[BACA BARENG] REVIEW Love in Auckland

WP_20160606_006

“Aku mencintaimu karena kau menggenapiku.” (hlm. 184)

DUNCAN. Pria yang hampir menginjak usia tiga puluh tahun. Dia memiliki bahu lebar, menjulang hingga 181 sentimeter. Dengan bibir tipis, rambut pirang kecoklatan, mata abu-abu, dagu persegi, serta hidung lancip. Dia kini menjadi laki-laki yang patuh dengan ibunya. Sang ibu yang mendorongnya memilih Nuke karena dianggap sebagai pasangan yang sempurna. Padahal dia tahu, ‘pasangan yang sempurna’ itu menyerupai kemustahilan.

Dia memang belum pernah memperkenalkan Nuke dengan siapa pun, bahkan dengan Felix yang merupakan salah satu orang terdekatnya. Bahkan karena dia benar-benar cemas Felix akan memikat Nuke atau sebaliknya. Tapi, karena Duncan sendiri tidak punya keyakinan bahwa dia dan Nuke akan bertunangan. Seakan dia berharap ada keajaiban atau peristiwa di luar nalar yang bisa menggagalkan rencana tersebut.

Andai ibunya memintanya bertunangan dengan Nuke tiga tahun lalu, sudah pasti Duncan akan menolak mentah-mentah. Tapi, apa yang dialaminya belakangan ini, membuat laki-laki itu tidak punya nyali untuk membangkang pad sang ibu lagi. Sudah banyak kepedihan yang ditimbulkan Duncan di masa lalu. Kini dia ingin membuat semacam penebusan.

“Menghabiskan sisa hidupmu yang menjemukan itu bersama Nuke. Jangan bilang kau jatuh cinta padanya! Cuma orang buta yang tidak menyadari kau tak tertarik padanya. Mama…entahlah. kurasa, mama hanya mau memanfaatkan kepatuhanmu saja.” (hlm. 8)

PicsArt_08_06_2016 1_56_21KELLY. Dia tahu, tidak ada sosok pasangan sempurna seperti dalam dongeng. Namun, Sherwin memenuhi standar yang diidamkan Kelly. Kalau tidak, mustahil dia melisankan pesetujuan untuk menikahi laki-laki itu tahun depan. Meski ada jurang menganga di antara mereka. Dia tak sanggup laki berpura-pura tidak ada masalah, sementara di sisi lain Sherwin makin kerap bertanya-tanya.

Kelly berprofesi sebagai bridal cosultant di sebuah toko gaun pengantin berlabel Kirana Mahardika. Toko tempat Kelly bekerja berjarak sekitar satu setengah kilometer dari kantor Sherwin. Sejak kesibukan kekasihnya kian menumpuk, Kelly memang lebih sering mendatangi kantor Sherwin yang berada di lantai tiga, sebelum pulang bersama.

“Maaf kalau keputusanku melukai hatimu. Aku cuma bisa berharap kau mengerti. Aku juga tidak pernah menginginkan ini. Tapi, aku tidak mau berpura-pura kita baik-baik saja.” (hlm. 106)

PicsArt_08_06_2016 1_42_49

Duncan dan Kelly sama-sama menjalani hubungan yang tidak sehat dengan pasangannya masing-masing. Duncan yang pasrah saja perjodohan yang dilakukan mamanya dengan Nuke yang cinta mati dengannya sedari dulu dan Kelly yang sudah lama pacaran tapi masih belum merasa mendapatkan kecocokan dengan pasangannya dan merasa mentok dan pesimis jika ini adalah takdirnya karena belum tentu nantinya menemukan pasangan yang lebih baik dari yang sudah ada. Duncan memiliki adik perempuan, Nina yang selalu mengingatkannya bahwa tidak ada rasa cintad dilihatnya dari Duncan untuk Nuke dan Kelly memiliki rekan kerja sekaligus sahabat bernama Cilla yang selalu siap sedia mendengarkan curahan hatinya dan memvonis pacaran Kelly – Sherwin tidak lagi sehat karena selalu muncul perdebatan bukannya hal-hal manis yang dilalui dari hubungan sebuah ikatan antara sepasang manusia.

