REVIEW SuperDidi

picsart_22_06_2016-11_20_22

Mungkin ada benarnya kalau orang dewasa lebih banyak mempunyai masalah daripada anak-anak. (hlm. 39)

ARKA sudah tak merasakan betapa pegal punggungnya dan betapa berat kedua matanya melawan kantuk. Besarnya tanggung jawab dan keikhlasannya sebagai orangtua mampu mengalahkan semua hal yang membebani fisik. Mulai dari membangunkan Anjani dan Velia dari tidur, menyuruh mandi, berpakaian, sarapan, menyiapkan bekal, dan mengantar mereka ke sekolah, semuanya Arka lakukan tepat waktu.

DIDI adalah nama panggilan yang diberikan Anjani dan Velia untuk Arka. Sebutan papa, ayah, bapak, papi, bahkan daddy, sudah dipakai oleh anak-anak lain di dunia ini. Anjani dan Velia menyebut Arka, sebagai panggila kesayangan. Seperti halnya, Wina yang melahirkan mereka juga dipanggil dengan sebutan unik, yaitu Muti.

Wina, Muti kesayangan Anjani dan Velia, terpaksa pergi ke Hongkong. Bukan urusan pekerjaan, tapi masalah persahabatan. Meisya, sahabat kentalnya di kala susah dan senang butuh bala bantuannya. Pengantin baru itu yang harusnya lagi bahagia-bahagianya, malah suasananya sedang keruh. Dari awal, saya nggak simpati ama sikap Meisya yang terlalu kekanak-kanakan dan bisa dikatakan terlalu drama quuen. Masih mending kalo jarak rumah Wina – Meisya itu ibarat Bekasi – Depok, lha ini Indonesia – Hongkong, trus masalahnya hanya karena Meisya merasa kesepian dan bosan hidup di Hongkong. Harusnya sebelum menikah dengan Kei, dia sudah siap dengan konsekuensi itu. Lagipula Kei ini kan sibuk kerja juga demi menafkahi kehidupan mereka. Dia nggak selingkuh, atau sibuk nggak jelas, tapi memang kerja, kerja dan kerja. Tapi, di kehidupan nyata kita memang sering menemukan perempuan macam Meisya ini.

Zaman sekarang tak ada itu mengotak-ngotakkan kerjaan cowok atau kerjaan cewek. (hlm. 93)

wp_20160627_021

Imbasnya, Arka sebagai Didi, juga berperan sebagai Muti bagi Anjani dan Velia. Semua dia kerjakan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan sampai urusan pekerjaan jadi terbelengkalai karena semua waktunya tersedot untuk mengurus kedua buah hatinya yang unyu.

Ada beberapa hal yang dilakukan Arka sebagai Didi yang antara kasihan tapi juga bikin mesam-mesm pas bacanya selama ditinggal Wina. Misalnya saat anaknya minta dikepang ala Queen Elsa di film Frozen yang memang ngehits banget di kalangan anak-anak perempuan. Jalan pintasnya, Arka mencari tutorial kepang ala-ala Queen Elsa di youtube x))

Belum lagi hebohnya grup BBM para wali murid yang isinya didominasi ibu-ibu rempong. Dan kerempongan Arka nggak hanya berakhir via bbm, tapi juga musti mengantarkan ibu-ibu tersebut belanja untuk keperluan acara sekolah x)) #PukPukArka

Selain berteman dengan ibu-ibu rempong di sekolah, di tempat les Anjani dan Velia, Arka menemukan grup lagi, yaitu PEMBAJAK. Perhimpunan Bapak-bapak Jaga anaK yang terdiri dari Kaka, Togar dan Arie x))

Sebagai orangtua kan seharusnya memberi perlindungan dan memberi kepercayaan buat mereka. (hlm. 79)

wp_20160701_019

Buku yang diadaptasi novel ini berawal dari pengalaman Reymund Levy yang merupakan pendiri Muti Didi Film (produser Film SuperDidi), yang juga ayah dari Anjanique Renney Levy dan Aveila Reyna Levy, pemeran Anjani dan Velia di versi filmnya.

Berawal ketika Rey ditinggal istrinya (Wina) selama 18 hari traveling bersama teman-temannya ke Eropa. Rey yang dekat dengan kedua putrinya menyanggupi untuk mengurus mereka selama ditinggal ibunya.

Rey baru menyadari bahwa mengurus anak bukanlah tugas ibu semata. Selama ini waktu yang dihabiskan ayah bersama si kecil lebih ke urusan senang-senang saja seperti bermain, jalan-jalan, membacakan dongeng sebelum tidur dan lainnya. Di luar itu ada banyak kegiatan yang butuh perhatian penuh baik dari ayah maupun ibu.

Lewat cerita Arka dan kedua anak-anaknya di SuperDidi ini, kita bisa mendapat pesan moral bahwa pekerjaan ibu yang terlihat sepele ternyata menguras tenaga, waktu dan pikiran :’)

wp_20160627_007

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Menjadi laki-laki harus terang-terangan menunjukkan rasa cinta kepada orang yang disayanginya. (hlm. 19)
  2. Namanya juga usaha untuk mendekatkan diri dengan tambatan hati. (hlm. 23)
  3. Daripada menyesal seumur hidup kehilangan sahabat, lebih baik turuti saja keinginannya. (hlm. 39)
  4. Ngomong atau berpikiran negatif nggak akan menyelesaikan masalah. (hlm. 51)
  5. Rupanya kalau sedang dirundung masalah, makanan seenak apa pun terasa hambar. (hlm. 51)
  6. Orang dewasa yang banyak masalah terkadang tak dapat mengendalikan perasaannya. (hlm. 97)
  7. Apa benar orang dewasa banyak masalah? (hlm. 109)
  8. Kalau tiap hari reuni, namanya bukan reuni. (hlm. 118)
  9. Anak kecil itu kan sama saja seperti orang dewasa. Kalau sedang memikirkan sesuatu, terkadang dia lupa makan. (hlm. 181)
  10. Lebih payah mana, nggak bisa curhat kerjaan ada bos di Path kita, atau nggak bisa ungkap apa yang dirasain di hati karena si target hati ada di Path lo? (hlm. 194)

Keterangan Buku:

Judul                                     : SuperDidi

Penulis                                 : Silvarani

Desain cover                      : Muti Didi Film

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : September, 2016

Tebal                                     : 251 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2690-0

wp_20160627_009

 

 

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW SuperDidi

  1. Ceritanya pasti seru ya bapak muda ngurus dua anak perempuan. Pasti banyak hal konyol dan banyak hal yang kemudian diketahuinya. berperan sebagai ibu bukan urusan mudah. Harusnya, buku ini sasarannya bapak-bapak muda nih 🙂

    1. Kisah Didi dan dua anaknya diambil dari kisah nyata sutradara atau produsernya gitu, aku agak lupa. Dan sekarang lagi proses Super Didi 2 loh, semoga nanti diadaptas ke buku ditulis Mbak Silvarani juga 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s