[BLOGTOUR] REVIEW Wander Woman + GIVEAWAY

img_20160924_095201

Terkadang kita mendapati hari buruk. (hlm. 129)

Wander woman. Plesetan tak sempurna dari kata “wander” yang dikawinkan dengan Wonder Woman. Wander artinya rajin berkelana. Tepatnya, dipaksa nomadik. Wonder woman artinya wanita yang tiap hari bertugas menjinakkan dunia, karena semua orang menganggap dia semacam superhero.

img_20161005_090818

Mereka berempat adalah:

  1. Arumi, yang sadar betul otaknya ada di dalam dada. Dia 120 persen berpikir mengunakan hati, perasaan dan berdasarkan ‘kata orang’. Kocak, mudah khawatir, tapi bisa seketika menghunus pedang demi kepentingan anak-anaknya. Besar di sebuah kota kecil yang hangat di Indonesia, somehow, membuat Arumi sulit menyingkirkan mental minderan, dan selalu merindu kampung halaman. Apalagi tatkala diterjunkan dalam kehidupan expat yang glamor. Bersama suaminya Yuza, dan kedua anak mereka Raya dan Thalia, berpengalaman menetap di Jepang serta Thailand.
  2. Pricilla (Cilla), city girl yang observant. Hanya nyaman jika situasi serba terkontrol, tak heran dia gampang stres oleh ketidaksempurnaan. Sangat setia kawan. Keras kepala dan mandiri, tapi diam-diam sering butuh persetujuan teman-temannya. Suaminya pria Eropa bernama William. Alex dan Emily, kedua anak mereka, sering jadi sasaran kegemasan di mana pun mereka tinggal. Skotlandia dan Amerika Serikat melatari cerita-cerita mereka di sini.
  3. Sabai si Uni Padang. Di antara mereka berempat, jelas dia bukan yang paling feminim. Not your average lady like mother, begitu dia mendeskripsikan diri, sambil nyengir cuek. Penuh rasa ingin tahu dan bermental setengah nekat –sesuatu yang jelas diperlukan jika harus berpindah ke sekian banyak negara bersama tiga balita (Lexie, Emma, Ariana). Mengaku tidak rapi dan pelupa, tapi tentu saja tidak pernah lupa pada Mark, suaminya. Di sini berkisah tentang Britania Raya dan Korea.
  4. Sofia, potret tipikal perempuan yang tidak jelas dia sendiri mau apa. Sewaktu bekerja, dia bercita-cita menjadi ibu rumah tangga dan penulis tetap. Setelah kesempatan itu ada, dia malah memutuskan untuk balik kerja. Sofia menjadi volunteer di sebuah yayasan untuk memulai kariernya kembali setelah lima tahun ditinggalkan. Pekerjaan Ronald, suaminya, membuatnya terdampar di Sydney. Sofia yang dreamy, yang suka mellow, sering kali didasarkan oleh kedua putrinya, Celly dan baby Juju, bahwa sebagai ibu, dia harus tangguh melindas gundukan-gundukan yang muncul di jalannya.

img_20160924_095404

Ini memang fiksi, tapi jika kita menelusuri lebih lanjut, kehidupan fiksi di buku ini hampir nggak jauh beda dengan kehidupan para penulisnya. Ya, karena mereka memang sedang/ pernah tinggal di tempat yang disebutkan dalam buku ini, kita akan terasa diajak menelusuri kehidupan di sana. Bukan edisi jalan-jalan ke tempat-tempat indah atau wisata kuliner yang memanjakan lidah dan perut. Bukan, buku ini lebih mainstream; membahas culture shock.

Apa itu CULTURE SHOCK? Adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke daerah tertentu.

Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang dalam pergaulan sosial. Tanda-tanda tersebut meliputi seribu satu cara yang kita lakukan dalam mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi situasi sehari-hari, misalnya kapan waktu berjabat tangan dan apa yang harus dikatakan jika bertemu orang baru.

Ehem, menurut Prof. Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat (Dalam buku komunikasi, iyess…saya sampai buka-buka buku zaman kuliah); “bila seseorang memasuki budaya asing, semua atau hampir semua petunjuk itu lenyap. Ia bagaikan ikan yang keluar dari air. Meskipun berpikiran luas dan beritikad baik, kita akan kehilangan pegangan. Lalu kita akan mengalami frustasi dan kecemasan. Biasanya orang-orang menghadapi frustasi dengan cara yang hampir sama. Pertama-tama, kita menolak lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan.”

Culture shock nggak hanya kita dapatkan jika berpindah ke luar negeri. Untuk yang pernah mengalami masa-masa kuliah dan merantau, misalnya dari Sumatra ke Jawa, akan terasa sekali perbedaan budayanya. Dari segi makanan; Sumatra identik dengan makanan berbumbu kental dan pedas, sedangkan Jawa lebih cenderung yang manis-manis.

img_20160924_095213

Apalagi yang mengalami perpindahan tempat tinggal dari Indonesia ke luar negeri seperti yang dialami tokoh dalam buku ini. Beberapa hal culture shock menarik yang diselipkan dalam buku ini:

  1. Cilla. Seperempat hidupnya dihabiskan di Jakarta. Dia tahu benar cara menjaga diri. Mulai dari memeluk ransel di depan ketika naik kendaraan umum supaya terhindar dari tangan usil, nggak nekat meninggalkan barang bergeletakan di dalam mobil, sampai hanya mengenakan sandal jepit butut ketika ke masjid. Jakarta mengajarkan untuk selalu waspada sesempit apa pun bisa disambar oleh oknum kepepet. Sepuluh tahun tinggal di negeri orang mengajarkannya hal yang lain. Enam tahun pertama di Houston dia belajar untuk memercayai tetangga. Memberi kunci mereka untuk hal-hal darurat. Tapi siapa sangka, suatu hari rumahnya dimasuki orang tak dikenal, bahkan mobil mereka pun lenyap. Hal ini mengingatkan bahwa di tempat yang aman pun terkadang tidak selalu aman.
  2. Sabai dalam BAB Oppa Tentara dan Eyeliner-nya. Ini menjadi bahasan paling menarik hati. Kenapa? Karena ini adalah tema yang paling hangat. Betapa banyak dari kita (termasuk saya) kena sindrom Hallyu atau Korean Wave (istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara. Beberapa tahun terakhir, Gelombang Korea seakan memberondong kita, mulai dari segi musik, fashion, film hingga makanan. Dan yang menarik dari Korea adalah orang-orangnya yang bak macam boneka; putih mulus nyaris sempurna tekstur tubuhnya. Padahal kalo kita googling orang-orang asli Korea juga gak gitu-gitu amat sih. Yang kita lihat di layar kaca sebenarnya banyak yang udah nggak asli alias operasi. Menurut orang sana, mereka punya prinsip lebih baik miskin tapi memiliki paras yang sempurna, dibandingkan sebaliknya. Makanya tak jarang kita melihat betapa artis-artis Korea, bahkan yang cowok-cowok pun terlihat ‘cantik’ x))
  3. Sofia yang lebih banyak membahas kehidupan di Australia, terutama dunia anak-anak dan ibu. Misalnya tentang orang-orang Australia suka segala hal yang berbau natural; melahirkan tanpa obat sama sekali, menganggap ASI yang terbaik, tidak memberikan vaksinasi terhadap anak, dan paleo diet yaitu makanan yang dikonsumsi meniru nenek moyang zaman paleolithic dengan tidak mengonsumsi produk susu atau biji-bijian yang ditanam seperti beras dan gandum.
  4. Dari kisah Arumi, paling menarik dalam BAB Bangkok 24 Jam membahas demo di negara tersebut. Di sini lokasi aksi protes tidak disatukan dengan kekerasan, melainkan dengan kemeriahan dan keramahan khas Negeri Gajah Putih. Yang tidak membikin perut mulas lantaran takut, juga tidak melahirkan kecemasan yang menggangu karena serba teratur. Ya, di Bangkok, masyarakatnya malah sengaja berduyun-duyun ke lokasi demo. Ngakak banget ama tingkah polah Win, asisten rumah tangga Arumi yang polos-polos gimana gitu, masak iya mau ikutan demo pake acara nawarin diri kalo mau dibawain apa gitu pas pulang dari demo?!? Dan ternyata, atribut demo menjadi cindera mata incaran para pejalan asing. Coba cek di IG dengan hestek #BangkokShutdown x))

