REVIEW Love Letter and Leuser

love letter and leuser.indd

“Pantang jadi orang ketiga. Apa pun alasannya, merusak hubungan orang lain itu salah.” (hlm. 160)

LARAS. Mahasiswa Biologi UI. Seperti mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, dia harusnya disibukan dengan urusan belajar, belajar dan belajar agar lulus tepat waktu. Tapi siapa sangka, dia yang dulunya anak pengusaha kini harus menanggung beban berat nggak hanya bagi kehidupannya sendiri tapi juga keluarganya yang tersisa; Andin dan mamanya.

Sebenarnya bisnis papany cukup maju, hingga kejadian setahun lalu. Papanya terlibat dalam kasus penipuan. Tidak ada berita yang benar-benar jelas mengenai ini, apakah papanya sebagai pelaku atau korban, yang pasti namanya digunakan sebagai jaminan. Ada satu nama lain yang dijadikan tersangka, tapi sampai saat ini orang tersebut masih buron. Proses hukum terhadap papanya masih berlangsung ketika peristiwa tragis itu terjadi. Bisa dibayangkan beratnya cobaan yang dihadapi keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anaknya.

Bebannya makin bertambah ketika Ardan, pacarnya memutuskan secara sepihak. Itu pun hanya lewat SMS dan menghilang tanpa ada penjelasan apa pun. Seharusnya di kala susah, Laras butuh sandaran untuk berpijak atau minimal tempat berbagi untuk mendengar keluh kesahnya. Yang Ardan menghilang dari kehidupan Laras semenjak kejadian yang dialami keluarganya.

“Jadi cewek punya harga diri dong. Sudah diputus ya udah, nggak usah nyari-nyari lagi. Cari aja korban lain, nggak usah kejar-kejar pacar orang.” (hlm. 57)

RADIT. Idealismenya terhadap dunia film mengantarkannya menjadi pemimpin tim produksi film dokumenter. Beberapa karyanya mulai dikenal dan mendulang sukses. Sambil menunggu pacarnya yang kuliah di luar negeri selama dua tahun, dia menyibukkan diri dengan dunia kerjanya. Tinggal bersama kakeknya. Ayahnya masih ada, tapi dia tak pernah lagi menganggapnya ada semenjak ayahnya meninggalkan ia dan ibunya dan menikahi perempuan lain. Radit tidak sudi memaafkannya meski kini ayahnya sakit keras dan terus memanggilnya.

“Jangan terlalu lama membenci. Aku nggak mau hati kamu membatu.” (hlm. 26)

Kehilangan sosok ayah bagi seorang anak adalah lubang besar yang tak tergantikan. Apalagi jika kepergian sang ayah terjadi dengan cara menyakitkan. Meskipun berbeda alasan antara kepergian ayah Radit dan ayah Laras, pergolakan batin mereka selaku anak sama beratnya.

“Kenapa sih kamu selalu menolak bantuanku?”

“Karena aku tahu kondisimu. Aku nggak mau kamu tambah repot dengan masalahku.”

“Aku yang mau direpotin.”

“Jangan terlalu baik sama aku.”

“Aku nggak terlalu baik, hanya terlalu sayang kamu.”

“Jangan menyayangiku.”

“Terlanjur.” (hlm. 16)

Laras yang keras hati nggak butuh belas kasihan dari siapa pun memutuskan untuk mencari penghasilan karena tabungannya sudah terkuras habis untuk pengobatan mamanya yang tiap harinya bukannya makin sehat malah makin banyak penyakit yang menyerangnya. Mungkin ini efek syok hidup susah akibat dulunya hidup bergelimang harta. Bersama teman-temannya, Laras diterima untuk mengikuti sebuah proyek penelitian dengan dosen mereka sebagai pemimpinnya. Laras pikir, inilah cara paling gampang mendapatkan penghasilan tanpa mengorbankan kuliahnya yang tinggal di ujung semester akhir.

Di Taman Nasional Gunung Leuser, Laras yang bergabung dalam tim peneliti dari kampusnya itu kembali bertemu Radit yang memimpin tim produksi film dokumenter di sana. Berbulan-bulan mereka akan tinggal di pedalaman hutan. Jauh dari penduduk, listrik yang terbatas, tentunya berkumpul yang setiap harinya makin intens tentunya akan menimbulkan percikan api cinta. #eaaa

“Aku cuma mengingatkan. Masa Radit nggak boleh diutak-atik. Bermain api berbahaya, tahu nggak? Yang hangus nggak hanya kamu, tapi Mas Radit dan pacarnya juga. Nggak mau kan kamu menjadi penyebab kebakaran?” (hlm. 160)

Sebenarnya beruntung jadi Laras, nggak hanya Denny yang menyukainya bahkan nempel terus kayak prangko karena ke mana pun Laras ada, pasti nemplok Denny di sana. Dini, sahabat Laras mengibaratkan Laras bagai Ratu Lebahnya Denny. Ada Radit yang meski sudah punya pacar, entah kenapa alam berkonspirasi mempertemukan mereka kembali. Belum lagi Bang Zay yang cinlok sejak pandangan pertama. Namanya juga cinta, butuh perjuangan. Bayangkan, demi meluluhkan hati Laras, Bang Zay pernah membawakan mereka tiga karung durian begitu tahu kalau Laras sangat menggemari durian x))

“Untuk mendapatkan cewek impian, memang nggak gampang. Tapi seperti pepatah bilang, batu pun kalau terkena tetesan air terus-menerus, pasti akan berlubang.” (hlm. 47)

Suka ama penokohannya. Tokoh-tokoh sampingannya justru yang membekas. Ada Dini dan Denny, teman Laras yang bagai anjing dan kucing karena kerjaannya berantem melulu tiap ketemu. Denny yang narsis kalau di foto, tapi mabuk kalau naik angkot. Trus, Dini yang heboh karena takut banget ama pacet padahal berbulan-bulan mereka akan hidup di pedalaman hutan.

