REVIEW The Perfect Husband

PicsArt_22_06_2016 11_14_26

Hidup itu seperti grafik yang naik-turun, nggak ada perjalanan yang mulus. Sama seperti perputaran bumi, kadang kita menikmati pagi dan terkadang merasakan malam. Terkadang kita berada di atas, justru terkadang kita ada di bawah. Setiap manusia diberi cobaan yang berbeda-beda. Tuhan akan selalu menguji, seberapa kuat hidup kita menghadapi dunia yang kejam dan mengerikan ini. (hlm. 533)

AYLA HANTARA MUHTI. Masih kuliah dan masih berkutat dengan skripsi. Bayangkan, di usianya yang hampir menginjak angka 25 masih belum melewati ritual bertoga alias wisuda. Jika dia melewati enam tahun masa kuliah, sama halnya dia melewati SD yang butuh waktu enam tahun juga. Bukannya mikir skripsinya, dia justru sibuk pacaran dan bersenang-senang dengan temannya ke kelab sana maupun kelas sini. Mamanya sudah putus asa. Papanya geram, menjual mobilnya agar nggak keluyuran dan jalan pintasnya adalah menikahkannya dengan anak temannya yang memang sedari dulu sudah ada kesepakatan untuk menjodohkan mereka.

“Sekarang jelaskan sama Ayla, kenapa Ay harus menikah dengan Arsen? Apa kehebatan Arsen sampai Papa begitu mempertahankan dia untuk menjadi suaminya, Ayla?”

“Karena Arsen adalah sosok suami idaman para wanita. Kamu harus percaya dengan pilihan Mama dan Papa karena kami sangat kenal keluarga Arsen dengan baik.”

“Ayla, tetap nggak mau menikah sama Arsen. Please, jangan paksa Ayla, Pa.” (hlm. 35)

“Nggak masalah kok, kalo Ayla nggak jadi nikah sama Arsen. Toh, masih banyak laki-laki di dunia ini yang lebih segala-galanya dari dia.”

“Ayla saya, Mama dan Papa tidak mungkin menjodohkan kamu dengan orang yang tidak baik. Jadi menurut kami, Arsen itu udah laki-laki paling perfect untuk menjadi suami yang bisa bimbing kamu ke surga.”

“Oh, maksud Mama, Ayla bakalan masuk neraka gitu? Kalo nikah sama Arsen, baru deh Ayla masuk surga. Menurut pelajaran agama yang selama ini Ayla telateni sejak SD, masuk surga dan neraka itu tergantung amal ibadah yang kita lakoni di dunia. Bukan tergantung dengan mas-mas tua itu.” (hlm. 55)

ARSEN WAFI HALIIM. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan ketika dia remaja. Beranjak dewasa, dia tinggal bersama adiknya, Vanila dan sang nenek yang mengurus mereka pasca kematian yang merenggut orangtua mereka. Beban berat dipikulnya untuk menghidupi tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga kehidupan adik dan neneknya. Untunglah dia bekerja sebagai piliot, sesuai cita-citanya sejak kecil. Menjadi pilot memang salah satu pekerjaan yang membagakan bagi sebagian orang; prestise di mata orang lain dan juga gaji yang besar dibandingkan profesi lain. Tapi bukan itu alasan Arsen, dia memilih sebagai pilot lebih ke panggilan jiwa dan hati.

“Saya akan berjanji mencintai kamu setulus hati, Ayla.”

“Oke, mungkin kamu bisa mencintai aku setulus hati dengan caramu sendiri. Tapi aku? Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, Arsen. Aku nggak bisa! Apalagi aku ini abis patah hati! Harusnya kamu bisa ngerasain gimana sakitnya hatiku. Remuk, Sen. Remuk!”

“Saya juga janji, tidak akan membuat hati kamu patah. Lagipula, saya ini masih single. Belum menikah. Jadi kamu tidak perlu takut dibilang sebagai perusak hubungan rumah tangga orang lain.”

“Aku tetap nggak bisa jatuh cinta sama kamu!”

