REVIEW Above the Stars

above-the-star

“Manusia itu diibaratkan sebuah pohon. Kita tumbuh tinggi, begitu juga dengan pohon. Kita membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, begitu juga pohon membutuhkan daun-daun untuk bertahan hidup.” (hlm. 33)

WILLIAM ANDERSON. Baginya, hidup semata-mata untuk dinikmati. Ia akan dengan senang hati menyarankan kepada siapa pun, lakukan apa yang ingin kau lakukan dan jangan lewatkan setiap kesempatan. Karena bisa saja kau mati dua atau tiga detik kemudian. Atau besok, jika dua atau tiga detik itu terlalu cepat. Intinya, kau bisa mati kapan saja dan setelah itu kau baru tahu bahwa konsep reinkarnasi atau hidup sesudah mati itu bisa jadi hanya omong kosong belaka. Dan pada akhirnya, kau akan gentayangan sebagai arwah tak punya kerjaan yang menyesal setengah mati karena tidak sempat melakukan apa yang benar-benar ingin kau lakukan selagi masih hidup. Kalau sudah begitu, menangis dan memohon sambil meraung-raung pun tak ada gunanya. Pokoknya, nikmati saja hidupmu. Begitulah prinsip seorang William Anderson.

Sayangnya, cara Will menikmati hidupnya seringkali disalahpahami oleh orang lain. Oleh sekolahnya yang dulu, misalnya. Bagi Warren High School, Will itu tidak lebih dari sekedar siswa yang berprestasi gemilang dalam menciptakan segudang masalah. Will hampir yakin diam-diam para guru pernah melaksanakan rapat khusus hanya untuk memutuskan apakah sebaiknya ia diberi penghargaan sebagai murid paling bermasalah tahun ini. Will juga yakin jika ayahnya tidak mendapat promosi jabatan yang mengharuskan mereka pindah ke Magnolia di Seatlle Barat, yang otomatis juga mengharuskannya pindah sekolah, Will pasti sudah ditendang keluar dari Warren High School dengan status siswa buangan alih-alih siswa pindahan.

“Berusalah untuk tidak membuat masalah, setidaknya di hari pertamamu. Waktuku bukan cuma untuk memenuhi panggilan gurumu dan mendengar sepak terjangmu di sekolah.” (hlm. 6)

DANNY JAMESON. Baginya, bagian terburuk menjadi orang yang tidak bisa melihat adalah dianggap tidak bisa melakukan apa pun sendirian. Kornea matanya rusak sejak dia lahir. Dia bisa menjelajahi rumahnya sendirian. Dia bisa pergi ke sekolah, lalu pulang ke rumah sendirian, dia bisa pergi ke rumah Mia sendirian. Dia mengandalkan ingatannya untuk memperkirakan posisinya dan posisi benda-benda di sekitarnya. Dia juga mengandalkan tongkatnya agar tidak menabrak, misalnya lamou jalan, sewaktu berjalan. Tapi, untuk bepergian ke tempat-tempat yang tidak terlalu dia kenal, dia membutuhkan orang lain untuk menemaninya. Mia sering menemaninya, atau orangtuanya yang selalu siap sedia untuknya. Danny benci itu, karena dia harus menerima uluran tangan orang lain untuk membantunya.

“Kenapa harus berbeda? Kenapa kalian tidak memperlakukanku sama seperti orang lain memperlakukan anak-anak mereka?” (hlm. 149)

“Kalian mau tahu apa yang aku pikirkan? Aku benci semua ini! Aku benci menjadi buta. Aku benci terus-menerus diberi tahu mana yang bisa dan tidak bisa aku lakukan karena aku buta. Aku benci dicemaskan sepanjang waktu karena aku buta!” (hlm. 149)

Sebelum ada Will, kemana-mana Danny bersama Mia. Tapi kehidupan Danny berubah setelah Will pindah ke sekolah mereka. Danny menjadi akrab dengan Will yang katanya suka bikin ulah itu. Bahkan, Mia pun tidak menyukai Will. Begitu juga dengan orangtua Danny, mereka khawatir hal-hal yang dilakukan Will akan berpengaruh buruk bagi Danny.