Ada juga Kek Wongso yang meskipun sudah sepuh tapi tengil nan jahil. Contohnya saja saat menyuguhkan teh kepada Laras ketika pertama kali bertemu, dia mengatakan bahwa teh untuk dirinya tidak pakai gula karena si kakek merasa dirinya sudah manis. Syal kiriman Linda, pacar Radit malah diganti kaus kaki oleh kakeknya ini, menyatakan bahwa dirinya adalah pendekar asmara yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Belum lagi suka nakut-nakutin Radit yang LDR-an ama Linda. Si kakek berharap banget kalau cucunya ini putus dengan pacarnya x))

“Kalian berantem melulu. Ngak takut lama-lama saling suka?” (hlm. 22)

“Nama kalian mirip tuh. Jangan-jangan jodoh.” (hlm. 119)

Sebenarnya tahu buku ini nggak sengaja. Pas mampir ke toko buku, trus liat nama Nonier di sampul buku ini. Baca sinopsisnya juga menarik. Langsung beli dan langsung baca. Penulisnya nggak punya akun sosmed. Meski misterius, tapi saya suka banget ama dua buku yang ditulis sebelumnya; SEMPURNA dan DIA. Dua-duanya, tokoh cowoknya bikin greget. Endingnya selalu bikin gemes. Begitu juga dengan buku ini, udah menduga-duga apakah endingnya seperti buku-buku sebelumnya yang bikin kita sebagai pembaca gemesss. Hasilnya? Baca sendiri yaa… x))

Poin lebih dari buku ini adalah menyuguhkan setting yang lumayan berbeda dari novel-novel AMORE lainnya; di pedalaman hutan. Sangat kerasa sekali settingnya, mungkin karena penulisnya merupakan abdi negara di Dinas Kehutanan jadi paham sekali dengan dunia yang dibahas dalam buku ini. Tertarik cerita yang jauh dari hiruk pikuk keglamoran hidup perkotaan? Buku ini pilihannya😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Sampai kapan pun, ayah tetaplah ayah. Tidak ada yang bisa mengubahnya. (hlm. 27)
  2. Perpisahan tidak pernah mudah, tapi bagaimanapun harus tetap menguatkan hati dan mengantar yang pergi dengan senyuman dan doa. (hlm. 42)
  3. Yang penting kita nggak boleh menyerah. (hlm. 115)
  4. Sahabat itu nggak tergantikan oleh kekayaan dan kekuasaan. (hlm. 146)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Susahnya mencari uang. (hlm. 8)
  2. Jangan berpikiran pendek. Semua masalah ada jalan keluarnya. (hlm. 10)
  3. Penipu tidak akan bisa lari dari kebenaran. Suatu saat mereka pasti akan menerima ganjarannya. (hlm. 14)
  4. Melamar dengan ijazah SMA memangnya bisa dapat pekerjaan apa? (hlm. 16)
  5. Jangan ember kemana-mana dong. (hlm. 19)
  6. Jangan berbuat yang aneh-aneh. (hlm. 19)
  7. Nggak asyik kuliah nggak punya saingan. (hlm. 21)
  8. Sakit hati kadang sulit disembuhkan, apalagi itu terjadi di masa kecil. (hlm. 26)
  9. Dua tahun di negeri orang, apa pun bisa terjadi. (hlm. 38)
  10. Pensiun nggak enak tahu. Kalau nggak melakukan hobi buat mengisi waktu, apa lagi yang bisa dikerjakan? (hlm. 40)
  11. Kita sudah putus, mau apalagi? (hlm. 57)
  12. Nggak ada gunanya ngomong sama pecundang. (hlm. 58)
  13. Duduk aja kok ribut? (hlm. 69)
  14. Jadi tulang punggung keluarga memang berat. (hlm. 85)
  15. Memangnya kalau sudah punya pacar jadi nggak bisa berteman? (hlm. 104)
  16. Bisa dibilang gombal, klise atau bombay, cinta bisa jadi obat mujarab untuk mengembalikan semangat hidup. (hlm. 105)
  17. Berharap itu nggak bayar, masak nggak boleh? (hlm. 109)
  18. Rasa kemanusiaan makin lama makin merepotkan. (hlm. 127)
  19. Dunia percintaan memang kejam. (hlm. 146)
  20. Sah-sah saja orang membuka kesempatan untuk mendapatkan cinta. Itu masalahmu sendiri kalau kamu ngerasa nggak siap menghadapi tantangan. (hlm. 149)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Love Letter and Leuser

Penulis                                 : Nonier

Cover                                    : Marcel A.W.

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 264 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2057-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s