REVIEW Heart Quay

PicsArt_19_06_2016_14_10_13[1]

“Jadi kau minta putus?”

“Tidak pernah pacaran. Lalu ada hak apa untuk meminta putus. Tidak pernah memiliki, haruskah merasa kehilangan?”

“Jadi selama ini hatimu tidak pernah berubah. Kau bersamaku hanya karena perjanjian yang kita buat. Mengapa hatimu sekejam itu?”

“Bukankah telah kaukatakan sebelumnya? Kita berdua hanya dua orang kesepian yang kebetulan bersama. Itu saja. Apakah aku salah? Kau telah setuju. Kapan pun salah satu dari kita ingin pergi, tidak ada yang berhak melarang. Jadi, selamat tinggal.” (hlm. 61)

ZOYA. Mengajar bahasa Mandarin di taman kanak-kanak, sekolah berlabel intenasional; Happy Little Kids. Baginya, bekerja di taman kanak-kanak memang melelahkan tapi menyenangkan. Anak-anak memiliki dunia yang polos. Dunia itu yang membuatnya bertahan, melihat mereka berkembang, bahagia rasanya seperti kembali ke masa di mana manusia tidak memiliki beban apa pun.

“Bersamalah denganku selalu. Ambillah bentuk apa pun. Buatlah aku gila! Tapi jangan tinggalkan aku dalam jurang ini, di mana aku tak bisa menemukanmu. Aku tak  bisa hidupku. Aku tak bisa hidup tanpa jiwaku.” (hlm. 92)

Takdir telah mengatur semuanya dengan sangat aneh. Mempertemukan dua hati, lalu memisahkan. Hati yang telah pecah berkeping-keping itu mungkin hadiah terbaik bagi Zoya, selalu mengingatkannya untuk tidak lagi terlibat dalam cinta. Permainan yang akan membunuhnya sedemikian rupa hingga hancur tak dapat berdiri lagi. Dan apakah waktu dapat menghapusnya?

Benar. Waktu telah menghapus semua jalan hidup. Perasaan. Cinta. Semua mulai berotasi dan berubah dalam jalur yang semakin jauh, terpisahkan oleh jarak dan semakin pudarnya kenangan. Meski hubungan komunikasi telah sangat mudah lewat jejaring sosial maupun telepon genggam. Jarak adalah jarak.

“Kita akan terus bersahabat. Friends are forever.” (hlm. 14)

ZOYA, SANTI dan TIARA bersahabat sejak duduk di bangku sekolah. Mereka telah berjanji akan terus bersama-sama. Apa pun yang terjadi. Persahabatan adalah yang utama. Tidak akan berubah. Ditambah lagi, Tiara memberikan mereka sebuah gelang yang masing-masing berinisial S, T dan Z bergantung bersama hiasan-hiasan lain di gelang itu. Sebuah gelang persahabatan yang telah mendampingi mereka selama lima tahun.

Di antara mereka bertiga, Tiara akan menikah terlebih dahulu dibandingkan sahabat-sahabatnya itu. Harusnya Zoya dan Santi bersuka cita menyambut kabar baik ini, tapi bagi Zoya ini adalah petaka. Calon suami Tiara adalah orang masa lalu yang pernah berlabuh di hati Zoya. Sahabat-sahabatnya itu tidak pernah tahu, karena dulu dia merahasiakan hubungan ini. Apakah persahabatan mereka akan berlangsung langgeng?

“Memangnya ada obat untuk penyakit perasaan?”

“Tentu saja ada. Tuhan telah menciptakan obat yang sangat ajaib. Bukan hanya menyembuhkan, tapi juga melindungi, menyejukkan. Cinta.”

“Tapi cinta juga bisa mendatangkan rasa sakit, kan?”

“Obat pun bisa berubah menjadi racun. Tergantung bagaimana kau memandangnya. Tergantung bagaimana kau menggunakannya.”

Cinta adalah sesuatu yang ajaib. Kadang-kadang begitu egois, namun saat hati semakin terbuka oleh kasih, cinta berubah menjadi sesuatu yang agung. Penuh pengorbanan, ketulusan dan kerelaan.”

“Apakah cinta yang seperti itu memang ada?” (hlm. 155-156)

Selain tema persahabatan, buku ini sebenarnya juga membahas tentang rasanya menjadi boneka keluarga, seperti yang dialami Elang. Semua yang dijalaninya bukan kehendaknya, tapi kehendak orangtuanya, termasuk soal perasaan.

Ber-setting Singapura, buku ini juga menyelipkan sindiran halus seputaran Singapura. Seputaran individunya yang malas berinteraksi, berbeda sekali dengan penduduk Indonesia yang ramah terhadap siapa saja. Banyaknya peraturan yang ada di sana. Dan kadar stres di Singapura sangat tinggi, mungkin karena hidup di sana segalanya tertib dan teratur. Ada juga sindiran halus tentang orang Indonesia yang rata-rata ke Singapura bisa dipastikan tujuan utamanya bukan traveling, tapi belanja. Juga banyaknya orang Indonesia yang melanggar peraturan di sana.

