REVIEW Ada Cinta di SMA

img_20161010_142846

Sekolah adalah tempat buat semua orang beraktualisasi menjadi diri sendiri, dan berubah menjadi lebih baik. (hlm. 234)

img_20161010_112150

Apa satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan masa SMA? Kebanyakan orang memang memilih indah, seru, berkesan, memorable, colorful, dan beragam kata nada positif lainnya untuk menggambarkan masa SMA.

cudsl99vyaad5k6

ALDI. Dia memang narsis sejati. Aldi sadar banget dirinya ganteng dan sebagai upaya untuk mempertahankan kegantengannya, ia merawat diri dengan sangat maksimal. Setiap pagi ia menghabiskan lebih dari lima belas menit untuk menata rambut di depan cermin. Bukan hanya itu, ia juga melengkapi diri dengan fashion items terkini dari beragam brand. Lemarinya dipenuhi ratusan T-shirt, kemeja, jeans, jaket, topi, dan sepatu. Setiap ada items terbaru, ia pasti punya. Untuk urusan gaya, Aldi selalu terdepan. Ia bahkan punya jadwal foto OOTD untuk instagramnya. Aldi yang setiap hari selalu mendokumentasikan apa pun via Snapchat. Bukan hanya Snapchat, di handphone Aldi ada beberapa social media lain yang semuanya rutin di up-date setiap hari. Belakangan ini, Aldi sering membawa kamera mirrorless dan mulai sering membuat vlog. Aldi ini representasi dari remaja zaman sekarang yang kekinian; eksis di dunia nyata dan juga eksis di dunia maya dengan segala macam akun sosmed yang up to date memiliki banyak followers segambreng. Cowok-cowok kayak gini memang eksis, tetapi terkadang minim prestasi akademis di sekolah. Tapi kelebihannya adalah remaja tipe seperti ini memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, seperti Aldi yang mengupayakan cara apa pun sebagai tim sukses Iqbal. Aldi juga berprestasi non akademis; musik.

Adegan paling ngakak di bagian Aldi, tiap dia nggak sengaja cubit pipi Tara, sahabat Ayla. Tanpa disadari, sikap ini bikin Tara salting x))

cuc8rmausaa4arl

IQBAL. Hal ini sangat berkebalikan dari Aldi. Untuk urusan penampilan, sohib Aldi ini cenderung cuek. Iqbal hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk mandi, berpakaian dan merapikan rambut dengan hair wax yang dibeli di warung. Ia jarang beli baju baru. Sejak dulu terbiasa membeli baju baru kalau baju lamanya sudah rusak atau kekecilan. Iqbal bahkan terbiasa mendapat baju lungsuran dari tiga abangnya. Meski kesannya out of date dibandingkan dengan Aldi yang kekinian, justru cowok-cowok tipikal macam Iqbal ini yang bikin meleleh remaja cewek. Percaya deh… x))

Empat kakaknya selalu meragukan apa pun yang Iqbal lakukan. Di mata Bang Somad, Bang Fikri, Bang Ismail, dan Mpok Fatimah, Iqbal hanya bocah yang nggak bisa melakukan apa-apa. Di sisi lain, empat adiknya –Faris, Kamila, Nabila, dan Haykal, selalu ikut-ikutan mengganggu dan membuat suasana menjadi kian keruh. Melalui pemilihan Ketua OSIS yang awalnya hanya untuk menarik perhatian Ayla, tapi juga sebagai pembuktian pada keluarganya bahwa dia bisa lebih dari apa yang mereka perkirakan.

Ya, dia ingin menyelesaikan masa lalunya dengan Ayla yang kini sangat jutek kepadanya. Meski di setiap kesempatan apa pun Iqbal dekat dengan Ayla, semakin Iqbal iseng semakin Ayla jengkel dibuatnya. Tapi yang namanya remaja, benci dan cinta terkadang memang beda tipis, dan ini sudah sering terjadi di kehidupan nyata x))

