REVIEW Belajar Hidup dari Rumi

IMG_20160905_092634[1]

Jadilah lentera, atau sekoci penyelamat, atau sebuah tangga. Bantu sembuhkan jiwa seseorang. Keluar dari rumahmu bak seorang pengembala. (hlm. 106)

Sewaktu mendapatkan buntelan ini senang banget. Pertama, siapa yang nggak kenal Jalaludin Rumi. Kedua, saya memang ngefans banget dari zaman kuliah. Menurut saya, puisi-puisi Jalaludin Rumi lebih mengena dan #JLEB dibandingkan para penyair lain. Isinya nggak menye-menye, simple tapi justru #JLEBB.

Seperti pada puisi-puisi para penyair sufi lain, puisi-puisi Rumi lahir dari pengalaman keruhanian yang dalam, dan ektase mistik. Ungkapan-ungkapan puisinya kaya dengan simbol-simbol yang diambil dari sejarah atau kisah-kisah keagamaan, serta petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam Al-Quran. Simbol-simbol ini sekaligus mengungkapkan pengalaman keagamaan dan gagasan tasawuf mereka, pandangan dan tanggapannya terhadap kehidupan sosial, moral, keagamaan, budaya dan pandangan metafisik mereka, serta keyakinan mereka kepada Tuhan sebagai sesuatu yang transenden dan sekaligus imanen.

Juga seperti puisi-puisi para sufi lain, puisi-puisi Rumi berpusat pada upaya mengungkapkan kerinduan dan cinta kepada Tuhan, serta renungan atas kefanaan dan kekekalan hidup. Lebih jauh lagi, mengenai tahap-tahap yang mesti ditempuh seseorang untuk sampai pada perkembangan pribadi yang vertikal, sehingga mencapai makrifat.

Dalam puisi-puisnya, Rumi sering memulai dengan sebuah kisah, dan selanjutnya menggunakan kisah-kisah lain. Namun, ia tak bermaksud menulis puisi naratif. Kisah-kisah itu ia gunakan sebagai alat pernyataan pikiran atau ide. Sering pula dengan maksude menciptakan lambang-lambang dari pengalaman mistiknya. Jadi, kisah tidak berperan sebagai melulu kisah. Misalnya, kisah Laila dan Majnun, ia ambil untuk melukiskan percintaan atau kesatuan mistik, seperti halnya kisah Yusuf dan Zulaekha.

Kisah-kisah ini di tangan Rumi memiliki nilai imaji yang kaya karena keterampilan puitisnya. Bila ia mulai puisinya dengan kisah, lalu disusul oleh kisah lain, seakan-akan ditumpangkan atau dikaitkan begitu saja; hal ini ia lakukan untuk memberikan asosiasi, yang tampaknya beragam, tetapi tetap dalam kesatuan makna. Banyak kita jumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi, kisah yang tampaknya berlainan, tetapi ternyata memiliki kesejajaran makna simbolik.

Di sinilah letak kekuatan Rumi dalam membangun asosiasi simbolik, yang sangat penting dalam puisinya, khususnya puisi keagamaan atau mistik. Beberapa tokoh sejarah atau legenda yang ia tampilkan juga bukan dalam maksud kesejarahan, namun sebagai imaji-imaji simbolik.

Selain kekayaan imajinasinya, Rumi juga menonjol di antara penyair sufi dan mistik lain, karena puisi-puisinya kaya dengan ritme. Tenaga musikal puisi-puisinya menggambarkan gerak dan putaran tarian tarekat Maulawinya. Ini tidak mengherankan, karena Rumi banyak menciptakan sajak-sajaknya ketika mencapai ekstase mistik bersama tarekatnya. Karena itu, tidak mengherankan pula apabila penciptaan citra puisinya begitu diilhami oleh musik dan tari-tarian.

Melalui puisi-puisinya, Rumi mengatakan, bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin lewat cinta, bukan semata-mata dengan kerja yang bersifat fisik. Juga dalam puisi Rumi kita bisa membaca, bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tak ada yang menyamai. Karena itu, dalam menggambarkan Tuhan hanya mungkin lewat perbandingan, yang terpenting adalah makna dari perbandingan itu sendiri, bukan wujud lahiriahnya atau interpretasi fisiknya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Jadilah lentera, atau sekoci penyelamat, atau sebuah tangga. Bantu sembuhkan jiwa seseorang. Keluar dari rumahmu bak seorang pengembara. (hlm. 106)
  2. Jadilah selembar kertas kosong, jadilah sebidang tanah yang tak ditumbuhi apa-apa, siap ditanami. Sebutir padi. Mungkin dari sang mutlak. (hlm. 117)
  3. Hari ini seperti hari lain. Kita bangun, merasa hampa dan takut. Jangan buka pintu kamar. Belajar dan mulai membaca. (hlm. 145)
  4. Dunia ini adalah gung, segala yang kau kerjakan menggema kembali kepadamu. (hlm. 159)
  5. Kau bukan sekedar tetesan di tengah samudra. Kau adalah samudra dahsyat dalam tetesan. (hlm. 165)
  6. Kita lahir dari cinta. Cinta adalah ibu kita. (hlm. 258)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Belajar Hidup dari Rumi

Penulis                                 : Haidar Bagir

Penyunting                         : Cecep Romli

Penyelaras aksara            : Lina Sellin

Penata aksara                    : Nurhasanah Ridwan

Desain sampul                   : Zuhri AS

Cover art                             : Freydoon Rassouli

Penerbit                              :Noura Books

Terbit                                    : Juni 2016

ISBN                                      : 978-602-0989-81-5

IMG_20160905_092033 IMG_20160905_092119 IMG_20160905_092202 IMG_20160905_092248IMG_20160905_092337

4 thoughts on “REVIEW Belajar Hidup dari Rumi

  1. Mbak Luckty kayaknya identitas bukunya ada yg keliru: penerbit dan terbit. Silakan dikoreksi.

    Saya belum pernah membaca bukunya Rumi. Rasanya pengen baca puisi yang bernafas keislaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s