REVIEW San Francisco

IMG_20160906_063838

Orang-orang tidak seharusnya membuat standar untuk ‘akhir yang bahagia’. (hlm. 201)

Kebahagiaan baru berakhir kalau hidup juga sudah berakhir. (hlm. 201)

Adalah Ansel yang bekerja sebagai relawan di sebuah lembaga yang melayani keluh kesah para peneloponnya yang rata-rata ingin bunuh diri. Mulai dari hal remeh temeh karena patah hati bahkan sampai kelas berat karena kekerasan rumah tangga. Ansel termasuk relawan baru di situ. Meskipun baru, dia sudah mendapatkan pasien yang cukup ‘berat’. Si penelepon ingin bunuh diri di Golden Gate Bridge, salah satu jembatan bunuh diri paling ngetren di seluruh dunia. Konon hanya ada 1% yang bisa bertahan hidup setelah lompat dari Golden Gate Bridge.

Golden Gate Bridge

Telepon pertama, Ansel berhasil menggagalkan usaha si penelepon untuk meneruskan usaha bunuh dirinya itu. Tapi siapa sangka, hari-hari berikutnya si penelepon bermasalah dan (tiap) ingin bunuh diri selalu (hanya) mau menghubungi Ansel, bukan relawan yang lain. Termasuk Maria, relawan yang lebih senior dari Ansel. Ketika seseorang yang baru kenal dan terasa akrab, biasanya ada beberapa sebab, salah satunya adalah kesamaan nasib. Nah, kesamaan apakah antara Ansel dan si penelepon. Saya nggak mau spoiler lebih lanjut x)) #BiarMakinPenasaran

“Aku perlu telinga bersahabat yang terhubung ke badan orang yang bisa kupermainkan.”

“Terserah. Tapi, tolong jangan bunuh diri. Aku akan merasa bersalah dan sejenisnya.” (hlm. 51)

“Waktu kau merasa mau bunuh diri, kenapa kau tidak menghubungiku?”

“Tentu saja tidak. Orang-orang yang merasa ingin bunuh diri akan mencari cara untuk hidup kembali. Tapi, orang-orang yang akan bunuh diri tidak menginginkan alasan untuk berhenti.”

“Dan, ini dia. Matahari terbit yang tidak pernah dilihat, simfoni kesepuluh yang tak pernah diselesaikan. Kehidupan yang tak pernah dijalani.” (hlm. 168)

Dari awal cerita, buku ini dipenuhi aroma-aroma bunuh diri. Tiap membaca kisah bertema bunuh diri dalam sebuah buku, saya akan selalu ingat kisah Veronika Memutuskan Mati yang ditulis oleh Paulo Coelho. Meski buku ini memiliki persamaan tema tentang bunuh diri, isi ceritanya beda jauh. Jika Veronika memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena merasa jenuh dengan rutinitas sehari-harinya yang menjemukan, beberapa tokoh dalam buku ini juga punya alasan tertentu untuk memutuskan mati. Saya juga menemukan pengetahuan lewat buku ini, ada selipan tentang Adult Separation Anxiety Disorder.

Tidak hanya Ansel yang merupakan tokoh utama, tapi tokoh lain juga penggambaran karakternya kuat dan berkontribusi secara tidak langsung pada kehidupan Ansel. Gretchen, kakaknya yang cantik tapi menyebalkan bagi Ansel tapi sebenarnya dia sangat menyayangi adiknya ini, terbukti ketika Ansel tidak pulang sampai pagi, kakaknya ini stres luar biasa menunggu adiknya. Saya bisa merasakan apa yang dialami oleh Gretchen ini. Sebuah kekhawatiran (berlebihan) terhadap adik sendiri ketika posisi kakak merangkap menjadi orangtua yang sudah tidak ada. Begitu pula dengan Dexter, suami dari Gretchen ini yang meski kesannya suka memerintah Ansel tapi terlihat sekali jika dia bertanggung jawab atas hidup Ansel seperti adik kandung sendiri. Ada juga Maria, senior Ansel sebagai relawan yang meski Ansel sering mengoloknya sebagai perawan tua, Maria selalu membimbing Ansel tiap mendapat pasien baru, termasuk bagaimana menghadapi pasien yang berada diambang kematian. Jangan lupa pacar Ansel bernama Ada yang berusaha memahami Ansel meski rutinitas dan hobi yang berbeda darinya.

