[BLOGTOUR] REVIEW The Bond

img_20161102_173126

Satu cara jitu mengambil hati seseorang adalah dengan merestui pertemanannya dengan orang lain. Baik temannya itu manusia atau pun bukan. (hlm. 153)

NINA. Sejak kuliah di jurusan Arsitektur, Nina mengambil ancang-ancang untuk menjadi desainer grafis freelancer. Dia giat memasarkan jasa pada teman, menjawab lowongan kerja, sambil tak lupa membuat portofolio di blog pribadi dan Instagram. Dari tahun ke tahun, kliennya makin bervariasi dan pendapatannya lebih dari memadai. Agar lebih leluasa, dia tinggal di rumah kos yang relatif dekat dengan jalan-jalan protokoler Jakarta.

Sepeninggal almarhumah Mamanya, dia sudah bertekad akan menjual rumah yang mama miliki. Perlu diketahui, mama Nina sebenarnya adalah ibu sambung alias ibu tiri. Meski begitu, dia memiliki ikatan batin pada mamanya ini. Jadi dia akan menyelesaikan segala hal yang berurusan dengan mamanya ini meski sudah tiada. Salah satunya adalah menjual rumah Belanda peninggalan mamanya itu.

Buyut Mama, seorang petinggi Belanda, membangun rumah itu di awal abad dua puluh. Letaknya di pinggir luar Bogor; kota yang di masa kolonial menjadi tempat tetirah warga kelas atas Batavia. Kakek mama memilih untuk mengontrakkan rumah itu, tradisi yang kemudian dilestarikan anak-cucunya. Karena sudah beberapa tahun terakhir tidak ada penyewa, Mama menggaji orang sebagai penjaga agar rumah tidak terbelengkalai.

Selain itu, Mama juga meninggalkannya beberapa kaset yang harus didengarkan Nina. Kaset ini nantinya akan berhubungan dengan rumah peninggalan tersebut. Kenapa kaset? Karena mamanya Nina berprofesi sebagai voice dubber. Lewat kaset inilah nantinya rahasia sang mama terkuak, termasuk ada apa dengan rumah yang akan dijual Nina ini?!?

“Kamu sudah mau jadi temanku. Boleh aku jadi temanmu juga? Teman itu slaing terima apa adanya. Kondisimu sekarang bukan salahmu. Aku enggak akan takut.” (hlm. 95)

Selain profesi Mamanya NINA yang unik, ada beberapa hal unik lainnya yang diselipkan sang penulis lewat buku ini. Lewat tokoh kakak beradik Shava dan Daven. Shava yang susah payah mencari kerja ke sana kemari, sampai uangnya habis untuk mengirim lamaran ke berbagai tempat tapi nggak pernah putus asa untuk mencoba lagi, lagi dan lagi. Shava representasi fresh graduate yang susah mencari kerja, apalagi kerja yang sesuai keinginan. Lewat tokoh Shava meningatkan pembaca bahwa lewat hasil kerja keras dan tak patah semangat, akan ada akhir yang setimpal. Kemudian lewat tokoh Daven, adik Shava yang gagal ujian masuk perguruan tinggi negeri. Jangan remehkan mereka yang gagal untuk masuk kuliah. Apalagi membully. Saya sering sekali menemukan murid yang gagal kuliah dan jadi down ditambah lagi mendapat cercaan orang-orang sekitar. Untuk remaja yang baru lulus sekolah, ini merupakan salah satu cobaan berat. Nah, orang sekitar, terutama teman dan keluarga harus memberi semangat. Percayalah, yang gagal lulus masuk kuliah di negeri bukan karena tidak pintar apalagi nggak hoki. Bukan, nggak ada istilah hoki dalam hidup. Hidup butuh strategi, begitu juga masuk kuliah. Gagal tembus negeri salah satu faktornya mungkin karena pilihan jurusan nggak sesuai kemampuan alias ketinggian. Dengan terus giat belajar dan dorongan semangat tentu akan membuahkan hasi.

Lalu dimana letak horornya? Jadi, hidup NINA sebagai tokoh utama akan disambungkan dengan kehidupan SHAVA dan DAVEN. Ada banyak sekali tokoh yang hadir dalam buku ini. Meski terkesan hanya sebagai tokoh pendukung, tapi tiap tokoh berperan penting dalam runutan cerita.

Di kehidupan SHAVA dan DAVEN, ada tokoh-tokoh yang hidupnya belum tenang. Dan ini nantinya tanpa disadari NINA akan menjadi semacam tongkat estafet yang harus diselesaikannya.

