REVIEW Love in City of Angels

img_20161207_120826

Barangkali karena memang seperti itulah ingatan manusia bekerja. Otak kita tidak bisa menyimpan semuanya dalam tabungan ingatan jangka panjang. Kita hanya menyimpan potongan-potongan kisah yang berkesan, yang emosional, yang kita pilih secara tidak sadar. (hlm. 82)

AJENG. Sejak ditugaskan di Bangkok, memang dia terlalu ambisius ingin menunjukkan prestasi terbaik. Jadi dia bekerja keras, nyaris tidak pernah mengambil cuti kecuali betul-betul perlu. Dia bosan dianggap cantik tapi juga dianggap bego oleh kaum Adam sok bijak di kantor. Plus dia membawa nama Indonesia di kantor perwakilan Asia Pasifik tempatnya bekerja.

Ajeng nyaris tidak punya kenangan istimewa akan sosok yang harusnya dia sebut sebagai ayah. Sepintas semua terlihat baik-baik saja. Nyatanya, tidak semulus itu. Selalu ada komentar-komentar miring, yang diucapkan sembunyi-sembunyi dari balik tembok, dari balik pintu. Serba ingin tahu dan usil. Padahal ibu dan keluarganya sendiri santai-santai saja. Maka selain menutup kuping, yang dapat dilakukannya untuk meringankan beban ibu adalah menjadi anak dan murid sekolah yang sebaik-baiknya. Siapa yang tidak kenal Ajeng? Pelajar teladan tingkat provinsi, juara lomba pidato, paskibraka di balaikota madya. Ajeng selalu nomor satu.

Di Jakarta, bertambah satu lagi predikatnya; tukang ganti pacar. Ajeng mempermainkan pria seperti mempermainkan kartu remi; diambil, dilihat, dibuang dengan cara dibanting, dan dilupakan. Meninggalnya Eyangnya menjadi peresmian putusnya hubungan emosionalnya dengan Solo. Ditambah lagi sekarang dia hidup terjamin di Bangkok. Hal ini tentu sangat menambah jarak hubungannya dengan sang ibu, mereka tidak pernah sehati, terutama untuk urusan ayahnya.

“Bukan kecantikanmu yang membuatku terpukau, melainkan wajahmu yang penuh semangat. Caramu tersenyum, mengerutkan alis, membelakkan mata, juga ekspresi tekunmu. Setelah selesai, kamu berdiri dan melangkah keluar. Tampak sangat percaya diri dan puas, seolah baru saja menyelamatkan dunia.” (hlm. 81)

img_20161210_161240

YAZAN. Terlihat seperti setengah dewa. Pokoknya dia orang hebat. Sebagai ekspat, dia sering ditugaskan ke kantor perwakilan yang bermasalah, yang kurang profit, yang tidak achive target. Dia ini semacam pemadam kebakaran. Kalau Khun Yazan datang, segala jenis kebakaran bisa ditanggulangi. Dan begitu kebakaran selesai, Khun Yazan bakal dipindahtugaskan ke negara lain, yang operasionalnya bermasalah. Dia ini problem solver revolusioner. Semacam Yoda di Star Wars.

Jadi dia sudah mendapatkan clue dari Tuhan, bahwa aku adalah jodohnya? Astaga, pria-pria seserius ini, seharusnya bertemu dengan wanita lain yang benar-benar sedang mencari suami. Bukan dengan aku, yang justru ketakutan merasakan hawa-hawa akan dilamar! (hlm. 109)

img_20161210_163847

Sebelum membaca buku ini, bagi yang sudah membaca Tiga Cara Mencinta dan Dua Cinta Negeri Sakura, pasti akan tahu bagaimana sosok Ajeng di selipan dua buku tersebut. Makanya saya penasaran banget nunggu kisah Ajeng dibuat tersendiri. Kenapa? Karena Ajeng ini saya banget. Mungkin bagi orang lain pilihan menjadi baik seperti Aliyah dan Miyu, yang diam-diam justru punya ‘borok’, saya lebih suka perempuan tipikal Ajeng yang ceplas-ceplos tapi benar adanya alias nggak munafik dalam menghadapi hidup. #TossAmaAjeng

Oya, ada lagi persamaan saya dengan Ajeng. Yaitu dalam menyikapi hidup, terutama soal pernikahan. Mungkin perempuan pada umumnya akan meleleh kalau dapet ungkapan seperti Yazan ini, yang ada justru akan ngeri sendiri kalau ada cowok macam ini yang belum kita kenal tahu-tahu melamar. Saya beberapa kali mengalaminya, sama halnya seperti Ajeng, lansung bakal kabur, wkwkw… x))

“Jangan menyiksaku dengan percakapan seperti ini. Kamu membuatku ketakutan. Kamu selalu terlalu serius. Dan, aku tidak tertarik pada hubungan yang serius. Aku ini kupu-kupu. Terbang dan hinggap di mana pun aku mau. Tidak seperti binatang piaraan patuh yang akan selalu kembali ke rumah majikannya tiap kali dia pergi.”

