[BLOGTOUR] REVIEW Alang + GIVEAWAY

WP_20160804_002

Kau hanya perlu bersungguh-sungguh. Bukan untuk membuktikan pada orangtua atau pada siapa pun. Tapi buktikan pada dirimu sendiri, bahwa kau bisa. (hlm. 205)

Apa pun pilihanmu, jika kau yakin benar-benar mencintai dan mau hidup di dalamnya, maka jadikanlah pegangan yang kuat. Keyakinan dan kemauan untuk bekerja keras itu akan menjawab semua pertanyaan. (hlm. 185)

APRIL percaya bahwa bakat itu ada. Tapi tidak semua keberhasilan terwujud karena bakat. April lebih percaya kalau pandai dan sukses itu diraih karena tekun dan bekerja keras, ketimbang melulu menggantungkan diri pada bakat. April menyukai kata-kata, maka ia mempelajari perihal yang tak dikuasainya berangkat dari hal yang ia sukai: kata-kata.

ALANG. Sama seperti halnya April, sedari bangku sekolah sebenarnya Alang mempunyai mimpi; dia menyukai musik. Hal pertama dilakukannya ketika menyadari kecintaanya pada bidang itu adalah bekerja keras penangkap belalang dan pengumpuk enthung untuk membeli sebuah recorder seperti punya bapak guru di sekolah yang pernah dipinjamkan untuk bergiliran dibawa murid, Alang salah satunya.  Pak Gun, guru seni di sekolahnya pun mendukungnya. Sementara orangtua Alang, terutama bapaknya melarang keras Alang terjun di dunia seni. Bapaknya yang tukang becak ingin sekali anaknya sukses yang nantinya bisa menaikkan drajat keluarganya, dengan cara apa pun, asal bukan bidang seni yang justru merupakan bidang yang paling diminati Alang.

“Hidup di dunia nyata mengajarkan bahwa yang dibutuhkan dalam hidup ini sesungguhnya hanya duit! Dan duit tak bisa kau dapatkan dengan bergelut di bidang seni. Seni itu omong kosong. Seni itu tak bisa menghidupi, yang ada malah membuatmu mati lebih dini.” (hlm. 26)

“Sekolah apa saja, asal tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan, seni, biduan, dan orang-orang yang bila kita tonton di televisi selalu ditabur gemerlap lampu panggung.” (hlm. 118)

WP_20160731_006

Kisah Alang maupun April ini representasi kehidupan para remaja dalam menentukan pilihan hidupnya. Kegalaun memilih antara pilihan orangtua atau pilihan hati. Seringkali orangtua memaksakan pilihannya yang terkadang nggak sesuai dengan minat anaknya. Salah satunya ya kayak Bapaknya Alang ini atau Mamanya April. Bayangkan saja, bapak Alang selalu memarahi Alang karena dianggapnya seni tidak memiliki masa depan terlebih lagi mereka memiliki tetangga yang hobinya genjrang-genjreng gitar depan teras rumah sementara orangtuanya sibuk mencari nafkah. Mungkin maksud Bapak Alang baik, beliau tidak mau anaknya seperti anak tetangga itu yang masa depannya tidak jelas. Atau seperti Mama April. Sudah tahu anaknya berbakat di bidang sastra, tapi dipaksa ambil jalur lain, dan perihnya selalu dibandingkan dengan kakaknya yang memiliki segudang prestasi. Percayalah, tidak ada satu pun seorang anak yang mau dibanding-bandingkan meskipun dengan saudara kandung sendiri.

PicsArt_03_08_2016 12_37_04

Ada, ada banyak orangtua seperti ini di kehidupan nyata. Dari zaman saya sekolah sampai kerja di sekolah, melihat dengan mata kepala sendiri banyak orangtua yang memaksakan pilihan yang belum tentu sejalan dengan anaknya.

Dulu waktu sekolah, punya teman yang bisa dikatakan sahabat, hidupnya sangat didikte orangtuanya, terutama ibunya. Bayangkan, hanya memakai kacamata saja, pilihan ibunya. Lulus SMA, dia lulus masuk Jurusan Bahasa Inggris, dia memang pintar di bidang ini. Sayangnya, orangtuanya ingin dia masuk Kuliah Kedokteran. Jadi dia disuruh berhenti setahun. Selama setahun itu, dia dibuatkan toko oleh orangtuanya. Sampai beberapa tahun kemudian, dia nggak melanjutkan pendidikan kuliah karena udah enak punya usaha sendiri. Yang nggak habis pikir sampai sekarang adalah ibunya merupakan dosen, tapi kenapa pikirannya sempit ya?!? x))

Di sekolah pun, nggak jarang ada anak yang tertekan akan pilihan orangtuanya jika kuliah kelak. Dua tahun lalu, ada seorang murid yang suka banget naik gunung, pokoknya petualang banget tipenya. Lulus SNMPTN pun Jurusan Kehutanan. Cocok banget, kan? Tapi bapaknya melarang dan menyuruhnya kuliah Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, padahal biayanya lebih mahal karena di swasta. Hanya karena bapaknya melihat tetanngganya yang kuliah di jurusan tersebut sukses, sang bapak ‘memaksa’ anaknya kuliah di jurusan tersebut. Menjelang UN kurang dua minggu, murid ini jatuh sakit, stres karena tertekan oleh pilihan bapaknya. Sampai sekarang saya menyayangkan pilihannya yang mengikuti apa kata bapaknya. Tapi ya mau bagaimana lagi, ridho orangtua tetap yang utama. Sang bapak nggak akan membiayai kuliahnya jika jurusan bukan yang dipilihnya.

Setahun lalu, juga ada seorang murid yang lulus jurusan Fisika lewat jalur SBMPTN. Nggak boleh diambil ama orangtuanya. Berhari-hari nangis sampai matanya sembab. Sang bapak (lagi-lagi) menyuruhnya kuliah yang ‘hanya’ satu tahun alias ambil D1 apoteker, biar nggak usah kuliah lama-lama, biar langsung kerja. Murid beda lagi, ada juga yang hobi banget gambar, udah rela berhenti setahun, ‘tetap’ dipaksa orangtuanya untuk ambil Jurusan PGSD.

Suka geleng-geleng kepala di zaman seperti ini masih banyak orangtua yang berpikirannya sempit. Masih saja ada anggapan yang sukses hanyalah yang menempuh jurusan MIPA. Padahal kenyataannya, yang pintar (pintar banget malah) pas di sekolah dan jago itung-itungan pas sekolah, sepuluh atau lima belas tahun kemudian belum tentu sukses menjadi yang pertama. Karena sesungguhnya yang sukses itu adalah yang mengikuti passion.

WP_20160805_001

 “Aku ini anak perempuan yang bermasalah, Lang. Kita nggak akan pernah sudi menikah denganku.”

