[Baca Bareng] REVIEW Love in London

WP_20160606_013[1]

Kalau memang tak harus mengejar, janganlah mengejar! (hlm. 5)

BINTANG ILHAM PRAYOGA. Rencana Bintang untuk melanjutkan pendidikan di Inggris awalnya adalah rencana mantan kekasih Bintang yang meninggalkannya menikah beberapa tahun yang lalu. Wanita lulusan desain interior itu bermimpi melanjutkan S-2 bersama-sama dengan Bintang setelah menikah. Ia adalah pecinta Lady Diana dan Kerajaan Inggris. Jadi, sudah cita-citanya dari kecil untuk melanjutkan pendidikan di Inggris.

“Gue punya target, Bin. Umur dua puluh empat gue nikah. Berarti dua tahun lagi ya? Biar beda usia gue sama anak gue nggak jauh.”

“Lho, katanya mau S-2 di London?”

“Memang kenapa? Ya gue bawa anak dan suami gue. Makanya, Bin, setiap gue kenal sama cowok yang menurut gue perpeluang untuk jadi partner masa depan gue, gue bilang ke dia kalo gue mau S-2 di London. Kalau dia nggak mau terima kemauan gue, silahkan mundur. Daripada nanti perasaan dia terlanjur dalam sama gue.” (hlm. 78)

Busyet, pede banget ya mantannya Bintang ini. Tapi ada loh, ada banget di kehidupan nyata orang seperti ini. Dari luar, mungkin orang lain melihatnya sebagai sosok sempurna yang memiliki segalanya; pasangan idaman dan anak yang lucu pastilah keluarga yang bahagia. Tapi ternyata dibaliknya hidupnya penuh dengan kebosanan dan kesepian karena setiap harinya hanya melakukan rutinitas yang itu-itu saja; urus anak, urus rumah, urus dapur. Begitu setiap hari, adakalanya orang-orang seperti ini akan cepat jenuh dengan kehidupannya. Jadi orang-orang seperti ini hendaknya jangan dinyinyirin, harus ditemani atau setidaknya didengarkan segala keluh kesahnya karena biasanya mereka beresiko mengalami stres di usia dini.

“Yang penting kamu berdoa terus sama Gusti Allah.” (hlm. 11)

Bintang sendiri yang tak pernah ke luar negeri dan tak pernah membayangkan sekolah di luar negeri, sering takut dengan mimpi mantan kekasihnya waktu itu. Apa benar takdir Bintang mengharuskannya harus melanjutkan pendidikan di luar negeri? Atau jangan-jangan ia hanya menjadi follower cita-cita orang lain? Ketika sedang bertanya kepada diri sendiri, Gusti Allah berkehendak lain. Perempuan itu memilih jalan hidup yang lain, sedangkan rasa penasaran Bintang akan kemampuan dirinya mulai muncul di hati. Ia mencoba peruntungan untuk melamar beasiswa S-2 ke Inggris. Setelah melalui proses yang cukup panjang, ia memenuhi persyaratan dan diterima di salah satu universitas terbaik di London. Mungkin tujuan Gusti Allah mempertemukan Bintang dengan perempuan itu bukan jodoh, tetapi agar Bintang punya mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke negeri Ratu Elizabeth itu.

Tak semua lawan jenis yang menyapa hidup pada akhirnya menjadi jodoh. Masih ada ribuan status lain. (hlm. 103)

Suka dengan karakter Bintang dan kedua teman satu flat yang sekamar denganya; Zain cowok blasteran Indonesia-Inggris yang melabeli dirinya sebagai musisi Indie Britpop dan Udjo berdarah Minang. Mereka bertiga memang bukanlah tokoh yang sempurna, tapi justru itulah karakternya saling melengkapi satu sama lain. Udjo dan Zain yang nggak pernah akur bagai Tom dan Jerry, Bintang lah sebagai penengah mereka. Udjo yang paling alim tapi selalu pedas kata-katanya dan nggak bisa basa-basi, Zain yang hidupnya nyantai dan enteng banget menghadapi hidup, dan Bintang ibarat tengah-tengahnya yaitu nggak sealim Udjo tapi juga sebebas Zain.

Ini adalah buku kedua dari serial #AroundTheWorldWithLove batch 2 yang saya baca. Seperti batch 1, meski berbalut aroma Islami, bisa dibaca untuk semua kalangan pembaca. Sejujurnya, dibandingkan Love in Paris yang ditulis Mbak Silvarani sebelumnya, saya lebih menyukai buku keduanya ini. Konfliknya lebih greget. Terasa banget aroma dunia kuliah dan berorganisasi di tanah rantau. Yang namanya kuliah, pasti akan menemukan percikan-percikan cinta saat kuliah atau berorganisasi. Seperti halnya Bintang, meski masih sulit melupakan mantannya, ada Fitri sang koordinator whatsapp ‘Beasiswa Inggris Angkatan IX’ yang teduh tapi bagi Bintang merupakan perempuan idaman atau Diva representasi perempuan berkelas dengan segala kehidupannya yang hedon teman blasteran di perkuliahan bareng Bintang yang saban hari minta diajarin belajar dengan ganjarannya Bintang akan mendapat makan gratis darinya.