cupmg61umaahimt

KIKI. Sang Ketua OSIS yang harus turun jabatan karena masanya akan berakhir. Di sekolah, di hadapan pengurus OSIS dan warga sekolah, Kiki bisa bersuara dengan lantang dan tampil wibawa. Tapi, di hadapan Bella, kemampuan berbicaranya seakan lenyap. Meski sudah lebih dari dua tahun belajar di sekolah yang sama dan tinggal berhadapan di kompleks perumahan yang sama, Kiki dan Bella seakan hidup di dua dunia yang berbeda. Di sekolah, Kiki sibuk dengan perannya sebagai Ketua OSIS dan Bella hanya menjadi sosok yang diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Di rumah, jarak yang membentang di antara rumah Kiki dan Bella seolah turut memisahkan kehidupan keduanya. Sesekali, Kiki dan Bella pernah saling menyapa saat tidak sengaja bertemu ketika akan berangkat sekolah. Interaksi mereka hanya sebatas itu. Tidak pernah lebih. Awkward moment antara Bella dan Kiki sering terjadi, tapi lebih awkward moment ketika Bella naik gojek yang dikendarai oleh Bapaknya Kiki x))

Dua dekade lalu, Bapaknya Kiki merupakan musisi ternama yang menjadi salah satu ikon musik di Indonesia. Bersama band-nya, Bapak juga dikenal sebagai musisi yang tidak hanya berkualitas, tapi juga selalu berhasil menelurkan album yang laris di pasaran. Dengan sederet prestasi tersebut, adalah yang sangat wajar jika Kiki sangat mengidolakan Bapak dan ingin mengikuti jejaknya. Namun, Bapak tidak pernah mendukung. Segala cara Bapak lakukan demi memblokir jalan Kiki menjadi musisi.

Namun, dari hari ke hari, Kiki malah semakin mencintai musik dan semakin menyadari bahwa musik telah menjadi bagian dari hidupnya. Kiki dan musik adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan oleh siapa pun, termasuk oleh Bapak. Walau setiap hari harus bertengkar dengan Bapak, Kiki nggak akan menyerah. Kiki akan terus melaju mengejar impiannya.

Sebenarnya Bapak bukan jahat sama Kiki, justru karena dia amat sayang dengan anaknya, dia nggak mau anaknya gagal seperti dia. Ya, di Indonesia kehidupan di bidang seni dianggap masih suram. Padahal nggak semuanya, dan Kiki ingin membuktikannya, terutama pada bapaknya.

img_20161002_145453

AYLA. Sejak dulu, dia memang menjadikan keteraturan sebagai dasar hidup. Setiap hari, cewek itu sudah punya jadwal dan rutinitas yang telah disusun mendetail. Jika ada hal yang tidak sesuai, ia pasti senewen. Berkaitan dengan sikapnya yang gila aturan, ada beberapa orang yang menduga ia mengidap obsessive compulsive disorder.

Ada sesuatu tentang Ayla yang membuat Iqbal selalu merasa tertarik. Sejak dulu, cewek itu selalu punya magnet yang membuat Iqbal serasa ingin mendekat. Ayla memiliki sesuatu yang membuat Iqbal selalu betah memperhatikannya. Matanya yang galak, bibirnya yang jarang tersenyum, rambut panjangnya yang selalu dikucir rapi, dan tubuh tingginya yang selalu terlihat kaku. Di mata Iqblal, segalanya tentang Ayla terlihat menarik.

“Senyum dong, Ay. Jangan jutek mulu. Tiap lo senyum, lo beribadah. Lo dapat pahala.” (hlm. 14)

Di sekolah, Ayla dikenal sebagai siswa berprestasi yang nggak gaul. Ayla nggak pernah berbaur, nggak pernah ikut seru-seruan dengan teman sekelas, dan nggak pernah menghabiskan waktu untuk mengobrol ataupun bergosip seperti kebanyakan yang cewek lain lakukan. Tara adalah satu-satunya teman yang dimiliki Ayla.

Pintar boleh, tapi itu tidak cukup. Apalah arti pintar akademik, tapi nggak pintar bergaul macam Ayla? Sedangkan dia terobsesi ingin terpilih sebagai Ketua OSIS. Ya, Ayla representasi remaja pintar. Dari zaman saya sekolah sampai kerja di sekolah saat ini pun masih menemukan remaja tipikal Ayla. Remaja yang pintar cenderung merasa tidak membutuhkan orang lain, karena merasa dirinya paling segalanya. Itulah kenapa pintar saja nggak cukup, jika susah bergaul akan susah nantinya saat dewasa karena akan terbentuk menjadi manusia yang egois dan susah bekerja dalam tim.

