REVIEW Alkisah Kasih

WP_20160724_003

Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda paling bernilai. (hlm. 83)

ANDJANI SAFIRA, penyiar D-News TV. Ya, lulusan psikologi ini malah terdampar sebagai penyiar berita ternama. Awalnya dia mencoba sebagai penyiar karena merasa tertantang melihat temannya yang hanya memiliki kemampuan nggak seberapa tapi malah mendulang sukses sebagai penyiar. Profesi yang awalnya hanya ia jadikan batu loncatan untuk sebuah pengakuan dirinya, akhirnya dipilih sebagai profesi yang dijalaninya hingga sekarang. Punya profesi yang menjanjikan plus pacar yang (hampir) menikahinya harusnya melengkapi kesempurnaan hidupnya. Sayangnya, sebuah bencana mampir melanda kehidupannya. Raja yang diimpikannya menjadi pasangan sampai akhir hayat justru memilih jalan lain. Dan membuat hidup Andjani kalang-kabut dan tidak bisa fokus akan pekerjaannya.

ARDIAN. Dokter spesialias anestesiologis di Jakarta Sentra Medika. Baginya, menjadi dokter bukanlah sekedar sebuah profesi yang membanggakan, tapi merupakan panggilan hati untuk menolong orang lain.  Dokter dianggap profesi yang serius, tapi kesan itu akan hilang jika mengenal sosok Ardian, dokter tengil yang sering mengeluarkan jokes yang terkadang garing tapi tak jarang juga bikin nyengir x))

“Karena dia cantik?”

“Karena dia apa adanya.”

“Nah, disinilah perbedaan pandangan kita, Di. Kamu mau dijodohkan, sementara aku nggak. Bagiku perjodohan sama saja mengekang hak asasi manusia. Kita punya hak menetukan dan memilih dengan siapa saja kita mau menikah. Khusus kasusku, masa sih aku dijodohkan karena eyang kakungku punya utang budi sama sahabatnya saat zaman perang dulu!” (hlm. 112)

Andjani dan Ardian awalnya tidak saling mengenal, namun karena sebuah kecelakaan mereka dipertemukan. Andjani yang sedang kalut menyeberang jalan sembarangan dan Ardian yang sedang mencari calon tunangannya malah menabrak Andjani. Ya, persamaan mereka adalah sama-sama dijodohkan. Jika Andjani sudah dijodohkan sejak kecil demi menyelamatkan harga diri utang nyawa keluarganya dan meski sudah berusaha keras menyangkalnya tapi tidak ada yang bisa mengelak dari titah eyang putrinya, lain halnya dengan Ardian yang pasrah dengan perjodohan yang sudah diatur oleh orangtuanya.

“Mungkin bisa dibilang bodoh karena aku sama sekali nggak punya intensi apa pun selain keyakinan bahwa orang baik pasti disayang Tuhan. Lagipula aku nggak mau menghabiskan hidupku untuk menunggu datangnya cinta sejati. Yah, siapa juga yang tahu orang yang kunikahi itu memang cinta sejatiku atau bukan? Buatku yang terpenting bukanlah siapa yang kunikahi, tapi bagaimana aku membangun pernikahan itu dengan keyakinan dan komitmen.” (hlm. 114)

“Seberapa besar sih rasa cintamu ke dia? Apakah saking besarnya sampai melebihi cinta ke dirimu sendiri? Badanmu semakin kurus sejak terakhir kita ketemu. Aku khawatir, An, karena sekarang kamu mirip tengkorak hidup.” (hlm. 154)

Membaca kisah Andjani jadi greget sendiri. Kalau yang belum pernah merasa patah hati pasti merasa jika apa yang dilakukan Andjani berusaha terlalu keras mempertahankan cintanya untuk Raja. Memang sebuah sia-sia jika melakukan apa yang nggak bakal bisa terwujud. Tapi jika sudah pernah merasa patah hati, apalagi pernah berada di posisi Andjani memang berat untuk menyangkal sesuatu yang bukan milik kita lagi. Lebih perih lagi ketika orang yang sudah payah dipertahankan justru hanya memanfaatkan kita seperti Raja dalam kisah ini, perihnya pangkat dua x)) #KeprukCowokMacamRaja

Berkaca dari kisah Andjani yang sedari kecil terkena imbas didikan keras eyang putrinya menjadi pembelajaran buat kita bahwa hidup di bawah tekanan hanya akan membuat beban hidup seseorang semakin berat dan akan menimbulkan dampak psikologis yang akan terbawa hingga dewasa kelak.