img_20160924_095137

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Suami teladan, lebih suka nonton bola dibanding jemput istri sendiri. (hlm. 33)
  2. Orang jahat ada di mana-mana. (hlm. 72)
  3. Ngos-ngosan segitu doang tiap pagi mungkin memang perlu lo lakuin, daripada nggak ngapa-ngapain. (hlm. 112)
  4. Menertawakan diri sendiri itu sehat, kata pakar. (hlm. 135)
  5. Memang tak kenal maka tak sayang. (hlm. 136)
  6. Cemburu sama laki-laki cantik begitu? (hlm. 138)
  7. Anak-anak muda yang berlipstik itu juga, haduh kelihatan aneh-aneh kelihatannya. (hlm. 151)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Wander Woman

Penulis                                 : Fina, Irene, Nina, Silvia

Desain sampul                   : Orkha Creative

Ilustrasi isi                           : Ella Elviana

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 360 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-3375-5

14440940_10210456037977602_5456802807815643607_n

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs. Jangan lupa share dengan hestek  dan mention via twitter. Nggak perlu mention penulisnya yaa…😉

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah culture shock atau gegar budaya seperti apakah yang pernah kamu alami?😉

5. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek yaaa…

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya yaaa… ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

ini berlangsung tiga hari saja: 10-16 Oktober 2016. Pemenang akan diumumkan tanggal 17 Oktober 2016.

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya! ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

img_20160924_103147

Pengumuman Pemenang Giveaway Wander Woman

Terima kasih dengan keantusiasan teman-teman untuk mengikuti Giveaway Wander Woman. Sekali lagi, makasih banyak ya buat semua!😉 #PeyukSatuSatu

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Nama: AHMAD AZWAR AA
Domisili: Sidoarjo
Akun Twitter: @azwaravisin

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Giveaway Wander Woman. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat Mbak Irene Dyah, Mbak Nina Addison, Mbak Silvia Iskandar dan Mbak Fina atas kerjasamanya, sekali lagi terima kasih banyak atas kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

31 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Wander Woman + GIVEAWAY

  1. Heni Susanti | @hensus91 | Pati – Jawa Tengah

    Satu-satunya culture shock yang pernah aku alami adalah saat aku datang ke Semarang untuk kuliah D1. Aku yang seumur hidup tinggal di desa kecil dan berkumpul dengan orang-orang hidup dalam kesederhanaan cukup dibuat shock dengan cara dan gaya hidup teman-teman kos dan kuliah.

    Ada teman sekamar yang seminggu bisa 3 kali clubbing, berangkat jam 10-11 malam dan jam 4 ketuk pintu kamar baru pulang. Ada yang dengan santai menginapkan pacar di kamar dan tak malu mengakui apa yang mereka lakukan. Ada juga yang mencuri uang teman atau orang tua untuk memenuhi gaya hidup mereka. Ada yang dengan jelas menggoda dosen demi nilai hancur karena sering mengabaikan tugas.

    Di bulan awal aku cukup merasa risih dengan semua itu dan hampir ingin pindah kos. Namun beruntung masih ada lebih banyak teman yang mendukung dan memberi pengertian serta tips agar aku bisa bertahan. Alhasil akhirnya aku berprinsip untuk tetap berteman dengan mereka tapi menolak tegas gaya can cara hidup mereka. Alhamdulillah, mereka cukup mengerti aku dan tidak berusaha mengajakku ‘masuk’.

  2. Nama : Jawahirul Arifah
    Akun twitter : @jawarifah
    Domisili : Kudus – Jawa Tengah

    Jawaban : culture shock yg pernah aku alamin masih di seputar Indonesia, yaitu pas pertama kali aku ke Bogor kota hujan. Sebelumnya aku bertempat tinggal di Kudus, kota yg panas.
    Nah pas sampai di bogor pertama kali, aku ngalamin culture shock dengan kota bogor, mulai dari angkot yg banyak banget (maklum, di kota asal jarang angkot), bahasa khas sunda yg diucapkan, yg seringnya dijawab olehku dengan angguk angguk aja sampe yg menurutku paling ekstrim adalah cuaca bogor.
    Di minggu pertama aku dibogor, pas mau tidur malam, harus bikin teh panas dulu, dinikmatin sambil selimutan dan di sruput pelan pelan, biar bisa tidur. Oiya, jangan lupakan waktu subuh dibogor. Itu air, dingin banget, aseli. Air paling dingin yang pernah kurasakan selama ini , abis wudhu, balik lagi masuk selimut. Biar anget. Hehe.
    Sampe sekarang uda 4 tahun di bogor yaa, tetap aja gulung gulung selimutan lagi setelah wudhu di pagi subuh 😆

  3. Nama : Corona Hedo P
    Twitter : @coronahedo
    Domisili : Surabaya

    Culture Shock yang aku alami adalah dua tahun yg lalu saat aku pindah sekolah. Dari kota Mataram yg ada di Lombok ke Surabaya yg ada di Jawa Timur.

    Aku dari memang lahir, tinggal dan besar di lombok. Ini kali pertama aku pindah keluar daerah karna ayahku yg tugas kerja. Pertama hal yg aku rasain saat pindah adalah Kaget!

    Hari pertama masuk sekolah aku shock bgt! Aku cuma bisa diem aja, ga ada yg ngajak aku ngomong satupun.
    Aku shock karna perbedaan waktu jg. Di mataram masuk sklh jam 7.30 pulang jam 13.30 . Disanapun waktu terasa begitu cepat. Saat pindah sby, sklh masuk 06.15 pulang jam 15.00. Dan rasanya tuh lama bgt:(

    Anak sby cuek abis, ga ada yg nyapa gt atau ngajak kenalan. Jadi harus kita yg aktif. Walaupun udh aktif kenalan sana sini pun, setelah itu yaudah gamau tau, sekedar kenal aja. Beda kaya di lombok, orangnya welcome sekali, mungkin karna di lombok budaya welcome dg org asingnya yg kuat ya. Yang bikin disana orangnya ramah, periang dan suka becandaan. Itu semua kebawa di aku, tapi sewaktu pindah sini, semua rasa itu hilang. Jadi pendiam, jadi keki, kaya merasa ga ada org yg cocok😦. Sampe aku nangis dan sakit waktu pindah sby.

