REVIEW Love on Probation

PicsArt_13_05_2016_16_03_50[1]

“Setiap orang memang punya dua sisi yang berbeda. Bisa itu baik dan buruk, tapi bisa juga yang terlihat dan tak terlihat, atau yang biasa banget dan menakjubkan. Seperti koin yang dua mata di setiap sisi. Bukan hanya menyadari bahwa ada yang berbeda dari sosok yang selama ini dekat dengan kita, tapi mata kita sendiri terkadang menangkap hal yang berbeda, dengan sudut pandang yang berbeda pula.” (hlm. 171)

ALITA PUTRI MENDROFA. 30 tahun. Memimpikan pasangan yang nyaris sempurna; membuatnya nyaman secara lahir dan batin. Meski sahabatnya, Adriana mengatakan bahwa pasangan sempurna itu hanya ada di dongeng-dongeng, dia tetap bersikukuh mencari pasangan yang klik di hatinya. Meski pada kenyataannya dia selalu gagal dalam merangkai sebuah hubungan, termasuk pada Ares yang satu kantor dengannya.

ARESTYO MILLER. 33 tahun. Di umurnya yang dewasa, karir matang sudah ada di genggamannya. Ya, dia menjabat sebagai bos di sebuah perusahaan. Tampan dan mapan, sapa sih ya nggak meliriknya? Tapi sayang semuanya musti patah hati. Justru Lita yang biasa-biasan itu mampu membuat hatinya kebat-kebit.

WP_20160513_035

Sama-sama single. Sama-sama ingin menjalin hubungan yang serius. Lalu apa masalahnya? Ya, hubungan mereka gagal di kencan pertama. Lita harus menunggu dua jam di lobi apartemennya, namun Ares tak kunjung datang. Boro-boro datang, nggak ada konfirmasi apapun datang darinya meski hanya lewat sms ataupun BBM. Ketika Lita berinisiatif menghubunginya, justru bentakan dari Ares lah yang diterimanya. #PukPukLita

Ada orang yang gampang ilfeel sejak kencan pertama, seperti juga dengan Lita. Meski esoknya dia menerima ribuan kata maaf dari Ares, Lita bersikeras menolaknya. Ares pun sama-sama keras, ngotot mereka harus melakukan kencan yang kedua, untuk menebus kencan pertama yang gagal.

Sebenarnya ada alasan keluarga yang dialami Ares saat kencan pertama yang berakhir gagal itu. Ketika Ares sudah begitu terbuka dengan Lita, justru perempuan ini menyimpan memori masa lalunya rapat-rapat.

Sama-sama rapuh. Sama-sama sakit. Dan sama-sama mengalami permasalahan yang cukup pelik. Meski Lita ngotot tidak mau melanjutkan hubungan mereka, Ares pun juga ngotot untuk membuat kesepakatan dengan Lita; A thirty days probation. Semacam percobaan hubungan selama tiga puluh hari. Jika sudah lewat dan hubungan mereka tetap tidak berjalan mulus, Ares akan memilih mundur dengan lapang dada, itu janjinya pada Lita. Dan Lita pun luluh untuk menjalani percobaan hubungan tersebut.

Kisah Lita dan Ares dalam buku ini representasi percintaan satu kantor. Sang cowok si bos dan sang cewek sekretaris. Bedanya, sang cewek bukan sekretaris dari bos cowok ini, tapi bos yang lain. Err..repot juga ya kalau punya hubungan asmara satu tempat kerja, pas lagi ada masalah nggak bisa menghindar, mana rentan banget ketemu di lift menuju ruang kantor, wkwkwk… x))

Sepasang manusia yang memiliki latar belakang masalah yang berbeda. Tanpa disadari, mereka saling ‘menyembuhkan’ satu sama lain.

Kesekian kalinya membaca buku yang ditulis Mbak Christina Juzwar. Penulis satu ini memang cukup produktif menulis dalam berbagai genre. Romance adalah salah satu genre yang digelutinya.

Suka banget covernya. Oya, ini label METROPOP. Jadi dibaca untuk kalangan dewasa, apalagi di dalamnya lumayan banyak adegan kiss dan grepe-grepenya. Untung bacanya sebelum puasa, jadi aman…wkwkw… x))

Tokoh utama, baik dari sisi Lita maupun Ares bukanlah tokoh yang sempurna. Tapi justru itulah kisah mereka menarik dibaca. Oya, suka ama tokoh-tokoh sampingan; Kakak Lita, Leo dan pacarnya Jasmine dan juga Adriana yang merupakan sekretaris Ares yang juga sahabat Lita di kantor. Mereka ini nggak pernah menggurui Lita, tapi lebih ke menyemangati hidup Lita yang ternyata penuh ‘luka’.

