REVIEW Cinta Tanpa Jeda

CINTA TANPA JEDA

Untuk bertahan hidup, manusia dewasa membutuhkan empat pelukan per hari. Untuk kesehatan, perlu delapan pelukan dalam sehari. Jika ingin awet muda, bahagia, dan untuk pertumbuhan? Manusia membutuhkan dua belas pelukan per hari. Artinya lagi, manusia sangat butuh akan pelukan. (hlm. 151)

Mae bukan perempuan biasa, dia punya nama yang mentereng di dunia hiburan tanah air. Berawal sebagai model catwalk, kini dia justru lebih dikenal sebagai seorang aktris film. Kerja kerasnya di dunia akting pernah diganjar penghargaan ‘the best actress’ pada salah satu festival film kelas internasional yang diadakan di Pusan, Korea.

Apresiasi serupa pun beberapa kali berhasil diraihnya di Tanah Air. Meski tak pernah mengenyam pendidikan akting secara khusus, Mae mampu bertransisi dari seorang model biasa hingga menjadi aktris yang kekuatan aktingnya layak diperhitungkan. Kemampuannya berpura-pura di depan kamera benar-benar alami dan luar biasa.

Wajahnya memiliki kecantikan klasik yang memukau. Wajah sepertinya akan selalu dinilai memesona meski di zaman triassic yang beratus juta tahun lalu itu sekalipun. Ada daya tarik luar biasa yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Uniknya lagi, dia tampak jauh lebih muda daripada usianya. Tubuhnya indah berkat diet dan olahraga intens yang dijalaninya selama bertahun-tahun. Menatap Mae berarti menjadi salah satu keajaiban dunia.

Dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh tiga senti dan berat tidak pernah melampaui angka lima puluh kiogram, Mae tampak proporsional. Kakinya panjang dan jenjang. Dengan sepatu berhak tinggi yang selalu menemaninya bertahun-tahun ini, Mae jadi terlihat makin menjulang. Sulit menemukan ‘cacat’ pada fisiknya.

Mae membatasi diri dalam menerima tawaran. Dia memilih cerita yang benar-benar bisa membuatnya merasa nyaman. Sinetron stripping pun ditolaknya meski menjanjikan honor selangit karena tidak enjoy dengan ritme kerjanya.

Banyak orang menilai Mae pribadi yang dingin dan sombong. Pilih-pilih peran demi menjaga ekslusivitasnya. Padahal, sesungguhnya dia tidak begitu. Mae terbiasa tidak banyak mengumbar kata dan memasak tembok kukuh di sekitarnya agar tidak ada yang bisa menyentuh hatinya. Terlalu banyak melibatkan hati kadang bisa menyulitkannya.

“Hatiku terlalu sering mengalami luka. Itu sebabnya aku ingin melindunginya agar tak ada lagi yang bisa membuat luka baru. Sudah kuputuskan untuk menjalani hidupku tanpa memikirkan orang lain lagi. Sekarang, aku hidup hanya untuk diriku sendiri. Aku tak peduli apa pendapat orang di luar sana.” (hlm. 13)

Mae tahu, harusnya dia menemui psikolog sejak bertahun silam. Namun, dia tidak memiliki nyali yang cukup untuk mengambil keputusan. Sudah terbayang kehebohan macam apa yang akan terjadi bila hal itu benar-benar dilakukannya. Para wartawan dan awak infotainment lebih menyerupai hiu putih yang mampu mencium aroma darah dari jarak jauh. Mereka laksana predator yang dengan ganas siap menyerang saat musuhnya lengah.

Gundah dan terbangun oleh mimpi buruk tentu bukan penampilan terbaik seorang pemimpin, bukan? Namun, Mae adalah pengecualian. Dalam kondisi ini, segala bentuk kekhawatiran dan kekusutan justru menampilkan sosoknya yang kian menawan.

Membaca kisah Mae ini mengingatkan kisah Galila yang ditulis oleh Jessica Huwae. Tentang perempuan dari desa yang bermetamorfosis menjadi bintang yang bersinar dan menyimpan masa lalu yang kelam. Novel ini terbit lebih dulu dibandingkan Galila yang baru terbit tahun 2014 ini, tapi saya malah membaca novel Galila lebih dulu dibandingkan ini yang sudah terbit tahun 2012.

