REVIEW To Be With You

PicsArt_16_05_2016_8_49_25[1]“Memang, tidak akan mudah melupakan orang yang pernah menjadi pacarmu selama bertahun-tahun. Tapi dia sudah memilih jalan lain yang sama sekali tidak melibatkanmu. Terima itu.” (hlm. 157)

Ludmilla selalu membayangkan kisah indah yang akan selalu membingkai hidupnya dengan Hardy. Tidak pernah sekali pun khayalannya meliuk liar dan dengan lancang mengandaikan ada kepahitan yang akan merintangi jalan keduanya. Tapi ternyata kenyataan bahkan jauh lebih pahit dibanding semua pil paling getir yang ada di dunia.

Siapa yang mampu membayangkan kalau kekasihnya menikahi gadis lain karena harus membayar utang pada perusahaan? Milla tahu kalau ada banyak lelaki di luar sana yang menikah karena harta. Namun sudah pasti bukan Hardy-nya. Itu yang diyakininya selama ini. Sayang, kenyataan berkata lain. Apakah selama ini Milla terlalu tinggi menilai kekasihnya?

WP_20160504_065[1]Patah hati itu ternyata menyakitkan. Jauh lebih parah dibanding itu, sebenarnya. Mirip hewan berbisa yang sengatannya meracuni hidup seseorang entah sampai kapan. Milla bahkan tidak yakin akan bisa pulih dari rasa nyeri yang dideritanya.

Patah hati juga membuat korbannya ingin mati, tidak lagi bergairah menghadapi dunia yang gempita ini. Tapi, tentu saja Milla tidak berniat untuk mengakhiri hidupnya. Dia justru mulai menyusun rencana untuk merebut kembali kekasihnya. Meski gadis itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia sama sekali tidak punya ide bagaimana merengkuh kembali Hardy dalam pelukannya.

Dia takkan sudi melepaskan Hardy begitu saja tanpa berjuang. Karena jauh di kedalaman benaknya, Milla sangat yakin bahwa Hardy memang pasangan jiwanya. Dia takkan menemukan lelaki yang melampaui Hardy dalam banyak hal. Minimal dari sisi besar cinta yang bisa diberikan Milla.

Milla punya pemikiran bahwa rasa nyerinya akan berkurang kalau dia benar-benar menghabiskan waktu dengan berduka. Menangis puluhan jam pasti akan membawa terbang sebagian kesakitan yang terpaksa dikecapnya. Sayang, Milla salah besar. Lagi.

Menangis berjam-jam ternyata cuma membuat matanya bengkak dan luar biasa nyeri. Belum lagi lendir tak nyaman yang memenuhi saluran pernapasannya. Dan semua penderitaan fisik itu sama sekali tidak mengurangi kepedihan yang mengancam akan membinasakan jiwanya.

Rasa sakitnya masih utuh, bertahan tanpa malu. Membuat Milla yakin hidupnya akan menderita selamanya. Diam-diam dia mempertanyakan ketahanan mental orang-orang yang pernah melalui patah hati lebih dari sekali dalam hidupnya. Bagaimana bisa? Terbuat dari apakah hati mereka?

Gadis itu melewatkan beberapa hari selanjutnya dengan kaki yang seakan tidak menapak di bumi. Dia kesulitan berkonsentrasi dan melakukan banyak kesalahan yang mengesalkan. Namuan sepertinya apa pun yang dikerjakannya tidak mampu menenangkan pikiran gadis itu. Tidak ada yang berjalan lancar di matanya. Semuanya berubah kelam lebam. Milla seakan berada di ruang gelap tanpa cahaya, tanpa udara. Mungkin juga tanpa masa depan.

Akhirnya, Milla memutuskan untuk tidak lagi berdiam diri dan menyerahkan masa depannya bersama Hardy ke tangan takdir yang tak bisa diprediksi. Dan dia segera teringat pada tekadnya untuk tidak akan melepaskan Hardy dari hidupnya.

Dengan benak morat-marit, Mila memaksakan diri untuk berpikir. Mencari celah yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan fantasinya untuk tetap menggenggam tangan Hardy selama yang Millla bisa. Dia takkan mengorbankan cinta sekian tahunnya begitu saja. Membiarkan Hardy berlalu dalam hidupnya adalah hal bodoh yang akan disesalinya seumur hidup.

Setelah tidak menemukan jalan yang dirasanya ‘aman’, Milla sempat ingin menyerah. Hingga kemudian dia menyadari kalau kadar kengototan yang sudah mendarah daging itu jauh lebih besar dibanding yang dibayangkan gadis itu. Nekat.