Ini adalah buku kelima dari Eve Shi yang saya baca. Sebelumnya ada Aku Tahu Kamu Hantu, Lost, Unforgiven, dan Sparkle. Kecuali Sparkle, buku lainnya semua bergenre horor. Dari awal baca tulisannya Eve Shi, saya sudah suka gaya kepenulisannya, apalagi jarang sekali ditemukan buku genre horor dengan isi cerita yang nggak terlalu berlebihan. Ya, seringkali kita menemukan buku atau film genre horor yang jatuhnya lebay karena terlalu banyak hantu muncul tiba-tiba malah nggak seram. Nah, penulis satu ini lihai memasukkan unsur horor dan masuk di akal. Misalnya dalam buku ini, sang ‘hantu’ terkadang menampilkan diri tidak secara wujud tiba-tiba, bisa lewat suara atau kode lainnya yang juga bikin merinding disko jika membacanya.

Meski buku ini nggak seseram buku-buku Eve Shi sebelumnya, bagi saya tetap merinding disko. Kenapa? Karena di buku ini diceritakan ada suatu rahasia di kolam dalam rumah. Dan di rumah saya juga ada kolam, kok ya pas banget kolamnya menghadap ke kamar saya. Jadi, betapa merinding pas bacanya, apalagi malem-malem… x))

img_20161106_165407

Pesan moral dari buku ini adalah bahwa mahluk kasatmata memang tak hanya menampilkan dirinya pada yang memiliki indra keenam saja, bisa jadi dia muncul pada siapa saja yang sebenarnya bertujuan untuk meminta tolong pada sesuatu yang belum terselesaikan yang nantinya akan membuat mereka ‘beristirahat’ dengan tenang.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Cinta adalah bebas. Kian sulit langkahnya, kian subur hidupnya, hanya kewajiban kita menjaga supaya suburnya iti dalam kesucian. (hlm. 25)
  2. Cinta tak berarti harus saling berdampingan. (hlm. 189)
  3. Cinta memang jauh lebih rumit dan besar daripada pihak-pihak yang saling mencinta. (hlm. 242)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Perampok incar siapa saja, tidak peduli orang lagi berduka. (hlm. 10)
  2. Yang penting dari pertolongan adalah kesigapan, bukan muka manis yang bisa saja menutupi kedongkolan. (hlm. 11)
  3. Hati-hati. Penjahat zaman sekarang pintar dan banyak komplotannya. (hlm. 12)
  4. Terbiasa bergantung pada orang lain justru melemahkan badan. (hlm. 13)
  5. Kendalikan amarahmu, jangan amarah yang justru mengendalikan kamu. (hlm. 18)
  6. Anak laki-laki mendekam di rumah kayak pengantin pingitan. (hlm. 31)
  7. Enggak capek, pacaran sama rumus-rumus melulu? (hlm. 33)
  8. Diam di rumah saja, kulit lu bisa tumbuh jamur nanti. (hlm. 33)
  9. Masak hanya gara-gara tidak lulus ujian, terpuruk dan menolak bangkit lagi? (hlm. 34)
  10. Jangan saling menyalahkan. (hlm. 34)
  11. Hidup bersama manusia lain saja kadang melelahkan. Hidup serumah dengan mahluk tak kasatmata jelas mengganggu. (hlm. 60)
  12. Dia terlalu lapar, sampai sumbunya pendek dan dia mudah meletus. (hlm. 72)
  13. Belajar terus-terusan, awas matamu minus. (hlm. 88)
  14. Jangan dibahas kalau bikin sakit hati. (hlm. 119)
  15. Kerja dulu, baru tebar janji surga. (hlm. 132)

Keterangan Buku:

Judul buku                          : The Bond

Penulis                                 : Eve Shi

Editor                                    : Prisca Primasari

Proofreader                       : Tharien Indri

Designer sampul              : Dwi Anissa Anindhika

Penata letak                       : Gita Mariana

Penerbit                              : Twigora

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-602-74924-0-0

Photo challenge kali ini adalah host berpose semirip mungkin dengan model di gambar di bawah ini.

vsfbgw

Sayangnya pas niru mbak-mbak vampir ini, bukannya seram, yang ada malah jadi kayak sakit gigi kayak gini x))

img_20161102_091537

24 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW The Bond

  1. Pingback: [BLOGTOUR] Giveaway The Bond | Luckty Si Pustakawin

  2. Gagal fokus, liat foto kak luckty hehehe. Shava kayak aku deh tuh, susah dapet kerja😀 #malahcurhat. Kayaknya ngeri juga jadi Nina, harus jadi tongkat estafet yang harus menyelesaikan urusan Shava dan Daven. By the way, berarti Shava ibu tiri yang baik ya. Bisa punya ikatan batin. Profesinya juga unik