“Yang harus kau lakukan bukan berhenti bicara, melainkan behenti merasa sedih. Kurasa kau juga tidak memerlukan musik untuk memahami orang lain. Kau membutuhkan musik karena hal yang berbeda. Kau tahu kan, kadang-kadang kau menangis karena musik, atau film, atau buku? Kadang-kadang, sebenarnya bukan karena kau merasa paham atau terhubung dengan ceritanya, tapi karena kau cuma butuh menangis saja.” (hlm. 179)

“Kau selalu menyukai hal-hal yang menyakitimu. Tapi masalahnya, di dunia nyata, yang pecah bukan kulit jarimu, tapi hatimu.” (hlm. 181)

“Aku tahu kedengarannya kekanak-kanakan. Dan, orang-orang bisa bilang kalau aku lebih dari sekedar pemain harpa, tapi untukku tidak. Aku suka musik klasik, dan aku mau orang-orang memahami apa yang kumainkan. Membaca cerita-cerita tentang latar belakang musik itu sulit untukku, tapi aku melakukannya karena aku mau orang-orang menyukai hal yang kusukai.” (hlm. 198)

Ini adalah buku pertama dari Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Mak, namanya super banget!) yang saya baca. Sebenarnya sudah lama mendengar namanya diperbincangkan. Selain nama aslinya yang super unik, juga karena karyanya mendapat sambutan positif. Pas banget waktu ke toko buku mata langsung tertuju dengan buku ini deretan serial A Love Story dari Grasindo, langsung tanpa mikir beli buku ini dan begitu dibaca langsung suka ama cara bercerita penulisnya yang keliatan cerdas banget.

Ada satu yang menarik dalam buku ini yang pengen saya bahas tentang perbedaan pacar part-time dan pacar full-time. Menurut Dexter, pacar part-time salah satunya adalah obrolan kalian singkat-singkat, didatangi kalau lagi sempat. Kalian kayak pasangan tua yang sudah kehabisan bahan obrolan. Ada yang merasa masuk pacar part-time seperti ini?!? X)) #kabur

Lewat tokoh Ansel, kita mendapatakan banyak sekali pengetahuan soal musik. Penulisnya menyelipkan judul-judul lagu yang ternyata ada filosofi atau ceritanya tersendiri di balik pembuatan lagu tersebut. Dari semua lagu yang bertebaran dalam buku ini, hanya ada satu yang saya tahu #KudetBanget x))

