REVIEW 17 Years of Love Song

WP_20150418_005

“Kadang, orang harus kehilangan sesuatu dulu untuk menyadari arti sesuatu yang lain.” (hlm. 42)

NANA. Saat itu baru berusia empat belas tahun saat itu, tapi sudah bisa menerima keadaannya dengan sangat baik. Yati dan Tono hanya menyesal mengapa mereka menjadi orang yang tidak mampu sehingga tidak bisa membiayai operasi Nana. Selama dua tahun, Tono bekerja seperti orang gila untuk mengumpulkan uang. Yang diinginkannya hanya satu; dapat melihat Nana berjalan lain seperti dulu. Tono bahkan sempat berpikir untuk menjual ginjal. Sayang, organ miliknya itu tidak dalam kondisi baik.

“Lumpuh ataupun nggak lumpuh, Nana tetap Nana. Jadi, ayah sama ibu juga tetap sama ya. Tetap sama seperti sebelum Nana lumpuh.” (hlm. 25)

“Saya juga nggak mau nyusahin orang tua saya dengan membuat mereka banting tulang nyari duit buat biaya operasi. Waktu itu, saya pikir harus bisa menerima keadaan ini. mungkin ini teguran dari Tuhan karena saya selama ini belum berbuat baik. Saya memang cacat, tapi bukan berarti nggak bisa ngelakuin apa-apa, kan? Atau jangan-jangan… kamu pikir saya nggak bisa ngelakuin apa-apa?” (hlm. 43)

LEO. Menjadi bagian dari keluarga yang broken home, menimbulkan luka yang mendalam di hatinya. Semenjak orangtuanya berpisah, dia memilih untuk tinggal bersama mamanya di desa. Meninggalkan dunia kota yang berarti juga meninggalkan dunia yang dulu menjadi bagiannya; yaitu baseball. Hidupnya jadi tertutup.

“Leo, maafin Mama ya? Kalau mau, kamu bisa ikut Papa.”

“Ma, jangan bahas ini lagi, oke? Kalian minta aku milih dan aku udah milih Mama. Itu berarti aku udah siap sama segala risikonya.” (hlm. 2)

Alam akan selalu berkonsiprasi untuk mempertemukan dua insan manusia. NANA dan LEO adalah dua orang yang awalnya tidak mengenal satu sama lain dan langsung akrab mengalir apa adanya. Namun keadaanlah yang membuatnya hidup mereka tidaklah sesederhana yang mereka bayangkan. Padahal yang diinginkan mereka hanyalah bersama-sama, itu saja.

Selama kita bernapas di udara yang sama, berpijak pada tanah yang sama, dan ada di bawah langit yang sama, seberapa pun jauh jarak yang memisahkan, kita tetap ada di dunia yang sama. (hlm. 109)

Aku akan melakukan apa pun untuk meyakinkanmu bahwa kita berada di dunia yang sama. (hlm. 193)

Saya nggak mau masa depan yang nggak ada kamu. (hlm. 229)

Ada adegan so sweet yang ditampilkan dalam novel ini. Cek saja di halaman 86-94. Sebenarnya sederhana, tapi bagian itu justru hal paling romantis dalam buku ini. Ada juga bagian yang sedih dan bikin mrebes mili saat membacanya di halaman 255 dan 264 :’)

Beberapa tokoh meski hanya sebagai tokoh figuran tapi justru cukup mencuri perhatian. Ada Rahma yang merupakan sahabat Nana sedari sekolah sampai sudah menjadi bidan, dengan setia selalu di samping Nana di saat suka dan duka. Begitu juga dengan Paman dan Bibi-nya Nana yang amat sayang pada Nana.

Ini adalah buku Orizuka yang saya baca versi re-cover. Poin plus dari tulisan-tulisan Orizuka adalah selalu mengangkat tema remaja dengan ending yang selalu ada solusinya. Seperti halnya dengan buku ini. lewat tokoh Nana dan Leo, kita bisa mengambil pesan bahwa jangan takut mencoba melalui hal-hal yang baru. Kita tidak pernah tahu jika melewati hal-hal yang baru terkadang justru kita akan meloncati fase di mana kita bisa lebih baik.

Poin plus lagi dari buku ini adalah ada selipan seputar pengetahuan tentang dunia baseball. Covernya representasi banget isi bukunya. Makanya jangan heran kalo buku ini udah berpindah-pindah tangan dibaca beberapa anak softball teman-temannya Kiki yang kepincut karena ada aroma softballnya. Nih, selfie mereka rame-rame ama bukunya:

garmet

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Bersepeda itu bagus lho buat kesehatan. (hlm. 7)
  2. Gizi anak-anak zaman sekarang jauh lebih bagus daripada dulu. (hlm. 13)
  3. Nggak biasa lho ada cewek yang hobi menyepi. Semua cewek demennya ngegerombol. (hlm. 20)
  4. Dipikir semua masalah selesai dengan hanya mengaku khilaf? (hlm. 28)
  5. Kamu jangan pilih-pilih teman ya. Jangan karena kamu ganteng terus kamu jadi sombong. (hlm. 36)
  6. Oh, di Jakarta nggak ada piket ya? (hlm. 57)
  7. Bercanda kamu kelewat fiktif. (hlm. 70)
  8. Kamu hanya masih terlalu muda untuk mengerti. Saya nggak mau suatu saat nanti kamu menderita. (hlm. 115)
  9. Hari gini masi bawa bekal? Lo anak TK? (hlm. 197)
  10. Ada yang mengatakan alasan-alasan dua orang tidak bisa disatukan dalam ikatan pernikahan. (hlm. 223)

Keterangan Buku:

Judul                                     : 17 Years of Love Song

Penulis                                 : Orizuka

Penyunting                         : Koeh & Septi R.

Perancang sampul           : Zariyal

Penata letak                       : Heru Tri Handoko

Penerbit                              : Puspa Populer

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 268 hlm.

ISBN                                      : 978 602 214 007 8

PicsArt_19_04_2015 9_06_43 PicsArt_24_04_2015 9_07_51

4 thoughts on “REVIEW 17 Years of Love Song

  1. Ceritanya menarik. Tapi saya bingung apakah Nana dan Leo ini diceritakan dari kecil hingga remaja atau gimana. Soalnya ada pernyataan mengenai temannya Nana yang bernama Rahma menjadi teman Nana sejak sekolah hingga Rahma menjadi bidan.

  2. Pingback: [Truly Love Blog Tour] REVIEW Apa Pun Selain Hujan + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s