REVIEW Perfect Wedding: Hadiah Terindah untuk Cinta

perfect wedding

Pernikahan adalah sebuah ikatan indah yang terbentuk dalam hubungan saling mengasihi. Menerima kelebihan dan kekurangan. Saling mengisi. Saling membutuhkan. Saling bekerjasama melewati cobaan kehidupan. Berbagi senang, atau bersama-sama menanggung duka. Itulah pernikahan. Pernikahan, adalah hadiah terbaik bagi sebuah cinta. (hlm. 208)

JULIA. Si kutu loncat. Sering berganti-ganti pekerjaan. Pindah dari satu kantor ke kantor lain. Dari menjadi bagian administrasi mall, CS bank, agen asuransi sampai akhirnya nyasar jadi sekretaris sebuah perusahaan properti.

Kerja di Tandayu Property selama hampir satu setengah tahun cukup menyenangkan. Kerjanya santai, meskipun harus kesepian karena tidak bisa bebas ngerumpi. Apalagi ruangannya terpisah dari karyawan lain. Dia bekerja di kantor Direktur Utama. Tapi tidak berarti juga dia satu ruangan dengan bosnya, Dixon. Satu ruangan sih iya. Tapi dia memiliki ruangan lagi di dalam ruangan itu. Rumit kalau dijelaskan. Yang jelas, ada sekat di antara mereka. Jadi, dia jarang bertemu dengan Dixon dan sebaliknya, meskipun dia sekretarisnya.

Julia adalah sekretaris kedua dari Dixon yang sekarang menjadi calon suaminya. Meski sebenarnya, Dixon lebih sering diurus oleh sepupu yang merangkap sebagai asisten serta tangan kanannya.

Julia sempat tidak mengerti apa sebenarnya fungsinya di perusahaan itu. Sekolah tinggi-tinggi hanya berakhir dalam tugas bikin kopi untuk bos. Yang membuatnya kerasan adalah gaji yang sesuai dengan fasilitas lengkap yang menyenangkan. Lalu setiap pagi, Dixon sering membawakan kue dan aneka oleh-oleh unik ketika pulang dari perjalanan bisnis ke luar Jakart.

“Jangan-jangan dia melamarmu karena dikejar oleh tuntutan harus segera menikah oleh orangtuanya!”

“Mamanya.”

“Jangan-jangan dia suka mempermainkan wanita!”

“Dia tidak pernah terlihat membawa wanita. Lagipula dia sangat baik dan sopan.”

“Nah itu lebih parah lagi! Bagaimana kalau dia itu sebenarnya kagak doyan wanita?”

“Kagak doyan wanita, maksudnya?”

“Masa gitu aja nggak ngerti?” (hlm. 46)

MEISHA. Seorang model yang baru-baru ini juga menjajal dunia film dengan bakat aktingnya. Karena paras yang cantik dan memiliki tubuh sempurna, bisa dipastikan dia dengan mudah memasuki dua dunia tersebut. Sexy, single, and free itulah adalah prinsipnya. Sebenarnya tidak hanya dia, tapi teman-temannya juga banyak yang seperti dirinya. Hidup lajang bisa bebas melakukan apa pun yang mereka suka. Tanpa ikatan dan tanpa tekanan.

Meisha yang terlihat sempurna sebenarnya memiliki masa lalu yang suram, tapi justru itu yang menjadikan cambuk agar hidupnya kini bisa diakui dan dipuji oleh orang lain, terutama laki-laki. Meisha mau membuktikan bahwa dia bertransformasi menjadi Meisha yang berbeda.

“Kamu nggak bisa main-main terus kayak gini. Cari tipemu dan mulailah jalin hubungan yang lebih serius. Memangnya kamu nggak pernah merasa aneh? Hampir setiap bulan dapat undangan nikah dari teman-teman seangkatan di sekolah dulu? Umur kita ini sudah memasuki masa-masa diundang ke hajatan teman sebaya. Memangnya kamu nggak ingin juga?” (hlm. 78)

OCTA. Kalau saja dia waktu itu punya pilihan, mungkin dia tidak akan sudi bekerja di bidang yang sangat dibencinya. Ini adalah ironi kehidupan. Julia berkali-kali mengutuk pekerjaannya, merasa iri dengan mereka yang bekerja di bidang yang mereka cintai, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya.

