REVIEW Angel in the Rain

img_20161017_081140

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka? Satu bulan? Satu tahun? Atau lebih dari itu? Sebagian dari kita memilih untuk membiarkan luka memudar. Sebagian yang lain menyimpannya secara baik-baik. Ada yang meninggalkan luka dengan senang hati. Namun,ada yang begitu menyayanginya hingga menjadikan luka bagian baru dari dirinya. (hlm. 406)

AYU. Gadis-gadis lain mengumpulkan tas dan sepatu. Ayu mengumpulkan buku-buku yang langka. Obsesinya adalah memiliki Wuthering Height Emily Bronte cetakan pertama. Gadis yang gila buku ini adalah seorang penulis. Dalam dua tahun, dia menerbitkan empat novel. Kisah-kisahnya indah, tetapi sendu. Roman sederhana yang sering kali berakhir dengan kehilangan.

Dia memiliki banyak pembaca karena itu, karena kisah-kisahnya yang sendu. Tulisannya adalah teman yang pas bagi perempuan-perempuan yang terluka. Bukan, bukan pelipur lara. Dia tidak menawarkan harapan. Dia semata-mata menyediakan bahu untuk dipinjam, jadi perempuan-perempuan itu bisa puas menangis hingga air mata mereka habis. Demikianlah Ayu memandang kehidupan ini selama dua tahun terakhir.

Dia memang tidak terlalu optimis sejak remaja. Buku-buku yang dia baca yang menyebabkannya demikian. Namun, selama dua tahun terakhir, dia semakin tidak menyukai kehidupan.

“Bisa kau diam? Aku sedang membaca. Lihat?”

“Entah apa itu buku yang pas untuk dibaca saat hujan?”

“Apa, sih, masalahmu?”

“Aku tidak punya masalah.”

“Berhenti menggangguku, kalau begitu.”

“Tidak ada yang menggagumu. Kau ingin membaca? Silakan.” (hlm. 70)

GILANG. Dia tidak berharap pergi ke London. Dia menyesal terbang ribuan mil dan menyatakan cintanya kepada Ning. Seharusnya, dia tidak mendengarkan teman-temannya, pikirnya. Seharusnya, dia tidak bermimpi macam-macam.

Mereka bersahabat sejak kecil. Dia dan Ning. Sejak mereka masih hidup bersebelahan di bilangan tua di pinggiran Jakarta. Kini, apa yang pernah dia miliki bersama gadis itu hancur. Setelah apa yang terjadi di London, mereka tidak akan bisa seperti dahulu lagi. Impiannya memiliki Ning telah membuatnya kehilangan gadis itu.

Namun, barangkali, yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa dia kehilangan gadis itu karena kebodohannya, karena dia berlagak kuat.

“Apa yang salah dengan sastra?”

“Tidak ada.”

“Ada yang salah dengan pembaca, kalau begitu?”

“Mereka tidak suka berpikir berat.”

“Buku-buku kita tidak berat.” (hlm. 95)

photogrid_1477114728873

Ayu dan Gilang, sama-sama memiliki persamaan. Sama-sama patah hati. Ayu ditinggal menikah oleh kekasihnya, sedangkan Gilang cintanya bertepuk sebelah tangan karena ditolak sahabatnya sendiri. Buku, hujan, dan London. Tiga hal itu yang mempertemukan mereka. Lewat buku ini, pesan yang dapat kita ambil adalah sebelum menemukan orang yang tepat, kita selalu bertemu orang yang tidak tepat terlebih dahulu untuk dilewati dalam hidup.

Ayu penulis fiksi populer yang sedang naik daun, sedangkan Gilang merupakan editor di penerbit yang fokus ke genre sastra. Bisa dipastikan mereka sama-sama menyukai buku. Banyak adegan-adegan baper yang berhubungan dengan buku, buku dan buku. Uhuk.

img_20161014_080812

Lewat tokoh Gilang dan Ayu, penulis menyelipkan dunia penulis dan juga penerbitan. Beberapa diantaranya:

  1. Ayu, sebagai penulis, sangat hobi mengumpulkan buku. Bisa sebagai hobi, juga referensi.
  2. Setelah refreshing melalui traveling, penulis biasanya menemukan ide untuk novel selanjutnya.
  3. Bagi penulis, editor bak malaikat tapi juga tak jarang bagai ibu tiri. Bisa baik, bisa juga jahat kalau udah urusan deadline. Meski begitu, editor adalah orang yang paling mengerti mood penulisnya, termasuk perubahan penulis saat jatuh cinta maupun patah hati.
  4. Di pesta literasi, editor-editor dari penerbit-penerbit berbeda kerap bertemu. Mereka saling kenal walau belum tentu saling menyukai.
  5. Fiksi populer versus sastra. Penerbit fiksi populer mengatakan bahwa tangan sastra pendek, tidak menyentuh banyak pembaca. Mereka menganggap penerbit sastra lebih suka menerbitkan buku-buku yang menumpuk di gudang. Sebaliknya, penerbit sastra beranggapan bahwa fiksi populer hanya bertumpu membahas cinta, cinta dan cinta.
  6. Masalah buku yang diobral. Betapa sedihnya perasaan penulis maupun penerbit yang melihat bukunya berakhir di rak obral.
  7. Kini penulis sepadan dengan artis. Ketika bukunya laku keras, banyak yang antri untuk meminta tanda tangan.
  8. Penulis harus membiasakan diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat bedah buku atau meet and great, dan semacamnya. Termasuk pertanyaan yang terkadang menjebak, ke ranah pribadi salah satunya.
  9. Di halaman 172-173, Ayu cukup geram dengan kritik yang dilontarkan Gilang atas penilaiannya terhadap buku-bukunya yang selama ini ia tulis. Ayu ini representasi penulis yang sulit menerima masukan dari orang lain atas apa yang ditulisnya. Banyak kan nemu penulis yang kayak gini.. x))
  10. Masalah buku yang diadaptasi ke film. Banyak yang beranggapan film adaptasi buku jarang ada yang bagus. Padahal film bisa memperpanjang usia buku di toko buku, dan menaikkan penjualan sebuah buku.

img_20161014_160457

Karena buku ini sangat beraroma buku, kita akan menemukan banyak sekali judul-judul buku bertebaran:

  1. Wuthering Height (hlm. 11)
  2. Burmese Days (hlm. 11)
  3. Empire of the Sun, novel semiografi J. G. Ballard (hlm. 27)
  4. Pride and Prejudice – Jane Austeen (hlm. 27)
  5. Night and Day – Virginia Woolf (hlm. 27)
  6. Midnight in Paris (hlm. 34)
  7. A Midsummer Night’s Dream (hlm. 107)
  8. Breakfast at Tiffany’s (hlm. 165)
  9. Sa Me the Waltz (hlm. 165)
  10. Romeo and Juliet – Shakespeare (hlm. 174)
  11. Adventures of Huckleberry Finn (hlm. 252)
  12. The Portrait of A Lady (hlm. 252)
  13. Lolita (hlm. 283)
  14. The Great Gatsby (hlm. 341)

photogrid_1477114850998

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kita tidak bisa hidup tanpa harapan. (hlm. 117)
  2. Tidak ada yang terjadi tiba-tiba. (hlm. 277)
  3. Terkadang, keajaiban saja tidak cukup. (hlm. 369)
  4. Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri. (hlm. 385)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Bukan masalah besar. Tidak perlu bereaksi berlebihan begitu. (hlm. 12)
  2. Terlalu repot melakukan akad nikah di rumah. (hlm. 39)
  3. Tidak ada waktu yang tepat. (hlm. 40)
  4. Sahabat tidak akan pernah menjadi kekasih. (hlm. 52)
  5. Sebuah buku tidak berjalan sendiri meninggalkan rak. (hlm. 88)
  6. Hanya karena sebuah buku berakhir di rak obral bukan berarti karya itu buruk. (hlm. 95)
  7. Ratusan novel terbit tiap bulan. Sebagian besar cuma bicara cinta. (hlm. 173)
  8. Jangan kekanak-kanakan. Hadapi kenyataan dengan dewasa. (hlm. 224)
  9. Dunia pantas dibenci. Dunia pantas diberi kesempatan. (hlm. 243)
  10. Ada belati di balik senyum lelaki. (hlm. 250)
  11. Menulis cuma pelampiasan, tapi itu lebih baik daripada memendam perasaan. (hlm. 420)

Keterangan Buku:

Penulis                                 : Windry Ramadhina

Editor                                    : Yulliya & Widyawati Oktavia

Penyelaras aksara            : Widyawati Oktavia

Penata letak                       : Erina Puspitasari

Desainer sampul              : Windry Ramadhina & Agung Nugroho

Ilustrator isi                        : Windry Ramadhina

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 460 hlm.

ISBN                                      : 978-979-780-870-9

img_20161014_160557

4 thoughts on “REVIEW Angel in the Rain

  1. Setelah menamatkan Walking After You dan Montase, sepertinya novel ini layak untuk dijadikan koleksi. Buku + penulis + editor + hujan = komposisi tepat untuk ber-mellow ria😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s