  3. Terbiasa bergantung pada orang lain justru melemahkan badan (hlm 13 ) << ini bener bgt nih suka kata2nya
    Nyari kerja emg susah jaman skrg jdi jika udh dapet harus dipertahanin sebisanya 😂 (curcol)
    Liat fotonya aku jdi ikut meragain wkwk xD

  4. Menarik banget profesi mamanya Nina yaitu voice dubber. Cita-cita masa kecilku juga jadi dubber. Pengen banget nyoba jadi voice dubber di studio gitu sepertinya seru.😃

    Mbak Luckty wajahnya gak horor tapi lucu😂 #kaburr

  5. Asli nih Mbak Luckty itu pesan moralnya? Hehehe, soalnya untuk beberapa orang, hal mistis tidak mudah dipercayai. Termasuk saya, yang sedikit susah mempercayai secara kasat mata kehadiran mahluk halus. Bukan berarti berharap ketemu ya. Hehehe

  6. Good review. Dan membuatku penasaran gimana tulisan penulis novel ini. Gimana plot ceritanya yg ditulis. Gimana penggunaan sudut pandang yg sangat mrmpengaruhi sebuah karya fiksi. juga gimana penulis menghidupkan suasana horor serta karakter unik di novel terbarunya ini. ngomong-ngomong, aku belum pernah baca tulisan penulis the bond lho. Dan berharap bisa menjadi pemenangnya. Juga, ceritanya cukup menarik, sesuai genre kesukaanku. horor ataupun thriller. terima kasih mbak atas kesempatannya.

  7. yg jdi tertarik adalah cara penulis scene horornya gak melulu hantunya muncul tiba”. kebanyakan memang sperti itu, hantu selalu muncul tiba”. mlah kdang bkin mual pas baca atau nonton yg berbau horor :3

  8. Sudah cukup melekat dipikiran saya, jika berbicara horror maka jatuhnya ke hantu, dan hantu versi Indonesia yang selalu terbayang buat saya adalah hantu yang seramnya dibuat-buat.. Jadi awal tahu The Bond bergenrekan horror, ada sedikit ketidaktertarikan membacanya.. Tapi akhirnya paranoid gaje saya tentang buku ini ternyata salah, malahan si penulis menulis isinya dengan cerdas, dan meskipun horror bukan si hantunya yang terlalu diperkuat melainkan tokohnya..

    Jujur saja, saya sedikit merinding membaca bagian kak luckty mengaitkan setting kolam di buku dan di samping kamar kakak.. Tapi, merindingnya ilang pas liat hasil photo challenge-nya ^^

  9. Astaga! Maap, kak Luckty! Asli ngakak liat posemu yang aduhai itu ^o^ Wkwkwkwk

    As usual, baca resensimu selalu berhasil bikin aku makin penasaran dengan keseluruhan kisah dalam buku yang dibahas, terutama ya Bond ini! Kebetulan aku memang penyuka kisah misteri dan horor. Jadi tentu saja buku ini rasanya akan terus kucari sampai dapat! ^^

  10. Ihihihih…. Aku nggak bisa berhenti ketawa lihat foto Kak Luckty, tapi bener-bener kerenn.. Ahahaha…
    Kalau punya buku ini, aku bakal baca langsung sampai tuntas. Dari resensi yang Kakak buat, aku jadi pengen cepet-cepet baca nih..

  11. Saya bisa belajar mereview buku nih dr reviewnya mba luckty. Sy jd keinget masa lalu ketika baca “Enggak capek, pacaran sama rumus-rumus melulu? (hlm. 33)”… jomblo bgt. Makasi atas reviewnya dan sukses selalu

  12. Disini reviewnya lebih panjang dan bikin tambah penasaran.
    Kalimat favorit yang aku suka dari novel The Bond adalah ‘cinta tak berarti harus saling berdampingan dan memiliki’ -skip yang memiliki,hehehe maaf kak aku tambah.
    Kalimat sindiran yang kena banget yaitu ‘masak hanya gara2 tidak lulus ujian, terpuruk dan menolak’. Iya sih, kebanyakan pelajar indo kayak gitu. Mudah2an aja aku gak termasuk, soalnya bentar lagi aku UN.
    Selamat untuk kak eve shi yg telah comeback again. Semoga fans kk bertambah. Termasuk aku.
    Untuk kak luckty, fighting selalu.
    Aku baru tahu kalau diblog kk banyak GA.
    Kk sih gak bilang2 jadinya aku telat.(org situnya gak nanya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s