    Menurutku, orang indonesia memang mayoritas ramah. Namun cara beradaptasi dg mereka berbeda2. Ada yg cepat didekati ada yg sangat susah. Seperti di lombok, karna kita sll welcome dg org asing yg membuat kita jd lebih ramah. Kalo di surabaya, pendekatan agak lama mungkin karna saat itu aku berasal dari daerah yg budayanya beda seperti di kota. Tapi lama kelamaan, bakalan jadi biasa kok sama mereka dan merekapun bakalan welcome juga🙂.
    Apalagi kalo ketemu di tempat perantauan dg org yg satu daerah, bisa jd kaya keluarga. Tergantung bagaimana cara menyikapinya aja:)

    • gak semua org sby cuek kok. emg sih org sby cenderung tdk mau tahu dengan urusan org lain. tp disitu ada baiknya, jdi kita ngerasa lebih bisa menjaga urusan pribadi tanpa harus ada orang lain yg ikut campur. jujur ya, aku lebih suka tinggal di sby dripda di Tuban, jatim yg merupakan kampung halamannya ortuku.
      aku salah satu org sby yg welcome sma org baru, asalkan orangnya gak macem” ya… di sby kuncinya cuman 1, harus pandai bergaul. pasti bnyak tmennya.

  4. mariyam
    @mariyam_elf
    surabaya

    culture shock yang aku alami waktu kunjungan industri ke bandung, waktu cuman 3 hari kalau gak salah. aku biasanya cuman seputaran jatim, tiba” ke jabar. prtama kali masuk bandung itu yg aku rasain hawanya beda. di sby panas, di bandung dingin. pas di bandung juga nama” tempat disna itu unik”, pas ke cibaduyut buat beli oleh-oleh, nah disitu aku lgsg kaget. kaget dengan harganya, yg mayoritas murah”. beda bget dengan di sby yg apa” mahal, di bandung msh bisa nemuin sesuatu yg murah tp berkualitas.
    dan yang bkin aku kaget lgi, org” di bandung itu cenderunglebih ramah dibandingkan org sby. jdi di sna ngerasa lebih asyik. wktu itu pernah aku di ajak omong sma seseorang, pdhal ya biasanya org sby klo gak diajak omong dulu pasti gak bkal ngmg.

  5. Bismillah,
    Nama: Nurul Astri
    Akun Twitter: @nurulastrirmdn
    Kota Tinggal: Tangerang

    Culture shock yang aku alami adalah ketika aku pulang kampung ke tegal, jawa tengah. Sebelumnya, aku dari kecil tinggal di ibukota. Perbedaan gaya hidup antara perkotaan dan pedesaan memang berbeda sekali. Apalagi, rumah nenekku di kampung itu sangat sederhana. Tepat di samping rumahnya terdapat kandang kambing, yang dari dalam rumah aja, masih tercium baunya. Parahnya lagi, nenekku itu nggak punya wc. Maksudku, untuk mandi ada, namun tempat pembuangan air besar benar-benar nggak ada.

    Akhirnya dengan berat hati, setiap ingin buang air besar, aku harus menumpang di rumah tetanggaku. Dulu, memang para penduduk kampung belum banyak yang seperti sekarang. Ngomong-ngomong, ini kualami pada tahun 2012. Sudah lama sekali tapi masih terus teringat dalam otakku😂

    Culture shock kedua terjadi lagi pada saat aku masuk ke pondok pesantren dua tahun yang lalu. Biasanya saat di rumah, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Tapi di pesantren tidak diperbolehkan begitu, kecuali hari minggu. Jadi, setiap hari, dimulai dari subuh sampai malam hari kuhabiskan untuk beribadah. Sampai-sampai, entah mengapa, mungkin karena aku yang terlalu memaksakan diri, tubuhku langsung lemah.

    Hampir seminggu aku nggak bisa buang air besar. Bukan aku aja sih, tapi ada dua orang temanku juga yang mengalami hal itu. Rasanya sulit sekali. Mungkin karena aku terlalu menganggap sepele dengan berpikiran kalau buang air besar hanya dilakukan ketika kita sudah ‘kebelet’, dan karena pernyataan itu, aku lima hari nggak mengalami yang namanya dorongan untuk buang air besar. Hingga ketika besoknya perutku tak tahan lagi, aku malah jadi nggak bisa mengeluarkannya😅

    Ngomong-ngomong, aku nggak terlalu mengerti sama pertanyaannya. Apakah ini nyambung? Haha semoga aja masuk akal yaa😂

  6. Nama : NANI ROHYANI
    Twitter : @nani_rohyani
    Tempat Tinggal : Bandar Lampung – LAMPUNG

    culture chock yang pernah aku alami itu karena aku yang asalnya dari daerah kabupaten dan harus kos di daerah perkotaan seperti Kota Bandar Lampung , walaupun sebenarnya tidak terlalu banyak perbedaan yang terjadi. Tapi selama aku kost di Bandar Lampung aku jadi mempertanyakan keramahan orang2 disini, sangat berbeda dengan orang2 di desaku yang sangat ramah. Bahkan dengan ibu kosku saja sangat amat jarang bercengkrama, hanya sekedar menyapa dan saling melempar senyum.

  7. Nama: Rohaenah
    Twitter: @rohaenah1
    Kota: Jakarta
    Jawaban: Culture shock yg saya alami adalah pas lulus SMA aku yg berasal dari desa kecil di Sumedang,untuk mencari pekerjaan pergi ke Jakarta. Maklum untuk melanjutkan kuliah tidak mampu,jadi saya ikut dengan kakak yg memang sudah beberapa lama tinggal di Jakarta dan kebetulan waktu ngelamar kerja di terima di daerah Mangga Dua.
    Pertama kalinya jauh dari orang tua sekaligus pertama kali bekerja sempat membuat saya tertekan,kalau malem kadang suka nangis. Biasa apa-apa mengandalkan orang tua sekarang harus mandiri,meskipun disini tinggal sama kakak tetap saja rasanya beda. Tidak bisa seenaknya,dan harus membantu juga pekerjaan rumah *memang cuma yg ringan* tapi karena terbiasa dimanja sama ibu jadinya berasa berat. Dilihat dari segala sisi Jakarta dan Sumedang jauh berbeda terutama masalah transportasinya. Yg paling bikin saya kaget ke tempat kerja harus naik kereta,dan waktu itu saya benar2 baru pertama kali naik kereta. Duh pokonya ribet kalo naek angkot secepet2nya sopir berhenti ngga bakalan dia ninggalin penumpangnya,lah kereta kalo ngga pinter-pinter berebutan naek kita bisa ketinggalan. Dan masinis ngga bakalan mau dengerin meskipun kita teriak minta ditungguin😆. Tapi akhirnya saya terbiasa dan alhamdulillah bisa beradaptasi dengan cepat.

