik saja seperti misi-misi yang dulu dijalani Hades seorang diri.

Rupanya Lyre salah. Urusan itu sedikit terhambat, membuat Hades uring-uringan, kesal, dan luar biasa jengkel. Karena selagi menjalankan misi tersebut, Lyre jatuh cinta kepada manusia. Kendalanya jelas sekali. Pemuda itu masih hidup, dan dia sudah mati. Itu masalah utamanya.

“Kesedihannya sudah melampaui batas air mata. Yang kau lihat itu hanyalah puncak gunung es. Di hati Ivarr Amundsen, ada emosi yang luar biasa besar. Tugasmu adalah memancing emosi itu keluar.” (hlm. 40)

IVARR AMUNDSEN adalah pemuda itu. Dia tidak mungkin merasakan apa-apa. Pemuda yang sudah mati rasa itu tidak akan kesepian meskipun seluruh keluarganya sudah meninggalkannya. Betapa berat beban yang harus ditanggung pemuda itu.

Barangkali Ivarr memilih untuk tidak merasakan apa-apa. Karena terkadang, tidak mersakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi. Orangtua yang sudah tiada, adik yang meninggal karena dibunuh, penyakit mematikan yang dideritanya. Penderitaan yang lengkap.

Lewat sosok Ivarr, kita bisa merasakan betapa pedihnya kehilangan orang yang dicintai. Dalam kasus Ivarr, dia kehilangan adiknya, Nikolai yang meninggal dengan cara yang mengejutkan. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan Ivarr. Terkadang karena terlalu sedih atau sakit menahan kesedihan biasanya seseorang jadi mati rasa, tidak bisa menangis tersedu-sedu, bahkan sering disebut hatinya dingin sebeku bongkahan gunung es.

Novel ini memang suram, tapi suka dengan penjabaran yang ditulis. Selalu suka dengan tulisan dari Kak Prisca ini adalah selalu menyelipkan sejarah, mitologi, maupun sastra yang merupakan bidang yang disukainya.

Terlihat sekali penulisnya kaya pengetahuan akan dunia buku maupun sastra. Misal di halaman 18 disebutkan jika nama Solveig diambil dari salah satu tokoh dalam drama Peer Gynt yang merupakan karya Henrik Ibsen. Di halaman 91 ada selipan buku Andersen’s Fairy Tales yang dibaca Solveig diambil dari rak buku milik Ivarr. Dan juga di halaman 102 tentang sebuah puisi yang berjudul Purple Eyes yang juga merupakan judul novel ini. Yang paling bikin senyam-senyum adalah di halaman 71 ketika Ivarr menjelaskan siapa itu Harry Potter kepada Solveig yang tidak tahu-menahu novel bersetting dunia sihir yang fenomenal itu x))

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tidak ada yang tahu kapan kematian datang. (hlm. 77)
  2. Orang-orang yang tidak sempat mendapat pasangan di dunia ketika masih hidup, akan bertemu pasangannya di alam lain setelah mati. (hlm. 82)
  3. Semua orang pasti mati. (hlm. 85)
  4. Terkadang, ada sesuatu yang perlu dikorbankan. Demi tujuan yang lebih baik. (hlm. 86)
  5. Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati. (hlm. 123)
  6. Tidak semua orang menganggap menikah dan yang lain-lainnya itu kebahagiaan. Tidak ada alasan khusus; itu hanyalah masalah pilihan. (hlm. 125)
  7. Di negara mana pun, alasan yang berhubungan dengan cinta sepertinya merupakan sesuatu yang paling menyentuh hati. (hlm. 132)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Sebagian besar pria tidak akan kuasa menolak permintaan seorang gadis. (hlm. 27)
  2. Tapi ini dunia manusia. Pembunuh itu harus mati dengan cara manusia. (hlm. 31)
  3. Kalau kau tidak suka, jangan memberi harapan. Kau sama saja menyakiti mereka. (hlm. 34)
  4. Jangan jatuh cinta padanya. Sebaliknya, buat dia jatuh cinta padamu. (hlm. 42)
  5. Orang menangis karena kehilangan itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih. (hlm. 50)
  6. Orang terkadang melihat hal-hal yang janggal di pemakaman. (hlm. 56)
  7. Jangan membuang-buang waktu menemui pemuda itu hanya untuk meminjam buku. (hlm. 72)
  8. Anak muda zaman sekarang masih percaya takhayul? (hlm. 79)
  9. Tapi sering kali, lebih baik merasa sakit, daripada tidak merasa sama sekali. (hlm. 95)
  10. Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih. (hlm. 117)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Purple Eyes

Penulis                                                 : Prisca Primasari

Penyunting                                         : Creberus404

Proofreader                                       : Seplia

Design cover                                      : Chyntia Yanetha

Penerbit                                              : Inari

Terbit                                                    : Mei 2016

Tebal                                                     : 142 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-74322-0-8

PicsArt_18_05_2016_8_16_42[1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s