Faktanya, mencari pekerjaan itu sulit. Julia beruntung, ketika dia baru kembali dari Singapura dalam keadaan menyedihkan, Arjun datang mengulurka tangan. Memberinya pekerjaan, dan kembali menjadi sahabat terbaiknya.

Setelah melalui sebuah perjalanan panjang, Ever After tumbuh menjadi salah satu wedding organizer yang populer di Indonesia. Perusahaan ini berawal dari ide iseng Arjun. Saat itu karirnya di dunia entertainment Indonesia sedang berkibar. Arjun sering menjadi MC di acara pernikahan selebritas dan soasialita. Koneksi-koneksi yang dia miliki akhirnya membuat Arjun memiliki ide untuk membentuk perusahaan sendiri. Begitulah Ever After mulai merintis eksistensinya, tentunya setelah mengantongi izin dan surat-surat hukum.

Miris memang, Octa yang bekerja di sebuah wedding organizer ini adalah perempuan yang justru yang tidak percaya akan pernikahan, sekalipun ada dua pria yang mendekatinya; Arjun si seleb dan Chef Wenard yang keduanya memiliki kelebihan dan daya tarik masing-masing.

“Kalau kamu nggak siap dengan hubungan sejauh itu, aku siap menunggu. Setidaknya, biarkan aku menjadi temanmu. Biarkan aku membantumu.” (hlm. 161)

Tiga perempuan. Tiga cerita. Tiga masalah. Dan uniknya ditulisnya oleh tiga penulis. Setiap tokoh memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memandang arti sebuah pernikahan. Setiap tokoh memiliki permasalahan yang berbeda. Uniknya tiga tokoh utama dalam buku ini merupakan kakak beradik. Meski mereka bersaudara dan menyayangi satu sama lain, masing-masing menyimpan masa lalu dan luka di dalam dirinya, dan tidak membaginya ke saudaranya karena merasa saudara mereka bebannya sudah lebih berat apalagi nanti ditambah berbagi beban masalah saudaranya.

Julia yang manja dan egois sebagai anak tengah tapi beruntung karena dilamar bosnya yang kaya raya tapi dia belum yakin apakah ini yang dinamakan cinta atau hanya sekedar suka. Meisha dengan segala kehidupan bebasnya, merasa bahwa sebuah pernikahan akan membelenggunya untuk melakukan segala hal yang dijalaninya terlebih lagi melihat teman-temannya yang menikah bukannya happy ending malah terjerat dan terjebak dengan ikatan yang mengharuskan mereka patuh pada perjanjian suci yang sudah dilakukan. Dan Octa yang tidak menginginkan pernikahan karena baginya pernikahan baginya adalah sebuah ikatan yang serius, tidak main-main, dan justru itulah dia takut untuk mencoba berkomitmen.

