REVIEW Fortunata

fortunata

“Cobalah memahami orang-orang disekitarmu, setelah itu barulah kamu menuntut mereka untuk memahamimu. Betapa pun kamu kecewa pada mereka, berusahalah untuk melihatnya dari sudut pandang mereka.” (hlm. 152)

LAYLA TUL BADARIA. Berumur dua puluh tahun. Saat ini dia bekerja di salah satu restoran cepat saji. Tinggal sendiri di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tepat lima ratus meter dari belakang rumah sakit besar. Layla tinggal sendiri di rumah itu. Dua tahun lalu, tepat saat dia lulus SMA, kakaknya mengacaukan keadaan ekonomi keluarga mereka. Uang persiapan untuk Layla kuliah, terpaksa orangtuanya alih lokasikan untuk menyelesaikan masalah kakaknya yang sudah menghamili pacarnya. Butuh waktu lama saat itu bagi Layla untuk menerima ketidakberuntungan yang sangat menyakitkan itu. Setahun Layla tercatat sebagai pengangguran, rasanya ia sudah hampir mati bosan. Akhirnya Layla sadar, Bogor bukan kota yang cocok untuk kehidupannya. Dan berkat koneksi dari teman ayahnya, Layla mendapat pekerjaan di salah satu restoran cepat saji di kawasan Kebon Jeruk. Layla yang sudah muak setiap hari melihat wajah kakaknya dan istrinya yang tinggal seatap dengannya setelah pernikahan ‘kecelakaan’ itu, dengan senang hati pergi ke Jakarta. Ia tinggal di rumah kecil milik bibinya yang dititipkan pada ayahnya, sementara sang bibi pergi ke Lampung mencari suaminya yang setahun tidak pulang.

“Sebenarnya saya juga nggak tahu kenapa tiba-tiba kamu bisa lihat saya. Yang jelas, pada suatu malam, saat saya bisa lihat kamu hampir tertabrak ambulans, tiba-tiba saja tubuh saya refleks menarik kamu. Semula saya kira saya tidak berhasil menyelamatkan kamu, tapi ternyata saya berhasil menarik kamu. Sejak saat itu, saya selalu memgikuti kamu, untuk tahu kenapa cuma kamu yang bisa saya sentuh.”

“Jadi lu yang nyelametin gue waktu itu? Terus, jangan-jangan lu yang pegang kepala gue di ruang karyawan? Dan tadi malem lu juga yang nopang gue waktu gue tidur?” (hlm. 27)

ARTA PUTRA WIJAYA. 24 tahun, selama empat tahun terakhir ia mengikuti studi hukum di salah satu universitas di Seoul, Korea. Dan ia baru kembali ke Jakarta seminggu yang lalu. Sebelum meninggalkan Jakarta empat tahu lalu, Arta meninggalkan pacar yang amat dicintainya dan sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun. Gadis itu bernama Fara. Semula Arta mengira Fara akan menunggunya dengan setia, tapi kenyataan yang diterima Arta saat kembali ke Jakarta adalah pengkhianatan; Fara berpacaran dengan sahabat Arta sendiri, Hendra. Jelas pengkhianatan itu begitu menyakiti Arta, membuatnya kalut dan kehilangan konsentrasi saat menyetir dan menabrak pohon besar di kawasan Palmerah.

“Wah, maaf-maaf nih, bukannya gue nggak tahu terima kasih sama lu yang udah nolongin gue. Tapi jelas lu nggak bisa tinggal di sini, gue punya kehidupan sendiri, kehidupan normal, bukan yang aneh kayak sekarang.”

“Saya tahu ini aneh buat kamu, tapi saya harap kamu ngerti keadaan saya. Saya janji nggak akan mencampuri urusan pribadi kamu. Lagipula saya bersedia membayar sewa selama saya di sini, kalau saya sudah sembuh nanti.” (hlm. 29)

Sebelum membaca buku ini, saya sudah membaca buku Ria N. Badaria yang berjudul WRITER vs EDITOR yang cukup saya suka jalan ceritanya. Berbekal itu, begitu mendapati buku-buku beliau dicetak ulang, saya langsung membelinya tahun lalu. Kebetulan di tahun tersebut juga ada buku barunya yang terbit. Sayangnya, buku-buku itu tertimbun hampir setahun dan baru terbaca akhir tahun ini… x))

Dari tiga buku yang telah saya beli itu, saya mulai membaca dari yang jumlah halamannya paling tipis ini. Sayangnya isinya tidak sesuai ekspetasi seperti saya menyukai buku WRITER vs EDITOR. Novel ini memang buku pertama yang ditulis oleh Ria N. Badaria, bahkan pernah memenangi penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori Penulis Muda Berbakat pada tahun 2009.