  8. Nama: Bety Kusumawardhani
    Akun twitter: @bety_19930114
    Domisili: Surakarta

    Culture shock ketika aku dan kakakku mengunjungi Singapura karena negeri singa merupakan negara paling maju se-asia tenggara yang bertolak belakang dengan Indonesia. Orang Singapura dikenal sebagai orang yang sibuk dan tidak pernah membuang waktu barang sedetikpun sehingga mereka jalannya cepat. Kalo pakai eskalator-pun, mereka patuh merapat sebelah kiri untuk memberi jalan di sebelah kanan pada orang yang sedang terburu-buru. Transportasi massa MRT selalu berangkat dan tiba tepat waktu, harus lari pontang-panting biar nggak ketinggalan. Keran di sudut-sudut kota bisa langsung diminum, agak kagok aja mengingat di Indonesia kebanayakan keran cuma buat cuci dan belum steril. Btw.. Ternyata telinga dan lidah ini juga mengalami culture shock loh karena bahasa yang didengar dan digunakan selama di sana adalah bahasa inggris.😂

  9. Nama: Nurwahidah
    Akun twitter: @wawha_cuza
    Kota tinggal: Medan

    Jawaban: Bener, culture shock itu nggak harus dirasain saat di luar negeri atau tempat yang jauh. 4 tahun lalu saat aku mulai kuliah di Medan, aku ngeliat suasananya yang padat, cara bicara yang keras dan terkesan kasar membuatku jantungan. Apalagi saat naik angkot, supir sering memaki penumpang yang bayar kurang dari biaya umumnya, waaaah, ngeri kali lah pokoknya.

  10. Nama : Asep Nanang
    Akun twitter : @asepnanang59
    Domisili : Jambi
    Gegar budaya yang saya alami terjadi ketika saya SMP, waktu itu saya yang sejak kecil tinggal dengan nenek saya di Sumedang memutuskan untuk pergi ke Jambi untuk tinggal dengan ayah. Di Jambi saya menemukan hal-hal yang sangat berbeda dengan kampung halaman saya. Mulai dari tekstur nasi yang berbeda, jika di Sumedang saya terbiasa makan dengan nasi yang pulen (empuk dan enak). Di Jambi saya harus memakan nasi padang yang agak pera. Terus bahasa yang digunakan pun berbeda, di sumedang saya terbiasa memakai bahasa sunda dimana pun dan kapan pun. Tapi di jambi saya harus terbiasa menggunakan bahasa indonesia. Di Jambi pula saya mengenal komoditas keren yang terkenal dari pulau sumatera, yakni sawit. Dan ada satu hikmah yang tidak bisa saya lupakan dari kepergian saya ke Jambi, saya jadi kenal dengan Hamka dan penulis-penulis asal padang yang mewarnai hidup saya.🙂

  11. Nama: Ratna Komalasari
    akun twitter: @dreravios
    Domisili: Tangerang

    Culture shock yang pernah aku alami yang pas kelas 8 atau 2 SMP. Dulu aku tinggal di Makassar, emang Mama Papa asli sana juga lalu yang pas kelas 8 Papa dipindah tugaskan ke daerah Tangerang.

    Pertamanya seneng, aku ngerasa ‘weshh aku tinggal di kota’ gitu. sampe nggak sabar pengen pindah, kalo abang malah cuek-cuek aja karena dia tau gimana disana.

    Yang pas pertama kali di Tangerang aku kerjaannya bengong mulu, di Makassar aku itu sekolah di sekolahan Islam, dan yang pas di Tangerang aku minta di Negeri. Shocknya ialah dulu waktu jaman aku smp murid-muridnya itu pake rok diatas lutut, udah kenal makeup, kerjaannya bolos sama nongkrong di warung belakang sekolah.

    Trus pernah juga ada yang ngajakin buat lepas kerudung trus bolos, anjirr shock banget! yaa kan kita masih smp bukan anak sma tapi kelakuaannya kayak anak sma banget gitu.

    kalo di Tangerang anak-anaknya easy going sih, friendly juga aku nggak sampe nggak ditememin gitu yaa cuman kelakuan anak kota aja yang masih belum dicerna sama anak kampung waktu itu, tapi makin ke sini setelah udah SMA banyak banget anak Tangerang atau Jakarta yang udah pake Jilbab buat ke sekolah, and i proud it:)

  12. Nama: AHMAD AZWAR AA
    Domisili: Sidoarjo
    Akun Twitter: @azwaravisin

    Gegar budaya justru saya alami di sesama Jawa Timurnya sendiri, saya yang tinggal di Sidoarjo dan waktu itu harus tinggal di lereng pegunungan di Madiun. wow.

    di sana saya benar – benar senang dengan iklim pedesaan dan keramahan mereka, namun juga kasihan dengan ekonomi mereka yang berada di kisaran menengah ke bawah, infrastruktur rusak, sekolah – sekolah yang jauh lokasinya dari desa tempat saya tinggal itu dan sekolah itu minim fasilitas.

    dulu saya ingin tinggal di pedesaan seperti itu dengan niat baik untuk memajukan ini itulah, namun saya sadar kalau saya hanya mahasiswa biasa yang hanya bisa membantu sekadarnya saja.

    sampai sekarang saya masih merindukan kenangan tinggal di desa itu, di desa yang membuat saya menangis terharu sebab mengajar anak – anak SD yang karena keterbatasan dan jauhnya lokasi, harus bersekolah tiga hari saja setiap minggunya. ah..

    juga saat lagu Indonesia raya dinyanyikan oleh siswa siswi, saya demikian terhenyak. saya ini masih di bumi Indonesia. masih di Jawa Timurnya juga., tapi..

    akhirnya tahun 2014 kalau tidak salah setelah terjadi erupsi gunung kelud, saya kembali pulang ke Sidoarjo. karena tugas saya sebagai mahasiswa yang dikirimkan ke desa itu sudah berakhir. saya masih bergaul dengan pemuda – pemudi dari desa itu lewat media sosial.

    oh ya, sejak tadi cerita pengalaman saya sendiri. sampai lupa inti gegar budaya lainnya.

    yakni pemuda pemudinya, oh mereka di usia yang remaja sudah banyak yang harus bekerja dan merantau ke daerah lain di Jawa timur, dan bahkan ada yang jadi TKW atau TKI. orang tua melepas anak – anak mereka dengan penuh pengharapan. dan apa yang terjadi di kota, saya tidak tahu pasti namun yang saya dengar mereka juga gegar budaya sebab dari kecil hidup di pedesaan lalu hidup berat di kota besar.

    di desa itu pemuda – pemudi kerja di luar kota atau luar negeri, dan jarang sekali pemuda – pemudi yang tetap di desa kecuali dia anak orang kaya sekali yang meneruskan kuliah di Madiun kota, atau memang sedang nganggur dan tidak ada pekerjaan di kota.

    mahasiswa yang sedang ditugaskan di sana akhirnya berinisiatif untuk membentuk kelompok karang taruna, dan membuat program budidaya jamur, singkong, dan kegiatan keputrian. guna membekali mereka para pemuda – pemudi desa itu.

    saya kangen desa itu…

  13. Nama : Mifta Rizky Wiratnasari
    Akun Twitter : @keyminoz
    Domisili : Gresik – Jatim

    culture shock atau gegar budaya yang pernah aku alami waktu ke solo ikut nikahan kakak sepupu aku yang suaminya orang solo, pas nyampek ke solo langsung acara kayak temu manten gitu, nah syok nya aku disitu kalo di kota aku tinggal biasanya dijamu dengan kue2 kering khas nikahan tp disana aku dijamu kayak semacam sop ayam tp gak pake nasi jd kita sekeluarga pada bingung ini makannya ga pake nasi? kata kakak sepupu emang tradisinya gitu dijamu sop ayam dulu lalu kue2 kering trus baru makan nasi, gak sampe disitu acara nikahannya lebih jawa banget, tamu yg hadir kebanyakan bapak2 pake baju khas solo jarang banget ibu2 nya, kalo di kotaku kebanyakan ibu2 pada bawa anak kecil🙂

  14. Nama: Ulva Novitasari
    Twitter: @ulvanov
    Tempat Tinggal: Blitar – Jawa Timur

    Culture shock yang pernah aku alami sekitar satu tahun yg lalu, waktu itu untuk pertama kalinya aku ke Bandung. Pas pertama sampai disana hal yang pertama bikin tertarik adalah ramenya disana, maklumlah ya aku terbiasa tinggal di daerah yg gak begitu rame, walaupun waktu itu aku tinggal di Malang, tapi tetep aja Bandung lebih rame, lebih padet, lebih macet dari Malang atau Blitar.