“Aku juga anak laki-laki yang bermasalah. Bahkan, lebih parah darimu – aku kabur dari rumah.” (hlm. 175)

Pesan moral dari kisah Alang maupun April di buku ini adalah ikuti kata hatimu. Kalau kita hidup mengikuti kata orang lain, kita akan capek sendiri dan nggak bisa mengembangkan minat apa yang kita punya. Kita akan lelah sendiri hanya demi mendapat pengakuan dari orang lain. Jika kita melakukan sesuatu yang kita minati, rasa lelah nggak akan terasa. Percayalah, saya sudah membuktikan hidup dengan passion itu lebih indah!😉

Tapi jangan lupa dengan orangtua. Karena sekeras apa pun kita berusaha jika orangtua tidak memberikan restu, hasilnya juga tidak akan maksimal. Restu Tuhan tergantung restu orangtua. Lewat buku ini mendapat gambaran bahwa hidup tak melulu soal hati, tapi terkadang karena keadaan. Penulis menyelipkan pilihan; satu tokoh utama tetap mengikuti kata hati, dan satu tokohnya lagi harus mengikuti keadaan. Siapa saja? Penasaran kan…baca sendiri..😉

PicsArt_03_08_2016 12_35_32

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Jalani hidupmu. Hadapi kenyataan. (hlm. 18)
  2. Hidup itu harus seimbang, ya ke atas, ya ke samping. (hlm. 29)
  3. Kalau kau tak mau hidup sengsara, bekerja saja mencari tambahan duit sejak sekarang. (hlm. 33)
  4. Orang pandai karena mau belajar dan latihan. Tidak cuma masalah bakat. (hlm. 41)
  5. Membaca adalah salah satu cara melupakan kesedihan sekaligus kemarahan. (hlm. 43)
  6. Imajinasi seringkali membantu memberi dorongan seseorang untuk meraih mimpi. (hlm. 71)
  7. Semakin dini persiapan, akan semakin baik hasil akhir yang diberikan. (hlm. 73)
  8. Bila itu pilihanmu, kau harus tekun dan berhasil. (hlm. 92)
  9. Tak setiap keinginan bisa terwujud begitu saja. (hlm. 109)
  10. Memiliki anak yang sukses adalah salah satu cita-cita orangtua. (hlm. 114)
  11. Belajar itu mengenai perihal kesenangan, bukan begitu? (hlm. 146)
  12. Kau sendiri yang mengambil keputusan, maka yang menjalani dan bertanggung jawab atas hidup kau pilih adalah dirimu sendiri. (hlm. 154)
  13. Kehidupan memang tak pernah terlalu lama memberi kemudahan dan kebahagiaan. (hlm. 183)
  14. Hidup tak melulu memberi kemudahan, bahkan kerap melimpahkan kesulitan yang luar biasa kerasnya. (hlm. 187)
  15. Apakah keputusan baik dan buruk harus bergantung pada persetujuan orang lain? (hlm. 199)
  16. Pasrah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Manusia tetap harus berusaha. Bila usaha yang dilakukan kemudian diberi hasil sesuai keinginan, ya matur nuwun. Namun bila tidak diberi hasil sesuai pengharapan atau malah gagal, ya tetap matur nuwun. (hlm. 224)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kenyataan hidup yang keras seringkali tanpa ampun mengubah penampilan seseorang dengan cepat. (hlm. 4)
  2. Orang kaya gemar bicara omong kosong. (hlm. 7)
  3. Kau memang begitu gigih mengejar mimpi, meski harus jatuh berkali-kali. Sayangnya kau tak pernah mau kompromi, bahkan saat melihatku kesulitan. (hlm. 7)
  4. Hidup telah terlalu jauh berjalan ke depan. Dalam menjalani kenyataan, tak elok dan tak ada manfaatnya bila terlalu sering berkata ‘seandainya’. (hlm. 8)
  5. Buat apa beradu mulut dengan orang hilang akal? (hlm. 17)
  6. Orang tidak waras malah dikunjungi dan didengarkan perkataannya. Kalau sudah demikian, lalu siapa yang sebenarnya gila kecuali si penangkap itu sendiri! (hlm. 23)
  7. Hidup ini keras dan kejam. Kau mengira hanya dengan banyak membaca, menulis, dan mendengarkan cerita maka semua permasalahan hidupmu mudah teratasi? Hal itu hanya akan terjadi di dunia mimpi. (hlm. 25)
  8. Anak kok ditakuti untuk punya cita-cita. (hlm. 27)
  9. Bagaimana nanti remaja itu berani tempur ketika dewasa, jika sedari kecil apa-apa sudah disiapkan? Yang ada, mereka akan tumbuh menjadi manusia lembek. (hlm. 27)
  10. Cewek kok galaknya kayak setan alas. (hlm. 33)
  11. Membicarakan keburukan orang lain padahal sosoknya sudah tak terlihat itu tidak baik. (hlm. 46)
  12. Mencari duit itu memang sulit. (hlm. 50)
  13. Dasar keedanan cinta. Jangan terlalu berlebihan. (hlm. 61)
  14. Berisik hanya menambah masalah. (hlm. 62)
  15. Masa lalu memang pahit. Tidak usah lagi diungkit-ungkit. (hlm. 67)
  16. Anak zaman sekarang bila ditegur pasti marah. Bila didiamkan, amak keburukannya akan semakin menjadi. Repot. (hlm. 67)
  17. Judi adalah jalan satu-satunya jalan keluar bagi orang kepepet yang berpikiran sempit. (hlm. 68)
  18. Pekerjaan yang tidak memiliki masa depan hanyalah yang tidak diusahakan dengan sungguh-sungguh. (hlm. 77)
  19. Saat bicara mengenai cinta, yang dilihat cewek zaman sekarang bukanlah mengenai ketulusan hati, tapi apa boncenganmu. (hlm. 85)
  20. Apa enaknya bicara dengan sekelompok remaja yang tak bisa berpikir dan bekerja? (hlm. 97)
  21. Membantu itu tak boleh setengah-setengah. (hlm. 103)
  22. Betapa orangtua gemar sekali membanding-bandingkan juga menuntut supaya anak berprestasi. (hlm. 109)
  23. Jatuh cinta barangkali memang membuat orang-orang menjadi bodoh. (hlm. 182)
  24. Begitu gampang melepas kemudahan yang diberikan oleh Tuhan, sementara ada banyak orang lain di luar sana yang berharap ada di posisi kalian. (hlm. 194)
  25. Mimpi itu hanya untuk seorang pemenang, bukan pecundang. Pemenang itu artinya yang tidak mogol atau berhenti di tengah jalan – pada apa pun pilihannya. Pemenang itu juga tidak cengeng. Meski cita-citanya dan cintanya kandas, ia akan segera pulih. (hlm. 195)
  26. Mengapa orang bisa begitu saja membelok dari jalan utama pilihan hidupnya? (hlm. 202)
  27. Mengejar keinginan tak semudah yang diduga. (hlm. 205)
  28. Barangkali hanya orang kaya yang bisa bertahan mewujudkan cita-cita di Jakarta. (hlm. 206)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Alang

Penulis                                 : Desi Puspitasari

Editor                                    : Triana Rahmawati

Cover                                    : Resoluzy Media

Penerbit                              : Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)

Terbit                                    : Juni 2016

Tebal                                     : 235 hlm.

ISBN                                      : 9786029474091

WP_20160731_005

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs, @bukurepublika dan @Puspitadesi. Jangan lupa share dengan hestek #GAAlang dan mention via twitter.

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah punya mimpi besar apa yang ditentang orangtua? Sekarang bagaimana; apakah menyerah atau gigih berusaha mencapainya?😀

5. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek #GAAlang yaaa… 😉

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya yaaa… ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

#GAAlang ini berlangsung seminggu saja: 26 Agustus – 1 September 2016. Pemenang akan diumumkan tanggal 2 September 2016.