Pesan moral dari kisah buku ini adalah bahwa sekeras apa pun kita berusaha, jika Tuhan menyangkal takdir Tuhan, tidak akan pernah terwujud sesuatu yang kita inginkan itu. Karena Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita minta, tapi mengabulkan apa yang terbaik bagi kita.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Carilah gadis yanga akan membuatmu bahagia. (hlm. 25)
  2. Kau tidak akan pernah tahu apa yang dapat dilakukan oleh takdir. (hlm. 26)
  3. Tidak ada yang tahu tentang masa depan, termasuk dirinya sendiri. (hlm. 26)
  4. Apakah cinta memerlukan alasan? (hlm. 36)
  5. Cinta hanyalah perasaan. Apakah perasaan dapat menerjang begitu banyak halangan? (hlm. 37)
  6. Memiliki seseorang memang sangat membahagiakan. (hlm. 38)
  7. Tidak ada salahnya menyukai seseorang. (hlm. 87)
  8. Rasanya setiap orang memang harus memiliki kesibukan sendiri. (hlm. 115)
  9. Kenangan adalah kenangan. Bagaikan mimpi yang musnah saat kita terbangun, kenangan pun berlalu. (hlm. 117)
  10. Apakah cinta mengenal waktu? (hlm. 122)
  11. Perasaan itu adalah sesuatu yang abstrak. Mungkin saja kalian hanya memiliki ketertarikan sesaat, tapi siapa yang tahu? Mungkin saja suatu saat nanti ketertarikan itu akan berubah menjadi cinta yang mengikuti kalian untuk selamanya. (hlm. 128)
  12. Kalau Tuhan mempertemukan kalian dalam pernikahan, itu artinya Dia menginginkan kalian untuk saling mencintai selamanya. (hlm. 143)
  13. Hidup bukan hanya sola cinta. Ada banyak hal selain itu. Ada perjuangan. Ada tanggung jawab. (hlm. 193)
  14. Namun dalam hidup, seringkali kita harus memilih. Kita tidak mungkin memiliki selamanya. (hlm. 206)
  15. Terkadang tangan manusia terlalu kecil untuk memiliki semua di dalam genggaman. Persahabatan. Cinta. Hal-hal yang menyangkut perasaan. (hlm. 211)
  16. Kau memang berhak menyukai seseorang. Tapi kau tidak bisa memaksa orang menyayangimu. (hlm. 217)
  17. Waktu adalah segalanya. Waktu bisa memberi luka. Namun dia juga menyembuhkan. (hlm. 223)
  18. Hidup terus berjalan. Sama seperti sinar matahari yang selalu datang setiap pagi. Menyiratkan kegembiraan dan harapan baru. (hlm. 227)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Memiliki sifat keras kepala bukan berarti memiliki hak untuk menyakiti orang lain. (hlm. 34)
  2. Anak gadis jangan pilih-pilih. Kata orang Bali, pilih-pilih bekul, ingin yang terbaik malah dapat yang terjelek. (hlm. 37)
  3. Pacar kan bukan sejenis buah. (hlm. 37)
  4. Siapa suruh kau tidak menjaga mulutmu. (hlm. 42)
  5. Peraturan dibuat untuk dilanggar. (hlm. 54)
  6. Jangan berpikir terlalu banyak. (hlm. 56)
  7. Jangan terlalu memaksakan diri. (hlm. 56)
  8. Manusia itu sangat egois kan? (hlm. 73)
  9. Apakah rasa suka bisa datang secepat itu? (hlm. 88)
  10. Menyembunyikan hubungan itu sama saja dengan membungkus api dengan sehelai kertas tipis. (hlm. 107)
  11. Kalau kau mencintai dia, mengapa menyembunyikan dia dan hubungan kalian? Mengapa kau tidak pernah berusaha mempertahankannya? (hlm. 107)
  12. Bagaimana mungkin manusia dapat menanggung kesalahan yang bukan kesalahannya? (hlm. 110)
  13. Pernah mencintainya, lalu dilupakan begitu saja, rasanya amat menyakitkan. (hlm. 113)
  14. Hubungan yang tidak sederhana itu terlalu indah untuk dilupakan. (hlm. 113)
  15. Menjelang menikah, orang memang gampang gelisah, bagaimanapun kau harus istirahat. (hlm. 130)
  16. Berhentilah berpura-pura. (hlm. 132)
  17. Hanya sebuah kata. Cinta. Telah sanggup mengubah banyak nasib. Banyak kehidupan. Menjebak jiwa-jiwa kesepian dalam racun yang manusia. Lalu memberikan rasa sakit dan pedih yang luar biasa menakutkan. Luka membekas. Tanggung jawab yang semakin besar. (hlm. 136)
  18. Kita semua suka melihat orang dari kulit luarnya saja, bukan? (hlm. 140)
  19. Cinta adalah sesuatu yang ajaib. Kadang-kadang begitu egois, namun saat hati semakin terbuka oleh kasih, cinta berubah menjadi cinta ynag agung. Penuh pengorbanan, ketulusan, dan kerelaan. (hlm. 156)
  20. Tidak usah berbelit-belit. (hlm. 192)
  21. Kau tahu dan terus berpura-pura, itu sangat sakit, bukan? (hlm. 201)
  22. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. (hlm. 216)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Heart Quay

Penulis                                 : Putu Felisia

Desain cover                      : Alif Jannata Hikariza

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Juni 2013

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9762-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s