REVIEW Unexpected Love

WP_20160606_021

Mencari pasangan hidup itu kan enggak semudah mencari mamang-mamang India jualan kain di Tanah Abang. (hlm. 7)

ANYA. Sejak putus dengan mantan pacarnya yang terakhir, dia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan yang memang menuntut seratus persen pikirannya. Dipikir-pikir, bagaimana bisa dapat calon suami kalau tiap hari lembur di kantor? Mending sih kalau di kantor ada yang potensial untuk dijadikan pacar. Ini sih, boro-boro. Yang seusia dengannya biasanya sudah menikah. Yang belum nikah pasti doyannya gonta-ganti cewek buat dipamerin dari party ke party. Malas, begitulah pemikiran Anya. #TossAmaAnya

Baginya, penting banget untuk kita suka sama pekerjaan kita. Dari pagi sampai sore (atau bahkan malam) kita menghabiskan waktu untuk bekerja. Artinya, hampir sebagian besar waktu dalam hidup kita digunakan untuk bekerja. Rugi banget kan, kalau harus melewatinya dengan melakukan pekerjaan yang kita benci? #TossLagiAmaAnya

Posisinya sebagai Senior Brand Manager yang dituntut untuk selalu berpikir kreatif menyiapkan berbagai campaign adalah bagian yang paling menyenangkan. Memikirkan agar brand yang ditangani laris manis di pasaran dan mengalahkan para kompetitor adalah tantangan yang selalu dinikmatinya.

Enggak usah deh, cari perkara dekat-dekat sama laki orang. Kayak enggak laku aja. Jadi cewek itu enggak boleh murahan. (hlm. 58)

RADIT. Dia nggak pernah mengerti kenapa dia bisa bertahan  bekerja di sebuah stasiun televisi swasta selama lebih dari sepuluh tahun. Padahal kantor ini mengambil semua waktunya, dari pagi sampai lagi lagi, dari Senin sampai Senin lagi. Kadang dia kangen dengan matahari.

Sebetulnya kalaupun nggak sibuk di kantor, dia juga nggak tahu mau ngapain. Kesibukan istrinya lebih gila lagi. Bukan karena istrinya itu pengacara terkenal yang menangani banyak kasus perceraian para artis tanah air, tapi karena dia sedang melarikan diri dari satu kenyataan. Kenyataan yang harusnya ditanggu mereka bersama, tapi Gina, istri Radit merasa itu adalah kenyataan pahit yang harus ditanggunggnya sendiri.

Pria itu harus selalu diawasi. Kita meleng sedikit aja tiba-tiba dia udah nemplok ke cewek lain. Kalau perlu dipasangin CCTV di badannya. Biar maling enggak berani dekat-dekat. (hlm. 59)

ANYA dan RADIT sama-sama kesepian. Simbiosis mutualisme. Kayak kebo dan kutu. Bagi Radit, punya teman bengong rasanya lebih menyenangkan. Kadang dia merasa beruntung banget bisa kenal sama Anya. Baginya, Anya bisa menjadi teman ngobrol yang menyenangkan. Dan lagi, Radit baru sadar kalau Anya bisa jadi teman bengong saat dia sebenarnya lagi nggak pengen ngomong apa-apa tapi nggak mau sendirian.

Begitupula dari sisi Anya. Setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan untuk jatuh cinta, kenapa sekarang saat dia bisa mengalaminya, dia harus jatuh cinta dengan suami orang? Di satu sisi, dia harus melepaskannya. Tapi di sisi lain, dia yakin dia bisa membuat Radit jauh lebih baik bahagia dibanding istrinya yang selalu sibuk itu.

Dibaikin sedikit pasti GR dan mikir macem-macem. Makanya manusia-manusia kurang kece justru lebih gampang selingkuh karena mereka jauh lebih enggak tahan godaan. (hlm. 84)

Ini adalah buku keempat yang saya baca karya Mbak Nurilla Iryani. Sebelumnya ada Dear Friend With Love, Yummy Tummy Marriage dan 365 Ideas of Happiness. Selalu suka sama gaya penulisannya; kocak bin koplak, wkwkwk… x)) Makanya pas tahu beliau menelurkan buku baru, langsung masukin buku ini ke wish list. Alhamdulillah kesampaian beli dan langsung baca. Sama seperti di dua novel sebelumnya, sang penulis sebagai orang ketiga. Tokoh utama diceritakan nggak hanya dari satu sisi, tapi diulas dari segi cowok maupun segi cewek. Seperti halnya buku ini, kita bisa membaca dari sisi Radit maupun sisi Anya.

Suka ama buku ini. Mengambil tema tentang hubungan ‘selingan’, jika nggak mau dikatakan sebagai sebuah hubungan perselingkuhan. Ada banyak sebab mengapa seseorang yang sudah menikah menjalani hubungan dengan orang lain. Lewat buku ini, kita bisa melihat bahwa hidup harus memahami dari segi sisi Anya, Radit maupun Gina.