“Kalau lo mau jadi Ketua OSIS, lo harus mau berbaur sama orang-orang, khususnya sama mereka yang nggak suka sama lo. Lo harus ambil hati mereka, lo harus jadi cool.” (hlm. 109)

Selain itu, permasalahan yang dihadapi Ayla adalah tentang keluarga. Sejak Mami dan Papi bercerai saat Ayla berumur sembilan tahun, keluarganya pecah, dan hidupnya yang menyenangkan tiba-tiba berakhir. Semuanya nggak lagi sama. Segalanya mendadak berbeda. Dia tinggal bersama Mami. Sayangnya Mami selalu punya meeting yang sepertinya jauh lebih penting dari anaknya. Mami selalu menomorduakan perannya sebagai orangtua dan lebih mementingkan pekerjaan. Mami selalu ada untuk kantornya, tapi Mami nggak pernah ada untuk Ayla. Mami sepertinya lupa bahwa sebagai anak tunggal, ia sering merasa kesepian karena selalu sendirian di rumah. Meski Mbok Jum selalu ada dan memperhatikan kebutuhannya, Ayla tetap merasa kosong. Ayla juga representasi remaja yang broken home, betapa anak selalu menjadi korban dari keegoisan orangtua. Anak nggak hanya butuh materi melimpah, tapi kasih sayang justru lebih berharga.

“Buat apa aku jalan jauh kalau aku sendirian? Kalau mami diam aja dan malah belain mereka, Mami bisa ditahan. Kalau Mami nggak di sini, aku gimana, Mi?” (hlm. 219)

Pemilihan karakter yang remaja banget seperti yang dijabarkan di atas, tentu menjadi poin lebih dari buku. Ditambah lagi dengan kehidupan remaja yang zaman sekarang. Ada beberapa istilah yang menarik dalam buku ini, misalnya ada ganteng over dosis di halaman 10 atau grogi level nasional di halaman 242.

Pesan moral dalam buku ini adalah selain masalah cinta, saat remaja juga harus meraih cita-cita. Selain persahabatan, keluarga juga penting dalam menjalani hidup.

Oya, sebagai remaja zaman kekinian, sangat berhubungan erat dengan beraroma dunia online:

  1. Aisyah dan Grace sibuk dengan handphone masing-masing, serius membuat snaps yang fokus ke wajah Ardya. (hlm. 11)
  2. Setiap pagi, saat baru sampai di kelas, Aldi update Snapchat. Saat jam istirahat, Aldi memberitahu makanan yang disantapnya ke seluruh followersnya. Di sela-sela jam pelajaran, Aldi sering mengisi waktu untuk merekam dirinya. (hlm. 22)
  3. Biasanya Bella memanfaatkan ojek online untuk berangkat dan pulang sekolah, tapi sore ini request-nya di aplikasi ojek online nggak mendapat respons sehingga ia menuju halte bus. (hlm. 15)
  4. Bagi Tara, Instagram seperti kantong Doaremon. Di Instagram, Tara bisa menemukan dan melakukan banyak hal. Instagram adalah social media favorit Tara. Setiap malam, sebelum tidur, Tara akan menunggu datang sambil main Instagram. (hlm. 93)

img_20161002_142955

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau mau jadi hebat, kita harus rajin latihan. (hlm. 24)
  2. Keluarga adalah tempat kita berpulang, tempat kita bisa menemukan rumah dan merasakan kenyamanan. (hlm. 25)
  3. Kamu harus yakin. Kalau kamu yakin, kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu mau. (hlm. 60)
  4. Disiplin adalah kunci keberhasilan. (hlm. 62)
  5. Tuhan punya jawaban untuk semua pertanyaan. (hlm. 125)
  6. Hidup nggak selamanya di atas. Dulu kita sukses, sekarang kita di bawah, tapi nikmatin aja. (hlm. 157)
  7. Memiliki keluarga yang hangat itu berharga dan nggak bisa dibeli pakai apa pun. (hlm. 164)
  8. Bahagia itu menimbulkan semangat dan mampu mengubah hidup menjadi lebih menyenangkan. (hlm. 176)
  9. Masa depan nggak ada yang tahu, kan? Banyak kemungkinan yang nggak bisa ditebak. Variabel bebasnya terlalu bebas. (hlm. 180)
  10. Otak dan hati seringkali berselisih. Otak mengharuskan kita melihat segala sesuatu dari banyak sisi, tapi kata hati pun minta didengarkan dan diikuti. (hlm. 196)
  11. Kalah bukan pilihan. Menang adalah tujuan. (hlm. 197)
  12. Keluarga adalah tempat kita pulang. (hlm. 217)