Akan ada DUA PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh saya ya! ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Pengumuman Pemenang Giveaway ALANG

Terima kasih dengan keantusiasan teman-teman untuk mengikuti Giveaway ALANG, ada 31 komentar yang masuk. Sekali lagi, makasih banyak ya buat semua!😉 #PeyukSatuSatu

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Nama: Ana Bahtera
Twitter : @anabahtera
Domisili: Aceh

Nama: Syarlaili Humairoh
Twitter: @elyhumairoh
Domisili: Mataram, NTB

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Giveaway ALANG. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat Mbak Desi Pusitasari atas kerjasamanya, sekali lagi terima kasih banyak atas kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

31 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Alang + GIVEAWAY

  1. Nama : Heni Susanti
    Akun : @hensus91
    Kota tinggal : Pati – Jawa Tengah

    Mungkin ini bukan mimpi besar, karena impianku sederhana saja, ingin membuat perpustakaan pribadi yang super lengkap dengan buku-buku favoritku dan kalau bisa ingin membuka perpustakaan itu iuntuk umum. Tapi sebagai orang desa yang memang tidak kenal budaya membaca, kedua orang tuaku agak tidak setuju dengan mimpiku ini. Setiap kali masuk kamarku dan melihatku sibuk dengan buku mereka agak skeptis. Setiap aku membeli buku baru atau mendapat hadiah buku dan bercerita dengan penuh semangat pada mereka, respon yang kudapatkan agak mematahkan kebahagiaanku. Mereka akan bertanya apa yang aku dapatkan dari buku, aku hanya numpuk kertas dan hal-hal lain yang bagiku salah besar. Kadang saat aku membaca buku di teras ibu akan memintaku masuk karena berpikir nanti orang akan menganggapku sok pintar.

    Untungnya mereka tidak benar-benar menentangnya dan tetap membiarkan aku dengan hobiku asalkan tanggung jawabku di rumah tidak kuabaikan, tapi yang menyedihkan adalah aku tidak bisa berbagi kebahagiaan yang diberikan buku padaku dengan mereka.

    Demikian dan terima kasih🙂

  2. ailina
    @ailina85
    probolinggo

    mimpi besar saya sampai saat ini adalah pingin usaha sendiri. Persiapan buat pensiun nanti, plus tabungan buat anak-anak dan buka lapangan kerja buat orang lain (kalo berhasil nanti, amiiin).
    buat pingin usaha sendiri, saya mulai dengan berdagang. berdagang apa saja sudah perna saya lakuin. Lewat online aja sih, cuman modalnya lumayan juga bo’. sampe’ berbagai macam usaha yang nawarin keagenan hampir semua juga sudah saya lakuin. Sampe’ kalo ada temen cerita dia baru daftar A, saya dlm hati sih pgn bilang gini : “uda pernaaaaaa”😀
    Ibu saya geleng-geleng kepala aja liat saya yang tetep kekeuh sumekeh buat dagang macem-macem. Sampe’ disuruh berhenti aja jualan onlen-nya.
    Sekarang lagi pgn nyoba dagang sayuran, sedang belajar jd petani hidroponik. Dan ibu saya geleng-geleng kepala lagi liat saya sama duo krucil saya tiap pagi sibuk nyiramin bibit-bibit sayuran di belakang rumah, hahaha…

    selalu pegang prinsip si Negri 5 Menara : Man jadda wa jadda ^_^

  3. Nama: Alyani Shabrina
    Akun twitter: @alyanishab
    Kota: Semarang, Jawa Tengah
    Jawaban:
    Alhamdulillah hampir setiap mimpi yang aku miliki selalu mendapatkan dukungan penuh dari kedua orangtuaku. Ketika aku ingin bersekolah di sebuah sekolah dinas bergengsi di jakarta, orang tuaku sangat mendukung walaupun banyak teman-temanku yang pesimis aku bisa lolos seleksinya yang ketat. Mimpi itu adalah salah satu mimpi terbesar dalam hidupku yang sudah aku miliki sejak aku smp, dan alhamdulillah setelah 2 kali mencoba tes masuk, di tahun kedua aku tes aku bisa lolos dan menjadi mahasiswa di sekolah dinas tersebut, karena aku juga punya mimpi yg lebih besar lagi yaitu menjadi Menteri Keuangan. namun ternyata Allah punya rencana lain, ak tidak bisa menyelesaikan pendidikan tersebut dan memutuskan untuk mengundurkan diri. Namun lagi-lagi orang tua ku selalu mendukung setiap keputusan yang aku buat. Namun Menteri Keuangan merupakan cita-cita yang akan selalu aku perjuangkan. Maka dari itu aku sekrang melanjutkan kuliah di fakultas ekonomika dan bisnis yang alhamdulillah merupakan fakultas dr sebuah pergruan tinggi negeri. Karena alhamdulillah aku punya banyak mimpi besar, mimpi besar lain yang aku punya adalah menjadi salah satu pimpinan di Bank Indonesia. Mimpi inilah yang sedikit ditentang oleh kedua orang tuaku, karena ketika masih muda dulu, bapak aku pernah bekerja di sebuah bank swasta, dan setelah bekerja dan mengetahui bagaimana seluk beluk pekerjaan di bank, beliau memilih untuk mengundurkan diri dan membuka usaha sendiri di bidang jasa. Jadi ketika aku mengutarakan niat itu kepada ibuku, ibuku sedikit bernostalgia akan masa lalu dan sedikit menunjukkan penolakan. Namun aku tahu apa yang dipikirkan oleh orang tuaku, aku menjelaskan bidang apa yang ingin aku tekuni dan insyaAllah bukan di divisi yg sama dengan orang tuaku, dan alhamdulillah mereka mengerti dan akhirnya menyetujui dan memberikan restu kepadaku. Mereka hanya berharap aku bisa menjadi orang sukses untuk membahagiakan paling tidak diri sendiri. Dan harapan itu yg selalu aku ingat ketika semua hal yg aku alami membuat ku menjadi pesimis. Semoga mimpi-mimpi yang InsyaAllah memiliki dampak positif bagi diriku dan orang-orang disekitarku ini dapat terwujud. Amin yaa rabbal alamin🙂

    Thanks kak udah balik ngadain give away lagi. #peluk jauh #ih kamu siapa #sok kenal deh al wkwkwk

  4. Nama: Lailaturrahmi
    Akun twitter: @aminocte
    Kota: Bukittinggi, Sumatera Barat

    Impian terbesarku yang masih terngiang-ngiang di kepala sampai sekarang adalah berkecimpung di dunia sastra dan/atau penerbitan. Dulu aku pernah mengutarakan niatku kepada orangtua, ingin kuliah Sastra Inggris, tetapi langsung dikomentari, “kalau masuk sana nanti mau kerja apa?”.

    Jadi sekarang aku sudah menyelesaikan pendidikan di bidang Farmasi, tetapi passion-ku masih di bidang sastra. Aku mengusahakannya dengan banyak membaca karya sastra dan berlatih menulis, sehingga kualitas tulisanku bisa diperhitungkan untuk diterbitkan, juga aku bisa menyampaikan idealismeku melalui tulisan. Ini ikhtiarku dan semoga Allah meridhai impianku ini, aamiin.

