REVIEW Holy Mother

holy-mother

Seorang ibu sampai kapan pun akan mendukung anaknya. (hlm. 217)

HONAMI. Dia ingin melindungi anaknya dari tangan pria busuk itu. Anaknya yang berharga dan dia cintai. Anak satu-satunya yang dia miliki setelah Tuhan memberikan banyak cobaan. Sekarang dia berumur 46 tahun. Kaoru yang berumur 3 tahun itu lahir saat dia berumur 43 tahun. Sejak muda, menstruasi Honami tidak teratur. Menstruasi pertamanya adalah saat dia berumur sebelas tahun. Kali berikut dia melihat darahnya adalah satu tahun kemudian. Kali berikutnya malah dua tahun kemudian. Begitulah yang dia alami. Dia sama sekali tidak mengira bahwa itu adalah hal yang serius.

Untuk kisah Honami, penulis menyelipkan pengetahuan seputaran sindrom ovarium polikistik. Apa itu? Sindrom yang ditandai dengan kelebihan hormon androgen pada wanita, menyebabkan ovulasi tidak teratur sehingga berpeluang mengalami kesulita untuk hamil. Ini pembelajaran khususnya bagi perempuan, jika merasa menstruasi tidak teratur telat lebih dari sebulan dua bulan harus waspada. Alarm bahwa di dalam tubuhnya ada yang tidak beres. Harus segera ditangani dan jangan diabaikan. Dalam kehidupan nyata, saya beberapa kali melihat perempuan seperti ini. Rata-rata telat pertolongan karena baru mau diperiksa setelah menikah. Padahal jika ditolong sedini mungkin, akan semakin cepat reaksi yang didapat.

Berkaca dari kasus Honami yang merupakan representasi perempuan yang mengidam sindrom ovarium polikistik ini. Memiliki anak ketika usia tak lagi muda, banyak cara yang harus ditempuh demi mendapatkan seorang anak, bahkan tabungannya pun terkuras. Maka, saat ia memiliki Kaoru merupakan anugerah dari Tuhan yang tak ternilai dibandingkan dengan apa pun.

Honami yang sangat melindungi anaknya, sementara di luar sana ada penjahat yang berkeliaran memburu anak-anak. Seorang anak menghilang di sore hari. Dia ikut ibunya berbelanja di supermarket, dan saat beberapa detik ibunya tidak mengawasi karena sedang membayar belanjaan di kasur, anak itu menghilang. Hingga dia ditemukan tak bernyawa. Tidak ada satu pun yang menempel di tubuh jenazah yang bisa dijadikan petunjuk, baik itu rambut maupun serat pakaian. Selain itu, ludah, sperma, dan keringat sudah di lap habis menggunakan pemutih. Kardus yang digunakan sebagai alas juga tampaknya benda yang diambil di sekitaran situ. Senyawa pada lumpur yang menyesap di dalam kardus cocok dengan tanah di sekitar sungai.

“Anda mungkin menganggap saya sebagai ibu yang terlalu sensitif. Tapi, seorang anak benar-benar berharga. Sebelum dia lahir, kami benar-benar satu tubuh. Meskipun sesudah lahir kami berpisah menjadi dua tubuh, saya merasa bahwa kami terhubung lewat pusar kami. Meskipun kami berjauhan, rasanya anak itu ada di sisi saya. Antena saya selalu mengarah kepada anak saya. Ibu itu sosok yang hebat. Karena itu, menurut saya perasaan seorang ibu tidak bisa dianggap remeh.”

“Saya mengerti. Memang saya tidak memiliki anak. Tapi, saya dibesarkan oleh ibu saya dengan penuh perhatian. Saya rasa, cinta seorang ibu tidak egois, dan tidak mengharapkan imbalan. Sedikit berbeda dengan cinta seorang ayah.” (hlm. 139)

MAKOTO. Sudah satu setengah tahun dia bekerja di Suns Mart. Kerja sambilan di tempat ini adalah yang paling lama dia lakukan setelah menjadi anak SMA. Baginya, menyenangkan bekerja di supermarket. Meskipun para pelanggan tidak menghafak wajahnya, Makoto menghafal setiap wajah pelanggan. Wajah yang selalu dia lihat setiap sore, wajah yang hanya muncul di akhir pekan. Nasi kotak yang sering dibeli, minuman yang kadang dibeli, juga majalah yang sering dibeli. Hal-hal tersebut penting untuk analisis kegemaran pelanggan.

Di sekolahnya, kemampuannya lumayan di atas teman-temannya. Salah satunya saat praktikum tentang DNA di BAB 9, ini membuat saya tercengang karena baru tahu pengetahuan ini. Meski dia lumayan pintar, tapi masih belum tahu apa universitas yang akan dia tuju setelah lulus sekolah nanti. Dia juga cantik, sayang tiap ada lawan jenis yang mendekatinya langsung dia tolak mentah-mentah.

“Tidak ada seorang pun yang melihat sesuatu ataupun mendengar sesuatu. Apa hal ini mungkin?” (hlm. 73)

Meski buku baru, buku ini lumayan hits diperbincangkan. Ini adalah novel kedua dari Akiyoshi Rikako yang juga mengangkat genre thriller. Ngeri-ngeri sedap. Ngilu-ngilu bikin penasaran. Buku Akiyoshi Rikako sebelumnya yang saya baca adalah Girls in the Dark.

Sebenarnya baru beberapa BAB sudah bisa ditebak siapakah pembunuh yang melenyapkan nyawa-nyawa anak kecil dalam buku, tapi menariknya adalah penulis memberikan kejutan di BAB akhir. Iya, kita sempat terkecoh dengan kehidupan para tokohnya. Pokoknya BAB terakhir bikin melongo 😀

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Pikirkan dengan lebih fleksibel. (hlm. 242)
  2. Tidak ada yang perlu kau risaukan. (hlm. 276)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Anak-anak tidak buruk juga, kok. (hlm. 41)
  2. Jangan-jangan kau marah ya? (hlm. 59)
  3. Dicemburui pun juga membuat repot. (hlm. 59)
  4. Orang tidak akan terlalu berprasangka buruk kalau yang menanyai mereka seorang wanita. (hlm. 68)
  5. Kalau perut lapar tidak bisa apa-apa. (hlm. 73)
  6. Jangan melaporkan macam-macam tentang keadaan keluarga orang lain. (hlm. 107)
  7. Jangan terlalu memaksakan diri. (hlm. 215)
  8. Kasihan, cantiknya jadi berkurang. (hlm. 222)
  9. Detektif kan dianggap menyusahkan. (hlm. 252)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Holy Mother

Penulis                                 : Akiyoshi Rikako

Penerjemah                       : Andry Setiawan

Penyunting                         : Arumdyah Tyasayu

Proofreader                       : Titish A.K.

Design cover                      : Pola

Penerbit                              : Haru

Terbit                                    : Agustus 2016

Tebal                                     : 284 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7742-96-3

Advertisements

One thought on “REVIEW Holy Mother

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2016 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s