REVIEW The Lady in Red

PicsArt_12_06_2016_8_07_59[1]

Lakukan yang terbaik untukmu, ikuti kata hatimu. (hlm. 290)

RHONDA. Di dunia ini hanya ada tiga orang yang bilang ia tidak gemuk; papanya, nenek buyutnya yang biasa dia panggil dengan sebutan Nana Betty, dan Gregory Drew. Jika mamanya masih ada, mungkin akan ada empat orang yang bilang ia tidak gemuk, karena seperti yang ia baca dari buku-buku cerita, seorang mama adalah seperti malaikat yang tidak pernah mengucapkan satu pun hal buruk tentang anak perempuannya. Tapi mamanya sudah tidak ada. Mama Rhonda meninggal beberapa hari setelah melahirkan Rhonda. Dia punya selembar foto mama yang didapat dari papanya. Foto itu selalu disimpan di dompetnya. Sejak kecil, Rhonda suka menggambar dan wajah mamanya adalah yang paling sering digambar Rhonda, berdasarkan foto yang dimilikinya itu. Kata papa Rhonda, bakat mengambar Rhonda yang didapat dari mamanya. Tapi walaupun sudah menggambar wajah itu berulang kali, tetap saja Rhonda tidak bisa membayangkan wajah mamanya tanpa melihat foto. Di Wotton Farm ada beberapa lukisan yang dulu dibuat mama Rhonda. Rhonda selalu memandangi lukisan itu dan membaca coretan nama Linda Wotton pada ujung kanan bawah, tanda tangan mamanya.

Bagi Rhonda, Wotton Farm adalah rumahnya. Tidak seperti kakaknya, Henry, yang punya sedikit ingatan bahwa ia pernah tinggal di apartemen mereka di San Francisco sewaktu mama mereka masih muda, Rhonda tidak punya ingatan itu karena ia memang tidak pernah tinggal di sana. Dari rumah sakit, ia langsung pulang ke Wotton Farm, begitu kata Nana Betty. Dan Nana Betty adalah orang yang paling dekat dan paling disayang Rhonda. Nana Betty memang sudah tua dan baunya memang seperti bau orang tua, tapi Rhonda suka bau minyak angin bercampur sabun itu. Itu bau yang menemaninya tidur sedari ia bayi.

“Bahkan mungkin ia akan lebih terpengaruh bila ada seekor sapi yang hilang. Tapi masakan Rhonda harus iri pada sapi?” (hlm. 149)

GREG. Ia tidak tahu apakah ia berhak menganggap Wotton Farm rumahnya. Ia tahu tempat itu memang bukan milik keluarganya, tapi keluarganya memang tidak pernah memiliki tanah sendiri. Mereka hanya orang sederhana yang hidup dengan bekerja pada orang lain, melayani orang lain. Sudah seperti itu sejak dulu. Orangtuanya bekerja di Wotton Farm, kakeknya juga, begitu juga kakek buyutnya. Harus berapa generasi lewat sebelum kau boleh menyebut tempat bekerjamu sebagai rumahmu?

Greg mengenal setiap jengkal dan sudut Wotton Farm lebih daripada Henry dan Rhonda, yang merupakan anak pemilik tempat ini. Sejak ia bisa merangkak, ia sudah merangkak di antara tanaman kedelai dan alfalfa di sana. Sejak ia bisa berjalan, ia sudah berjalan di antara tanaman jagung yang terlihat menjulang dari sudut pandang seorang anak kecil. Sejak ia bisa berlari, ia sudah berlari di antara pohon-pohon redwood tanpa sekali pun pernah tersesat. Dan ia yang selalu memastikan Henry dan Rhonda tidak tersesat.

Rhonda lebih suka bermain dengan Greg daripada dengan Henry. Henry selalu berlagak besar dan sering memerintah dirinya dan Greg. Setiap kali mereka bermain, Henry yang menentukan jenis permainannya. Setiap kali mereka hendak pergi menjelajah, Henry selalu mau menjadi penentu arah walaupun jelas-jelas Greg tahu lebih banyak tentang lahan Wotton Farm. Setelah si bossy Henry pergi, Rhondan jadi bisa menentukan segalanya dan Greg selalu menuruti kemauannya seolah tampak pemerintahan sudah pindah dari tangan Henry ke tangan Rhonda walaupun Rhonda lebih kecil daripada Greg. Hanya jika Greg datang pada akhir minggu, ia mengambil alih tampuk pemerintahan itu lagi. Tapi jika Rhonda ditanya siapa Greg, ia tidak tahu apakah ia harus menjawab bahwa Greg adalah pelayannya, atau temannya, atau bahkan kerabat jauhnya. Tapi Rhonda juga tidak pusing tentang hal itu. Toh jika ada yang bertanya, ia tinggal bilang bahwa Greg adalah Greg.

“Kau cinta sapi-sapimu. Kau tidak perlu liburan.” (hlm. 223)

“Hei, manusia sapi. Apa kau begitu kangen denagn sapi-sapimu sampai bengong seharian?”

“Aku bukan manusia sapi.”

“Tapi kau kangen sapimu ya?” (hlm. 226)

“Mungkin dia kangen pacarnya.”