“Tapi, terlalu banyak kebetulan yang terjadi di antara kita, Aju. Kalau kamu memang bukan jodohku, kenapa Tuhan menjadikan semuanya mudah bagiku? Ingat, kamu di Indonesia sementara aku menjelajah Eropa, lalu ke Mumbai, Korea dan toh akhirnya kita bertemu di sini. Di Taman Benjasiri. Bercakap-cakap berdekatan seperti ini. Bagaimana mungkin ini bukan takdir?”

“Manusia mendapatkan apa yang dia inginkan, manakala dia berencana dan berusaha. Kamu berada di sini karena kamu memang berjuang mengejarku. Tidak ada hubungannanya dengan nasib, takdir, rahasia, rahasia kosmis, peredaran bintang-bintang, atau pergerakan entah apa di luar sana.”

“Bukan mistis. Takdir. Justru karena beragama, aku percaya ada kekuatan Sang Pencipta yang mengatur kehidupan manusia. Tiga kali aku shalat dan meminta petunjuk, dan selalu namamu yang dimunculkan.” (hlm. 108-109)

Mungkin pembaca banyak yang nggak suka ama perempuan tipikal Ajeng, tapi saya suka. Kenapa? Ajeng ini mandiri banget. Meski cantik, tapi dia lebih memanfaatkan otaknya untuk menarik orang lain. Dan karena latar belakang keluarganya yang broken home, dia tidak percaya apa itu pernikahan. Ya, karena seperti yang saya tulis sebagai di endorsement buku ini; karena pada kenyataannya, 50% di kehidupan nyata yang saya temui, pernikahan mereka tidak bahagia, 30% pura-pura bahagia, dan hanya 20% yang benar-benar bahagia. Saya bahkan sempat berpikir, kalau sendiri saja bahagia, kenapa harus berdua yang justru bikin derita?!? X)) #TidakUntukDitiru #DikperukSejagadRaya

img_20161212_121003

Untuk tokoh Yazan, bagi saya karakter ini imajinasi sekali. Terlalu sempurna. Hampir nggak ada celah kekurangannya. Ada sih, menurut saya, dia terlalu posesif terhadap Ajeng. Memang sih maksudnya baik agar Ajeng terlindungi, tapi kan Yazan itu bukan siapa-siapanya Ajeng, ya setuju banget ama sikap Ajeng yang gerah ama perlakukan Yazan x)) #TossLagiAmaAjeng

Justru berharap kisah Ajeng dan Earth lebih tergali dan lebih greget. Karena cowok macam Yazan nggak ada tantangannya banget. Untuk tokoh cowok ciptaan penulisnya, saya belum masih belum bisa move on dari Aidan di Wheels and Heels, belum tergantikan dengan tokoh lainnya x)) #CulikAidan

Karena ini trilogi dari buku sebelumnya, sangat sedikit sekali porsi Aliyah dan Miyu di buku ini, berbeda dengan dua buku sebelumnya dimana tiga tokoh ini saling melengkapi satu sama lain. Di sini, peran Aliyah dan Miyu justru tergantikan oleh rekan kerja Ajeng, Jubjub yang lebih sering muncul.

Ada yang sedikit mengganjal saat percakapan antara Ajeng dan ibunya di halaman 160. Masak ibunya menyebut dirinya ‘aku’ saat berbicara dengan anaknya? Dan juga masalah test pack, secuek-cueknya Ajeng, masak dia lebih pusing mikirin sikap Yazan daripada test pack pertama yang hasilnya gagal dia dapatkan? X))

Konflik antara Ajeng dan ayahnya nggak seperti ekspetasi sebelumnya. Padahal saya berharap saat bagian ini bakal bikin berkaca-kaca. Terlalu datar untuk sebuah klimaks terhadap konflik yang sudah bertahun-tahun terpendam dan membuat luka.

img_20161213_140400

Meski begitu, ada dua kelebihan utama dalam buku ini. Pertama, settingnya. Karena ini merupakan rangkaian seri Around the World with Love batch 3, tentu setting menjadi poin utama. Untuk urusan Bangkok, nggak perlu diragukan lagi kemampuan penulisnya dalam meracik kota ini, karena beliau memang pernah tinggal di sana.

Beberapa selipan pengetahuan tentang Thailand – Bangkok:

  1. Di halaman 14 disebutkan jika nama Thai biasanya dengan julah konsonan lebih banyak daripada huruf vokal, biasanya sulit dilafalkan lidah orang Indonesia.
  2. Ketika Yazan mengajak Ajeng untuk wisata masjid. Salah satunya ada Majid Yawa yang terletak berada di tengah kota Bangkok. Ada di halaman 55.
  3. Di Bangkok juga ada Kampung Jawa, sekilas diulas di halamn 60-63. Mungkin semacam Suriname yang banyak orang jawa tinggal di Belanda.
  4. Ketan mangga. Ajeng dan Yazan mencicipi ini di halaman 70. Wuih, jadi penasaran bagaimana rasanya ketan mangga 😉
  5. Di halaman 73 dijelaskan bahwa tidak boleh memberi makanan pada kawana merpati, kalau tidak bakal mau karena akan disemprit.
  6. Festival Songkran alias main tembak-tembakan air. Kalau mau tahu lebih lengkap budaya Festival Songkran bisa nonton Bangkok Love Story 😉