Julia, Meisha dan Octa ini adalah representasi kehidupan para lajang di dunia nyata. Ada yang mengharap pernikahan manis bak di negeri dongeng dengan pangeran berkuda putih yang menjemputnya seperti impian Julia, atau seperti Meisha yang tidak mau terikat agar bisa bebas, atau juga seperti Octa yang takut dengan yang namanya pernikahan. Semua pilihan ada konsekuensinya. Dan semua pilihan adalah yang terbaik bagi yang menjalaninya sekalipun akan berbeda pada masing-masing individu.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Menikah itu mengenai dua orang yang akan membina kehidupan baru. Bukan seperti pacaran. Kamu harus benar-benar mengenalinya, karena bisa saja dia manis saat pacaran tapi baru terlihat benangnya ketika menikah. (hlm. 6)
  2. Kamu harus hati-hati dalam mengambil keputusan. Karena ini akan mengubah keseluruhan duniamu. (hlm. 6)
  3. Gimana kalo kita buat mudah aja? Nggak perlu terlalu susah, apalagi sampai harus hati=hati segala. Toh untuk mengenal seseorang bisa sambil jalan, kan? (hlm. 6)
  4. Pernikahan itu bukan kayak drama yang selalu berakhir happy ending. (hlm. 6)
  5. Tapi semua orang bilang cinta akan datang dengan sendirinya. Karena dalam negeri dongeng, pangeran dan putri bertemu tanpa mengenal cinta dulu. Tapi akhirnya mereka akan jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya. (hlm. 12)
  6. Tuhan menunjukkan jalan, kita manusia yang harus berusaha. Jika memang benar, maka perjuangkanlah. (hlm. 63)
  7. Hubungan pria dan manusia dimulai dari sebuah perasaan cinta. Kemudian ketika memasuki pernikahan maka harus dilandasi pula dengan kasih sayang, pengertian dan perhatian. Itu semua dijalani oleh komunikasi. (hlm. 63)
  8. Sebuah hubungan tidak akan berhasil bila kamu mementingkan ego. Karena cara tiap orang berbeda, jangan menetapkan standar pria lain kepada pria yang berbeda. (hlm. 63)
  9. Setiap manusia punya tanggung jawab melindungi diri sendiri. (hlm. 175)
  10. Masa depan itu misteri. (hlm. 175)
  11. Semua tidak akan pernah sama. (hlm. 199)
  12. Melajang atau menikah sama saja. Asalkan kamu bahagia. (hlm. 199)
  13. Menikah itu bukan hanya sekedar akhir bahagia. Tapi tumbuh bersama. (hlm. 200)
  14. Janji cinta melewati semua batas-batas yang diciptakan manusia. Karena ini menyangkut perasaan. Hati dan tanggung jawab seumur hidup. (hlm. 206)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kan masih muda, kenapa harus buru-buru untuk hal yang bisa dilakukan nanti-nanti? (hlm. 5)
  2. Memutuskan untuk menikah bukan perkara mudah. (hlm. 5)
  3. Apa perlu tiap pagi selfie? (hlm. 13)
  4. Kamu yakin sudah mau menikah? (hlm. 21)
  5. Menikah bukannya sebuah gerbang menuju kebahagiaan bersama dengan belahan jiwa kita? Lalu mengapa begitu rumit memikirkannya? (hlm. 21)
  6. Jangan main-main dengan pernikahan. (hlm. 55)
  7. Berhenti melarikan diri terus. Ketika kamu mengenal seseorang, maka dekatilah ia, mulailah bertanya dan masuki dunianya. (hlm. 62)
  8. Pria mengatakan bahwa wanita adalah mahluk yang sulit dimengerti. Tapi sebenarnya kita, para wanita juga merasa mereka mahluk yang rumit. (hlm. 62)
  9. Kamu jangan suka seenaknya. (hlm. 65)
  10. Jangan menyakiti dirimu sendiri. (hlm. 68)
  11. Bisa lebih cepat sedikit nggak sih? (hlm. 72)
  12. Pernikahan itu bukan akhir, tapi awal yang baru. Pernikahan itu melindungi. Masa lalu kamu yang memenjarakanmu. (hlm. 77)
  13. Pengantin memang diusahakan nggak boleh terlalu pusing, kan? Jadinya berimbas ke orang-orang yang disekitarnya. (hlm. 79)
  14. Jangan berkata yang nggak-nggak. (hlm. 139)
  15. Ikatan janji suci itu bukanlah yang mengikat para pengantin menjadi terpenjara di sisa hidupnya. Namun diri mereka sendirilah yang seringkali bermain-main dengan janji itu. Dan aku memantapkan diri untuk tak bermain-main lagi. (hlm. 140)
  16. Anak gadis itu nggak boleh bangun siang. Pantas saja kamu jauh jodoh. (hlm. 152)
  17. Menikah dijodohkan itu belum tentu sukses. (hlm. 153)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Perfect Wedding: Hadiah Terindah untuk Cinta

Judul                                     : Putu Felisia, Catz Link Tristan, Achi Narahashi

Desain kover                      : Chyntia Yanetha

Penata isi                             : Yusuf Pramono

Penerbit                              : PT Grasindo

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 210 hlm.

ISBN                                      : 978-602-251-892-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s