“Ayla, cinta itu datang karena terbiasa. Terbiasa lihat saya, terbiasaan berduaan dengan saya…”

“Jadi? Kamu tetap ingin menerima perjodohan ini meskipun kita tidak saling mencintai satu sama lain? Dan kamu merasa, kita bisa menunggu hadirnya cinta yang terbiasa itu?” (hlm. 47)

“Kalo gitu kasih alasan aku yang jelas!”

“Karena takdir sudah mempertemukan kita kembali, Ayla.”

“Hello, hari gini masih percaya aja dengan takdir? Oke, mungkin kita memang dipertemukan karena takdir. Tapi belum tentu kalo kita itu berjodoh, kan? Pikiran kamu terlalu ketuaan.”

“Terserah kamu mau bilang apa. Jika kamu terus berusaha untuk membuat perjodohan kita batal, maka usaha saya lebih keras lagi untuk membuat kita menikah. Percayalah dengan saya, Ayla.” (hlm. 108)

Dijodohkan itu memang nggak enak. Apalagi dengan orang yang sama sekali nggak dikenal. Tapi jangan bayangkan yang dijodohkan itu seperti sosok Datuk Maringgih dalam kisah Siti Nurbaya. Arsen dalam buku ini nyaris sempurna; tamvaan dan mapan. Apalagi coba!?! X)) #RebutArsenDariAyla

Tapi yang namanya perasaan memang nggak bisa dibohongi. Mau setamvaan apa pun, semapan apa pun juga, sebaik apa pun, urusan hati memang nggak bisa diganggu gugat. Apalagi kalo baru patah hati macam Ayla karena pacarnya ternyata sudah memiliki istri. Perih jenderal!! X))

Nggak tahu kalo selama ini pacarnya memiliki istri, kuliah nggak kelar-kelar hampir enam tahun, dan beberapa sifat Ayla yang saya nggak suka ama cewek tipikal macam ini:

  1. Untuk ukuran perempuan dewasa yang berusia dua puluh lima tahun, Ayla ini kekanakan banget. Plus egois. Contoh di halaman 14-16 ketika papanya melarang dia keluar untuk hang out. Menangis kayak remaja yang masih sekolah. Ini umur dua puluh lima loh, di mana umur yang saatnya udah bisa hidup mandiri.
  2. Nggak sopan dan ketus terhadap orangtua. Seperti di halaman 28 ketika dia dipertemukan dengan keluarga Arsen; adik dan Nenek Arsen. Se enggak sukanya kita ama orang, apalagi ama orangtua ya musti jaga sopan santun. Apalagi di halaman 72, Ayla bentak Nenek Arsen. Yang bikin heran, kenapa kok Nenek Arsen bisa suka ama Ayla? X)) #GagalPaham
  3. Marah-marah saat mobilnya dijual, selain biar dia nggak keluyuran, alasan Papanya adalah untuk membiayai uang semesteran kuliahnya. Meski ada motif terselubung Papa Ayla agar dia bisa dianter jemput Arsen. Maksud Papa sebenarnya tepat, tapi justru Ayla marah-marah. Imbalannya Arsen yang kena getahnya, jika mereka menikah, dia harus membelikan Ayla mobil. Ulalala…matrenya terang-terangan ya.
  4. Di halaman 164 ketika Ayla sudah menikah dengan Arsen. Maksud Papa Ayla memang benar agar menyuruhnya tinggal di apartemen Arsen. Selain mereka sudah menikah juga agar Ayla hidup mandiri, masak iya tiap hari suaminya justru keperluannya dilayani orang lain? Apa guna punya istri… x))
  5. Setelah menikah, Arsen memberinya ATM sebagai kewajibannya sebagai suami terhadap sang istri. Kasihannya, si istri ini nggak tahu diri. Uang berapapun dia habiskan, termasuk membelikan barang-barang mahal untuk teman-teman akrabnya. Ya Tuhan…matre apa matre ini namanya… x))
  6. Ketika masalah menghadangnya (yang sebenarnya nggak berat-berat amat) mau ambil jalan pintas alias bunuh diri di halaman 452. Duh, pikirannya sempit amat ya? Pantes waktu itu kuliahnya lama dan nggak lulus-lulus.. x))
  7. Selalu ngerasa sial. Padahal kalau dipikir kesialannya justru bersumber dari dirinya sendiri. Dijodohkan karena orangtuanya angkat tangan dengan tingkah polahnya dan berharap setelah menikah dia bisa berubah. Menabrak anak kecil ketika mengendarai mobil secara serampangan, dan kehilangan sesuatu yang berharga ketika sudah membangun rumah tangga. Kalau dipikir-pikir, ini semua karena ulahnya sendiri. Dia sering meratapi nasih dan selalu merasa hidupnya sial, drama bange. Hidup berkecukupan. Punya keluarga yang sayang dan peduli padanya. Punya suami tamvan dan mapan. Apalagi sih yang dicari?!?

