REVIEW Tentang Kamu

tentang-kamu

Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. (hlm. 278)

ZAMAN ZULKARNAEN. Seorang pengacara muda di Thompson & Co di Inggris. Firma hukum ini sangat berbeda, mereka berdiri di atas prinsip-prinsip, mereka bukan firma hukum kebanyakan, apalagi heir hunters serakah. Apa itu heir hunters? Sebutan untuk para pemburu harta warisan. Meskipun mereka seorang lawyer, mereka justru lebih mirip detektif. Heir hunters akan mencari pewarisnya, siapa pun yang boleh jadi keturunan atau kerabat jauh. Mereka akan meminta bagian dari harta itu, 20%, 40% atau dalam kasus tertentu, mereka bisa memperoleh bagian lebih besar dibanding ahli warisnya. Ada banyak skandal dalam usaha pencarian ahli waris, mulai dari para penipu, impostor, hingga intrik hukum tingkat tinggi. Masalah harta waris tanpa klaim ini seperti gunung es, hanya atasnya saja yang terlihat, di bawahnya tersembunyi. Itu melibatkan uang yang tidak sedikit, dan mengundang banyak lalat mendekat.

Kali ini Zaman ditugaskan untuk memegang suatu kasus. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, dan belasan tahun terakhir tinggal di panti jompo yang merupakan pemilik sah 1% surat saham di perusahaan besar. Firma hukum tempatnya bekerja menyimpan surat keterangan yang pernah dititipkan wanita itu beberapa tahun lalu oleh pihak ketiga, melalui pos. Thompson & Co diberikan mandat untuk menyelesaikan harta warisan tua ini seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku.

“Firma ini berbeda dengan ribuan firma hukum yang lainnya. Kita adalah kesatria hukum, berdiri tegak di atas nilai-nilai luhur. Kamu akan memastikan wanita tua yang malang itu mendapatkan penyelesaian warisan seadil mungkin menurut hukum. Dia akan beristirahat dengan tenang jika tahu harta warisannya telah diselesaikan dengan baik, tidak berakhir di Bona Vacantia, atau lebih serius lagi, jatuh kepada penipu.” (hlm. 14)

Nama klien tersebut adalah SRI NINGSIH. Pemilik harta warisan senilai 19 triliun rupiah yang baru saja meninggal ini ternyata orang Indonesia, sama seperti asal negara Zaman. Itulah kenapa dia ditunjuk menyelesaikan settlement wasiat ini. Zaman dianggap bisa menelusuri kehidupan masa lalu Sri Ningsih dengan mudah. Dan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Hanya sedikit data yang membahas riwayat wanita tersebut. Belum lagi, hanya hitungan hari waktu yang diberikan untuk Zaman dalam menyelesaikan kasus ini. Mampukah Zaman menuntaskan tugasnya ini?

“Aku tahu sejak lama, besok lusa, dengan hati seindah miliknya, dia akan melakukan hal hebat. Dia akan melihat dunia. London. Paris. Eropa. Tempat-tempat menakjubkan. Kamu tidak perlu menjelaskan lebih detail tentang harta warisan miliknya, Nak Zaman. Tapi aku tahu, aku bisa menebaknya, harta itu bernilai triliunan rupiah. Karena itulah harga dari seorang Sri Ningsih. Bahkan lebih mahal dari itu. Maka tunaikan amanahnya, Nak Zaman. Sri berhak pergi dengan tenang.” (hlm. 206)

img_20161230_121116

Kunci Zaman dalam penelusuran informasi mencari tahu kehidupan Sri, tanpa disadari pembaca, penulis menyelipkan melalui beberapa kegiatan literasi. Apa itu literasi? Literasi adalah kemampuan melek huruf/ aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Nah, Sri melakukannya melalui tiga hal. Pertama, Sulis tekun membaca. Di halaman 482 disebutkan jika Sri Ningsih belajar tentang hukum melalui buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan nasional Prancis. Ketika yang lainnya sibuk menghabiskan waktu dengan mengobrol atau menonton televisi, Sri terbenam membaca buku-buku. Tidak hanya itu, dia mengkliping dari koran lama tentang artikel-artikel penting. Kedua, Sri memiliki sebuah buku diary yang dia serahkan kepada pengurus panti jompo, Aimee. Dalam buku diary tersebut, ada semacam juz kehidupan yang Sri tulis. Semacam curahan hati, kegelisahan yang ia tuang melalui tulisan dan sebagai obat kangen ‘berkomunikasi’ dengan bapak ibunya yang sudah tiada. Dalam setiap juz, kita akan menemukan poin penting makna sebuah kehidupan. Misalnya, dalam juz pertama tentang kesabaran. Tidak hanya berupa tulisan, ada beberapa potong foto yang terselip dalam diary tersebut. Ketiga, Sri gemar berkorespondensi sebagai jalan untuk berkomunikasi dengan sahabatnya ketika di madrasah, Nur’aini. Ya, di tahun 1970-an, cara paling ampuh berkomunikasi adalah melalui surat menyurat antara Sri yang mengadu nasib di Jakarta dan Nur’aini yang tetap menetap di Surakarta. Melalui buku diary dan surat-surat Sri untuk Nur’aini ini, Zaman akan berkeliling ke tiga negara, lima kota dalam menelusuri kehidupan Sri. Dari sini kita bisa lihat bahwa kemampuan literasi Sri meski terkesan sederhana akan menguak tabir kehidupannya yang selama ini terpendam.