PicsArt_08_06_2016 1_55_01

Jangan buru-buru mengambil keputusan. (hlm. 58)

Buku keempat yang saya baca dari seri Around the World with Love batch 2 ini, mengambil setting Auckland. Adalah sebuah kota yang dibangun di atas 53 gunung berapi yang sudah tidak aktif. Di masa lalu, Auckland pernah mencicipi kehormatan sebagai ibu kota New Zealand, sebelum posisi itu dialihkan pada Wellington.

Penulis menyelipkan tempat-tempat ini di Auckland yang menjadi setting novel ini:

Auckland_Harbour_Bridge_With_Flag auckland-war-memorial-museum GuadalupeCageDive Sky Tower And Auckland Sky line Voyager-New-Zealand-Maritime-Museum-600x399

“Memilih gaun pengantin yang sesuai keinginan itu mungkin sama sulitnya dengan mencari jodoh. Kau tak perlu merasa tak nyaman hanya karena belum memantapkan pilihan.” (hlm. 130)

Pesan utama yang ingin disampaikan penulisnya adalah tentang jodoh. Kita kerapkali mendahului takdir Tuhan. Sekeras apa pun kita mengusahakannya, jika kita merasa nggak klik di hati akan susah diaminkan oleh semesta. Begitupula sebaliknya, sekeras apa pun menyangkal rasa yang ada di balik hati yang paling terdalam, semesta selalu akan mendukung. Karena takdir akan melewati jalur yang sudah ditetapkan meski berliku jalan yang harus dilalui.

PicsArt_08_06_2016 1_40_53

Berikut selipan pesan moral yang terselip dalam buku ini:

  1. Shalat — sang tokoh utama selalu menyempatkan sholat di mana pun berada. Meski di Auckland, tempat paling jauh dari sentuhan Islami sekalipun.
  2. Lebaran — betapa lebaran menjadi hari raya paling sakral bagi umat Muslim.
  3. Toleransi beragama — hal itu terlihat dari sisi kedua tokoh utamanya. Dari sisi Duncan, papanya menghormatinya puasa, dan istrinya dengan senang hati mau memasakkan apa pun pilihan Duncan. Sedangkan dari sisi Kelly, sahabatnya Cilla yang berbeda agama dengannya juga memiliki sikap toleransi yang tinggi.
  4. Halal — baik Kelly maupun Duncan juga selalu menjaga kehalalan makanan yang mereka santap. Dalam memilih makanan, Kelly harus lebih berhati-hati. Baginya, kehalalan suatu santapan harus mendapat perhatian utama. Begitu juga Duncan, dia makan apa saja yang penting halal.
  5. Perkawinan beda agama — ibarat perumpamaan; satu perahu sebaiknya dinahkodai oleh stau orang saja. Toleransi, itu satu hal. Hidup dengan pasangan yang memiliki perbedaan fundamental dengan kita, itu soal lain. Menikah dengan orang yang berbeda keyakinan, tak segampang yang terlihat. Belum lagi jika punya anak. Benar sekali, banyak sekali di dunia nyata kita lihat bahwa seorang anak yang memiliki orang tua berbeda keyakinan akan kebingungan menentukan pilihannya ketika beranjak ke mana yang harus ditujunya.
  6. Merawat orangtua — Kelly yang sudah lama hidup hanya bersama ibunya, nggak mungkin tega meninggalkan ibunya jika kelak dia menikah. Dan nggak tega juga meninggalkan ibunya di panti jompo. Lain halnya dengan Duncan, meski dia juga hanya tinggal bersama ibu dan adiknya, dia sangat menghargai para orangtua penghuni panti jompo. Secara rutin dia membawakan masakan untuk para penghuni jompo tersebut, nggak heran jika dia menjadi idola nenek-nenek di sana. Dari sini kita melihat bahwa betapa pentingnya merawat orang tua di kala mereka sudah tua nanti. Sesungguhnya mereka tidak minta apa-apa dari anaknya, hanya mau merawat mereka kelak seperti mereka dulu merawat anak mereka saat masih kecil.