  5. Nama: Elsita F. Mokodompit
    Twitter: @sitasiska95
    Kota: Gorontalo

    Punya. Menjadi penulis. Sebenarnya bukan ditentang juga, tapi mereka memang cenderung kurang setuju/tidak suka, awalnya. Mereka lebih suka kalau saya fokus pada pendidikan yang saya tempuh di bidang Akuntansi. Sebelum ingin menjadi penulis, semua keingina, passion dan cita-cita saya selalu didukung apa pun itu. Baru setelah saya mencetuskan keinginan untuk menjadi penulis, barulah mereka menunjukkan sinyal-sinyal keberatan. Saya nggak memaksa dan juga nggak meminta dukungan. Meski mereka nggak suka, saya tetap menulis dan mengikuti beberapa lomba. Saya hanya mengbari apabila saya menjadi pemenang. Selama ini belum sering jadi pemenang tiap ikutan lomba tapi saya rasa mereka tetap harus tahu karena itu adalah prestasi yang dicapai anak sulung mereka. Mungkin karena tidak adanya perlawanan dan juga beberapa kemenangan yang saya peroleh meski dengan reward yang tidak seberapa, secara perlahan orangtua saya jadi luluh bahkan ikut menampakkan wajah bahagia kalau saya bilang menang lomba menulis A, B atau C :))
    Dan saya sangat bersyukur untuk itu

  6. Nama: emma
    Twitter: @emmanoer22
    Domisili: Indragiri Hulu, Riau
    Jawaban: mimpi besarku adalah bisa sukses dengan usahaku sendiri. Sukses menurutku adalah saat hatiku bisa tenang dengan semua yang aku jalani saat ini dan bisa berbagi dengan orang lain. Yang masih sulit untuk aku capai, pertama karena orangtuaku dan keluarga mulai sibuk menyuruhku menikah, mencari pasangan hidup. Bukannya aku tidak ingin, tapi cukup sulit untuk dijalani ketika hati belum siap, sampai kadang aku merasa tertekan dengan tuntutan menikah tersebut. Padahal aku mulai menikmati pekerjaanku yang baru aku baru mulai hampir setengah tahun ini, mulai bisa berbagi dengan orang lain dan membeli barang keperluan serta menabung sendiri. Aku baru memulai langkah pertama impianku, dan dari semuanya aku masih sulit untuk memberi pengertian pada orangtua dan keluargaku. Aku rasa ketika jodoh itu sampai pada saatnya mungkin-mungkin saja hatiku bisa membuka dengan sendirinya.

  7. Nama: Syarlaili Humairoh
    Twitter: @elyhumairoh
    Domisili: Mataram, NTB

    mimpi besar yang ingin saya lakukan hanya saja ditentang orang tua adalah ingin kuliah di luar daerah. saya memahami kenapa orang tua saya melarang saya, karena orang tua saya terutama ibu tidak bisa jauh dari anak-anaknya, keinginan saya begitu besar sehingga kerap menjadi acuan buat saya untuk terus berusaha, tetapi saya tidak ingin menjadi anak pembangka sehingga saya memutuskan untuk kuliah di kota saya. impian yang saya idam-idamkan untuk kuliah diluar daerah khususnya jogja sudah pupus, saya memulai dengan sesuatu hal yang baru dan lebih baik lagi, berjuang demi masa depan untuk membahagiakan orang tua pastinya. aku tidak akan menyerah atau pupus harapan karena masih banyak hal indah yang akan bisa kita lakukan. keep spirit.
    saya menyadari bahwa keinginan yang di tentang oleh orang tua akan indah dibaliknya, akan ada hikmah pastinya. love your mom, yor dad..
    aku begitu mencintai kedua orang tuaku.

  8. nama : nurhidayanti
    akun twitter : @CallMe_Yanti
    kota tinggal : Martapura, Kal-Sel

    Saya punya mimpi ingin sekali Bekerja Di luar daerah atau jauh dari kota yang saya tinggali sekarang, namun tentu saja orang tua menentang keinginan saya ini karena menganggap kalau seorang anak perempuan tidak boleh pergi jauh dari orang tuanya, padahal dengan cara ini saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa mandiri dan bergantung pada diri sendiri. Selama ini saya merasa menjadi anak yang terlalu dimanja sehingga saya tidak bisa berkembang dan tidak mandiri, saya ingin merasakan hidup sendiri dan jauh dari mereka dan belajar beradaptasi di lingkungan yang berbeda dan mengenal tempat baru.

  9. nama : Nurhidayanti
    akun twitter : @CallMe_Yanti
    kota tinggal : Martapura

    Punya mimpi besar apa yang ditentang orangtua? Sekarang bagaimana; apakah menyerah atau gigih berusaha mencapainya?

    Sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah S-2,namun orang tua saya beranggapan kalau pendidikan saya terlalu tinggi nanti susah mencari kerja. Karena sekarang sudah Bekerj dan ijazah yang dibutuhkan cuma S-1 maka orangtua melarang saya untuk melanjutkan ke jenjang S-2. Mereka menganggap yang penting sudah kerja dan sudah mendapat gelar sarjana maka itu cukup buat bekal saya. Namun saya merasa saya ingin memperdalam ilmu saya dalam bidang Akuntansi. Ya, kadang kehendak orang tua dan anak sering tidak sejalan. Namun sebagai anak saya hanya bisa mempertimbangkan yang terbaik bagi saya, lagipula melanjutkan sesuatu tanpa ada dukungan dan restu orang tua juga tidak baik, sekarang saya menunda keinginan saya untuk kuliah S-2, bukan karena saya menyerah tapi keinginan itu suatu saat akan saya wujudkan kalau saya sudah bisa meyakinkan kedua orang tua saya. Semoga suatu saat hati mereka akan terbuka dan membiarkan saya memilih jalan saya sendiri.

  10. Nama: Hapudin
    Twitter: @adindilla
    Kota: Cirebon

    Saya pernah punya mimpi ingin bekerja di bidang pertelevisian. Entah tim kreatif atau apalah. Mimpi ini muncul ketika saya lulus SMA. Niat kuliah di jurusan perfilman saya ungkapkan ke Bapak. Namun Bapak menentang keras. Menurut beliau, kuliah perfilman itu biayanya Mahal. Dan sampai saat ini saya sudah menyerah dengan mimpi itu. Sekarang, saya menjalani hidup dengan melihat keadaan yang ada. Saya pernah mencicipi kuliah jurusan akuntansi komputer dan manajemen akuntansi, meski kedua jurusan itu tidak membuat saya jadi sarjana. Alhamdulillah, berkat ikhlas saat ini saya bekerja sebagai staf pajak di sebuah rumah sakit swasta dengan modal ijazah SMA.

    Untuk yang lain, perjuangkanlah mimpi kalian. Jika tidak menjadi karir, biarkan mimpi itu menjadi hobi.

  11. Nama: Insan Gumelar Ciptaning Gusti
    Akun: @san_fairydevil
    Kota: Surakarta

    Mimpi besar yang ditentang orang tua? Alhamdulilah enggak ada. Apapun mimpiku asalkan itu mimpi yang positif, orang tua enggak bakal nentang justru dukung banget dan percaya kalau aku pasti bisa mewujudkan mimpi itu.. Dan yang sekarang aku lakukan adalah menjaga kepercayaan itu dengan berusaha untuj mewujudkan mimpiku. 😊😊💪💪

  12. Nama : Silvy Rianingrum
    Akun Twitter : @berryfledge
    Kota : Bekasi<3

    "Punya mimpi besar apa yang ditentang orangtua? Sekarang bagaimana; apakah menyerah atau gigih berusaha mencapainya?"