“Ada daftar panjang kenapa kamu tidak boleh sedih lagi, Milla. Yang terpenting, mantanmu itu tidak setia, memutuskanmmu dengan argumen yang menggelikan. Alasannya cuma satu, dia tidak benar-benar mencintaimu. Kalau sebaliknya, dia takkan menikahi orang lain, apa pun alasannya. Apa itu tidak cukup membuatmu berhenti bersedih? Laki-laki seperti itu masih kamu tangisi? Buat apa? Di luar sana ada banyak orang yang jauh lebih baik dari dia. Yang bisa mencintaimu dengan sungguh-sungguh, yang rela berkorban banyak cuma untuk melihatmu tersenyum.” (hlm. 157-158)

Ada pepatah bilang jika cinta itu buta. Memang benar adanya. Sekalipun yang dilakukan salah, tidak menghiraukan apa kata orang lain, orang yang sedang jatuh cinta seakan menulikan dengan segala hal yang didengarkan, dan akan membutakan segala yang dilihatnya. Milla adalah representasi dari seseorang yang jatuh cinta dan buta akan segalanya. Bahkan ketika sudah diputuskan Hardy, dia masih menyangkalnya. Ketika kakaknya, Stanley menanyakan perihal ini pun malah diomelinya. Patah hati memang perih, jenderal. #PukPukMilla

WP_20160504_064[1]

“Kamu benar-benar tidak punya pacar, ya? Tumben.”

“Kamu sudah berhasil membuat pacarmu cemburu?” (hlm. 66)

Bagi Declan, menggandeng teman kencan yang sangat berbeda dengan Ruth justru pilihan terbaik. Menunjukkan dirinya tidak terpaku pada gadis yang setipe dengan Ruth. Entahlah, apakah alasan itu cukup masuk akal atau tidak. Declan tidak mau memusingkannya.

Declan tidak tahu kenapa dia bisa lancar bicara di depan Milla. Mungkin karena gadis itu tipe orang yang mudah akrab dengan semua orang. Setidaknya, hal itu membuat Declan ikut santai. Meski dia sendiri bukan jenis laki-laki yang suka mejaga jarak dengan lawan jenis. Hal itu yang berkali-kali dituding Maxim sebagai cikal bakal daftar panjang mantan pacar yang dimiliki Declan.

Milla dan Declan sama-sama mengalami patah hati. Sama-sama baper. Dan sama-sama gagal move on. Orang yang patah hati, baper dan move on akan sembuh dengan sama-sama orang yang mengalami patah hati, baper dan move on. Orang yang patah hati biasanya tidak butuh nasehat panjang lebar, mereka hanya butuh untuk didengarkan saat mengeluarkan segala unek-unek yang dialami.

Pesan moral dalam novel ini adalah kita tidak pernah tahu dengan nasib kita sekarang, nanti atau di masa depan. Hanya Tuhan yang kuasa mampu membolak-balikkan hati kita. Kita boleh berharap sesuatu yang terbaik bagi diri kita, tapi kenyataanya yang baik menurut kita belum tentu tepat untuk kita.

PicsArt_15_05_2016_20_52_29[1]

Lumayan banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kenapa kamu sulit menerima itu semua? (hlm. 1)
  2. Apa yang kamu lakukan takkan mengubah pendirianku. (hlm. 1)
  3. Memangnya pacarmu tidak ada? Masih betah melajang dan dikelilingi gosip panas yang mengalahkan suhu neraka? (hlm. 6)
  4. Kamu jangan ngelantur ya. Putus yang putus, tidak ada hubungannya dengan pilihan waktu atau cara memberitahukan keputusanmu. (hlm. 15)
  5. Kita putus? Setelah tiga tahun, kamu tiba-tiba muncul di depanku dan pengin putus? Bisa kamu jelaskan kenapa kita harus putus? (hlm. 15)
  6. Saat sekali rasanya saat tahu kalau orang yang kamu cintai berkhianat dengan kejam. (hlm. 50)
  7. Apakah kamu tidak pernah tahu kalau jodoh itu di tangan Tuhan? (hlm. 71)
  8. Cinta lama belum selesai nih? (hlm. 71)
  9. Kenapa kamu sudah berkencan lagi, sih? Apa itu tidak terlalu cepat? (hlm. 167)
  10. Maklum, orang kasmaran memang begitu. Mendadak jadi penguasa tunggal di dunia ini. Dan kita cuma semacam kuman yang tidak terlihat oleh mata telanjang. (hlm. 183)
  11. Kamu benar-benar mau kita bertengkar karena hal-hal yang tidak penting? (hlm. 382)PicsArt_15_05_2016_20_55_01[1]Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Kadang hal-hal yang sulit untuk didapat itu memang sangat berharga. Setimpal dengan perjuangannya. (hlm. 75)
  2. Cinta itu pemakluman, bukan adu kuat siapa yang paling diprioritaskan. Lalu dihubung-hubungkan dengan siapa yang punya cinta lebih besat. (hlm. 153)
  3. Pasti tidak akan mudah melepas apa yang sudah begitu diinginkan. (hlm. 203)
  4. Cinta memang memudahkan segalanya. (hlm. 393)
  5. Menikah adalah proses belajar terus-menerus tanpa jeda. (hlm. 393)

Keterangan Buku:         

Judul                                     : To Be With You

Penulis                                 : Indah Hanaco

Editor                                    : Afrianty P. Pardede

Penerbit                              : PT. Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 400 hlm.

ISBN                                      : 978-602-02-8244-2 PicsArt_15_05_2016_20_56_59[1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s