REVIEW Love Overdue

img_20161217_123631

Ada dalam hidup yang tidak bisa kita kendalikan. Kau bisa terus bicara tentang masa lalu selamanya, tapi itu tidak akan pernah berubah. Itu sudah terjadi. Sudah berlalu. Kita harus terus berjalan. (hlm. 381)

DOROTHY JARROW, biasa dipanggil D.J. oleh teman-temannya, sudah menantikan kesempatannya ini sejak lulus sekolah. Enam tahun adalah waktu yang singkat, begitulah orang-orang meyakinkannya. Di era dengan anggaran yang ketat dan menurunnya komitmen masyarakat, enam tahun adalah waktu yang sangat singkat bagi seorang administrator perpustakaan umum untuk menemukan tempat yang harus dikelola. Bagi kebanyakan rekan kerjanya, sekadar mempertahankan pekerjaan saja sudah cukup menantang. Tapi secara misterius dan tidak terduga, D.J. sudah dicomot dari pekerjaannya yang meragukan sebagai asisten bagian penagihan dan ditawari posisi untuk mengepalai sebuah sistem perpustakaan kecil yang sedang berkembang di Verdant, Kansas. Kejadian ini bagaikan skenario perjalanan angin topan menuju Tanah Oz, yang tidak masuk akal.

SCOTT. Sejak kecil, kedua orangtuanya sudah menuntutnya untuk membantu pekerjaan di kebun milik keluarga. Dan seperti semua remaja pedesaan, dia sudah merasakan pekerjaan pertanian yang melelahkan. Tapi dia tidak benar-benar mempertimbangkan tanaman atau perkebunan sebagai sebuah hobi yang ingin dia jalankan. Tapi sejak Scott pindah ke tempat ini, sudah begitu kuat dalam dirinya hingga dia tidak mampu menolak. Tahun pertama dia berpikir untuk menanam satu setengah lusin tanaman tomat. Semua orang tahu bahwa tomat yang berasal dari kebun milik sendiri jauh lebih baik ketimbang yang dibeli di swalayan. Tapi kenapa harus bersusah payaj menanam tomat tanpa ketimun dan lobak? Labu dan ubi manis bisa dibilang tumbuh sendiri. Brokoli, bawang, jagung manis, setiap musim, kebunnya memperluas batasan dari keragamannya. Tahun ini dia bahkan sudah merencanakan ruang untuk lobak dan okra, dua jenis sayuran yang tidak akan pernah dimakannya dengan sukarela.

BACA: LABEL PUSTAKAWAN

Langsung ngidam baca buku ini begitu tahu tokoh utamanya pustakawan. Sinyal langsung kuat kalo ada aroma perpustakaan!! X)) Dan benar, buku ini kental banget nuansa perpustakaannya. Nggak hanya dari sisi cerita, tapi banyaknya selipan pengetahuan tentang mengelola perpustakaan. Uniknya, di tiap BAB selain adanya judul, juga ada penomoran klasifikasi buku dengan format DDC seperti ini. Nggak hanya itu, anjing kesayangan D.J. juga diberi nama Dewey yang merupakan pencipta Dewey Decimal Classification, klasifikasi penomoran buku x))

img_20161217_125007

Meski begitu, kita nggak akan bosan disuguhi aroma perpustakaan melulu, karena ada sisi lain yang dibahas di buku ini. Permasalahan semua tokoh yang muncul di buku ini, nggak hanya berpusat pada tokoh utamanya saja. Bahkan bisa dikatakan bahwa buku ini masuk genre romance. Oya, peringatan bahwa buku ini cocok dibaca untuk 17 tahun ke atas, karena lumayan banyak adegan kipas x))

Suka dengan isi ceritanya, terlihat sekali bahwa penulisnya memahami dunia perpustakaan. Setting perpustakaan nggak sekedar menjadi setting tempelan semata, tapi penulis mampu memahami segala permasalahan yang dihadapi jika bekerja di perpustakaan. Endingnya juga suka. Dan beberapa rahasia di seperempat akhir buku, cukup mengejutkan. Pesan dari buku ini adalah bahwa cinta itu universal. Cinta tidak bisa dipaksa. Dan cinta adalah urusan hati 😉

BACA: 13 Hal Unik Perpustakaan SMA Negeri 2 Metro

“Aku ingin melihat perpustakaaannya.”