    Yang bikin kaget lagi waktu itu adalah tempat tinggal disana. Mungkin karena tempat kost tmnku yg di Bandung ada di daerah padat penduduk y, jadi masuk gang” sempit gitu. Padahal kalo di daerahku jarak antara satu rumah sama rumah yg lain bisa buat bikin bagasi mobil.

    Yang paling beda dari daerah asalku ya pasti bahasanya sih y, asing banget buatku yg setiap hari dengernya orang ngomong bahasa jawa, disana harus denger orang manggil “teh” 😄

  15. Bintang Maharani
    @btgmr
    Palembang, SumSel

    Ya, culture shock memang tidak hanya dialami saat ke luar negeri. Terlebih kita di Indonesia ini ada banyak ragam budaya dan kebiasaan yang berbeda di tiap-tiap provinsi bahkan kota dan desa. tapi berhubung saya jarang ke luar daerah, saya tidak punya banyak pengalaman soal itu. Yang pernah saya alami justru waktu saya ke negeri seberang.

    Dulu pernah ke Malaysia & Singapura untuk study tour ke beberapa Universitas di sana. Waktu baru nyampe bandara di Kuala Lumpur, kami yang cewek-cewek pada permisi ke WC. Dari situ saja saya sudah merasakan perbedaan yang mencolok. Jika kita di Indonesia terbiasa menunggu antri di sebelah pintu bilik toilet yang sedang berisi, gunanya supaya tidak ada yang merebut lagi atau seperti isyarat “habis ini saya duluan!” dan ketika orangnya keluar maka kita bisa langsung masuk. Tetapi para pengunjung di Malaysia justru berdiri berbaris di ujung lorong, mereka baru maju untuk masuk saat ada yang sudah keluar dari bilik. Wow… ini baru namanya antri, beda banget dengan di Indonesia kalau ngantrinya maen serobot dulu sampe nunggu depan pintu bilik haha.

    Lalu ketika di Singapura, di bandara kami turun dengan tangga eskalator. Kalau kita di Indonesia terbiasa berdiri menunggu di tangga (di jalur kiri dan kanan) hingga si eskalator dengan sendirinya mengantar kita mencapai ujung. Jarang ada yang berjalan saat tangga masih bergerak, bukan? Kita lebih santai dan lebih suka menunggu. Kalau di Singapura, semua orang bergerak gesit dan dikejar waktu, mereka tidak suka menunggu. Contohnya di eskalator, jalur sebelah kiri adalah untuk pengguna yang ingin tetap berdiri, sementara jalur kanan adalah untuk pengguna yang ingin langsung berjalan/berlari tanpa harus menunggu tangganya mencapai ujung. Untungnya saya waktu itu berdiri di jalur kiri (padahal saat itu saya belum tahu soal kultur ini) sedangkan teman saya berdiri di jalur kanan, dia berdiri agak di depan saya. Alhasil dia ditabrak oleh seorang wanita dari belakang karena wanita itu ingin cepat-cepat. Padahal di depan saya kosong. Kenapa dia harus menabrak orang lain sedangkan dia masih bisa berkilah belok ke jalur kiri lalu ke kanan lagi (kalo dia mau) jika memang ingin bergerak cepat tanpa harus menabrak orang? Teman saya kaget dan hampir jatuh saat itu. Di belakang perempuan itu ada lagi beberapa orang yang juga seperti setengah berlari. Teman saya langsung menyingkir ke jalur kiri daripada dia ditabrak lagi.

    Ya memang sih itu salah teman saya karena dia tidak/belum tahu kebiasaan tersebut. Tapi, saya justru kurang respect dengan sikap orang-orang di sana yang seenaknya menabrak dan menerobos tanpa mempedulikan keselamatan orang lain. Bagaimana ceritanya kalau teman saya itu adalah nenek-nenek yang juga tidak tahu tentang kultur ini? apa mereka akan langsung asal tabrak begitu saja tanpa mengenal usia? Kalau sampai jatuh terguling ke bawah dan nyangkut di roda eskalator bagaimana?!😦

    Saat di Singapura, kami juga menyewa seorang pemandu untuk menjelaskan pada kami tentang apa saja yang akan kami kunjungi. Sebelum itu, kami diberi waktu untuk berbelanja di China Town selama 30 menit dan hanya boleh belanja di satu toko. Hellooow? Belanja cuma dijatahin 30 menit di satu toko saja dan tempatnya sangat sempit sementara kami ada 70 orang, bagaimana bisa 30 menit? Belum milih barangnya, belum ngantri bayarnya. Akhirnya ya lebih dari 30 menit. Pas kami balik ke bus, pemandu itu sudah pergi karena kami nggak selesai tepat waktu. Bah! Mereka itu seperti robot aja, kurang ada toleransinya.

    Belum lagi pelayan toko yang agak nyablak. Meski dia bisa bahasa melayu, tapi tetap nggak enak didengar. Teman saya nanya “t-shirt yang ini berapa harganya, koh?” Lalu dia jawab, “di atas itu sudah ada berapa harganya, mengapa masih tanya?” Wow… teman saya langsung masam mukanya saat dijawab begitu. Teman saya mengira kaos yang itu tidak ada keterangan harga, karena papan harganya tidak kelihatan, tertutup oleh kaos di depannya.

    Kalau makan di tempat umum, kita pun harus paham meja mana yang kosong dan mana sudah ditempati orang meski orangnya tidak ada di meja tersebut. Walau hanya ada selembar tisu di atas meja lalu kita serobot mejanya, nanti kita bisa malu sendiri akibat diusir. karena cara orang di sana menempati meja adalah dengan meninggalkan barang kecil di atas meja. Beda dengan kita di sini yang biasa pergi berdua, yang satu menunggu di meja, yang satu lagi memesan makanan lalu bergantian.

  16. nama: Rinita
    akun twitter: @RinitAvyy
    kota tinggal: kediri

    Kuda Lumping dari adat jawa.
    Aku agak ngeri dan shock sama penampilan kuda lumping yg pernah ku tonton suatu malam di bulan maret delapan tahun silam. waktu itu aku masih anak2, dan apa yg dialami anak sewaktu lihat atraksi orang di pecutin sama kesurupan? apalagi penontonnya ada yg ikutan kerasukan. hiii. Yg pasti luar biasa kaget dan nyeremin asal mau tau. sejak saat itu nggak mau lagi deh nonton yg memacu adrenaline.

  17. nama: Rinita
    twitter: @RinitAvyy
    kota tinggal: kediri

    Kuda Lumping dari adat jawa.