“Hanya karena Danny mau berjalan bersamamu, bukan berarti aku juga.” (hlm. 17)

Dari sinopsisnya, bisa ditebak jika buku ini bertema LGBT. Ini bukanlah buku bertema LGBT pertama yang saya baca. Untuk buku terjemahan, ada Wil Grayson, wil grayson yang ditulis oleh John Green. Dan untuk buku lokal, saya pernah membaca Will of Song yang ditulis oleh Jason Abdul. Btw, ini kenapa nama tokohnya juga Will yaa… x))

Oke, saya nggak akan membahas LGBT lebih lanjut. Karena yang saya tangkap dari buku ini lebih ke persahabatan dan kekeluargaan. Persahabatan antara Danny dan Will seperti yang dikhawatirkan orangtuanya, justru setelah Danny berteman dengan Will, Danny bisa merasakan sensasi menjadi normal pada umumnya yang tidak terlalu bergantung pada orang lain dan bisa melakukan apa yang dia inginkan. Oya, Danny punya beberapa keinginan dalam hidupnya, dan Will berusaha untuk membantu mewujudkan impian-impian Danny itu.

Dari sisi Will, kita bisa merasakan apa yang dialaminya. Karena beberapa tahun bekerja di sekolah, bisa menebak tipikal murid seperti Will ini harusnya bukan dihindari, tapi dirangkul. Anak yang kesannya selalu bikin masalah, kemungkinan besar memiliki masalah keluarga. Seperti halnya Will. Sepeninggal mamanya, sebenarnya hidupnya terguncang. Ditambah lagi papanya yang juga terguncang akan kepergian istrinya itu, sangat berpengaruh besar membentuk kepribadian Will saat beranjak remaja. Ya, remaja tipikal Will ini pada umumnya hanya ingin diperhatikan. Sesederhana itu. Jadi buat para orangtua, materi memang dibutuhkan, tapi kasih sayang justru segalanya :’)

Begitu juga Danny. Selama ini orangtuanya sangat memperhatikannya tapi justru membuatnya merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Almarhumah mama saya pernah bilang, perlakukan orang sakit seperti manusia biasa. Karena mereka akan sakit jika dianggap tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi, jika memiliki teman atau keluarga dengan segala keterbatasannya, tidak perlu mengasihani secara berlebihan, karena itu bikin risih mereka. Perlakukan mereka seperti manusia biasa, karena itu akan menjadi pompa semangat mereka dalam menghadapi kenyataan hidup! 😉

Hal yang agak mengganjal adalah lingkungan sekolah di buku ini yang seharusnya rasa luar (karena bukan diceritakan di Indonesia) tapi justru malah rasa lokal. Karena saya pernah bekerja di sekolah berlabel internasional, dan kini bekerja di sekolah negeri, tentu terasa sekali perbedaannya,

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Nikmati saja hidupmu. (hlm. 5)
  2. Belajarlah untuk menghargai dirimu sendiri. (hlm. 36)
  3. Semoga kita punya pemikiran yang sama tentang apa yang bisa disebut luar biasa. (hlm. 122)
  4. Jangan ragu untuk mencoba lagi. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah awal yang baik. (hlm. 211)
  5. Hiduplah dengan bahagia. Pohon kehidupanmu tidak boleh mati hanya karena kehilangan sehelai daun. (hlm. 247)
  6. Lakukan yang ingin kau lakukan, gunakan setiap kesempatan, dan bahagialah. (hlm. 247)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan basa-basi membosankan yang tidak kau sukai. (hlm. 5)
  2. Memangnya berteman butuh alasan? (hlm. 20)
  3. Untuk ukuran laki-laki yang katanya berandal, ternyata kau ini cuma banyak gaya. (hlm. 23)
  4. Sesekali cobalah untuk tidak bersikap sinis kepadaku. (hlm. 26)
  5. Kau tidak perlu malu hanya karena meminta sedikit bantuan. (hlm. 31)
  6. Membolos satu hari tidak serta membuat kami jadi dungu, kan? (hlm. 8

Keterangan Buku:

Judul                                     : Above the Stars

Penulis                                 : D. Wijaya

Penyunting                         : Anida Nurrahmi

Perancang sampul           : Deborah Amadis Mawa

Penata letak                       : Deborah Amadis Mawa

Penerbit                              : Ice Cube

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-979-91-0884-5

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW Above the Stars

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2016 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: REVIEW Unrequited Love | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s