img_20161229_161443

Selain literasi, penulis juga menyelipkan jiwa entrepeneur dalam diri Sri. Setelah tinggal di Jakarta yang mengharuskannya hidup tangguh dan mandiri, Sri melakukan beberapa terobosan atau inovasi yang merupakan salah satu ciri seorang entrepreneur. Apa arti entrepeneur? Menurut Thomas W Zimmerer, entrepeneur adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari. Sedangkan menurut Peter F Drucker, entrepreneur adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Nah, apa saja kriteria entrepeneur yang sudah diterapkan Sri? Pertama, dia berdagang nasi goreng tidak seperti pedagang pada umumnya. Dia merancang sebuah gambar berupa alat yang mudah dibawa kemana-mana agar bisa berdagang tanpa memiliki warung. Setelah menemui tukang kayu dan montir bengkel, terwujudlah gerobak dorong impian Sri. Bermula dari satu, Sri bisa memiliki dua puluh gerobak. Awalnya hanya menjual nasi goreng, tapi menjadi variasi; bakso, mie ayam hingga berjualan sayur keliling. Kedua, setelah cara berdagangnya mulai ditiru banyak pedagang lain, Sri memulai usaha baru, sewa mobil. Bisnisnya ini lumayan maju pesat, bahkan dia sempat memiliki delapan belas mobil Toyota Corolla. Ketiga, setelah Sri mengalami musibah dan harus memulainya dari nol lagi, Sri membuat pabrik sabun mandi. Sri sudah melakukan riset, termasuk mempelajari pola penjualannya nanti. Ada beberapa hal yang bisa kita tiru dari Sri bahwa untuk menjadi seorang entrepeneur harus melakukan beberapa hal; jangan berpikir instan, jangan berpikir gratisan, siap dan berani gagal. Dan yang terpenting adalah selalu terus melakukan inovasi tiada henti. Itulah kunci sukses seorang entrepreneur.

Hampir dua pertiga buku ini fokus ke kehidupan Sri, mulai dari lahir sampai meninggal. Ada banyak kerabat, tetangga, teman atau sahabat yang memengaruhi hidup Sri. Saya paling suka Aimee. Sebenarnya ada banyak manusia-manusia tulus dalam buku ini. Tapi Aimee tetap paling favorit.

Ada banyak persamaan kisah hidup Sri dan Zaman meski mereka berbeda generasi. Pertama, mereka sama-sama menghadapi masa sulit sebagai keluarga yang broken home. Memiliki ibu tiri menjadi hal yang paling memberatkan. Kedua, poin pertama tersebut tanpa disadari mempengaruhi kehidupan percintaan masing-masing. Baik Sri maupun Zaman, sama-sama masih melajang meski di usia matang. Kehidupan pahit di masa kecil menimbulkan keraguan untuk berkeluarga. Baik dari kehidupan Sri maupun kehidupan Zaman, penulis menyelipkan pesan bahwa jika ada seseorang yang masih melajang, bukannya sibuk mencibir ataupun nyinyir, tapi bantulah mereka untuk menemukan pasangan yang tepat. #noted

“Semoga Mas Zaman segera mendapatkan jodoh terbaik.” (hlm. 148)

“Lihatlah anak muda sepertimu, usia tiga puluh tahun, bahkan di atas pesawat sekalipun terus bekerja. Aku khawatir kamu tidak akan pernah menikah, Zul.” (hlm. 285)

“Sri, kamu mau aku jodohkan dengan temanku, orang Polandia?” (hlm. 334)

Kalau banyak yang naksir, kenapa belum menikah? (hlm. 333)

Mungkin ini bukan termasuk novel romance, tapi entah kenapa pas endingnya bikin baper banget. Saya nggak akan membocorkan apa saja hal-hal yang bikin baper dalam buku ini, karena akan mengurangi poin penting dalam buku ini. Dan saya acungi jempol untuk penulisnya, novel yang saya baca di penghujung tahun ini menjadi novel terbaik sepanjang tahun 2016. Setelah usai membaca bukunya, kita memahami maksud judul dan cover ini yang sangat merepresentasikan isi bukunya! 😉