    Aku agak ngeri dan shock sama penampilan kuda lumping yg pernah ku tonton suatu malam di bulan maret delapan tahun silam. waktu itu aku masih anak2, dan apa yg dialami anak sewaktu lihat atraksi orang di pecutin sama kesurupan? apalagi penontonnya ada yg ikutan kerasukan. hiii. Yg pasti luar biasa kaget dan nyeremin asal mau tau. sejak saat itu nggak mau lagi deh nonton yg memacu adrenaline.

  18. Assalamu’alaikum.
    Bismillah …
    Nama : Jauharotun Nihayati
    Twitter : @JNihayati
    Domisili : pati jawa tengah

    Culture shock yg pernah aku alami adalah saat aku lulus SMA. Aku anak terakhir dari tiga bersaidara. Sejak kecil aku sudah hidup dan tinggal di pesantren. Saat lulus SMA aku dikirim kakak kedua ku untuk mendalami bahasa inggris di pare kediri. Aku sudah terbiasa hidup penuh dg peraturan saat di pesantren. De mulai berpakaian, bersikap, berbicara, bahkan tertawa juga memiliki aturan. Semua itu aku jalankan, bahkan aku sendiri sudah merasa itu bukanlah sebuah aturan, saking sudah terbiasanya.

    Saat berada di kampung inggris aku bertemu dg banyak orang, yg mana tentu itu bukan teman-teman pesantrenku yg berperaturan sama sepertiku. Disitulah aku merasa sedikit canggung ( karna belum terbiasa ). Berbagi teman ku temui disana. Mereka datang dr berbagai kota besar di seluruh indonesia, bahkan ada yg de luar negeri seperti malaysya, brunei, singapore. Berbagai sikap, budaya, dan adat berpakaianpun ku temukan disana.

    Tak ada aturan berpakaian tertentu yg diwajibkan untuk dipakai saat diluar asrama, tak seperti di pesantrenku dulu yg mewajibkan santrinya untuk selalu berpakaian sopan. Tak ada ritual sholat dan ngaji bersama juga sempat membuatku bingung. ( hingga akhirnya aku mencari musholla terdekat untuk melaksanakan sholat berjamaah ).
    Aku sempat tak betah tinggal di lingkungan yg tak aama dg pesantrenku itu.

    Kehidupan disana tak seteratur kehidupanku di pesantren. Namun karena mengingat aku di sana jg menuntut ilmu maka mau tidak mau aku harus bertahan hingga lulus. Karna tidak ingin jadwal ibadahku terbengkalai karena faktor lingkungan ( yg dapat mempengaruhi sedikit banyak), maka aku membuat jadwal kegiatan rutin yg harus aku kerjakan, tanpa merugikan diriku sendiri dan orang lain. Karna aku sadar aku tak akan mampu mengubah beribu-ribu teman disana untuk dpat menjadi seperti apa yg aku mau.

    Al-Hasil aku dapat bertahan disana hingga lulus. Alhamdulillah 😊

    Itu pengalamanku .
    Terimakasih

  19. nama: insan gumelar ciptaning gusti
    akun twitter: @san_fairydevil
    kota tinggal: Surakarta, jawa tengah

    culture shock atau gegar budaya seperti apakah yang pernah kamu alami?😉

    Aku dulu asalnya dari Jember, Jawa Timur yang merupakan kota dengan banyak pendatangnya. Rata-rata dari Madura, Surabaya, Banyuwangi, dan sekitarnya. Dan sudah menjadi khas orang jawa timur kalau bicara itu keras, dan terdengar kasar. Disana pun banyak kata-kata yang ‘dianggap kasar’ bila diucapkan kepada teman sepantaran dianggap lumrah dan gaya pertemanan. Lalu disana (daerah rumahku) benar-benar individual untuk urusan tertentu, bahkan setiap rumah selalu tertutup rapat. Tapi jika ada tetangga yang kesusahan, pintu rumah mereka otomatis langsung terbuka.

    Mei kemarin, aku pindah ke Surakarta, tempatku yang sekarang bias dibilang desa dipinggir kota. Karena dibilang desa, sangat dekat dengan universitas negeri. Tapi tetangganya sok peduli semua, ikut campur, tapi ketika ada yang kesusahan pada acuh. Jadi sempat berasa kaget sendiri. Terus kalo yang masalah bahasa itu juga, aku punya dosen yang sama-sama dari Jember, ketika dia bicara kasar aku tersenyum sama seperti anak laki-laki yang malah tertawa, karena menurutku kata itu wajar. Biasa aja. Tapi ketika aku melihat anak perempuan yang lain wajahnya kayak yang ilfil gitu.

    Dari segi makanan juga. Ada banyak makanan yang aku rindukan. Aku rindu bakso, soto, mie ayam pangsit, gado-gado, rujak cingur yang dijual di Jember. Karena apa? karena makanan-makanan itu semuanya berbeda dengan yang dijual di Surakarta, dan malah tidak ada.

  20. Nama: Rinita
    ywitter: @RinitAvyy
    kota tinggal: kediri

    Kuda Lumping dari adat jawa.
    Aku agak ngeri dan shock sama penampilan kuda lumping yg pernah ku tonton suatu malam di bulan maret delapan tahun silam. waktu itu aku masih anak2, dan apa yg dialami anak sewaktu lihat atraksi orang di pecutin sama kesurupan? apalagi penontonnya ada yg ikutan kerasukan. hiii. Yg pasti luar biasa kaget dan nyeremin asal mau tau. sejak saat itu nggak mau lagi deh nonton yg memacu adrenaline.

  21. Nama: Alyani Shabrina
    Twitter: @alyanishab
    Kota Tinggal: Semarang, Jawa Tengah
    Jawaban:
    Mungkin ak pernah mengalami yang namanya culture shock. Walaupun aku memang keturunan atau berdarah orang jawa namun ak hidup dan di besarkan di pulau Bali. Saat aku harus menetap di semarang untuk kuliah banyak hal yang harus aku pelajari kembali dan beradaptasi lagi. Apalagi dari segi makanan. Karena ibu ku orang jawa tengah sedangkan bapak aku orang jawa timur untuk rasa makanan lebih cenderung mengikuti bapak, makanannya cenderung asin. Sedangkan saat ibu kecil nenek aku juga lebih sering memasak tidak terlalu manis dan lebih terasa asin. Jadi ketika akhirnya aku harus merantau dan ngekos sendirian. Selalu bingung untuk makan dimana karena rata-rata warteg yang ada menjual makanan yang cenderung manis. Dan jujur lidahku kurang bisa menerima. Kemudian dari soal teman-teman. Di jawa itu teman-temannya lebih sopan dan terlihat menjaga omongan. Walaupun ga semua juga sih. Nah kalau temen-temen ak di bali cenderung blak-blakan dan yaa kata-katanya mungkin lebih kasar (bukan kasar yang kotor atau gimana pokoknya kalau di jawa dianggap kasar) #bingung sendiri jelasinnya 😣
    Nah itu juga yang sempet bikin aku, yang biasanya pecicilan dan ga bisa diem, jd berhati-hati sekali dalam bertindak. Lalu masalah budaya menyapa orang-orang yang lewat disekitar kita. Karena setiap minggu ak akan pulang ke rmh bude yang berada di perkampungan otomatis setiap aku berpapasan dengan warga kampung aku harus tersenyum dan sedikit menundukkan kepala. Maklum saja sewaktu di bali aku tinggal di perumahan yang orang-orangnya cenderung cuek terhadap tetangganya :’) jadi kalau disenyumin itu berasa sia-sia ngelakuinnya :” #iniseriusan
    Apalagi yaaa. Mungkin kalian tau juga kalau bali itu kota yang nggak pernah tidur, jd kalau tiba2 di tengah malam aku kelaparan ak bisa keluar untuk mencari makan. Untungnya di sekitar rumah aku relatif aman. Sedangkan saat aku tinggal di semarang, jam 9 saja sudah banyak warung yang tutup kecuali lalapan dan nasi goreng :”D
    Hal-hal yang terlihat kecil seperti itu juga ternyata sangat berpengaruh dalam hidup kita ketika kita mengalaminya. Untungnya aku sudah bisa beradaptasi dan tidak mengalami culture shock lagi. Dan aku sangat senang bisa kuliah di semarang karena aku nggak cuma punya kenalan dari jawa saja, tapi juga dari sumatera, kalimantan, dll. Hehehe Pokoknya apa yang sudah aku jalani selama ini InsyaAllah akan selalu aku syukuri dan pasti akan membuat pengetahuan kita bertambah dari hari ke hari. Sekian cerita aku kak. Hihi wish me luck! Aku ingin buntelan dari kakakkkkkkk :3

