[Baca Bareng] REVIEW Love in Blue City

WP_20160606_007

Jangan meminta terlalu banyak. Sayang-sayang itu harus diperjuangkan. Bukan hal yang bisa diminta sewaktu-waktu seperti baju obralan yang tak laku. (hlm. 132)

Sayang itu harus diperjuangkan ya. Kalau begitu, beri aku kesempatan untuk memperjuangkan sayangmu. (hlm. 135)

NADA. Jika di buku Love in Marrakech masih belum menemukan passionya, di buku sekuelnya ini, Nada perlahan menemukan passion yang ingin ditekuninya yaitu bidang desain. Memiliki dua tukang payet dan meski menjahitnya masih dititip di tukang jahit langganan, tapi ini merupakan kegiatan baru yang berarti bagi Nada. Bahagia rasanya melhat orang jadi tambah cantik mengenakan baju-baju buatannya.

HAYKAL. Sahabat Tristan, kakak Nada sedari SMA. Pria unik ini melanglang buana berkat profesinya sebagai travel writer. Lebih dari setahun yang lalu, kepada ini pula Tristan menitipkan Nada ketika gadis itu memutuskan solo traveling ke Marrakech.

WP_20160607_044

Saat itu Haykal menyanggupi, menemani Nada di sana. Sampai di situ kisah mereka memang baik-baik saja. Hang tidak baik-baik saja adalah munculnya fakta tersembunyi, bahwa Nada diam-diam mulai menyukai pria bengal ini.

Nada sudah membuang jauh-jauh perasaan itu dan pulang ke Jakarta. Sayang takdir berkata lain. Di sebuah blog, Nada menemukan fotonya yang diambil Haykal di Sahara. Beberapa pucuk surel yang beterbangan antara Nada dan si pemilik blog, membawa informasi baru bagi Nada, bahwa Haykal ternyata tinggal di Blue City.

Menumpang rencana bulan madu Tristan, Nada memutuskan mendatangi kota yang terletak di wilayah Barat Laut Kerajaan Maroko ini. Tidak hanya untuk Haykal, tentu saja! Atau setidaknya itu yang dia akui.

Sebagai pecinta maniak biru, Nada merasa bahwa kunjungan wisata ke Blue City adalah semacam kewajiban yang harus ditunaikan. Alasan itu yang dia katakan pada kakaknya.

Seperti halnya Nada, saya juga suka banget. Tanpa disadari, banyak barang yang dimiliki dengan dominasi warna ini. Kreatifnya, Mbak Irene menjabarkan jenis-jenis biru sebagai pergantian BAB dalam buku ini. Totalnya ada lima belas jenis biru; mulai dari baby blue sampai royal blue. Lucu juga ya kalo nanti punya anak, kalo cowok namanya navy blue dan kalo cewek namanya sapphire blue x)) #TolongJanganDicontek

WP_20160607_065[1]

Subhanallah…kece bingit kota Chefchaouen yang serba biru ini:

blue city 1

blue city 2

blue city 3

Beberapa video yang menampilkan keajaiban pesona Chefchaouen:

Chefchaouen, kota kecil ini terletak di timur laut Maroko, dekat Laut Mediterania. Kota yang dihuni sekitar 40.000 penduduk itu menjadi salah satu destinasi yang diburu banyak wisatawan dunia. Terletak di jantung pegunungan Rif, Maroko, Chefchaouen menawarkan keindahan kota kecil dengan latar belakang dramatis pegunungan. Yang semakin dipercantik dengan adanya jajaran rumah berwarna biru pucat. Keindahan kota yang sering disebut Kota Biru ini pun semakin diperkuat oleh warna rumah-rumah di Madinah yang bercat terang. Suasana santai yang ditunjukkan oleh kota ini juga membuat Chefchaouen nyaman untuk dikunjungi.

Menariknya lagi, Chefchaouen ternyata juga dianggap sebagai salah satu destinasi belanja yang populer karena menawarkan banyak kerajinan asli yang tidak tersedia di tempat lain di Maroko, seperti pakaian wol dan selimut tenunan. Bukan hanya itu, keju kambing juga menjadi kuliner khas Chefchaouen yang banyak dicari oleh para wisatawan.  [Sumber lengkap: KLIK]

WP_20160606_009

Bagaimana jika kau terbang melintasi benua demi seorang pria yang (sepertinya) kau sukai, namun ternyata kau temukan dia sudah bersama orang lain? (hlm. Xi)

Tawa yang berdenting. Bukan deskripsi yang sering digunakan Haykal, tentu saja. Tapi memang begitulah adanya. Tawa Nada selalu berdenting. Tawa itu menjadi aksen menyenangkan di tengah lantunan suaranya yang senatiasa lembut. Meski lebih sering diucapkan dalam nada membentuk pada Haykal, suara Nada selalu lembut. Haykal curiga, sebenarnya gadis itu tidak pernah benar-benar bisa marah. Hanya berlagak. Galak iya, tapi tidak menakutkan. Tidak menimbulkan perasaan terancam. Justru sebaliknya, menggemaskan. Membuatnya ketagihan, sengaja ingin membuat Nada marah, menggodanya bertubi-tubi.