Masa lalu yang kelam memang memiliki dampak yang luar biasa pada kehidupan masa depan meski sudah bertahun-tahun mengendap. Sehebat apa pun seseorang dalam meraih masa depan, terkadang masa lalu masih membayangi dalam kehidupan. Bahkan bisa mengakibatkan trauma yang luar biasa.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Apa pun yang pernah kau alami, tak semuanya melulu berisi hal-hal buruk. (hlm. 59)
  2. Tidak ada yang salah dengan uang, hanya saja kita kadang terlanjur memberi label yang buruk. (hlm. 75)
  3. Ibu adalah tiang kehidupan. Menegakkan dan mendukung anak-anaknya, sekaligus memayungi dan melindungi. Tanpa seorang ibu, hidup seseorang bisa lebur dalam malapetaka. Tuhan menyempurnakan manusia sejak Dia menciptakan Hawa. (hlm. 141)
  4. Tuhan memang pencipta skenario yang Mahasempurna. (hlm. 167)
  5. Pernikahan itu memiliki cara tersendiri untuk menstabilkan saraf. (hlm. 226)
  6. Pernikahan bukanlah sebuah akhir, melainkan titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Menikah berarti membangun suatu kehidupan yang sama sekali baru,yang di dalamnya ada pribadi lain yang menjadi bagiannya. Semua dibagi dan dinikmati berdua tanpa syarat. (hlm. 261)

Banyak juga sindiran halus dalam novel ini:

  1. Idealisme para bintang kadang kerap harus berkompromi dengan keadaan. (hlm. 10)
  2. Kekuatan akting dan penjiwaan akan tercermin dari setiap gerak dan ekspresi di depan sorotan lampu kamera. Dan, hal itu berasal dari dalam jiwa. (hlm. 11)
  3. Makan dan tidur itu salah satu kenikmatan dunia yang luar biasa. (hlm. 20)
  4. Jangan kaget kalau suatu ketika kau mendapati banyak perempuan mendadak memandang sinis. Bisa jadi mereka merasa terancam. Perempuan terlalu sering memandang curiga pada mahluk sejenisnya. (hlm. 53)
  5. Utang budi hanya akan menghasilkan keidaknyamanan. (hlm. 97)
  6. Jangan terlalu gampang menaruh curiga pada orang lain. (hlm. 101)

Uwow, ada juga selipan khas Medan:

  1. Kalau di Medan, miso ini mirip-mirip bakso. Terdiri dari mi atau bihun yang disiram kuah. Juga ada tetelan atau suwiran ayam. Hanya saja, tanpa bakso. Paling enak dimakan dengan sate kerang. (hlm. 125)
  2. Danau Toba masih luas dan megah seperti yang diingat Mae. Airnya yang biru kehijauan tampak berkilau tertimpa sinar matahari. Panas yang menyengat kulit dengan serta merta menyambut. Mereka sempat mengabadikan momen-momen berharga saat berada di sekitar Pesanggrahan tempat Bung Karno pernah dibuang. Pemandangan dari tempat ini betul-betul luar biasa. (hlm. 1910

Ehem, ada adegan romantis yang diberikan Anton untuk meluluhkan hati Mae (♥̅ ⌣ ♥̅)

  1. Mae kehilangan kata-kata. Di dalam kotak berukuran sekitar empat puluh kali empat puluh senti itu, tersusun rapi puluhan, bahkan mungkin ratusan cokelat tipis panjang bergambar ayam jago. Cokelat yang begitu digandrunginya saat kecil. (hlm. 98)
  2. Anton hanya tersenyum penuh rahasia. Tangan kananya melingkari pundak kekasihnya. Mae terpekik heran sekaligus senang saat melihat wajah Tom Hanks muda muncul di layar bioskop. Entah sejak berapa tahun silam film ini menjadi salah satu favoritnya. (hlm. 203)

Keterangan Buku:

Judul                     : Cinta Tanpa Jeda

Penulis                 : Indah Hanaco

Penyunting         : Widyawati Oktavia

Proofreader       : Resita Febiratri

Penata letak       : Erina Puspitasari

Desainer sampul: Gita Mariana

Penerbit              : Bukune

Terbit                    : 2012

Tebal                     : 276 hlm.

ISBN                      : 602-220-059-8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s