REVIEW Beautiful Rendezvous

WP_20160806_005

Jadi karyawan itu harus profesional. Jangan campurin urusan perasaan dengan pekerjaan. (hlm. 97)

Jatuh cinta kepada sesama pegawai bank? Siapa takut! (hlm. 67)

Bekerja di bank mungkin idaman banyak orang, tapi banyak juga yang menganggap bekerja di bank adalah pekerjaan yang melelahkan. Buku ini adalah kumpulan cerpen yang memiliki benang merah bekerja di bank, bisa teller dan profesi lainnya. Permasalahan yang terjadi pun beragam. Mulai dari cinlok yang kerap melanda para pekerja di bank, suka duka OST yang merupakan kunjungan ke lokasi usaha dalam rangka penelitian prospek usaha debitur, sebagai peserta sindikasi yang merupakan pinjaman atau kredit yang diberikan secara bersama oleh dari satu bank kepada debitur tertentu. Ada delapan cerpen dalam buku ini.

Beautiful Rendezvous  – Altami Nurmila D

Rasanya memang agak memalukan harus menerangkan hal-hal seperti ini di usianya yang sudah lebih dari seperempat abad. Teman-temannya yang lainnya sudah hidup mandiri di apartemennya masing-masing. Orangtua teman-temannya tidak ada yang menyuruh pulang tiap akhir pekan seperti Papa, atau menjodoh-jodohkan supaya cepat menikah seperti Mama. (hlm. 10)

Pria Penyihir – Andi Facino

Aku agak-agak nervous mendapati diriku sekarang saling berhadapan dengannya. Sebisa mungkin aku menghindari kontak langsung, entah menatap ke keningnya atau ke rambutnya atau ke layar komputer di sampingku, semata-mata demi kesehatan jantung dan pikiranku. (hlm. 30)

Bang In Bank – Eugenia Rakhma

Langkah Alicia terhenti. Tubuhnya seakan mematung. Alicia tidak pernah melupakan suara itu. Dan begitu saja aroma pinus dan mint yang familiar seketika memenuhi penciuman Alicia. Ia membeku, menatap sosok tinggi tegap di hadapannya. Masih dengan senyum yang sama, aroma yang sama, suara yang sama. Kenzie Suryajaya. (hlm. 46)

Lebih Besar Dibandingkan Bunga Bank – Gilang Maulani

Kening Anyeu berkerut. Air mukanya berubah seketika. Kehangatan telah berubah menjadi bongkahan es yang besar. Lagi-lagi keluarganya menyinggung soal pernikahan. Itu membuat hatinya terasa perih. Anyeu berusaha mengatur napasnya, menahan segala emosi yang bergejolak di dalam dirinya. (hlm. 55)

Prinsip 6C’s Analysis [Love] Credit – Hidya Nuralfi Mentari

Tapi sebenarnya, OTS hanyalah sebagian kecil hiburan sekaligus kesialanku sebagai seorang bankir. Karena kerumitan yang sesungguhnya kurasakan adalah saat di mana aku harus melakukan Analisis Kredit. (hlm. 70)

Tertipu – Moh. Achor Mardliyan

Sore itu jalanan kota ramai seperti biasa. Tenda-tenda warung makan mulai diidrikan oelh penjualnya. Sepanjang trotoar kota, aku tak bisa berjalan cepat, rasa perih di lambung membuat tubuhku terasa lemas. Lewat di depan alun-alun pun aku tak menoleh ke seberang seperti  biasanya, kepalaku pening. Aku masih ingat langit sore itu cukup cerah, entah kenapa tiba-tiba yang aku lihat hanyalah gelap dan sesuatu membentur pelipisku. (hlm. 93)

Amanah Untuk Kinasih – Rani Evadewi

Arman Ginanjar menutup jendela kamar dan mulai mengasapinya lagi dengan rokok. Lima rokok kretek kembali menemani hari-hari suram lelaki tiga puluh lima tahun yang kini mengais rezeki di sebuah bank milik pemerintah. Arman Ginanjar memimpikan masa bahagia bersama istri dan anak-anak namun gejolak politik Indonesia membuatnya urung untuk membangun sebuah keluarga. Rokok kretek dan kopi menjadi satu-satunya teman di kala ia tertekan. (hlm. 100)