“Tidak sebelum kau melihat tempat tinggalmu dan berisirahat. Percayalah padaku, akan tiba waktunya bagimu untuk bisa betah di tempat kuno yang suram dan menyedihkan ini. Aku yakin itu.” (hlm. 8)

“Kalau kita ingin memberikan kehidupan baru pada perpustakaan, kita harus menjangkau orang-orang yang selama ini belum terbiasa menganggap kita sebagai sumber dari hal-hal yang mereka butuhkan.” (hlm. 116)

Karena tokoh utamanya berprofesi sebagai kepala perpustakaan, sangat bisa dipastikan jika buku kental akan aroma perpustakaan:

  1. Di halaman 20 tentang peralihan pembaca kini lebih menyukai membaca buku digital dibandingkan untung datang ke perpustakaan.
  2. Di halaman 20 juga perpustakaan sering dianggap kuburan karena sepinya pemustaka yang datang untuk sekedar berkunjung, apalagi meminjam buku.
  3. Adanya program Books-By-Mail di halaman 57. Bagi mereka yang karena faktor usia, keterbatasan fiisik atau jarak, tidak bisa pergi ke perpustakaan utama atau salah satu perpustakaan keliling, sebuah layanan pesan-antar yang memanfaatkan kantor pos merupakan sebuah gagasan yang sangat bagus.
  4. Di halaman 60 dijelaskan bahwa fungsi perpustakaan bukan hanya untuk meminjam buku semata, tapi ada film, musik dan juga permainan.
  5. Di halaman 61 soal pendanaan yang merupakan sebuah masalah klasik bagi perpustakaan milik pemerintah.
  6. Di halaman 63 tentang adanya perdebatan antar pustakawan. Setuju sekali ama sikap D.J. bhwa seorang pelayan publik tidak boleh membeda-bedakan orang.
  7. Di halaman 88 tentang perpustakaan keliling. Banyak perpustakaan sudah menghentikan perpustakaan keliling. Tapi untuk beberapa wilayah, tidak ada yang lebih cocok selain perpustakaan keliling.
  8. Di halaman 90 tentang Sindrom Aspeger. Banyak orang dengan sindrom ini memilih Ilmu Perpustakaan. Orang-orang dengan tingkat fungsional yang tinggi pada spektrum autisme. Sebuah cara yang berbeda untuk berhubungan dengan dunia ini, yang bisa membuat seseorang sangta pandai melakukan beberapa hal yang beberapa dari kita tidak mampu melakukannya.
  9. Di halaman 92 tentang pengampunan denda di perpustakaan. Buku-buku yang terlambat dikembalikan selama bertahun-tahun dipertemukan lagi dengan teman-teman mereka sesama penghuni rak.
  10. Di halaman 95 tentang shelving buku ke rak. Mungkin ini pekerjaan yang terlihat sepele bagi kebanyakan orang, tapi sesungguhnya ini adalah pekerjaan pustakawan yang paling melelahkan. Berasa barbelan buku tiap hari x))
  11. Di halaman 269 tentang interior perpustakaan. Pencahayaan menjadi kunci utama untuk penerangan sebuah perpustakaan. Pengaturan rak-rak buku sangat mempengaruhi pencahayaan yang masuk. Semakin suram sebuah perpustakaan, akan semakin enggan pemustaka untuk berkunjung ke perpustakaan.
  12. Di halaman 283 tentang penomoran buku. Ini juga terlihat sepele, padahal sebuah buku dengan penomoran yang pas akan mempermudah dalam pencariannya di sebuah rak.
  13. Di halaman 396 tentang renovasi perpustakaan. Yang paling menyebalkan tentang keseluruhan pemutaran posisi tegak lurus di perpustakaan adalah hal itu tidak bisa dilakukan sedikit demi sedikit. Karena susunan penempatan rak yang baru akan diletakkan pada tempat yang sama dengan susunan yang sama, semua buku harus dipindahkan dan semua deretan rak harus dibongkar. Sesudah lantai benar-benar kosong, barulah kita bisa menyusun ulang.

“Menemukan buku-buku yang kita miliki dengan cepat dan efisien adalah pekerjaan dasar seorang pustakawan. Dan lokasi penempatan buku tidak didasarkan pada buku-buku itu sendiri, melainkan pada hubungan mereka dengan buku-buku di sekeliling mereka. Saat sebuah buku diambil dari rak, satu-satunya cara kita tahu ke mana harus mengembalikannya, adalah buku-buku yang ada di sekitarnya.”

“Tidak nomor dan huruf pada bagian belakang buku bisa memberitahumu soal itu.”

