REVIEW Jakarta Sebelum Pagi

img_20160905_092431

Yang lebih menakutkan dari pada apa pun yang kita takutkan adalah kalau kita terus-terusan merasa takut. (hlm. 136)

Adalah Emina, babi eh gadis berparas biasa yang ternyata punya punya secret admirer alias penggemar rahasia. Jika seseorang punya secret admirer pasti takut, berbeda dengan Emina karena dia bukan babi biasa eh gadis biasa. Ini kenapa jadi bahas babi melulu? Karena di awal cerita kita akan dicekoki pengetahuan seputar babi. Bahkan ada istilah kasta babi juga. Seharusnya saya jijik dengan hal-hal yang beraroma babi, tapi lewat penuturan penulisnya di buku ini, justru kenapa jadi menarik untuk disimak yaa… x)) #KenaJampiJampiBabi

Lupakan babi. Balik ke masalah secret admirer. Emina sangat penasaran sekali. Meski Nissa, teman sekantor sekaligus sahabatnya, sudah memperingatkannya agar berhat-hati, justru Emina malah makin penasaran. Semakin dilarang, semakin menantang. Begitulah Emina. Beberapa kali dia mendapatkan bunga dan puisi dari sang secret admirer. Emina berspekulasi jika secret admirer itu penghuni apartemen di bawahnya. Menariknya, bunga yang diberikan bukan bunga biasa, bunga itu adalah bunga hyacinth yang tidak sembarangan berkembang. Salah satu cara menelusurinya adalah mencari toko bunga yang menjual buku tersebut.

Alih-alih menemukan toko bunga, Emina justru terdampar di sebuah kafe yang aneh. Kenapa aneh? Karena kafe ini dikelola seorang anak kecil dengan sifat yang amat dewasa bernama Suki. Sebenarnya ada lumayan banyak tokoh yang hadir dalam buku ini, bukan sekedar numpang lewat semata. Masing-masing karakter lumayan kuat, dan berpengaruh pada kehidupan Emina.

Oya, di review sebelumnya, saya pernah mengatakan jika nama penulisnya susah sekali diucapkan. Ternyata setelah membaca dua bukunya, penulisnya juga cerdas membuat nama-nama tokoh absurd tapi masing-masing ada filosofi dibalik nama tersebut. Nama Emina, Suki dan lainnya.

“Kalau begitu, kamu tertarik pada hal tepat. Kalau mau pinjam buku lain lagi, kamu boleh ke perpustakaan.” (hlm. 15)

“Buku bekas punya lebih dari sekadar cerita yang tertulis di kertas-kertas di dalamnya. Ada cerita dalam dirinya. Kadang-kadang, ada tulisan pemilik sebelumnya di halaman-halaman; pesan atau ucapan dari pemberi buku, nama dan kota tinggal pemilik buku, tanda bintang di kutipan-kutipan favorit.” (hlm. 147)

Ada banyak sekali pengetahuan yang diselipkan dalam buku ini. Salah satunya adalah tradisi minum teh. Meskipun banyak etikanya, tujuan dari upacara minum teh adalah untuk mendekatkan penyaji dan tamunya. Dan, yang harus diperhatikan penyaji bukan keteraturan, tapi kenyamanan tamu. Dalam banyak upacara minum teh, orang biasa mengurangi pembicaraan. Sejak dulu selalu seperti itu. Tapi, mengobrol bukan hal yang dilarang dalam upacara minum teh. Tidak ada yang dilarang. Ini acara untuk merasa nyaman dan tenang, bukan merasa terbebani aturan. Yup, ternyata tradisi minum teh pun ada aturannya. Memegang cangkir teh adalah pekerjaan melelahkan. Tapi tidak bagi Suki yang sangat menguasai tradisi minum teh ini.

Selain itu, lewat para tokohnya, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam hidup ini ada orang yang menikmati hidup dengan memilih sesuatu yang disukainya, ada yang memilih menjalani hidup seperti garis lurus tanpa hambatan tapi hambar, dan ada juga yang tersesat entah jalan apa yang dipilihnya. Suki yang sangat menyukai upacara minum teh, Abel yang menekuni pekerjaan sesuai hobinya, dan ada juga Emina yang merasa tersesat karena selama ini memilih pekerjaan yang bukan diinginkannya tapi dia juga tidak tahu apa yang selama ini dikuasainya. Kamu yang seperti siapa?

Saya mau nggak spoiler isi cerita. Soalnya selain menarik, absurd juga endingnya benar-benar nggak ketebak. Selain membahas secret admirer, membahas kehidupan masa lalu seseorang, fobia akan sentuhan dan juga pengaruh pasca perang Aljazair.