WP_20160513_030

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Nggak setiap yang diawali buruk akan berakhir buruk. (hlm. 69)
  2. Nggak ada hal yang mustahil. (hlm. 88)
  3. Suka itu memangnya harus ada alasan ya? (hlm. 122)
  4. Nggak ada yang salah tiap mencintai seseorang, yang salah hanya perjalanan cinta itu saja. (hlm. 129)
  5. Nggak ada kemungkinan terburuk. Hidup memang nggak mulus-mulus amat. Pasti akan ketemu masalah. Tapi nggak mungkin nggak ada penyelesainnya donk. (hlm. 136)
  6. Kita memang kadang nggak bisa mengingatkan diri sendiri. Harus orang lain. (hlm. 141)
  7. Kayak bunga, hati lo udah mekar. Hanya untuk seseorang. Tanpa lo sadari, lo sudah menerima dirinya. (hlm. 145)
  8. Terkadang ada sesuatu yang nggak bisa diungkapin dengan kata-kata. Dan saat itulah feeling berbicara. (hlm. 179)
  9. Kamu tahu, dalam berpasangan, ketika satunya sedang nggak waras, maka yang satunya harus bisa meredam dan jadi orang waras. Kalau nggak, berantakan. (hlm. 267)
  10. Jangan pikirin dulu gimana hubungan lo ke depannya. Yang penting, lo harus terbuka satu sama lain supaya hubungan lo berhasil. Itu namanya kepercayaan. (hlm. 272)

WP_20160513_029

Banyak banget selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Keluarin aja. Ceritain, jangan dipendam aja. Kebiasaan jelek lo tuh suka nyimpen masalah. (hlm. 14)
  2. Lo boleh marah dan ngamuk-ngamuk kalau dia malah nggak merasa bersalah. (hlm. 27)
  3. Emangnya minta maaf bisa nyembuhin kekecewaan? (hlm. 27)
  4. Mau seganteng apa pun lelaki itu, kalau tukang PHP, memperlakukan seperti sampah, jelas patit dicoret dalam daftar hidup. (hlm. 32)
  5. Jangan pernah menaruh harapan tinggi melampaui langit. (hlm. 32)
  6. Mana ada lelaki tampan yang sendirian terus? Perempuan-perempuan pasti akan cepat nempel. (hlm. 39)
  7. Nggak ada ‘kita’ dan nggak ada yang perlu diluruskan lagi. Nggak ada yang perlu diperbaiki juga. (hlm. 41)
  8. Memangnya ada apa sih, kok penolakan lo bisa sampai seekstrim itu? Kayak sakit hatinya udah bertahun-tahun teraniaya gitu? (hlm. 44)
  9. Makin lama lelucon lo makin garing, sama kayak roti lo tuh. (hlm. 50)
  10. Kamu tahu…kamu agak mirip dengan kucing di kaosmu itu. Judesnya. (hlm. 54)
  11. Laki-laki kan memang mahluk paling nggak peka. (hlm. 57)
  12. Hari gini masih mau bohong? (hlm. 63)
  13. Nggak punya pacar bukan berarti nggak bisa bermesraan, kan? (hlm. 68)
  14. Semua orang kadang bisa moody, dan bahkan brengsek. (hlm. 69)
  15. Cuma karena first date lo yang busuk dan second date lo ya so-so, terus lo langsung melabeli kalian berdua beda kayak minyak dan air? (hlm. 69)
  16. Intinya nggak ada kata sia-sia. Kalau gagal, anggap aja perkenalan itu menuju pertemanan. Nggak lebih. Pokoknya penjajakan dulu. Jangan menyerah sebelum memulai. Itu namanya pengecut. (hlm. 70)
  17. Jangan ganggu aku terus kenapa sih? (hlm. 75)
  18. Please deh. Manis dari mana? Jutek sih iya. Egois apalagi. (hlm. 76)
  19. Kerjaan mah nggak akan ada habisnya tahu. (hlm. 83)
  20. Udah, jangan tarik napas mulu kayak nenek-nenek. (hlm. 98)
  21. Itu pikiran kotor jangan dipelihara ya. (hlm. 133)
  22. Bagaimana bisa mencintai seseorang dalam sekejap? Pasangan yang udah saling mengenal sangat lama saja nyatanya masih bisa menyimpan rahasia terburuk mereka, gimana yang baru kenal? (hlm. 135)
  23. Tuh kan, mikirnya aneh-aneh melulu. Ntar gue beliin sabun cuci deh buat cuci otak lo itu. Sekalian pake pemutih. (hlm. 136)
  24. Jangan terlalu posesif, nggak baik untuk kesehatan. (hlm. 233)
  25. Kalau something bad happens, ya wong hidup seperti itu. Nggak mungkin manis melulu. Manis-manis asem pahit deh. Diomongin, jangan gampang saling ngambek. (hlm. 237)
  26. Marah nggak akan menyelesaikan masalah. (hlm. 258)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Love on Probation

Penulis                                 : Christina Juzwar

Editor                                    : Ayu Yudha

Proofreader                       : Yuliyono

Desain sampul                   : Marcel A. W.

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 328 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2721-1

PicsArt_28_05_2016_18_24_37[1]

4 thoughts on “REVIEW Love on Probation

  1. Wah bisa masuk wishlist nih. karakternya dewasa dan saya memang menyukai novel demikian. hanya saja kok ide membuat cinta dibuat permainan rasanya mustahil banget ya di dunia nyata, Ups! Mungkin ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s