Banyak selipan representasi kehidupan di Jakarata dengan segala hiruk pikuknya:

  1. Rumah VS apartemen. Punya rumah, biasanya mampu dibeli di daerah pinggiran Jakarta, itu pun harganya selangit dan sekitar lima jam untuk bolak-balik dari rumah ke tempat kerja. Sementara menyewa apartemen yang letaknya nggak jauh dari tempat kerja harus merogoh kocek dalam-dalam. Seperti Anya, dia lebih rela menghabiskan sepertiga gajinya tiap bulan untuk membayar sewa apartemennya.
  2. Weekend, pastinya traffic menjadi momok yang menyebalkan bagi pekerja. Begitu pula dengan macet yang selalu bikin stres, stres dan stres. Begitulah yang dialami Radit yang setiap harinya selalu terkepung macet. Gina, istrinya lebih memilih memiliki rumah di pinggiran Jakarta daripada tinggal di apartemen.
  3. Di Jakarta. Enggak pernah tahu mana orang jahat dan orang baik. Hampir semua terlihat serupa. Musti hati-hati jika berkenalan dengan orang baru.
  4. Kesepian dan makan sendiri, kerap sekali kita lihat di kafe-kafe yang tumbuh menjamur di kota-kota besar. Seperti halnya Radit maupun Anya. Ya, kafe dan mal menjadi tempat nongkrong paling nyaman bagi orang yang hidup di kota besar.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Selalu ada hikmah di setiap kejadian. (hlm. 12)
  2. Kalau saat jatuh cinta kadar adrenalin kita meningkat. (hlm. 14)
  3. Rezeki bisa datang dari mana saja tanpa kita duga. (hlm. 36)
  4. Ternyata kehilangan satu sahabat itu lebih berat daripada kehilangan emas sekarung. Emas sekarung bisa dicari lagi meskipun ngumpulinnya harus sampai jompo. Sedangkan sahabat kan, enggak ada yang jual. (hlm. 95)
  5. Kadang kita harus berani mengamabil risiko untuk mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan. (hlm. 173)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Apakah kebanyakan pria memang senang diperlakukan seperti mesin ATM oleh pacarnya? (hlm. 6)
  2. Single itu jauh lebih baik daripada berada dalam relationship yang membuat kita enggak bahagia. (hlm. 7)
  3. Stupid colleagous. Lagi marah tetap saja ngirim stiker-stiker nggak jelas. (hlm. 19)
  4. Bagi wanita, melihat pria tampil dengan jas yang pas dan rapi itu sama efeknya seperti pria melihat wanita mengenakan lingerie. (hlm. 21)
  5. Kalau kamu bangun tidur dengan bete, biasanya seharian bawaannya pengen botakin orang. (hlm. 24)
  6. Memang deh, penyakitnya cewek-cewek cakep itu gampang banget lupa sama orang. Mungkin kebanyakan yang ngajak kenalan kali ya? (hlm. 39)
  7. Ini kurus karena lembur terus tahu! Bukan karena kurang makan. (hlm. 49)
  8. Ah, dasar wanita. Apa sih yang mereka enggak tahu? (hlm. 51)
  9. Kadang-kadang hidup memang nggak adil. (hlm. 53)
  10. Udah punya istri kayak gitu ngapain juga masih selingkuh? (hlm. 58)
  11. Kadang-kadang hidup memang aneh. (hlm. 63)
  12. Selama enggak ada pihak yang dirugikan, kenapa harus dihindari? (hlm. 64)
  13. Dari temen jadi demen. Hati-hati loh! (hlm. 84)
  14. Kejar karier lo, jangan kejar suami orang! (hlm. 86)
  15. Pernikahan itu penuh cobaan. Yang dibutuhkan adalah pengertian. Sebagai wanita harus lebih sering bersabar. (hlm. 110)
  16. Kadang pura-pura bego memang lebih menyenangkan daripada kebanyakan mikir. (hlm. 113)
  17. Kadang laki-laki memang bisa sama galaunya dengan perempuan kalau sudah urusan cinta. Hanya saja lingkungan sosial biasanya mengharapkan laki-laki selalu tampak cool dan bisa mengontrol dirinya sendiri. (hlm. 117)
  18. Seorang wanita membiarkan saja saat dia diperlakukan seenaknya oleh seorang laki-laki, maka laki-laki itu akan semakin bersikap seenak jidatnya sendiri alias ngelunjak. (hlm. 152)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Unexpected Love

Penulis                                                 : Nurilla Iryani

Editor                                                    : Weka Swasti

Proof reader                                      : Herlina P. Dewi & Tikah Kumala

Desain cover                                      : Theresia Rosary

Layout isi                                             : Arya Zendy

Penerbit                                              : Stiletto Book

Terbit                                                    : November 2015

Tebal                                                     : 175 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-7572-43-0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s