Ada beberapa hal yang mengganggu di alur ceritanya. Pertama permasalah kakaknya yang menghamili pacarnya yang dijelaskan nggak hanya di satu kali halaman, tapi berulang-ulang ke halaman lainnya. Hal ini cukup mengganggu karena seakan-akan aib kakaknya itu bencana baginya. Kedua, permasalahan Layla yang amat gaptek saat mengetik di komputer. Hello, ini setting novelnya tahun 2000-an. Sendeso-ndesonya saya, di awal tahun 2000-an sudah  bisa mengoperasikan komputer. Wajar kalau Layla yang lulusan SMA agak gaptek mengoperasikan komputer untuk program yang rada susah, tapi untuk lulusan SMA (di Bogor pula), pasti minimal bisa mengoperasikan komputer untuk program Microsoft. Word dan mengirim email. Jadi aneh banget pas Layla di halaman 79 mengatakan jika dia tidak mengetik di komputer karena gaptek, terlebih lagi di halaman 81 diceritakan Layla bengong cara mengirim tulisan via email. Mungkin kalo ini setting tahun di bawah 2000-an sih masih masuk akal. Tapi ini?!? Apakah Layla hidup di zaman Majapahit X))

Masih ada dua lagi buku karya Ria N. Badaria yang belum dibaca dan masih tersusun manis di timbunan. Saya belum kapok membaca tulisannya. Semoga lebih baik dari novel ini 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Lu harus belajar menerima ini semua. (hlm. 40)
  2. Akan selalu ada keberuntungan dibalik kesialan. (hlm. 167)
  3. Perjalanan hidup terbagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama, kita merasa menjadi orang yang benar-benar tidak beruntung, tidak henti-hentinya dililit berbagai masalah dan kesialan, sehingga menjadikan kita marah dan benci pada kehidupan. Pada sesi kedua, kita mengalami kejadian yang akan membuat pandangan kita lebih positif pada kehidupan. (hlm. 167)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Apa perlu kemesraan ditunjukkan di depan orang lain? (hlm. 13)
  2. Jangan bengong di tengah jalan. (hlm. 14)
  3. Jangan ngajakin gue ngomong mulu, nanti orang-orang nyangka gue gila. (hlm. 32)
  4. Kerja yang bener, jangan ngoceh sendiri. (hlm. 33)
  5. Pengkhinatan itu bikin kita sakit hati sekali. (hlm. 38)
  6. Buat apa lu nangisin cewek yang nggak setia. Buat apa lu ngeluarin air mata buat pengkhianatan? Mubazir! (hlm. 40)
  7. Cinta sejati cenderung nggak realistis dan egois. (hlm. 46)
  8. Cinta segidua aja susah ngedapetinnya, apalgi cinta segitiga. (hlm. 46)
  9. Terkadang cinta memang nggak bisa kita nilai dengan akal sehat. (hlm. 46)
  10. Bukannya kalau orang itu mencintaimu, seburuk apa pun penampilanmu nanti, dia tetap akan cinta? (hlm. 89)
  11. Lain kali kalau nyatain cinta pake cara yang lebih romantis. (hlm. 111)
  12. Bisakah kamu belajar memahami perasaan orang lain? Berhentilah menyakiti perasaan orang lain. (hlm. 118)
  13. Kenapa kamu harus jadi orang lain cuma untuk membuat orang itu senang? (hlm. 128)
  14. Kamu terlalu memaksakan diri. (hlm. 128)
  15. Cerita aja. Nggak usah rahasia-rahasiaan. (hlm. 137)
  16. Kamu nggak berubah, nggak pernah bisa menghargai pemberian orang. (hlm. 166)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Fortunata

Penulis                                 : Ria N. Badaria

Ilustrasi sampul                 : Marcel A. W.

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015 (Cetakan kedua)

Tebal                                     : 168 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2188-2

Advertisements

One thought on “REVIEW Fortunata

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2016 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s