img_20161002_143814

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Ngoceh mulu lo. Kayak emak-emak. (hlm. 2)
  2. Harus banget heboh gitu? Bisa biasa aja, nggak? (hlm. 11)
  3. Lo ngapain sih, apa aja di-Snapchat-in? Kurang kerjaan amat. (hlm. 22)
  4. Kagak usah yang aneh-aneh. Lo sekolah aja yang bener. (hlm. 31)
  5. Muka lo kusut amat kayak baju belom disetrika. (hlm. 45)
  6. Bisa gak, lo nggak ikut campur urusan orang? (hlm. 52)
  7. Katanya pelajar, tapi kok nggak pernah belajar. (hlm. 52)
  8. Punya otak kok nggak pernah dipakai. (hlm. 52)
  9. Dia cantik. Kamu buruk rupa. Pas buat perbaiki keturunan. (hlm. 88)
  10. Bagaimana caranya supaya bisa percaya diri di hadapan perempuan? (hlm. 89)
  11. Buat apa pacaran kalau cuma buat status doang? (hlm. 99)
  12. Pacaran itu bukan paksaan. Dan single itu bukan berarti nggak laku. (hlm. 100)
  13. Senyum kali, jangan datar gitu mukanya. (hlm. 107)
  14. Pede adalah modal buat jadi pemenang. (hlm. 112)
  15. Pegang tabung reaksi aja sampai gemetaran. Makanya jangan pegang lipstik mulu! (hlm. 121)
  16. Harusnya jangan cuma fisik yang dipercantik, otak juga! (hlm. 122)
  17. Cuekin aja. Orang gila nggak usah didengerin. (hlm. 142)
  18. Cewek bening begitu kagak lo pacarin, itu namanya nikmat Allah lo sia-siain. (hlm. 153)
  19. Katanya kalau cewek bilang nggak apa-apa, justru dia lagi kenapa-kenapa. (hlm. 161)
  20. Siapa yang galak? Kamu tuh yang resek! (hlm. 183)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Ada Cinta di SMA

Penulis                                                 : Haqi Achmad

Penulis skenario                               : Haqi Achmad & Patrick Effendy

Editor                                                    : Resita Febiratri

Penyelaras aksara                            : Idha Umamah

Desainer                                              : EndOne Graphz & Stuff, Starvision

Penyelaras desain sampul            : Agung Nugroho

Penata letak                                       : Erina Puspitasari

Foto                                                       : dok. Starvision

Penerbit                                              : GagasMedia

Terbit                                                    : 2016 (Cetakan Ketiga)

Tebal                                                     : 250 hlm.

ISBN                                                      : 978-780-865-5

img_20161002_143017

Jangan lupa juga tonton versi filmnya ya!😉

8 thoughts on “REVIEW Ada Cinta di SMA

    • Menurut Dwight V Swain dan Joye R Swain yang dikutip Maroeli Simbolon, ada tiga cara utama untuk mengadaptasi karya sastra ke film, yaitu mengikuti buku, mengambil konflik-konflik penting, dan membuat cerita baru. Cara ketiga adalah yang sering dilakukan. Jadi, dari buku ke film memang gak selalu sama, karena medianya memang berbeda😉

      • hehe.. iya sih. jadi nggak bisa dibandingkan ya karena medianya berbeda. makanya lebih seneng pilih salah satu saja, daripada kecewa kemudian. hoho

    • Nah, inilah seharusnya tugas sekolah dan peran guru, menghasilkan generasi yang bermanfaat lewat prose dan bukan hanya sekedar lulus semata😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s