Kedua, seperti ciri khas seri Around the World with Love sebelumnya, buku ini juga menyelipkan pesan Islami di dalamnya meski terkesan tidak menggurui:

  1. Masalah shalat yang dialami Ajeng, terutama saat jauh dari keluarga, ditambah lagi dia tinggal di lingkungan yang beragam, membuatnya makin malas untuk menjalankan salah satu rukun Islam ini. Berbeda halnya dengan Yazan yang selalu shalat tepat waktu di mana pun berada.
  2. Pengetahuan tentang wanita boleh bekerja. Di halaman 131 disebutkan jika Siti Khadijah seorang pengusaha ternama, hartanya menjadi sumber dana yang luar biasa bagi dakwah Kanjeng Nabi.
  3. Disebutkan di halaman 167 bahwa orang yang tidak bercerai tapi berpisah bertahun-tahun tidak perlu rujuk.

Pesan moral dalam buku ini adalah bahwa keluarga sangat mempengaruhi kepribadian seseorang di masa mendatang. Jangan sampai luka hati saat anak-anak, akan melekat dalam memori seseorang meski sudah memasuki masa fase dewasa. Seperti halnya Ajeng ini. Semoga setelah membaca kisah Ajeng dalam buku ini, bisa mengubah paradigma yang tertanam dalam otak saya selama ini 😉

img_20161209_164032

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. But life must go on. (hlm. 29)
  2. Manusia mendapatkan apa yang diinginkan, manakala dia berencana dan berusaha. (hlm. 108)
  3. Kadang-kadang kebenaran itu memang menyakitkan. (hlm. 147)
  4. Semua orang punya pendapat, dan kami adalah manusia-manusia yang keras kepala. Jadi, tiap hari ada saja pergerakan baru, masalah yang meletus jadi pertikaian, hal-hal yang kecil menjadi besar. Tapi semua bisa diselesaikan dengan saling bicara. Komunikasi. (hlm. 147)
  5. Kadang merasa peduli dan merasa sayang saja tidak cukup. (hlm. 146)
  6. Apakah kita punya hak untuk menghakimi Zat yang sudah menciptakan kita? (hlm. 203)
  7. Kalau aku saja, yang manusia biasa, bisa memaafkan masa lalu dan menganggapnya tidak ada, apalagi Tuhan? Bila aku yang punya keterbatasan perasaan, bisa menyayangimu sedalam ini, apalagi Dia? (hlm. 203)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Sungguh aneh bagaimana ingatan manusia bekerja. (hlm. 21)
  2. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa begitu saja menerima kembali orang yang pernah meninggalkannya? (hlm. 21)
  3. Sudahlah, tidak perlu repot-repot membela diri. (hlm. 33)
  4. Ternyata bolos kerja itu enak juga. (hlm. 42)
  5. Dan mestinya para pria sekarang sadar, wanita cantik tidak selalu berotak kosong. (hlm. 42)
  6. Percaya tidak percaya, di depan wanita, otak kaum pria lebih sering pindah ke dalam celana. (hlm. 43)
  7. Blos kantor ternyata sangat bermanfaat untuk mengembalikan tenaga dan mood. (hlm. 46)
  8. Jangan lama-lama nunggunya, nanti malah mancing dosa. (hlm. 68)
  9. Berdandanlah bila kamu hendak ke bandara. Mana tahu akan bertemu pria mapan, bukan buron, dan pastinya memiliki paspor. (hlm. 69)
  10. Orang bilang, wanita itu seperti monyet. Tidak akan melepaskan satu dahan sebelum dia menemukan pegangan pada dahan yang lain. Tidak akan melepaskan pria yang dia punya, sebelum dia bertemu pria lain. (hlm. 123)
  11. Itu bukan hak kita untuk menghakimi. Bila Allah saja bisa menerima taubat dari dosa-dosa besar, apakah manusia ciptaan-Nya punya pilihan untuk angkuh? (hlm. 148)
  12. Apa itu cinta? Cinta itu cuma cara manusia untuk menyimbolkan nafsunya dengan sesuatu yang terlihat lebih indah. (hlm. 150)
  13. Tidak perlu menyalahkan diri atau apa pun istilahnya. (hlm. 160)
  14. Jangan gonta-ganti terus. Pacar kok kayak baju. Tiap hari ganti. (hlm. 171)
  15. Berbohong itu dosa, dan mengkhianati persahabatan. Dan jahat. (hlm. 197)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Love in City of Angels

Penulis                                 : Irene Dyah

Editor                                    : Donna Widjajanto

Foto isi                                  : Budi Nur Mukmin

Desain isi                             : Nur Wulan

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 210 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-3491-2

img_20161209_110037

Advertisements

One thought on “REVIEW Love in City of Angels

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s