    Aku punya banyak keinginan, cita-cita, mimpi yang ditentang kedua orang tuaku. Yang pertama adalah mimpi aku untuk jadi Ahli Ilmu Zoologi. Ibu aku melarang dan engga setuju dengan mimpiku ini karena kepastian kerja yang katanya gamang dimasa depanku nanti. Sebenarnya, Indonesia butuh banget Ahli Ilmu Zoologi untuk memahami hewan-hewan langka dan endemik yang ada:') Selain engga mendapat dukungan dari kedua orang tuaku, aku ragu untuk melanjutkan karena kemampuanku dalam ilmu eksak. Ilmu eksak disini penting banget, tapi aku masih suka engga teliti dan imajinasiku dalam hitung-hitungan memang susah berkembang. Menyerah atau berusaha mencapainya? Harus aku akui, aku menyerah. Tapi engga semata-mata melepas mimpi ini gitu aja. Aku masih mempelajari hewan-hewan (terutama reptilia dan underwater animals) dan masih berkeinginan untuk memelihara Simpanse. Mimpi kedua yang ditentang adalah untuk masuk jurusan Sastra Inggris saat kuliah nanti. Aku kurang paham sama alasan Ibu aku melarang atau kurang setuju. Padahal di era ini, Bahasa Inggris itu penting dan menjanjikan. Selain itu, nantinya aku juga bisa jadi guru atau tour guide di Indonesia. Ibu lebih mendukung untuk mengambil jurusan Matematika. Salah satu impiannya. Tapi, aku sudah sering kasih tahu kalau aku emang engga ada potensi disana. Kami sering berdiskusi dan mungkin untuk saat ini, dijalankan saja dulu. Jadi, menyerah atau berusaha mencapainya? Untuk yang satu ini, aku usahakan. Aku harus masuk Sastra Inggris nantinya. Selain karena aku suka, pekerjaan nantinya juga cukup menjanjikan.

  13. Mimpi besar? Saya punya satu cita-cita sejak SMP, saya ingin jadi Advokat. Bukan sesuatu yang mustahil tapi menjadi benar-benar tidak mungkin untuk saya. Ayah saya selalu mendukung semua keputusan saya, apa yang saya mau tentu dia bakal setuju. Tapi tidak dengan jadi Advokat. Saya sempat nggak nyangka, untuk pertama kalinya Ayah menghentikan mimpi saya yang satu itu. Kenapa? Mudah aja karena dia suka ekonomi alangkah baiknya kalau saya juga suka.
    Lalu apa sekarang saya sudah nyerah? Iya, saya menyerah. Bukan karena orang tua saya menentang tapi karena saya gagal membuktikan kalau saya mampu dan cocok meraih mimpi saya itu. Saya berupaya semaksimal yang saya bisa tapi akhirnya Tuhan kembali menutup jalan ke arah itu. Jujur saja gagal itu menyakitkan apalagi ketika ada orang yang menunggu kegagalan tersebut. Tidak semua mimpi bisa tercapai tapi setidaknya saya sudah mengulurkan tangan untuk meraihnya. Mungkin saya hanya kurang tinggi saat ini.

    Nama : Tri
    Twitter : @tewtri
    Domisili : Ciamis

  14. Fridalia Septiarini
    @frdliash
    Purwakarta,Jawa Barat.
    Jawaban :
    Pernah beberapa kali. Klise sih. Ini udah sering terjadi. Jadi Dari sd pengen banget pesantren. Tapi ngga dikasih izin terus sama Mamah alasannya karena aku belum mandiri. Sampai waktu SMA, aku dapat kesempatan mondok. Jadi sekolah di negeri, tapi tinggalnya harus mondok, mesantren gitu. Waktu daftar awalnya mamah setuju, eh sudah mulai mondok mamah khawatir terus. Jdi pesantrennya ga tamat. Giliran kuliah, dulu pengen banget kuliah di luar kota, di universitas negri di bandung, tapi mamah lagi-lagi ga kasih izin, aku gatau kenapa, seberapa keras usaha aku nunjukin ak bisa mandiri. Mamah tetep ngga percaya dan khawatir berlebihan. Ujungnya, walaupun mamah izinin aku buat daftar snmptn di universitas itu,ak juga harus masukin universitas pilihan mamah di daftar snmptn. Akhirnya aku diterima di universitas pilihan mamah yang letaknya masih di kotaku. Awalnya kecewa, tapi tetep aku jalani. Meskipun ngga sesuai keinginan tapi aku percaya pilihan mamah yang terbaik. Karena kalaupun ak ngelawan pilihan mamah. Ak takut ngga berkah, apapun tanpa ridho orang tua itu mengerikan. Jdi ak putuskan untuk menerimanya.

  15. Tita Nur Kania
    Akun twitter : @tnkania
    domisili : Bandung

    Mimpi ku yang ditentang ortu? Buat sekarang alhamdulillah gak ada. Dulu pernah pengen kuliah di luar provinsi, apalah daya emak tak rela, jdinya hanya luar daerah saja 😂😁 persoalan mimpi apapun ortu biasanya mengizinkan, asalkan dia gak terlalu ngeluarin lembaran dari dompet kesayangan. Buat mimpi apapun semacam pengen traveling k luar pulau jawa atau luar negeri yaa asal jangan minta duit dari emak.
    Masih mengejar mimpinya? Ya jelas, sembari mengejar mimpinya sembari nyelesein proposal buat skripsi biar bisa wisuda tahun depan 😁

  16. Nama: Ana Bahtera
    Twitter : @anabahtera
    Domisili: Aceh
    Ada kak! Kuliah di arsitek.
    Jadi dari dulu saya udah bercita-cita menjadi arsitek, sudah dari SMP saya selalu mencoba meluluhkan hati mamak agar bisa kuliah disana, tapi mamak belum mengizinkan karena menurut mamak, jurusan yang dibawah naungan tekhnik adalah hanya untuk para lelaki saja. Saya berusaha membujuk mamak pelan-pelan sampai tamat SMA dan ternyata mamak tetap tidak mengizinkannya, akhirnya setelah perdebatan panjang saya harus mengalah, benar-benar waktu yang terberat dalam hidup saya. 

    Saya tidak tau saat itu menyerah atau tidak kak, walaupun saya kuliah dijurusan berbeda yang saya senang mamak juga tak menentang, saya masih sering mencuri waktu menyalurkan cita-cita saya, walaupun tak jadi arsitek kelak, setidaknya saya pernah berkecimpung di dalamnya. Saya ikut komunitas para arsitek di kampus yang jelas-jelas tak ada kaitannya dengan jurursan yang saya ambil. Tapi saya merasa senang dan tak terbeban karena dimasa yang akan datang, saya akan paham akan pilihan yang telah saya putuskan.

  17. Nama : Devira Andrawina
    Twitter : @devira7117
    Domisili: Bekasi, Jawa Barat

    Pertanyaan :

    punya mimpi besar apa yang ditentang orangtua? Sekarang bagaimana; apakah menyerah atau gigih berusaha mencapainya?