  22. Nama: Kiki Suarni
    Twitter: @Kimol12
    Kota: Batubara-Sumut

    Jawaban:

    Culture shock yang pernah aku alami waktu mudik ke Klaten 2014 lebaran sekaligus menghadiri pernikahan sodara di sana. Lebarannya sih biasa saja sama seperti di tempatku tinggal. Nah, tapi pas acara pernikahannya aku benar-benar dibuat terpesona. Karena beda banget sama acara pernikahan di sini. Yang bikin shock itu pas acara jeda (makan), bukan karena aku juga doyan makan, tapi karena penyajiannya itu beda. Tamunya itu diservis abis kayak Raja. Para pelayan yang nota bene itu remaja cowok uda berdiri disetiap lorong barisan kursi tamu. Nah, remaja ceweknya itu ngeluarin makanan dan yang cowok tadi berugas membagikan ke para tamu. Pakaiannya pake batik, serentak dan rapi. Dan makanannya itu seperti makan di restoran gitu, ada makanan pembuka, makanan utama dan penutup. Masing-masing pembagiannya berselang setelah tamu selesai makan. Kita tamu cuma duduk manis terua nonton sinden. Kalo di tempat aku tinggal, tamu yang ngambil makanannya sendiri-sendiri.

    Apa lagi waktu acara pengantinnya itu, pake ada pengiringnya yang serentak pake blankon dan kebaya jawa. Ada acara gatot kacanya. Wah…indah banget deh pokoknya. Beda banget sama ditempatku tinggal. Dan aku sampe antusias banget ngerekam videonya. Dan yang paling buatku heran itu acara penikahannya cuma sampai jam 2 siang, dan sehabis itu semua acara selesai. Kalau di sini acaranya sampe malam.

    Dari semua acara pernikahan yang aku hadiri, pernikahan di Klaten itulah yang paling berkesan, penuh pengalaman dan membuatku berangan bahwa saat menikah nanati ingin acaranya seperti itu juga, hehe..

    Terima kasih

  23. Nama : Lois Ninawati
    Twitter :@_loisninawati
    Domisili : Situbondo, Jawa Timur

    Culture shock yang pernah kutemi itu waktu aku ke Tanoker (tempat belajar anak”di desa pelosok bangett) kan, disana itu daerah yg dikenal sama permainan egrangnya. nah, kan disana banyak anak” kecil gtu, mereka main egrangnya lincah banget, dan yg bikin aku ngeri lagi itu karena ada satu anak yang main egrang yang tinggi banget. Tingginya ngelebihin tingginya orang dewasa. Ngeri banget dah

  24. Nama: Usup Supriyadi
    Twitter: @usupsupriyadi_
    Domisili: Bogor
    Blog: merindupagi.blogspot.co.id

    Manusia tidak mungkin tidak dapat beradaptasi, jadi apa yang diungkapkan oleh Prof. Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat bisa saja tetapi itu pun menurutku tergantung pada waktu dan usaha dari tiap-tiap person. Aku pribadi belum pernah mengalami culture shock yang sampai hilang pegangan sama sekali, atau sampai membuat cemas gelisah dan ingin segera enyah dari ruang lingkup yang asing itu. Bisa jadi karena hanya sebentar dan aku bisa memaklumi itu semua. Dan karena, aku memang suka melihat dan beradaptasi dengan hal-hal yang baru, jadi tidak ada yang bikin kaget banget, lagian repot juga kalau jadi orang kagetan. Palingan yang kerasa banget spontan bikin kaget itu kalau makan sesuatu yang tiada biasa di lidah sendiri, mending kalau enak, kalau tidak kadang agak berabe juga. Makanya kadang aku suka tanya-tanya dahulu komposisi makanannya itu. Selebihnya, tidak banyak yang bikin aku “kaget”, jika pun orang-orangnya tidak begitu ramah misalnya, iya tinggal kitanya yang ramah bukan berarti membalas yang sama. Eh tapi, jika aku ada kesempatan ke daerah yang ekstrem, mungkin akan benar-benar shock juga, sejauh ini kan aku masih banyakan di seputaran Jawa, Bali, dan Madura saja yang pernah dijelajahi, luar itu bisa saja sangat berpengaruh.

  25. nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    kota tinggal: Serang

    Culture shock atau gegar budaya seperti apakah yang pernah kamu alami?

    Aku belum pernah mengalami culture shock atau gegar budaya. Mungkin karena aku belum pernah pindah ke tempat yg budayanya berbeda. Kalau pun mengunjungi suatu tempat yg berbeda dengan tempat tinggal, mungkin hanya perbedaan suhu udara saja yang kadang mengganggu. Yang pernah dialami saat karya wisata ke Bandung saat SMA. Aku agak sedikit shock dengan udaranya yg dingin sekali. Apalagi aku juga memiliki penyakit asma. Tapi untung saja saat itu penyakitku tidak kambuh.

  26. Nama : Damar
    Akun twitter : @Damar_BookComa
    Domisili : Yogyakarta

    Culture shock atau gegar budaya yang pernah aku alami adalah saat melakukan kegiatan kuliah kerja nyata di salah satu dusun di Jawa. Memang kebudayaannya tidak terlalu jauh berbeda dengan daerah asalku.
    Namun ada hal-hal yang baru aku temui dan sedikit mengagetkanku, salah satunya adalah kegiatan desa yang sedikit aneh dan menyeramkan menurutku, yaitu pengajian yang dilakukan di area pemakaman dusun pada hari tertentu.
    Walaupun untuk beberapa masyarakat hal ini mungkin biasa. Tapi kegiatan tersebut tidak ada di daerah asalku.Untuk menghormati kebiasaan masyarakat di daerah itu, aku tetap mengikuti dan menghormatinya.
    Karena selain membawa nama baik diri sendiri, aku juga harus membawa nama baik kampus. Adat istiadat dan kepercayaan setiap daerah memang beragam dan memiliki keunikannya masing-masing.
    Sebagai pendatang baru, tergantung kita sendirilah yang harus membawa diri dan menghormati setiap kebudayaan suatu daerah.