Settingnya pun kental. Kita diajak menelusuri beberapa tempat seputaran London. Salah satunya adalah saat Bintang dan teman-temannya menyusuri London bagian Timur. Mereka menjelajahi berbagai tempat di London yang dianggap punya kisah seru dari masa lalu. Yang paling favorit di halaman 117-118, ada semacam surga jutaan bunga poppy yang merah layaknya darah. Hamparan bunga ini dirancang buat menghormati para pahlawan dan veteran perang. Pesan moral dari taman ini adalah supaya orang nggak terus-menerus hanya memikirkan masa lalu yang kelam, tapi juga harus memikirkan masa kini dan masa depan yang kemungkinan indah. Seperti bunga-bunga poppy yang dibuat di hamparan Tower of London ini. Merah tak hanya melambangkan pertumpahan darah di kastil ini, tetapi juga melambangkan mahkota bunga-bunga poppy yang begitu indah. Ini hasil saya googling, memang mengagumkan sekaligus bikin merinding:

poppy 1 poppy 2 poppy 3

Pesan yang disampaikan dalam buku ini nggak terkesan menggurui karena dihadirkan lewat tokoh Bintang, yang juga masih harus banyak belajar akan ilmu agama. Itulah kenapa Zain dan Diva lebih senang berbicara masalah agama kepada Bintang daripada Udjo yang ilmunya jauh di atas Bintang tapi terkadang justru bikin tersinggung orang yang diajak bicara. Pernah mengalaminya kan? Saya juga males sama orang yang sok tahu agama, lebih suka yang sama-sama mau belajar agama, ya seperti Bintang ini. Jadi kita nggak sungkan untuk bertanya hal-hal yang kelihatannya remeh tapi memang kita tidak mengetahui ilmunya.

Berikut selipan pesan moral yang terselip dalam buku ini:

  1. Utang puasa — meski sekilas tersentil di halaman 3 tentang kewajiban perempuan untuk membayar utang puasanya.
  2. Doa orangtua — saya selalu percaya, mau segigih apa pun atau sekeras apa pun kita berusaha tanpa restu orang tua, Tuhan tidak akan mengabulkan. Percaya banget dengan ungkapan; restu Tuhan terletak pada restu orangtua. Ada selipan pesan dari bapak untuk Bintang di halaman 7.
  3. Makanan halal — bagi perantau di negeri orang yang penduduknya minoritas muslim, tentu cukup sulit bagi Bintang untuk mendapatkan makanan berlabel halal. Meski makanan selezat apa pun, tidak serta merta langsung dilahapnya. Seperti di halaman 30 ketika Diva menawarinya sandwich isi daging.
  4. Shalat — meski saya ini nggak alim-alim amat, tapi suka meleleh kalo liat cowok yang begitu mendengar adzan langsung sholat #pengalaman. Seperti tokoh Bintang, sesuai pesan bapaknya, dia selalu berusaha menunaikan sholat di mana pun berada, seperti di halaman 36, 43-44, 62, 118, dan 140. Meski Bintang pernah juga kebablasan karena ketiduran x))
  5. Jabat tangan — jadi diceritakan bahwa Diva tersinggung ketika Bang Rozak, ketua HPI tidak menerima uluran tangannya. Suka banget ama filosofi Bintang yang mengibaratkan perempuan seperti cangkir teh mahal yang dipajang di tea house yang nggak boleh sembarang orang memegangnya kecuali yang membelinya. Sama halnya dengan perempuan, hanya laki-laki mahram perempuan dan yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap sang perempuan yang berhak menyentuhnya.
  6. Poligami — begitu juga dengan bahasan ini, di halaman 95-96 Bintang mendiskusikannya dengan Diva yang haus akan pengetahuan agama mempertanyakan isu yang paling berat ini. Ngomong-ngomong soal poligami, itu dulu merupakan objek penelitian skripsi saya pas bahas film, berat jendral… x))

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Orang yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang tahu apa yang ia cari di dunia ini dan berusajha menjalani dan mewujudkannya. (hlm. 107)
  2. Manusia memang hanya berusaha, dan Tuhan menentukan. (hlm. 157)
  3. Berteman tidak perlu tawaran. Kalau memang cocok dan hati nyaman, lama-lama kita juga bisa berteman. Bahkan, sampai dekat. (hlm. 169)

Lumayan banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Lebih baik menghindar daripada kejadian. (hlm. 61)
  2. Makanya jangan suka nudoh orang mabok! (hlm. 61)
  3. Lo kan temennya. Kok berprasangka buruk gitu? (hlm. 65)
  4. Katanya, orang Islam nggak boleh pacaran? (hlm. 82)
  5. Ukuran kebahagiaan itu bukanlah uang, karier atau jabatan. Semua itu kembali lagi ke hati. (hlm. 107)
  6. Kenapa sih langsung kasih jawaban sebelum dicoba? (hlm. 113)
  7. Namanya juga cowok. Kalau udah ada yang baru, bisa lupa yang lama. (hlm. 115)
  8. Mengapa hal-hal positif begitu mudah dilupakan? (hlm. 115)
  9. Siapa bilang laki-laki dewasa tidak pernah menitikkan air mata jika mengingat ia sedang berjauhan dengan keluarganya? (hlm. 141)
  10. Lupakan saja semua urusan yang bukan urusan kita! (hlm. 143)
  11. Kalau bisa gratis dapat ilmu, buat apa bayar? (hlm. 166)
  12. Kamu tuh kalau punya mulut dijaga dong! (hlm. 175)
  13. Sensitif banget sih lo kayak cewek PMS! (hlm. 175)
  14. Janganlah serakah dengan menamai nikmat orang lain sebagai nikmat diri sendiri. (hlm. 205)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Love in London

Penulis                                 : Silvarani

Editor                                    : Donna Widjajanto

Desain sampul                   : Orkha Creative

Desain isi                             : Nur Wulan

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 206 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2967-3

One thought on “[Baca Bareng] REVIEW Love in London

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s