Sebenarnya saya nggak begitu suka ama tokoh Nada; galak, manja, labil, penakut, cengeng. Pokoknya tipikal ababil zaman sekarang. Mungkin ini efek karena terlalu dimanja keluarganya, terutama kakaknya, Tristan yang menjaganya over protektif.

PicsArt_08_06_2016 2_00_59

Jangan menggunakan kalimat yang terlalu berbelit saat kamu berbicara dengan laki-laki. Kami adalah mahluk bodoh yang tidak ahli membaca pikiran, tidak pandai menggali makna tersembunyi, bukan pakar permainan tebak-tebakan. (hlm. 137)

Sama seperti kasus di buku yang pertama, nggak jauh-jauh dari sikap Haykal seperti laki-laki pada umumnya yang kurang peka akan sikap perempuan. Misalnya saja, saat pertama kali Haykal dan Nada bertemu kembali di Blue City ini, ternyata Haykal mengenalkannya pada seorang model cantik yang nyaris sempurna fisiknya bernama Noemie. Ya jelas Nada langsung minder donk. Itu pun nggak hanya sekali. Pas pemotretan baju-baju yang di desain Nada yang dikenakan Noemie, Haykal tampak akrab banget ama Noemie dan seolah-olah dunia hanya miliki mereka Noemie. Nada ibarat butiran debu di padang pasir x))#PukPukNada #CowokEmangGitu

PicsArt_08_06_2016 2_02_37

Selalu ngakak tiap Rania menyebut Noemie dengan istilah ‘monyet’-nya Haykal. Soalnya kemana pun Haykal pergi, di situ pasti ada Noemie. Kalo di sinetron ada Ganteng-ganteng Serigala, di buku ini ada Cantik-cantik Monyet x)) #DikeprukNoemie

“Berhentilah memikirkan orang lain, Nada. Kalau kamu terus-menerus mengurusi perasaan orang lain, pusing menebak apa yang mereka pikirkan, takut melukai mereka, lalu siapa yang memikirkan dirimu?”

“Aku tidak ingin menjadi wanita egois…”

“Itu bukan egois! Kamu hanya mengejar kebahagiaanmu. Tidak bolehkah manusia melakukannya? Semua orang ingin bahagia, Nada. Mungkin kecuali kamu? Bagaimana mungkin kamu bisa membahagiakan orang lain, bila kamu sendiri terus-menerus tersiksa?” (hlm. 167)

Sebenarnya mudah bagi Nada membenci Noemie jika perempuan itu adalah sosok yang menyebalkan. Nyatanya, selain cantik, dia juga berbaik hati menjadi model bagi baju-baju yang di desain Nada. Padahal Noemie adalah model yang terkenal di negara ini. Tanpa bantuan Haykal, mana mungkin bisa berkesempatan mengenal Noemie. Dan yang paling penting lagi adalah semenjak mereka berkenalan, Noemie ingin mengenal Nada lebih lanjut untuk mempelajari agama. Karena bagi Noemie, sosok Nada mengingatkan almarhumah mamanya. Jadi, mana yang harus dipilih Nada; mengorbankan hatinya ke arah yang mana?

“Bila Nada yang kau inginkan, berjuanglah untuk mendapatkannya. Dan semoga kau tidak terlalu tinggi hati untuk berjuang dengan cara yang kau lupakan selama ini, yaitu dengan doa.” (hlm. 176)

PicsArt_08_06_2016 2_03_50

Berikut selipan pesan moral yang terselip dalam buku ini:

  1. Tipe-tipe muslim. Tanpa disadari, ada beberapa tipe muslim yang melekat pada diri seorang muslim/muslimah. Di halaman 51, Noemie menyebut Nada sebagai muslim serius, sedangkan Haykal disebutnya sebagai muslim fleksibel.
  2. Adegan dimana Nada sangat marah ketika Haykal memeluknya yang sebenarnya tanpa disengaja. Mungkin kesannya lebaya, tapi di sini kita bisa melihat bahwa Nada sangat kaget dengan sikap Haykal yang refleks itu karena Haykal bukan muhrim bagi Nada.
  3. Minoritas muslim. Bagi Noemie yang dulunya tinggal di sebuah daerah yang penduduknya muslim dengan kapasitas minoritas, tentu amatlah berat. Terutama soal intimidasi yang bikin lemah iman. Mungkin ini adalah salah satu faktor kenapa dia tidak pede dengan identitas yang dimiliknya dulu.
  4. Hijab = fashion. Mungkin dulu ada anggapan jika mengenakan hijab adalah kuno dan terlalu konvensional. Siapa sangka kini menjamurnya hijab fashion. Meski kita sering mendengar anggapan nyinyir tentang fashion, menurut saya justru dengan fashion inilah kini hijab mendunia dan menepis anggapan bahwa dengan berhijab berarti menutup kemungkinan perempuan tampil cantik. Yang penting masih sesuai syariah loh ya. Saya suka dengan padupadankan sandang yang dikenakan, tapi juga nggak suka ama dandanan yang terlalu heboh, misalnya dandanan ala bling-bling yang aneh banget menurut saya x))
  5. Uhuk, masalah yang lumayan sensitif. Jadi berkaca dari kisah Nada, bahwa kita terkadang seakan ingin mendahului takdir. Yang ada di angan-angan kita belum tentu takdir yang digariskan Tuhan oleh kita x)) #eaaa #JLEB

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Mama adalah wanita yang manis dan menawan. Berada di dekatnya pada musim panas, kamu akan terasa sejuk. Sebaliknya, duduk di sebelahnya pada musim dingin, kamu bakal menikmati kehangatan. (hlm. 81)
  2. Semua orang punya kesempatan, bukan? (hlm. 136)
  3. Hidup ini selamanya indah kalau kita pandai bersyukur. Kalau kita ikhlas menerima skenario Tuhan, apa pun bentuknya. Kan kadang yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Dia. Seberapa pun kita menginginkan sesuatu dan berusaha keras mendapatkannya, kalau kita mengingkari takdir, ya pasti luput..” (hlm. 192)
  4. Konon, isi pikiran kita bisa berkembang menjadi doa. (hlm. 197)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan macam-macam deh. (hlm. 3)
  2. Matahari sudah tinggi. Kamu sih, tidur kayak bantal. (hlm. 4)
  3. Kalau kamu berani macam-macam. Aku tinggal kamu sendirian di sini. (hlm. 5)
  4. Kenapa sih nggak minta oleh-oleh yang simple saja? (hlm. 7)
  5. Kenapa harus bertemu? Apa hakmu menentukan? (hlm. 14)
  6. Kenapa sebingung ini sih milih-milih baju? Seperti mau jamuan presiden aja! (hlm. 18)
  7. Kamu ini, jadi perempuan jangan apatis. Sudah galak, apatis pula. (hlm. 19)
  8. Sudah deh, kamu jangan iku-ikutan! (hlm. 38)
  9. Repot amat ya jadi wanita. (hlm. 72)
  10. Kebenaran memang kadang terasa pahit. (hlm. 107)
  11. Itulah gunanya berjalan dengan pria. Dia memang harus melindungimu dari panas-hujan-angin, juga serangan orang jahat kalau memang ada. (hlm. 113)
  12. Permusuhan, diskriminasi, perang, apa pun bentuknya, bukanlah sesuatu yang dia sukai. (hlm. 117)
  13. Bukankah semua wanita memang dilahirkan untuk berbakat pelik? Mereka adalah mahluk yang suka sekali membesarkan hal-hal kecil, membuat rumit sesuatu yang sederhana. Sulit ditebak, seperti arah terbang seekor kecoak atau arah belok sebuah bajaj. (hlm. 126)
  14. Jangan mudah percaya orang asing. (hlm. 145)
  15. Kalau memang sesakit itu, kenapa tidak kamu ambil jalan yang lebih mudah? (hlm. 193)
  16. Konon, lelaki ditakdirkan sebagai mahluk yang tidak mumpuni melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu. (hlm. 198)
  17. Wanita, mahluk yang hobi dengan teka-teki! (hlm. 208)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Love in Blue City

Penulis                                                 : Irene Dyah

Editor                                                    : Donna Widjajanto

Desain sampul                                   : Orkha Creative

Desain isi                                             : Nur Wulan

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2016

Tebal                                                     : 219 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-2865-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s