  27. Nama: emma
    twitter: @emmanoer22
    kota tinggal: Inhu, Riau

    jawaban: culture shock
    atau gegar budaya ya… Karena aku belum pernah ke negara lain jadi perbandingannya cuma dari dalam negeri saja, aku asli jateng, sekarang tinggal di riau dan di jateng sendiri aku pernah tinggal di beberapa kota yang paling ekstrim waktu tinggal di salah satu kota yang airnya kayak es jam10 siang masih kayak jam4 pagi, perbandingan antar provinsi ini gak banyak berbeda dari budaya masih samalah, adatnya pun nggak yang bikin shock banget, masakannya juga rasanya masih sama-sama enak di lidah, nah culture shock yang paling berasa itu waktu aku liburan ke Bali awal tahun ini, kerasa banget bedanya gak cuman perbedaan waktunya, kalau di pulau jawa dan riau ini aku dengar suara adzan berkumandang tiap hari di Bali sama sekali nggak kedengaran, rombonganku juga merasakan hal yang sama waktu itu sampai ada yang ngomong kalau pun ada yang ngajak liburan lagi kesana gratis dia bakal nolak ke Bali lagi, sampai sholat jadi bolong semua. Karena kebanyakan acara di Bali waktu itu di jalan dan cuman liburan yang waktunya kerasa cepat banget itu. Shock dengan rasa makanan di sana juga banyaknya turis yang kedapatan ciuman di keramaian, aku sempat gak sengaja lihat waktu di bandara Ngurah Rai, malah akunya yang malu sendiri waktu itu. Ini yang masih di satu negara saja sudah bikin lumayan shock apalagi yang beda negara, dan bukan negara mayoritas muslim nggak tahu gimana perasaanku tinggal di sana.

  28. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Karangaaem, Bali

    Meskipun masih sama-sama Indonesia dan nggak beda terlalu jauh, tapi Bali-Malang cukup bikin aku ngerasain culture shock.
    Ceritain pengalamanku yang ini aja ya? Belum pernah ke luar negeri soalnya hehe..
    Dari segi geografis, tempat tinggalku sebelumnya daerah dekat pantai, sedangkan di Malang buat nyari pantai mesti berjam-jam. yang biasanya jalan ke pantai terus, ini harus ngerasa kangen banget sama pantai. Sempat ngerasa shock awalnya gak bisa pergi ke tempat favoritku itu. Malang juga lebih adem dibandingkan di rumahku.
    Dari segi budaya, tinggal di kota buat aku jadi agak ansos. Kalo dirumah sih masih suka nyapa, kumpul bareng tetangga nah disini kan kos, rumah sebelah juga pada nutup gerbang dan dibatasi dengan tembok tinggi. Oya, aku juga belajar jadi lebih toleransi dg teman. Kadang ikut puasa dan buka bareng. Awalnya ngerasa shock itu pas masuk bulan puasa, susah banget nemuin warung yang tetap jualan untuk sekedar makanan buat sarapan. Waktu ngumpul juga disesuaikan biar nggak ganggu waktu sembahyang masing-masing.

  29. Fita
    @fitania09
    Malang,Jatim

    Culture shock yang pernah aku rasain waktu magang SMK di kota Solo, meski cuma beda provinsi doang tapi bener-bener bikin aku beberapa minggu gak krasan. Awalnya yg bikin gak krasan itu cuacanya, biyuhh..ekstrim banget. Panasnya gak ketulungan.. bolak-balik harus minum air es biar kerongkongan gak kering. Belum lagi mau tidur malam serasa di pantai deh pokoknya cuma pake maaf tank top sama celana pendek terus pake selimut jarik jawa, kalau pake selimut asli ku di malang bisa-bisa gak tidur semalaman (pernah ngerasain sih pakai selimut tebal dan akhirnya insomnia,wkwkwk). Lidahku juga harus beradaptasi dengan makanannya. Di kotaku makananya tidak terlalu manis tp lebih gurih dg citarasa perpaduan manis & asin tapi di daerah solo dan jawa tengah sekitarnya makanannya cenderung manis terlebih ada masakan dr tempe yg berbumbu pekat yg jelas saat digigit manisnya terasa banget. Biasanya orang sana bilangnya tempe bacem, aneh sih bisa makan tempe manis tapi lama-lama aku anggap seperti makan tempe dicelupkan ke cokelat…hehehe, ada juga garang asem. Masakan ini biasanya memakai lauk ayam dan berkuah serta dibungkus daun pisang tapi rasanya asem-asem seger. Di kota solo boleh dikatakan jarang angkot lebih dominan ke bus kota. Meski begitu terkadang juga sulit untuk menemukan 1 bus saja & harus berdiri beberapa menit di jalan raya. Beda di malang yg kadang baru datang langsung nongol aja itu angkot..hehehe. Perbedaan nya lagi dari segi bahasa, di malang bahasa digunakan jawa ngoko, disana lebih menggunakan ngoko alus atau krama inggil..nah loh,kadang kalo lupa sama kosa katanya aku keluarin bahasa indonesia aja. Belum lagi ada kosa kata disana yg terbilang kata-kata jelek atau tidak senonoh malah disini bukanlah kata-kata seperti itu.
    Dengan sederetan kultur yg berbeda, alhamdulillah dalam 1 bulan aku bisa mengadaptasi sedikit demi sedikit. Meski seperti itu, Solo adalah kota yg masih kental dengan adat jawa yg masih dijunjung tinggi terlebih aku suka penataan kota di sana lebih rapi dengan trotoar untuk pejalan kaki yg lebar & nyaman.

  30. Nama: Leny
    Akun twitter: @Lynlainy17
    Kota tinggal: Rantau, Kalimantan Selatan

    Culture shock yang pernah kualami, itu ketika aku bersama keluarga pergi kedaerah Kotabaru Kalimantan Selatan untuk menghadiri pernikahan pamanku. Jadi kami itu pergi ke daerah
    perbatasan di Kotabaru, daerah
    itu dekat dengan laut, pekerjaan orang-orang disana adalah nelayan dan warga disana kebanyakan orang bugis.
    Ketika kami sekeluarga sampai
    disana, kami disambut dengan hidangan yang telah disajikan dengan menggunakan nampan dari situ aku mulai merasakan Culture shock itu karena
    dari cara penyajian makanan untuk tamu itu sangatlah berbeda dengan di tempatku, dan bahasa kami sudah berbeda, terus makanan pun berbeda,
    dan adat ketika mereka datang
    kepernikahan pun berbeda. Kalau
    ditempatku orang datang kepernikahan itu dari membawa amplop yang berisi uang untuk diberikan kepada yang
    punya hajatan. Sedangkan
    disana mereka tidak membawa amplop tetapi mereka membawa undangan yang sudah diberikan kepada mereka, mereka bawa lagi, mereka kembalikan dan
    didalamnya berisi uang. Dari situ aku udah bingung karena itu berbeda sekali dengan ditempatku. Mereka juga datang kehajatan itu tidak dari pagi, tapi pada waktu yang udah menjelang siang, karena katanya mereka datang itu setelah pekerjaan mereka selesai. Terus dari cara berjalan orang-orang disana juga berjalannya agak lebih cepat dan disana juga tidak ada warung, karena mereka tidak terbiasa kewarung katanya. Perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat mengesankan bagiku. Dan dari situ aku banyak belajar dan pastinya makin bangga dengan
    menjadi orang Indonesia. Karena walaupun berbeda suku, adat istiadat, budaya dan lainnya, tetapi kita tetap satu. Indonesia itu sangat kaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s