“Dia tidak punya pacar. Dia kangen sapi-sapinya.” (hlm. 227)

“Ayo, spill it out, man! Jika tidak, aku yakin kau akan meledak. Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu? Apakah ada sapi yang sakit dan sekarat? Apakah ada mesin traktor yang tidak betul walaupun telah kau utak-atik sebulanan?” (hlm. 238)

Bersetting suasana peternakan sapi di Fort Bragg (hanya ada dua peternakan sapi di sana), kita serasa diajak penulis menelusuri dua kehidupan peternakan di sana. Sampe lupa kalo ini sebenarnya karya penulis lokal, berasa buku terjemahan. Dikemas unik dan sangat rapi alur ceritanya.

Dan yang bikin unik lagi adalah buku ini sebenarnya tidak menceritakan satu generasi sebuah keluarga, tapi juga beberapa generasi; orangtua, kakek nenek, maupun kakek nenek buyutnya yang nantinya akan berhubungan kisahnya satu sama lain. Saya tidak akan menjabarkan satu per satu tokoh penting lainnya dalam buku ini, karena nantinya jadi tidak seru lagi bagi yang belum membacanya.

Dari sekian tokoh yang dimunculkan, paling suka ama Nana Betty, yaitu nenek buyut Rhonda. Dari awal, sikapnya sudah mencuri perhatian. Setidaknya ada tiga kejadian yang membuat saya terpincut ama tokoh ini. Pertama, meski Wotton Farm dan Stephens Farm memiliki hubungan yang tidak baik secara turun temurun, sebagai menantu keluarga Wotton, datang ke Stephens Farms untuk mengunjungi Wanda, yang merupakan menantu dari pemilik Stephens Farm dengan membawa setples selai apel. Seminggu kemudian ia mengunjunginya lagi sambil membawa jaket rajutan untuk Jammie, anaknya Wanda. Kedua, saat Rhonda mogok tidak mau sekolah dan mempertanyakan apa pentingnya sekolah jika dia bisa belajar dari nenek buyutnya ini dan memiliki teman seperti Greg yang selalu siap sedia di mana pun saat dia membutuhkan, Nana Betty menasehatinya dan membujuk Rhonda agar mau sekolah. Ketiga, adalah dia bisa membaca pikiran Rhonda yang sedang gundah gulana dalam menentukan masa depannya. Ya, ikatan batin antara nenek buyut dan cucu memang terasa kuat, meski usia mereka terpaut jauh. Pokoknya juara  banget deh, Nana Betty!!😉

“Sayang, sudah kubilang. Apa pun akan kutinggalkan demi dirimu. Jika aku boleh menganalisis, Wotton memerlukan dirimu. Dan aku akan ada di mana dirimu berada. Aku akan membantumu. Dan aku akan bisa melakukannya dengan baik supaya kau tetap bisa melukis!” (hlm. 303)

Dari sisi Rhonda, ada selipan pesan yang disampaikan penulisnya lewat tokoh ini; memilih passion. Ya, Rhonda sudah memantapkan hati untuk sekolah dan melanjutkan cita-citanya lebih serius yang awalnya merupakan hobinya sedari kecil; menggambar. Beruntungnya lagi, Rhonda didukung oleh keluarganya yang men-support penuh hobinya ini.

Beruntung pangkat dua, setelah dia dikenal sebagai peluksi ternama, banyak laki-laki yang mendekat. Brandon salah satunya, banker dengan posisi lumayan di perusahaan ternama. Meski awalnya Rhonda menganggap Brandon biasa saja seperti pemuja pada umumnya, lama-lama Rhonda meleleh juga; mengirim 12 buket sekaligus untuknya, memborong ratusan crepes di NCC demi mengosongkan tempat tersebut agar Brandon bisa berdua dengan Rhonda, belum lagi reservasi ke Mamma Maria, restoran Italia yang amat terkenal.

Pesan moral dari buku ini adalah perasaan dari lubuk hati tidak bisa disangkal. Sejauh apa pun atau sekecil apa pun rasa yang tertinggal dalam lubuk hati, tidak bisa dihapus begitu saja. Dan berhati-hatilah dalam menilai orang lain, karena yang terlihat sempurna belum tentu terbaik bagi kita.

Suka ama buku ini, meski dari cover dan judulnya terkesan misterius, sesungguhnya buku ini benar-benar romantis!!😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Benar-benar ada begitu banyak hal yang bisa terjadi dalam kurun waktu 24 jam. (hlm. 84)
  2. Selalu ada pertama untuk segalanya. (hlm. 121)
  3. Setiap orang perlu liburan. (hlm. 223)
  4. Terkadang risiko memang harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. (hlm. 278)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Melamunkan apa sih? cowok ya? (hlm. 158)
  2. Bukankah sudah kubilang untuk tidak berdiri terlalu jauh dariku? (hlm. 178)
  3. Kalian memang aneh. Jadian diam-diam, putus diam-diam. (hlm. 184)
  4. Bukannnya hanya perlu satu menit untuk mengirim SMS? (hlm. 190)
  5. Lain kali kau harus lebih peka! (hlm. 236)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Lady in Red

Penulis                                 : Arleen A

Editor                                    : Dini Novita Sari

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 360 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2712-9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s