    Jawaban :

    Aku punya mimpi yang kurang didukung sama orang tua. Dari dulu aku pengen banget kursus bahasa Jepang, tapi papa bilang kalo itu gak terlalu penting, dan malah nyaranin aku untuk terus memperdalam belajar bahasa inggris dan pelajaran sains. Awalnya aku nyerah, aku anggap mimpiku untuk bisa menguasai bahasa jepang dan bisa sekolah disana udah lebur. Tapi sekarang aku sadar, apapun yang ingin aku lakukan, lakukan saja. Akhirnya aku memutuskan untuk mempelajari bahasa Jepang sendiri, berawal dari kamus, video-video, dan juga e-book yang disediakan tanpa biaya seperserpun, dan alhamdulillah, sekarang kemampuan bahasa Jepang ku sudah lumayan berkembang.

    Terimakasih♡
    Wish me luck, amin.

  18. Nama : Devira Andrawina
    Twitter : @devira7117
    Domisili : Bekasi, Jawa Barat

    Pertanyaan :
    punya mimpi besar apa yang ditentang orangtua? Sekarang bagaimana; apakah menyerah atau gigih berusaha mencapainya?

    Jawaban :
    Aku punya mimpi besar yang kurang didukung sama orang tua. Dari dulu aku pengen banget bisa menguasai bahasa Jepang, aku minta papa untuk daftarin aku Les bahasa Jepang, Tapi papa bilang kalo Les Bahasa Jepang gak penting, dan papa malah menyarankan ku untuk memperdalam kemampuan bahasa Inggrisku dan sains. Awalnya aku pasrah, aku pikir mimpi ku untuk bisa menguasai bahasa Jepang dan bisa sekolah di Jepang itu udh hilang, tapi akhirnya aku sadar, apapun yang ingin kulakukan, lakukan saja, toh itu juga hal yang positif. Aku mulai belajar bahasa Jepang dengan bermodal internet, aku belajar lewat kamus, video-video dan juga e-book yang tersedia gratis. Alhamdulillah, kemampuan bahasa Jepangku sudah mulai berkembang.

    Terima kasih,
    Wish me luck, amin♡

  19. Nama : Naelil M.
    Akun twitter : @Naelil_ID
    Kota Tinggal : Banyuwangi

    Sewaktu SMA, aku kepikiran untuk ambil jurusan Sastra Inggris ketika kuliah. Namun keluargaku sempat berpikir bahwa jurusan Sastra Inggris tidak punya masa depan. Apalagi dalam garis keturunan keluarga, tidak ada yang pernah mendalami bidang kesusastraan. Intinya, tidak ada darah sastra atau seninya. Mereka justru berniat menyekolahkanku di STAN. Hiks hiks. Karena tidak mau dipaksa, aku mencoba membuktikan kepada mereka bahwa berkarir di bidang sastra itu ada masa depannya juga. Aku menulis seperti orang gila dan mengirimkannya ke beberapa media. Aku juga ikut kompetisi menulis cerpen dan puisi. Hal ini kulakukan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan keluargaku. Penolakan demi penolakan kuterima hingga akhirnya kemenangan pertamaku datang. Aku memperoleh piala, piagam, dan UANG! Well, mau tidak mau, meski bukan segalanya, uang punya aspek penentu yang besar bagi dukungan keluargaku. Meski tidak banyak, keluargaku tampaknya mulai berpikir positif akan keputusanku. Dari beberapa penolakan, aku belajar sekiranya mana yang disukai media dan juri lomba, serta mana yang tidak. Akhirnya, kemenangan-kemenangan lainnya datang menyusul. Dengan menggunakan prestasi tersebut, aku diterima di Jurusan Sastra Inggris UGM melalui jalur undangan. Menjelang OSPEK, aku mendapat kabar bahwa aku memperoleh beasiswa Turki dengan Jurusan Jurnalistik yang kemudian lebih kupilih daripada Sastra Inggris UGM. Jadi sebetulnya, seberapa keras kita memperjuangkan sesuatu, jika keluarga mungkin hanya mendukung setengah-setengah, tidak akan jadi. Pada akhirnya setelah derai keringat berjatuhan, aku justru kemudian tidak jadi kuliah di Sastra Inggris, sesuatu yang sangat kuimpikan sejak kelas 1 SMA.

  20. Nama: Anik Cahyanik
    akun twitter: @Ancahyanik
    Kota Tinggal: Jember, Jatim

    Aku mempunyai keinginan mengabdi untuk Indonesia dengan cara ikut program SM3T setelah lulus kuliah. Dalam program ini kita diwajibkan mengajar daerah terpencil di Indonesia selama setahun. Aku memang masih kuliah smester 5. Bulan lalu aku membicarakan tentang keinginanku ini kepada Ibuku. Aku juga menceritakan kepada Ibu bahwa aku mempunyai kenalan yang sudah selesai melaksanakan SM3T di Papua. Jawaban Ibu tidak kuduga sebelumnya. Melihat selama ini Ayah dan Ibu selalu memberikanku kesempatan untuk memilih jurusan dan sekolah yang sesuai passion dan keinginanku. Ibu melarangku untuk pergi jauh, karena aku anak perempuan apalagi bungsu. Ibu takut terjadi apa-apa denganku. Tinggal di daerah terpencil apalagi beda pulau dan kebudayaan bukanlah hal mudah. Dulu sebelum kuliah di luar kota, Ibu juga melarangku untuk pergi. Alasannya, karena aku perempuan. Secara blak-blakan Ibu takut aku menjadi korban pelecehan di kota orang. Alasan Ibu terlalu berlebihan menurutku, ini dikarenakan Ibu banyak melihat kasus pelecehan di Indonesia saat ini. Dengan gigih aku meyakinkan Ibu bahwa aku akan baik-baik saja. Aku telah berusaha menutup auratku dan pergi untuk menuntut ilmu pasti Allah senantiasa melindungiku. Banyak perempuan yang kuliah di kota orang, tidak semuanya menjadi korban pelecehan. Dan aku meminta Ibu untuk selalu mendoakanku. Berhari-hari aku meyakinkan, akhirnya Ibu mengizinkan.

    Dan, kali ini alasan Ibu melarangku pergi masih tetap sama. Aku berusaha meyakinkan Ibu bahwa niatku baik. Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk negara ini. Ibu bilang, di kota kelahiran aku juga bisa mengabdi untuk masyarakat. Aku menjawab, memang benar apa yang diucapkannya tapi tidak semua orang bersedia mengajar di daerah terpencil. Aku juga sudah membuktikan sudah dua tahun aku bisa menjalani kehidupan di kota orang, aku ingin Ibu juga mempercayakan diriku untuk mengabdi di pulau seberang. Aku selalu berdoa agar Ibu mengizinkanku nantinya.