Sangat berkebalikan dengan sifat Ayla, sifat Arsen nyaris sempurna bak malaikat:

  1. Ini akan menjadi poin paling penting yang dilihat orang tua.
  2. Berjanji pada Ayla untuk nggak hanya menjadi suami yang baik, tapi jadi imam bagi Ayla di kehidupan setelah mereka menikah. #eaaa
  3. Sopan dan menghargai perempuan. Meski sudah menikahi Ayla yang artinya seharusnya dia halal jika mendekati Ayla, tapi karena dia paham jika Ayla belum ikhlas menerimanya, dia rela tidur di sofa demi agar nggak seranjang dengan Ayla.
  4. Menghargai dan tidak ingin mengecewakan orang lain. Contohnya saat Ayla membuatkannya kopi, padahal dia nggak bisa minum kopi, tapi ya tetap aja diminum kopinya dan berujung pada sakit kepala.
  5. Sebagai suami yang bertanggung jawab, dia menafkahi Ayla secara finansial dengan memberikannya ATM karena baginya uang suami adalah uang istri

Jadi mikir kan masak sosok sempurna macam Arsen mau-maunya ama Ayla yang sifat jeleknya aja sejibun itu. Apa karena Ayla cantik dan seksi? Ternyata ada hal yang membuatnya mau menikahi perempuan yang dijodohkan dengannya ini. Selain itu, dari luar Arsen memang terlihat sempurna. Tapi dibalik itu menyimpan masa lalu yang kelam dan bisa dikatakan hatinya rapuh. Karena apa? Baca aja sendiri..😉

“Jangan pernah membenci seseorang sampai sebegitu bencinya, Sayang. Kita tidak tahu, entah besok perasaan itu akan langsung berubah jadi cinta.”

“Mbak nggak tahu gimana rasanya menikah dengan cara perjodohan kuno seperti ini. Mbak nggak tahu gimana rasanya dijadikan sebagai bahan dari wasiat. Mbak nggak tahu rasanya dimanfaatkan!” (hlm. 96-97)

Tema berprofesi sebagai pilot menjadi poin lebih dari buku ini. Membahas kehidupan pilot yang memang mapan karena bergaji besar (jadi iseng googling gaji pilot, dan wow gajinya memang mencengangkan!), tapi penuh resiko karena memiliki tanggung jawab yang besar karena membawa nyawa banyak orang, waktu terkuras karena lebih banyak dihabiskan di tempat kerja dibandingkan dengan keluarga, dan sedikit selipan rumor tentang hubungan pilot dan pramugari yang menjadi rahasia umum yang sering kita temukan di kehidupan nyata.