  1. Chorus of the Hebrew Slaves – Giuseppe Verdi, salah satu karyanya yang membuat ia memutuskan untuk berhenti bermusik. Melalui kematian istri dan kedua anaknya yang masih kecil, serta kegagalannya dalam bermusik, satu baris dari lagu ini mengubah sisa kehidupannya. Lagu yang mengantarkan Verdi dari keterpurukan, juga lagu yang mengantarkannya pada kematian.
  2. Quasi una fantasi – Giulietta Guiccardi, murid Beethoven yang bertemu dengannya di awal abad 19, dan jatuh cinta padanya. Tapi akhirnya Guiccardi menikahi pria lain, dan Beethoven sendiri tidak pernah menikah.
  3. Ave Maria – Schubert (satu-satunya lagu yang saya tahu dari sekian banyak judul lagu yang ada di buku ini). Ave Maria, doa perawan suci. Dalam lirik lagu berbahasa Jerman, lagu ini disadur oleh Adam Stork dari puisi Skotlandia berjudul ‘Lady of the Lake’, karangan Walter Scott. Dalam puisi itu, Roderick Dhu berhenti untuk mendengarkan nyanyian terakhir Ellen yang bisa didengarnya sebelum ia pergi dalam pemberontakan terhadap Raja James Skotlandia.
  4. City Called Heaven – Josephine Poelinitz. Ini jenis lagu yang hanya akan diketahui mantan penyanyi paduan suara, atau orang yang sering kali datang ke sana.
  5. Paradis Perdus – Christine and the Queens. Lagu dengan melodi yang lembut dan menyayat, sedikit mencekam, yang meninggalkan image berupa malam-malam dingin pasca hujan yang terasa lembap, sunyi, dan kelam.
  6. Dan masih banyak lagi.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Cara terbaik untuk merayakan keberhasilan dalam bermusik, ya dengan bermusik. (hlm. 139)
  2. Kalau bisa buat sendiri kan tidak perlu repot-repot mempertimbangkan perlu beli atau tidak. (hlm. 146)
  3. Yang penting dari suatu negara bukan alamnya, tapi manusianya, kan? (hlm. 147)
  4. Kalau kau ditakdirkan bersama, proses peleburannya tidak akan terlalu menyakitkan. (hlm. 183)
  5. Tidak semua orang harus menikahi orang yang dicintainya, tidak semua orang harus mendapat pekerjaan yang sesuatu untuknya, atau menjadi orang yang selalu dia inginkan. (hlm. 201)
  6. Senyum seperti mata uang yang bisa dipakai untuk membeli kebahagiaan. (hlm. 208)
  7. Kadang kita adalah bagian dari sebuah kisah, tapi kisah yang sebenarnya bukan tentang kita. (hlm. 213)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Mungkin cowok memang menilai cewek sebagian besar dari penampilannya saja. (hlm. 11)
  2. Orang yang bisa main musik bisa dapat cewek mana pun. Tingal buat lagu untuk mereka, dan mereka merasa harus naksir padamu. (hlm. 19)
  3. Kenapa kau belum punya pacar? Mukamu tidak jelek-jelek amat. Kau sudah hampir 30 tahun. Itu berarti, kau sudah tua. (hlm. 21)
  4. Apa orang depresi tidak boleh bercanda? (hlm. 22)
  5. Kalau kau sukanya begitu, ya terserah dong. (hlm. 26)
  6. Urusan rumah tangga adalah urusan pribadi, tahu kan? (hlm. 31)
  7. Bukankah mereka tidak akan pernah sampai di surga, kalau membuang hidup mereka dengan sengaja? (hlm. 129)
  8. Gadis-gadis yang terlalu sering minum kopi tidak akan pernah bisa menikah. Soalnya mereka lebih suka kopi daripada lelaki. (hlm. 141)
  9. Berhentilah mencoba memperbaiki keadaan, dan jangan pernah mengusulkan kencan ganda lagi. (hlm. 152)
  10. Orang-orang yang sangat berbeda bisa saja tetap hidup bersama, tapi kalau mereka bertentangan dalam hal paling dasar, sepertinya sangat sulit dijalani. (hlm. 198)
  11. Jadi normal terlalu diremehkan. (hlm. 206)
  12. Jadi normal itu jauh lebih susah daripada jadi tidak normal. Soalnya, semua orang pada dasarnya abnormal; sebagian hanya lebih jago menyembunyikannya. (hlm. 207)

Keterangan Buku:

Judul                                     : San Francisco

Penulis                                 : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Editor                                    : Septi Ws

Desainer sampul              : Teguh

Ilustrator isi                        : Tim Desain Brocolli

Penata isi                             : Tim Desain Brocolli

Penerbit                              : PT Grasindo

Terbit                                    : Juli 2016

Tebal                                     : 214 hlm.

ISBN                                      : 978-602-375-592-9

IMG_20160906_063855

7 thoughts on “REVIEW San Francisco

  1. Tidak semua orang harus menikahi orang yang dicintainya, tidak semua orang harus mendapat pekerjaan yang sesuatu untuknya, atau menjadi orang yang selalu dia inginkan. (hlm. 201)

    Inilah kenyataan yang sebenarnya ;(

  2. Pacaran udah kayak kerja aja ya kak Luckty, ada part-time sama full-time. Aku belum beli yang ini, baru beli yang Jakarta Sebelum Pagi aja. Tapi pas aku liatin ke mama, beliau nggak percaya sama nama belakangnya Ziggy yang panjang dan seolah tanpa spasi🙂 Liat review ini jadi kepengen beli juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s