Love in Batch 143 – Starin Sani

Ya, Radit benar. Itu pula yang ada di pikiranku saat pertama melihat sosoknya di kelas training tiga bulan. Mungkin kami jodoh, karena kami dipertemukan kembali setelah enam tahun tak bersua. Tapi mungkin juga bukan, karena di bank kami berlaku peraturan dilarang menikah dengan sesama karyawan. Untuk apa kami sekarang berpacaran kalau pada akhirnya nggak menikah? (hlm. 120)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Hidup seperti air yang mengalir, dari hulu ke hilir. Kadang yang dilewatinya datar, kadang curam, kadang berbatu agar sampai ke tempat yang tenang. (hlm. 25)
  2. Cinta itu kadang bukan soal chemistry atau nggak. Bukan juga soal banyaknya kesamaan atau sedikitnya perbedaan. Pada akhirnya yang terpenting adalah selalu merasa nyaman berada di dekatnya. (hlm. 33)
  3. We have to realize that some people can stay in our heart but not in our life. (hlm. 37)
  4. Sepatah hatinya seorang wanita, nggak mungkin dia menolak pria yang bersungguh-sungguh mencintainya, berusaha untuk membuatnya bahagia. (hlm. 39)
  5. Kadang, kita harus mencoba mencari rasa manis dari rasa pahit itu sendiri. (hlm. 78)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan mempersulit diri sendiri. (hlm. 12)
  2. Butuh istirahat buat meredakan sakit kepala. (hlm. 26)
  3. Namanya juga pekerjaan, nggak ada yang enak kecuali pas bonus, gajian sama THR. (hlm. 30)
  4. Seharusnya pekerjaan cuma pengisi waktu di antara weekend. (hlm. 31)
  5. Lo yakin menjalin hubungan beda agama? (hlm. 33)
  6. Apakah bisa bertahan di tengah isu tentang perbedaan agama yang makin hari makin santer terdengar? (hlm. 33)
  7. Sejak kapan lo bisa seenak-enaknya menilai seseorang? (hlm. 36)
  8. Kalau lo kenal sama gue, lo nggak akan membiarkan diri lo menyimpan sedih sendiri. (hlm. 36)
  9. Buatnya cewek cantik nggak ada apa-apanya dibandingkan cewek yang pintar cari duit kayak lo. (hlm. 40)
  10. Kamu ini makannya banyak tapi tetap aja kurus. (hlm. 52)
  11. Jangan pernah berharap ada laki-laki yang akan jatuh cinta dan mau menikahi. (hlm. 57)
  12. Lebih dari setengah masyarakat di Indonesia ini sudah dilabeli sebagai pemilik jam karet. (hlm. 71)
  13. Kau mati karena asap rokok ini? (hlm. 98)
  14. Semoga saya tak menjadi orang jahat ketika Tuhan memanggil. (hlm. 111)
  15. Lo kan ganteng, pinter, kok bisa ngejomblo lama sih? lo yakin, lo nggak gay? (hlm. 113)
  16. Hari gini masih main comblang-comblangan. (hlm. 114)
  17. Untuk apa kami sekarang berpacaran kalau pada akhirnya nggak menikah? (hlm. 120)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Beautiful Rendezvous

Penulis                                 : Altami Nurmila D, Andi Facino, Eugenia Rakhma, Gilang Maulani, Hidya Nuralfi Mentari, Moh. Achor M, Rani Evadewi, Starin Sani.

Proofreader                       : Tim Stiletto Indie Book

Desain cover                      : Tim Stiletto Indie Book

Lay out isi                            : Tim Stiletto Indie Book

Penerbit                              : Stiletto Book

Terbit                                    : Juli 2016

Tebal                                     : 123 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7572-48-5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s