Meski saya nggak suka ama tokoh utama ceweknya, ada pesan moral yang bisa kita ambil setelah membaca novel ini bahwa Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi memberikan yang terbaik kita. Dan belajar dewasa dalam menyikapi hidup, terutama setelah melewati jenjang pernikahan yang nggak hanya manis-manisnya saja yang dirasakan, tapi juga pahitnya kehidupan.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Di dunia ini, nggak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. (hlm. 253)
  2. Jangan sepelekan murkanya orang sabar dan kecewanya orang yang sudah menjaga, menyayangi, mencintai kita dengan tulus. Karena perasaan orang yang sudah kecewa, akan sulit diobati. (hlm. 259)
  3. Ada saatnya orang sabar itu meninggalkan apa yang selalu buat dia sabar. (hlm. 315)
  4. Sesorang harus merasa kehilangan dulu baru menyesal, tapi giliran sudah menyesali perbuatannya, mereka justru sulit untuk mendapatkan kesempatan itu kembali. (hlm. 421)
  5. Terkadang ada kalanya orang sabar itu meninggalkan apa yang membuatnya sabar ketika semua pengorbanan, ketulusan kesetiaan, dan cinta tidak pernah dihargai lagi. (hlm. 455)
  6. Harus ada yang berjuang, harus ada yang maju. Kalau dua-duanya mundur, semua akan berakhir begitu saja. Pernikahan itu bukan main-main loh. (hlm. 461)
  7. Sekeras apa pun hati seorang pria, ketika mereka melihat wanita yang dia cintai menangis, pasti hati itu akan berubah menjadi luluh juga. (hlm. 475)
  8. Jika Tuhan memberikanmu cobaan, itu tandanya Tuhan sayang sama kamu. Jika engkau tak mampu menghadapinya sendiri, lihatlah orang-orang disekelilingmu dan sadarlah bahwa kamu masih memiliki keluarga serta teman-teman yang akan membuatmu tersenyum, tertawa dan diam-diam menyemangatimu. (hlm. 567)
  9. Jangan memandang indahnya langit, tapi juga kesakitan tanah yang engkau pijak. Lihat ke bawah, masih banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung dari kamu. (hlm. 567)
  10. Jika kamu terjatuh, jangan lupa untuk bangkit kembali. Jika engkau tidak bisa bangkit, merangkaklah! (hlm. 567)
  11. Selalu ada jalan di setiap masalah. Selalu ada secercah harapan di setiap kesulitan. Jangan pernah menyerah selagi kamu masih memiliki Tuhan. Berdoalah, meminta, maka Tuhan akan mengabulkannya. Meski tidak sekarang, namun kebahagiaan akan datang padamu perlahan demi perlahan. (hlm. 568)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Ternyata kamu lebih stres karena tidak bisa keluar malam daripada tidak keluar kuliah? (hlm. 14)
  2. Kalau kamu masih waras, kenapa kamu bisa sampai mabuk! (hlm. 22)
  3. Kenapa sih hidup jadi seberat ini? Bahkan lebih berat dari pada masalah wanita. (hlm. 35)
  4. Dasar modus! Ngakunya aja nggak suka, tapi matanya sampai mau keluar gitu! (hlm. 82)
  5. Kalo nggak bisa minum beralkohol jangan dicoba-coba. Bukannya nambah pengalaman, tapi kamu justru nambah dosa. (hlm. 94)
  6. Kalo gugup itu biasa, tapi jangan terlalu panik. (hlm. 95)
  7. Daripada mengurus sikap orang lain, lebih baik urus sendiri sikap kamu yang sudah berubah menjadi orang gila! (hlm. 117)
  8. Jadi cewek kok lelet banget sih. (hlm. 160)
  9. Kamu pikir nyawa anak saya itu bisa diganti dengan uang? (hlm. 215)
  10. Jangan melemparkan kesalahan kepada orang lain. (hlm. 297)
  11. Ya ampun, emang maish zaman di jodoh-jodohin? (hlm. 346)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Perfect Husband

Penulis                                 : Indah Riyana

Penyunting                         : Letitia Wijaya

Penyelaras akhir               : Rafilus Olenka

Pendesain sampul           : Kiky

Penata letak                       : DewickleyR

Penerbit                              : Romancious imprint Fantasious

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 576 hlm.

ISBN                                      : 978-602-6922-31-1

3 thoughts on “REVIEW The Perfect Husband

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s