  21. Putri
    @belerangalamiah
    Bogor

    Impianku sampai saat ini yang paling besar dan terpampang nyata di depan mata adalah bisa tinggal sendiri dan menjadi rumah bagi adik-adikku. Aku bukan berasal dari keluarga tidak mampu, aku dan adik-adikku juga bukan yatim piatu tapi aku jengah dengan kebiasaan muda-mudi Indonesia yang sangat mengandalkan orang tua. Aku ingin mencontohkan pada adik-adikku bahwa manusia harus bisa mengandalkan dirinya sendiri bukan orang tua, bukan sanak saudara tapi hanya diri sendiri dan tuhan. Bukan impian besar memang buat sebagian besar orang, tetapi cobalah katakan pada ayah dan ibumu bahwa kamu ingin keluar dari rumah dan memulai hidupmu sendiri. Oh tentu, mereka akan mengatakan lebih baik tinggal bersama dan lain lain. Godaan tinggal bersama orang tua; makan dan hidup terjami, siapa yang tidak tertarik?
    Sampai saat ini, hanya separuh kehidupanku berhasil keluar dari rumah. sebelah kakiku masih menempel pada rumah dan tampaknya butuh waktu lebih untuk bisa melepaskannya. aku berusaha, belum maksimal memang tapi hanya sangkuriang yang mampu membangun perahu dalma satu malam, aku tidak mampu membangun hidup mandiri dalam satu malam.

  22. Sebentar lagi seleksi anggota OSIS akan dilaksanakan. Hanya menunggu hitungan minggu saja. Dari awal masuk SMA aku sudah mengikuti seleksi dan menjadi pengurus OSIS disekolahanku. Sekarang aku duduk dikelas XI IPS. OSIS periode saat ini akan segera berakhir dan akan berganti ke periode selanjutnya.
    Menurutku sendiri menjadi pengurus OSIS yang sebenarnya adalah ketika aku menjadi kakak kelas. Dimana aku yang sudah mempunyai banyak pengalaman dari tahun sebelumnya. Dan dimana kita dapat berbagi semua itu kepada adik kelas. Bukan sok menjadi senior tetapi membagi ilmu sangat dianjurkan apalagi kepada orang baru yang belum menau apa-apa.
    Menjadi pengurus OSIS juga menjadi kembagaan sendiri. Kebanggan dimana bisa mengabdi membantu sekolah dalam melaksanakan proker yang telah ada. Jangan mengharapkan imbalan yang berupa materi tetapi mengingat imbalan pahala kelak di akhirat. Siswa terpilihlah yang hanya patut menjadi pengurus. Banyak orang yang memandang pengurus OSIS yang terpilih adalah mereka yang cerdas, berwibawa, bertanggung jawab. Tetapi nyatanya benar.
    Melakoni semuanya yang telah menjadi tanggung jawab juga tidak mudah seperti yang dibayangkan. Tetapi aku bisa melakoninya dengan kekeluargaan bekerja bersama. Keluarga kecil di sekolah yang sangat aku inginkan. OSIS mengajarkanku apa artinya toleransi, menghargai orang lain, mengajarkanku perilaku positif.
    Rasanya tidak ingin aku meninggalkan OSIS. Aku sangat menginginkannya. Menginginkan suka duka yang akan ku lalui mersama pengurus osis yang lain. Menginginkan kasih sayang dari mereka. Dengan OSIS aku juga bisa lebih mempunyai banyak kawan, banyak kenalan, banyak pengalaman.
    Namun saat ini, aku bingung apa yang harus aku perbuat. Bagaimana caranya agar aku bisa mengikuti OSIS kembali. Orang tuaku tidak memberi izin kepadaku. Aku tahu mengapa mereka tidak menyetujui keinginanku. Merekan sayang denganku.
    Sedikit cerita saat event besar berlangsung. Pagi hingga malam aku harus meninggalkan rumah. Memenuhi tanggung jawab yang harus aku laksanakan. Kesana-kesini mencari sponsor dan donatur bagaikan orang mengemis. Hujan panas aku tetap melakukannya bersama pengurus OSIS lainnya. Tak kenal rasa lelah. Demi suksesnya acara aku rela pulang malam. Mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan bersama-sama.
    Namun setelah acara selesai dan sukses, badan baru merasakan lelah. Terkadang hingga sakit yang pasti harus dirawat oleh ibu. Walaupun event berjalan dengan lancar. Banyak siswa di sekolahku memandang negatif OSIS, mulai dari acara molor ini itu. Mereka tidak merasakan kerja hanya merasakan upah. Terkadang saking banyaknya dispen aku juga sedikit ketinggalan pelajaran. Tetapi aku bisa mengejar keterlambatan itu. Aku juga bisa membagi waktu belajar, membagi waktu antara keluarga dan OSIS.
    Dengan cerita itu pastinya orang tua sangat khawatir kepadaku. Takut aku ketinggalan pelajaran, takut sakit, takut ini itu. Khawatir orang tua sangat banyak. Maka dari itu orang tauku tidak mengizinkanku.
    Dengan kerja keras dan doa aku tetap akan terus berusaha. Berusaha untuk terus mengikuti OSIS yang terbaik. Meyakinkan orang tua apa itu OSIS sebenarnya.
    Terimakasih.

    Nama : Shinta Kusuma Wardhani
    Akun twitter : @ShiintaKusuma_
    Kota tinggal : Klaten

  23. Nama: Leny
    Akun twitter: @Lynlainy17
    Kota tinggal: Rantau, Kalimantan Selatan

    Alhamdulillah sampai saat ini semua mimpi-mimpiku belum pernah ditentang kedua orangtuaku. Kedua orangtuaku selalu mendukung semua impianku selama itu baik. Seperti halnya keinginanku untuk lanjut sekolah lagi, berkarir maupun berwirausaha. Mereka juga tidak pernah memaksakan keinginan mereka kepadaku, yang pasti mereka selalu membebaskan aku untuk memilih dan mementukan keinginan dan impianku sendiri. Intinya sih saling terbuka satu sama lain saja.

  24. Mimpi yang ditentang ya….
    Awalnya sih ini bukan impian ku tapi sekedar kemauan saja, tapi lama-kelamaan bisa sampai kebawa pas tidur🙂 Jadi gini, melihat jalan di kampungku yg kadang sangat kotor membuat aku prihatin lantaran orang-orang jarang peduli dg kebersihan sekitar. Mereka akan semangat membersihkan saat ada momen tertentu saja, semisal saat ada perlombaan kampung bersih se-kecamatan. Melalui inisiatif sendiri mulai kubersihkan jalanan sekitar tiap selesai sholat subuh. Memamg tak kulakukan setiap hari namun lumayan sering dalam 1 bulan. Orangtuaku berpikir aku hanya membersihkan halaman rumah saja tp ternyata aku malah sampai membersihkan kedepan halaman tetangga. Karena senang melakukan hal ini, aku lakukan saja. Hitung-hitung olahraga…hehe
    Nah, dr kebiasaan itu muncul ide untuk menata jalanan ini agar rapi & tetep bersih. Segala macam ide ada di kepala namun belum bisa aku terapkan. Kadang..aku membaca koran atau berita online tentang warga yg sukses merubah kampungnya yg kumuh menjadi bersih. Semacam ada semangat untuk bisa mencontoh pengabdian mereka..Ya namun apa daya..jangankan membuat kenyataan yg indah kadang membersihkan jalan saja masih diceramahi. Tiap akan bertugas selalu diembeli “seperti pasukan kuning saja”, tapi aku sih anaknya ndablek tetep aja cuma denger petuah orangtua tp diluar tetep ngejalanin hobi. Sampai saat ini impian ini belum terwujud, semoga saja aku masih ada kesempatan mewujudkannnya…karena bagaimanpun jalanan kampung juga sebagaian dari tempat tinggal yang harus aku jaga kebersihannya & aku masih cukup banyak kekuatan untuk gigih mewujudkan itu semua.