“Memang bisa membantu kita. Itu menjelaskan hubungan dari satu buku dengan buku lainnya. Tapi kalau semua buku mau tidak mau harus berada dalam sebuah tumpukan, tidak ada apa pun yang bisa memberi tahu kita buku mana yang harus dikembalikan ke rak yang mana. Butuh waktu berbulan-bulan untuk mencoba-coba dengan kemungkinan terjadinya kesalahan dan pemindahan yang tiada akhir untuk menempatkan semuanya hingga berada dalam keadaan teratur lagi.” (hlm. 283)

img_20161217_124938img_20161217_141454BACA: Kegiatan Promosi Perpustakaan Melalui Media Sosial

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kebijaksanaan dan sikap tutup mulut bisa menjadi pilihan gaya hidup yang menenangkan. (hlm. 3)
  2. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa orang lain. (hlm. 102)
  3. Manusia membutuhkan sesamanya, tapi mereka juga membutuhkan tanaman. (hlm. 102)
  4. Tidak ada yang namanya kebahagiaan abadi. Kalau dua manusia berusaha untuk selalu bahagia, kemungkinan itulah definisi dari sebuah pernikahan yang bahagia. (hlm. 105)
  5. Dan tidak ada kehidupan seorang pun yang menjadi lebih baik karenanya. (hlm. 159)
  6. Lakukan apa yang akan kau lakukan. (hlm. 212)
  7. Dukacita dan rasa kehilangan pasti harus dialami. Itu hal yang tak terhindarkan. Tapi itu tidak berarti kalau sebuah selingan tidak diperbolehkan. (hlm. 249)
  8. Kadang memang butuh perbandingan untuk membuat kita menyadari apa yang sudah kita miliki. (hlm. 251)
  9. Ada banyak kehilangan dalam hidup yang tidak bisa begitu saja membuatmu ‘berubah’. (hlm. 326)
  10. Beberapa situasi benar-benar tidak memiliki sisi ‘terbaik’ untuk diusahakan. (hlm. 341)
  11. Kadang perjalanan singkat adalah yang terbaik. (hlm. 353)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Menjadi orang baru dalam pekerjaan seperti menjadi anak baru di sekolah. (hlm. 7)
  2. Bebaskan diri sejenak dari siapa dirimu. (hlm. 22)
  3. Seorang wanita jelas membutuhkan ruang dan waktu untuk dirinya sendiri. (hlm. 31)
  4. Tidak semua orang yang tumbuh besar di sebuah kota kecil mau tinggal di sana untuk selamanya. (hlm. 32)
  5. Sesudah satu kali melakukan kesalahan, kedua kalinya harus lebih berhati-hati. (hlm. 49)
  6. Kenapa seorang wanita yang cerdas harus berpura-pura bodoh? (hlm. 51)
  7. Ketika orang-orang melihat bahwa kau memahami apa yang kau lakukan, mereka tidak akan ragu untuk menerka-nerka atau memberikan kecaman. (hlm. 51)
  8. Konyol sekali menilai orang berdasarkan siapa yang mereka ajak bicara. (hlm. 64)
  9. Kau tampak cukup cantik, jadi tidak perlu membakar rambutmu untuk menarik perhatian. (hlm. 69)
  10. Tidak perlu menyeret anak-anak dalam pasang surut yang normal dari kehidupan pernikahan. (hlm. 105)
  11. Anak-anak sering menjadi korban tidak berdosa dari penilaian buruk orangtua. (hlm. 121)
  12. Orang-orang yang sudah menikah tidak berkencan. (hlm. 150)
  13. Jangan berpikir seperti seorang pencuri. (hlm. 205)
  14. Bagi sebagian orang, ketika mereka merasa tertekan, mereka menghabiskan uang dan hal ini membuat mereka merasa lebih baik untuk sementara. (hlm. 218)
  15. Orang-orang aneh juga perlu makan. (hlm. 235)
  16. Hidup terlalu singkat untuk bersikap ragu saat berusaha meraih kebahagiaan. (hlm. 261)
  17. Cinta memang membuat kita semua menjadi bodoh. (hlm. 307)
  18. Saat masih muda, kadang kita melakukan semua kesalahan. Tapi hal ini tidak berarti kita tidak pantas mendapatkan kebahagiaan pada akhirnya. (hlm. 413)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Love Overdue

Penulis                                 : Pamela Morsi

Alih bahasa                         : Prima Sari Woro Dewanti

Penerbit                              : PT Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 437 hlm.

ISBN                                      : 978-602-02-9210-6

Advertisements

4 thoughts on “REVIEW Love Overdue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s