Sebagai psikolog, penulis mampu meramu kisah Andjani dan Ardian yang sama-sama memiliki permasalahan dijodohkan dan menyikapinya dengan cara yang berbeda. Pesan moral dari buku ini adalah bahwa sekeras apa pun kita menyangkal takdir yang sudah digariskan tetap tidak bisa mengubah takdir tersebut.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Semua masalah pasti ada solusinya. (hlm. 43)
  2. Ingat, besok masih ada matahari. Masih ada harapan. (hlm. 56)
  3. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda paling bernilai. (hlm. 83)
  4. Ucapan pertama adalah doa. Begitu orangtua kecewa, maka yang terjadi adalah kebalikannya. (hlm. 130)
  5. Semua pekerjaan butuh proses dan perjuangan. (hlm. 137)
  6. Bagi wanita, tak ada yang lebih membahagiakan selain menghabiskan sisa hidup bersama pria yang mencintai dan menjunjung wanita itu tinggi—tinggi. (hlm. 176)
  7. Percaya deh, semua manusia sudah ada jodohnya masing-masing. (hlm. 180)
  8. Kalo lo meramalkan masa depan lo bakal baik-baik saja, maka nggak bakal pernah ada perceraian. (hlm. 220)
  9. Mencintai itu hendaknya di kala susah maupun senang. (hlm. 236)
  10. Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai. (hlm. 236)
  11. Cinta tidak boleh berdiri di atas keegoisan. (hlm. 280)
  12. Orang baik pasti disayang Tuhan. (hlm. 291)
  13. Jangan mengecilkan kuasa Tuhan. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang kebetulan. (hlm. 292)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Nyebrang jalan kok asal lari saja! (hlm. 24)
  2. Kesialan memang terkadang menimbulkan efek domino. (hlm. 33)
  3. Manusia kok nggak punya hati? (hlm. 43)
  4. Lo bakal nggak pernah cerdas kalau sedang jatuh cinta! (hlm. 45)
  5. Jangan merendahkan diri sendiri. Banyak laki-laki yang jatuh cinta sama lo, hanya saja lo nggak pernah menanggapi mereka. (hlm. 51)
  6. Buat yang punya kebiasaan bergonta-ganti pacar, cinta itu bisa diatur, sehingga kalau ada yang tidak sreg di hati, tinggal buang dan cari yang lain. (hlm. 51)
  7. Apa korelasinya ganteng sama bukan orang jahat? (hlm. 57)
  8. Cinta itu bukan untuk dibuat lelucon! (hlm. 68)
  9. Hidup kita kan punya kita, bukan punya orang lain. Nggak ada orang yang bisa mengatur kita seenaknya. (hlm. 85)
  10. Kadang-kadang logika juga nggak sepenuhnya bisa diandalkan. (hlm. 110)
  11. Jangan bikin kesimpulan seenaknya, (hlm. 155)
  12. Cinta menghalalkan segalanya. Bahkan ketiga orang yang kamu cintai sudah dimiliki orang lain. (hlm. 175)
  13. Kamu nggak bisa kayak begini terus. Sampai kapan kamu berharap pada pria yang jelas-jelas nggak bisa diharapkan seperti itu? (hlm. 178)
  14. Jadi cewek punya harga diri sedikitlah. Setelah didepak, sekarang orangnya balik lagi, lo masih mau aja. (hlm. 215)
  15. Memangnya lo mau jadi perempuan yang dipilih-pilih kayak ikan di pasar? (hlm. 50)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Alkisah Kasih

Penulis                                 : Lea Agustina Citra

Desain sampul                   : Orkha Creative

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 298 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-3154-6

WP_20160724_004

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s