Karena buku ini beraroma buku, akan kita temukan banyak judul bertebaran dalam cerota di buku ini:

  1. Charlotte’s Web
  2. Master Cooking Boy – Etsushi Ogawa
  3. Hollow City – Ransom Riggs
  4. Esio Troth – Roald Dahl
  5. Tom’s Midnight Garden
  6. Dan masih banyak lagi.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kamu harus punya sesuatu yang membuat orang melirik, dan mengingat kamu. (hlm. 41)
  2. Kesedihan nggak bisa dibandingkan. (hlm. 82)
  3. Memikirkan penghasilan nggak salah, kok. Itu contributing factor setiap pekerjaan. Tapi, kamu nggak perlu memikirkannya dalam satu hari, kan? (hlm. 122)
  4. Orang punya cara menghadapi kesedihannya masing-masing. (hlm. 148)
  5. Banyak hal yang membuat kita waspada. (hlm. 151)
  6. Semua orang mengalami tragedi dalam hidupnya. Nggak semuanya besar menurut orang, tapi semuanya besar bagi yang mengalami. (hlm. 152)
  7. Kamu hanya perlu mendengarkan dengan lebih baik. (hlm. 177)
  8. Ketika seorang lelaki tidak dikenal memegang tanganmu dan mengajakmu berlari, berlarilah dan jangan pernah lepaskan dia. (hlm. 178)
  9. Luka dari masa kecil itu lebih sulit disembuhkan daripada yang kamu dapat setelah dewasa. (hlm. 200)
  10. Kamu yang menentukan apa yang mau kamu lakukan. (hlm. 201)
  11. Kamu harus tahu kalau nggak ada orang lain yang bisa menanggung risiko dari perbuatan yang kamu pilih. (hlm. 201)
  12. Kehidupan cinta, dan kematian ada di satu teko teh. Kamu nggak bisa menghentikan percampurannya. Jangan merasa kasihan pada orang yang meminumnya. (hlm. 208)
  13. Mungkin cara hidup manusia tidak tergantung pada waktu. Mungkin yang memengaruhi cara hidup mereka adalah diri mereka sendiri. (hlm. 213)
  14. Kita semua merasa sedih, kadang-kadang. Buka n karena terjebak masa lalu, tapi karena kita perlu merasa sedih, kadang-kadang. (hlm. 245)
  15. Ketika dua orang dinasibkan untuk berjodoh berhasil saling menemukan, tetapi juga ditakdirkan untuk berpisah. (hlm. 248)
  16. Kadang-kadang, kamu mengingat sesuatu yang terjadi jauh di masa lalu, lebih baik daripada apa yang terjadi kemarin. (hlm. 261)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Katanya, orang-orang, kalau sudah dewasa, biasanya mau coba hidup mandiri. (hlm. 39)
  2. Tumbuh dewasa rasanya seperti itu. Waktu masih kecil, semua orang perhatian. Tapi, begitu dewasa, sedikit demi sedikit, kamu hilang dari pandangan. (hlm. 40)
  3. Anak kecil punya cara untuk membuat orang dewasa memenuhi keinginannya. Ada yang menjerit-jerit. Ada yang ngambek. (hlm. 40)
  4. Bukannya menemukan orang yang bersedia menghabiskan waktu untuk mendengarkan kamu itu lebih penting daripada memaksakan diri untuk dilihat orang yang bahkan nggak peduli? (hlm. 43)
  5. Kalau kita berhenti bersikap paranoid, sekali aja, dan memberi kesempatam agar hal aneh terjadi dalam hidup kita. (hlm. 47)
  6. Kalau kamu terlalu lama tinggal sendiri dan hampir nggak pernah ketemu orang, pola pikir kamu jadi jauh dari pola pikir kebanyakan orang. (hlm. 69)
  7. Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar, bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar. (hlm. 72)
  8. Rasanya bego kalau terus-terusan sedih, padahal ada banyak yang harus dilakukan dan ada banyak makanan enak. (hlm. 90)
  9. Jangan berkecil hati begitu. (hlm. 122)
  10. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan besar. (hlm. 123)
  11. Buku membuat mereka merasa pintar dan kaya. Bahkan, meskipun mereka tidak membacanya. (hlm. 146)
  12. Waktu ketemu orang baru, selalu ada hal-hal yang nggak kita tahu soal dia, kan? Banyak hal yang membuat kita waspada. (hlm. 151)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jakarta Sebelum Pagi

Penulis                                 : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Editor                                    : Septi Ws

Desainer sampul              : Teguh

Ilustrator isi                        : Cynthia

Penata isi                             : Tim Desain Broccoli

Penerbit                              : PT Grasindo

Terbit                                    : 2016

ISBN                                      : 978-602-375-484-7

7 thoughts on “REVIEW Jakarta Sebelum Pagi

  1. Kemunculan pembahasan babi di awal-awal membuat aku curiga Ziggy mau bahas soal babi ternyata bukan *komentar yang nggak nyambung hehe. Maafkan. Ini buku Ziggy yang pertama aku baca dan membuat aku ingin beli yang lainnya. Aku tipe Emina yang tersesat tapi ingin menjadi seperti Abel.

  2. Saya belum pernah baca karya Ziggy satu pun. Dan membaca review 2 judul buku Ziggy di blog ini, saya harus membaca buku-bukunya. Semoga kelak ada jodoh.

  3. Pingback: POSTING PERDANA : Babi Pertama Saya | After Reading Panic!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s