PicsArt_08_06_2016 1_49_18

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Cinta bisa datang perlahan. (hlm. 8)
  2. Selagi ada kesempatan, kenapa tidak dimanfaatkan? (hlm. 28)
  3. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Justru harus bersyukur karena kau punya kesempatan menjelajahi dunia ini. Menikmati keindahan di tempat lain, menyaksikan bukti kebesaran Allah. (hlm. 29)
  4. Jangan merasa bersalah. Apa yang sudah terjadi, anggap sebagai pelajaran hidup yang mahal. Mungkin ini cara Allah menyelamatkan hidupmu. (hlm. 103)
  5. Meski tak mudah, lupakan masa lalu. Hiduplah untuk masa kini dan masa depan. (hlm. 125)
  6. Cinta adalah perasaan yang tak bisa dikendalikan, tak bisa dipaksa-paksa. (hlm. 157)

PicsArt_08_06_2016 1_47_02

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Tidak semua laki-laki seperti itu. Kau jangan jadi paranoid. (hlm. 2)
  2. Jangan membahas hal-hal sedih. (hlm. 3)
  3. Jangan menyamaratakan semua orang. Tidak semua laki-laki memukuli perempuan kok. (hlm. 3)
  4. Orang macam apa yang telat hampir satu jam di acara pertunangan sahabatnya? (hlm. 9)
  5. Laki-laki kadang salah paham dengan hal-hal semacam itu. (hlm. 18)
  6. Efek kecelakaan tidak akan pernah pulih. Meninggalkan jejak luka yang terlalu dalam dan takkan bisa dihapus. Bahkan oleh waktu yang konon memiliki kesaktian untuk itu. (hlm. 20)
  7. Cuma orang gila yang menolak. (hlm. 26)
  8. Memangnya kenapa kalau melewatkan satu kali aja Lebaran? (hlm. 27)
  9. Pensiun hanya diperuntukkan bagi manusia uzur. (hlm. 39)
  10. Cinta saja tak cukup. (hlm. 58)
  11. Makanan itu untuk dinikmati, bukan untuk dipelototi. (hlm. 60)
  12. Kau jangan melamun terus. (hlm. 85)
  13. Tidak ada aturan kalau seorang perempuan harus piawai di dapur kok. (hlm. 88)
  14. Hidup ini tidak bisa diprediksi. Jangan terlalu lama membuang waktu, kau bisa menyesal nanti. (hlm. 90)
  15. Konflik dan semua ketegangan mirip penyakit mematikan yang membunuh rasa cinta yang dimiliki pelan-pelan. (hlm. 98)
  16. Tuhan sudah melarang, tapi tetap bersikeras. Mengabaikan kata-kata-Nya dengan sadar. Tapi, kita salah. Tuhan melarang karena itu memang yang terbaik untuk hamba-Nya. (hlm. 101)
  17. Kalau larangan Allah saja kau langgar, bagaimana dengan larangan ibu? (hlm. 102)
  18. Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan memakinya di depan umum. (hlm. 109)
  19. Laki-laki hebat biasanya sudah ada yang mengklaim. (hlm. 110)
  20. Kau selalu mengoceh sembarangan. (hlm. 117)
  21. Kau tidak perlu repot-repot ikut campur. (hlm. 118)
  22. Berhenti memaksakan bahagia. (hlm. 153)
  23. Kenapa kita harus menunggu selama itu kalau memang sudah pasti kita akan menikah? Untuk apa buang-buang waktu? (hlm. 157)
  24. Tidak ada gunanya lagi terus berpura-pura. (hlm. 158)
  25. Jangan pernah mengucapkan kata-kata cinta dengan mudahnya. (hlm. 165)
  26. Jangan suka mempermainkan hati seseorang. (hlm. 170)
  27. Pacaran tanpa kepastian kapan akan menikah itu menyerupai hubungan yang tak jelas. Dan buang-buang waktu kalau kita tidak punya tujuan sejak awal. (hlm. 183)
  28. Tuduhan untuk dosa yang sama sekali tak disentuh adalah puncak dari rasa sakit. (hlm. 188)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Love in Auckland

Penulis                                                 : Indah Hanaco

Editor                                                    : Donna Widjajanto

Desain sampul                                   : Orkha Creative

Desain isi                                             : Nur Wulan

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2016

Tebal                                                     : 206 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-2809-6

WP_20160606_014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s