REVIEW Frederica

img_20161203_085907

Jangan uji kesabaranku terlalu jauh. (hlm. 155)

FREDERICA. Sudah menjadi semacam induk ayam di rumahnya bagi adik-adiknya. Solusi terbaiknya adalah menikahkan adiknya yang paling cantik dan menawan, Charis dengan suami yang pantas, kemudian mencarikan hunian untuk adik-adik lelaki, bibinya serta dirinya sendiri, dan pindah dari Grayranrd begitu Harry bertunangan. Dia sudah lama membuat keputusan ini. Namun saat ini yang paling mendesak adalah mencarikan penghidupan yang layak untuk Charis. Salah satunya adalah memohon pada Lord Alverstoke untuk merekomendasikan adiknya ke kalangan atas. Kenapa Frederica memilih Lord Alverstoke? Karena sepeninggal papanya, beliau tidak menunjuk seorang wali. Frederica sempat takut kalau para adik yang masih di bawah umur dijadikan Tanggungan Negara. Mungkin adiknya, Harry bisa menggantikan peran papanya, tapi masih harus menunggu lama sampai menunggu Harry menginjak usia dewasa dan berhak mengemban tanggung jawab atas adik-adik. Sedangkan Frederica sendiri pun tidak bisa karena dia adalah perempuan lajang, bahkan dia berharap lebih baik menjadi seorang janda karena dengan begitu posisinya lebih bisa mengemban tanggung jawab atas kehidupan adik-adiknya.  Lord Alverstoke adalah satu-satunya cara keluar dari masalah ini, meski Lord Alverstoke bisa dikatakan sebagai kerabat yang lumayan jauh.

“Cuma perkara kecil: tolong perkenalkan adik perempuan saya ke tengah-tengah kalangan atas!”

“Perkenalkan adik perempuan anda ke tengah-tengah kalangan atas?”

“Ya, tolong. Barangkali saya harus memperingatkan bahwa anda mungkin perlu memperkenalkan saya juga, terkecuali saya berhasil membujuk adik saya bahwa saya betul-betul tidak ingin. Secara umum ia adalah gadis paling penurut di muka bumi, tapi dalam kasus ini menyatakan tidak mau datang ke pesta-pesta kecuali saya ikut. Menyusahkan saja, tapi dia memaksa semata-mata karena wataknya yang penyayang…” (hlm. 51-52)

LORD ALVERSTOKE. Sebagai bujangan yang sudah bertahun-tahun dianggap target paling menggiurkan di Pasar Perkawinan, Alverstoke telah terbiasa menghadapi segala jenis taktik yang dirancang demi menjeratnya. Alverstoke jarang bersusah payah mengambil langkah-langkah khusus demi memancing perhatian perempuan karena justru kaum perempuanlah yang berlomba-lomba memperebutkannya. Kalaupun ditolak, itu karena semata-mata bersikap acuh tak acuh dan jalan terus, sebab dia bermain mata hanya untuk menghibur diri sendiri, sedangkan rasa sukanya tidak subtansial ataupun tahan lama.

“Satu-satunya aset kalian adalah nama keluarga yang terhormat. Ditinjuau dari segala aspek lain, kalian sama sekali tak memenuhi syarat. Saya tidak tahu pasti kondisi finansial kalian, tapi…”

“Cukup!”

“Jika anda mempertimbangkan untuk memperkenalkan saudari anda ke istana, saya sarankan agar anda simpan saja uang ada. Investasi tersebut tak akan memberikan dividen bagi anda.”

“Saya tahu dan memang tidak mempertimbangkan itu.”

“Apa kalau begitu?”

“Almack’s”

“Anda memasang target terlalu tinggi, Miss Merriville. Surat sakti dari saya tidak bermanfaat untuk mengantarkan anda melewati gerbang keramat itu! Terkecuali anda memiliki kenalan yang mempunyai undangan ke sana dan wanita terhormat itu bersedia mensponsori..”