  25. Nama: Cahya
    Twitter: @ccchhy
    Domisili: Palembang

    Entah ini cocok disebut impian atau bukan, tapi sejak SMP dulu aku memang sudah punya keinginan untuk melanjutkan kuliah di luar kota, khususnya ke pulau Jawa. Pengennya sih bisa masuk UGM. Seringnya di waktu senggang dulu aku dan teman-teman dekatku suka berbincang tentang keinginan masing-masing saat sudah dewasa. Aku dan 3 teman perempuanku sempat merencanakan untuk kuliah bersama di suatu kampus di pulau Jawa. Bisa sekampus bareng, bisa tinggal bareng dalam 1 rumah kontrakan (bukan kos), ke mana-mana masih bisa bareng. Ini polos banget ya pikiran ala anak SMP dulu tau apa sih soal perkuliahan. Masih pengennya seneng-seneng aja, belum kebayang seruwet apa hidup anak kuliahan, bahkan nggak tau gimana beratnya cobaan hidup untuk bisa masuk ke universitas negeri. Huihihihi

    Jadi pas aku bilang ke orangtua, mereka malah nggak mendukung. Katanya masih kejauhan udah ngebayangin soal dunia kuliah, lulus SMP & SMA aja belum. Dan ngapain juga jauh-jauh sampai ke Jawa sana? Di sini aja deket masih ada kampus yang bagus dan yang negeri. Nanti susah kontrolnya.

    Bukan tanpa alasan mereka berpendapat demikian, karena mereka pasti punya trauma karena dulu sudah mengizinkan kakakku mandiri ngekos di Jawa dan hasilnya malah di luar dugaan. Not that bad, tapi juga bukan hasil yang baik setelah dilepas. Banyak main-mainnya, tamatnya jadi lama, banyak ngabisin duit demi ongkos hidup aja. Mereka nggak mau kalau aku juga sampe begitu.

    Dulu sih sedih juga karena nggak didukung. Tapi ya sudahlah, aku mau jalani dulu masa sekolah ini. Seiring waktu, aku mulai menyadari kalau masuk kuliah apalagi ke UGM itu ya tidak semudah apa yang dibayangkan pas SMP dulu. Lagipula teman-temanku yang dulu pengen kuliah ke Jawa ternyata ujung-ujungnya tetap stay di dalam kota sini. Setelah dipikir-pikir ulang, ya kayaknya emang lebih nyaman di sini saja dekat dengan teman sejawat dan tentunya orangtua. Akhirnya lebih memilih untuk mengejar universitas negeri terdekat saja dan alhamdulillah waktu itu lulus juga di kampus pilihan. Say goodbye to UGM…😀

  26. Widiyar Mayani
    @widiyarmayani
    Bogor

    Impian yang ditentang orangtua??
    Saya ingin mendaki gunung Rinjani dan Bromo. Setiap kali saya liburan keluar kota sama temen saya, pasti wejangan yang seringkali diucap berulang2 adalah “jangan naik gunung yah”. Padahal dengan bandelnya saya tetep naik gunung juga. Dan bilang setelah nanti pulang. Ampun mama. ^^v

    Sebenarnya orangtua saya itu demokratis banget. Alhamdulillah mereka selalu mendukung apa yang saya jalankan. Meskipun terkadang ada hal2 yang mereka larang dan mengharuskan saya berpikir ulang. Dan seringkali setelah banyak pertimbangan, ujung-ujung nya saya akan menuruti apa yang orangtua saya sarankan.
    Terkesan seperti saya ini orang yang tidak punya pendirian dan selalu bisa dimonopoli oleh orang tua. Tapi menurut saya, selama apa yang orangtua saya inginkan baik, saya fine dengan itu semua, ya mengapa tidak? Mereka pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Meskipun tidak dipungkiri banyak orangtua di luar sana yang terlalu memaksakan anak2 nya untuk mengikuti apa kemauan mereka tanpa mengindahkan apa yang sebenarnya si anak mau. Nah, jadi sebagai wujud rasa syukur saya kepada Allah karena masih dikaruniai orangtua yang lengkap, saya ingin berbakti sepenuhnya kepada kedua orang tua saya. Saya kelewat sayang sama mereka. Jadi apapun yang mereka inginkan, selama itu baik maka saya akan berusaha mewujudkannya. Dan atas apa-apa yang saya kerjakan, semoga mereka meridhoi pilihan saya.

  27. Eni Lestari
    @dust_pain
    Malang

    Impian yang ditentang orang tua? Hmm jujur gak ada. Meski bukan tipe yang mendukung banget, tapi orang tua juga bukan tipe yang menentang apa yang kuimpikan. Istilahnya sih selama itu baik, lanjutkan. Kalau berhenti pun gak masalah juga. Asal aku bertanggung jawab atas apa yang kulakukan, gak nyusahin, dan gak bikin masalah yang nanti ujung2nya rumit. Yah impianku juga gak muluk2 sih, jadi mungkin karena itu juga orang tua gak khawatir atau melarang yang berlebihan 😃😃

  28. Nama : Ratnani Latifah
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Kota : Jepara

    Dulu iya, menekuni dunia literasi itu selalu dicemooh dianggap tidak ada gunanya. Menghabiskan waktu tanpa hasil. Dan kurang menjanjikan. Begitulah pendapat yang selalu dituturkan pada saya. Lebih baik menjadi guru atau profesi lainnya. Namun saya tetap gigih memperjuangkan mimpi itu. Berlatih menulis. Mengikuti lomba dan mulai mengirimkan karya ke media koran juga penerbit. Meski tertatih-tatih akhirnya perjuangan itu sedikit demi sedikit berbuah hasil. Beberapa kali bisa memenangi lomba, lalu karya-karya saya alhamdulillah juga bisa dimuat media tidak ketinggalan beberapa naskah saya bisa tembus penerbit mayor. Dengan itu saya bisa membuktikan bahwa menulis tidak seburuk penilaian orangtua saya. Dan akhirnya kini saya mendapat dukungan dalam menekuni dunia literasi. ^_^

  29. Nama. : Ratih
    Twitter : @Jju_naa
    Kota. : Palembang

    Dulu, pengen banget masuk SMK ngambil jurusan Tata busana.
    Tapi ayah ga setuju. Kata beliau, mau jadi apa nantinya? kalau mau ngambil tata busana, ga usah sekolah! kursus aja.

    Masih inget banget, saking nekatnya pas minta ttd ayah buat F1, sekolah tujuannya blm aku tulis, alesannya lupa kode (padahalma ga ada kode²an, alesan doang. Jangan ditiru). Ayah juga pas ngasih ttd itu rada curiga gitu. Jadi aku tes diem², dan lulus.
    Nah, pas pulang bawa pengumunan & berkas daftar ulang (bersih, besok tinggal nganterin ke sekolah) ke ayah, aku di marahin abis-abisan. Ayah ga mau tahu, karena dia ga merasa nanda tangani persetujuan ke SMK (ini penjebakan, gitu katanya) kalau mau lanjut, biayain sendiri! sepersen pun ga mau ngeluarin. Katanya, harapan ayah tgl adik aku (aku sdh bungker😥 *masih sakit eh)

    Akhirnya nyerah, karena bagaimanapun aku blm bisa ngebiayain sekolah sendiri waktu itu.
    Nurutin pilihan ayah. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, justru aku bersyukur dulu terjun ke jalan ini. Dan berterima kasih banyak sama ortu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s