“Tidak ada. Jika saya memiliki kenalan semacam itu, saya tidak akan meminta bantuan anda. Namun, saya tak akan menyerah kalah! Pokoknya, saya harus bisa bagaimanapun caranya!” (hlm. 64)

CHARIS. Merupakan perwujudan keindahan yang dapat menyebabkan pria mana pun terkesiap kagum. Perawakannya molek, pergelangan kakinya ramping, kulitnya sehalus mawar damas atau persik matang, mulutnya yang lembut seperti diukir, hidungnya lurus tapi tidak lancip dan memiliki lubang kecil yang seolah diukir, sedangkan matanya yang menerawang dunia dengan polos, sebiru angkasa, ekspresif, dan menyiratkan senyuman sarat nostalgia.

“Tanpa harta dan kecantikan, sudah untung apabila dia memperoleh suami yang pantas, kau tahu. Jika dia ingin bergerak di kalangan atas dalam rangka menggaet suami, tujuannya terlampau muluk-muluk.” (hlm. 147)

Ternyata tidak hanya di dongeng Cinderella saja kita mendapatapi bahwa seorang mengharapkan kehidupan yang layak dan memimpikan pasangan dari kelas atas. Mungkin jika mengikuti kisah Frederica dalam mengasuh adik-adiknya, kita melihat bahwa kesan pertama dia terlalu ambisius dan bermimpi terlampau tinggi, namun dalam buku ini diceritakan bahwa dalam kehidupan para tokohnya memang rata-rata seperti itu. Para sosialita ternyata sudah ada sejak zaman dulu. Misalnya ada Mrs. Dauntry yang menyatakan dirinya mungkin hanya seorang wanita lemah. Namun demi melindungi anak-anaknya, dia bisa menjadi singa betina. Dalam kapasitas inilah dia menyerang Alverstoke, tak lupa berbekal senjatanya yang paling ampuh, yakni vial aromaterapi. Mrs. Daunty tidak mengajukan tuntutan apa-apa, sebab bukan begitu strateginya. Kedua, ada Lady Jevington yang datang bukan untuk memohon bantuan bantuan Alvestoke, melainkan untuk menitahkan agar tidak takluk dengan cecaran Lady Buxted. Lady Jevington mengutarakan isi hatinya dengan kalimat yang terukur dan berbeli-belit, mengatakan bahwa sekalipun dia tidak mengharapkan ataupun meminta bantuan Alverstoke dalam meluncurkan putrinya, Anna, ke tengah-tengah kalangan atas, dia mau tak mau meski merasa terhina apabila sang adik lelaki menawarkan jasa tersebut kepada Miss Buxted.

Buku yang memiliki jumlah halaman lebih dari lima ratus ini mengupas kehidupan yang didominasi oleh para wanita, harta, jabatan dan derajat. Semuanya diceritakan detail. Pesan moral dari buku ini adalah bahwa hidup tidak harus sama seperti tujuan awal. Tapi itu mungkin justru yang terbaik untuk kita.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bagaimana jadinya aku tanpa dirimu? (hlm. 29)
  2. Tidak ada kata terlalu awal. (hlm. 95)
  3. Selera orang memang berbeda-beda. (hlm. 161)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Apa kau tidak punya perasaan? (hlm. 11)
  2. Kau menipu diri sendiri. (hlm. 13)
  3. Aku merasa kau mahluk paling memuakkan, paling tidak normal yang pernah bernapas di muka bumi ini. (hlm. 14)
  4. Kategori perempuan yang terlalu muda menduduki peringkat tertinggi di dalam hal yang amat membosankan. (hlm. 30-31)
  5. Jangan mengalihkan pembicaraan. (hlm. 36)
  6. Merasa aman karena meyakini dia tidak akan pernah diminta untuk mewujudkan janji-janjinya itu menjadi tindakan? (hlm. 46)
  7. Apakah anda perempuan yang suka main perintah? (hlm. 46)
  8. Sangat tercela sampai ditegur pun percuma. (hlm. 53)
  9. Wanita mana pun pasti takut memiliki saudari ipar yang sok berkuasa di rumahnya, ya? (hlm. 61)
  10. Jangan menahan diri demi aku! (hlm. 149)
  11. Jangan mendambakan kekayaan. (hlm. 151)
  12. Perempuan memang ada-ada saja! (hlm. 157)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Frederica

Penulis                                 : Georgette Heyer

Penerjemah                       : Reni Indardini

Penyunting                         : Yuke

Penata aksara                    : CDDC

Perancang sampul           : Muhammad Usman

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Juli 2016

Tebal                                     : 592 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-061-7

img_20161203_085748

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW Frederica

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2016 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s