Ada banyak pesan moral yang bisa kita ambil dalam buku ini. Pertama, tentang kesabaran. Kedua, tentang persahabatan. Ketiga, tentang keteguhan hati. Keempat, tentang cinta. Kelima, tentang memeluk semua rasa sakit. Semoga dalam menjalani kehidupan kita bisa seperti Sri, hatinya sebening kristal, tidak ada rasa dendam dalam jiwanya meskipun itu hanya sebesar debu :’)

img_20161230_121324

Banyak kalimat favorit bertebaran dalam buku ini:

  1. Kesabaran bisa mengalahkan apa pun. (hlm. 111)
  2. Kita seharusnya lebih banyak bicara satu sama lain agar bisa melewati masa-masa sulit bersama. (hlm. 136)
  3. Aku ingin sekali punya hati sebaikmu. Tidak pernah punya prasangka walau sebesar debu. (hlm. 179)
  4. Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? (hlm. 209)
  5. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x. (hlm. 210)
  6. Sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya. (hlm. 257)
  7. Hantu masa lalu itu kapan pun bisa muncul lagi. Tidak ada yang benar-benar bisa kita lupakan, karena saat kita lupa, masih ada sisi-sisi yang mengingatnya. (hlm. 270)
  8. Dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian. (hlm. 286)
  9. Sekarang bukan siapa-siapa, tapi besok lusa kita tidak tahu, kan? (hlm. 345)
  10. Daripada kita sibuk bertanya kapan seorang gadis menikah, hanya membuatnya sedih, lebih baik bantu dia agar segera mendapatkan jodohnya. Itu lebih bermanfaat. (hlm. 357)
  11. Biarkan semuanya mengalir seperti air. (hlm. 360)
  12. Jika memang berjodoh, maka berjodohlah. Tidak perlu terlalu berharap, tapi tidak juga sangat negatif menanggapinya. (hlm. 360)
  13. Apa yang membuat pernikahan orang tua dulu langgeng berpuluh-puluh tahun? Karena mereka jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Itulah yang terjadi. Maka, kesedihan apa pun, ujian seberat apa pun bisa dilewati dengan baik. (hlm. 385)
  14. Hati manusia persis seperti lautan, penuh misteri. Kita tidak pernah tahu kejadian menyakitkan apa yang telah dilewati oleh seseorang. (hlm. 415)

img_20161229_161526

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Apakah pengacara seperti kalian tidak mengenal hari libur? (hlm. 2)
  2. Perang memaksa tua-muda, kaya-miskin, siapa pun yang masih sehat dan kuat, pergi ke medan pertempuran. Itu masa-masa menyedihkan. (hlm. 19)
  3. Perang membawa implikasi panjang dalam hukum warisan. (hlm. 19)
  4. Istri-istri zaman sekarang, mereka kadang lebih sibuk dibanding suaminya. (hlm. 29)
  5. Apakah sabar memiliki batasan? (hlm. 48)
  6. Jangan cuma bengong seperti ikan buntal. (hlm. 75)
  7. Apakah sabar punya batasnya? (hlm. 108)
  8. Apa arti persahabatan? Apa pula arti persahabatan? Apakah sahabat baik akan mengkhianati sahabat sejatinya? (hlm. 141)
  9. Nasib, semakin tinggi bola itu terbang, saat jatuh akan semakin sakit rasanya. (hlm. 175)
  10. Ternyata tidak semua orang jakarta itu jahat. (hlm. 217)
  11. Ternyata mencari pekerjaan di Jakarta itu susah. (hlm. 219)
  12. Kenapa orang mudah sekali mengkhianati? Bukankah dalam hidup ini kejujuran adalah hal penting? (hlm. 239)
  13. Kerja keras tidak pernah mengkhianati. (hlm. 262)
  14. Setiap kali kita menunda melakukannya, semakin sedikit waktu yang kita punya. (hlm. 292)
  15. Semakin kamu bilang bukan siapa-siapa, itu justru berarti memang siapa-siapa. (hlm. 343)
  16. Apakah cinta memang begitu? Saat dia mulai menyemai bibit harapan, hanya untuk layu sebelum berkecambah? (hlm. 350)
  17. Tidak baik anak gadis berlama-lama punya hubungan yang tidak jelas. (hlm. 363)
  18. Jatuh cinta kadang membuat orang bisa melakukan hal bodoh. (hlm. 369)
  19. Kehidupan modern yang individualis membawa aspek negatif dalam hubungan keluarga, menghancurkan ikatan keluarga lebih masif dibanding peperangan. (hlm. 441)
  20. Kebencian memang bisa menjadi energi mengagumkan. (hlm. 503)
  21. Lihat! Baca! Biar kepalamu yang dipenuhi kebencian tercerahkan. (hlm. 505)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Tentang Kamu

Penulis                                 : Tere Liye

Editor                                    : Triana Rahmawati

Cover                                    : Resoluzy

Lay out                                 : Alfian

Penerbit                              : Republika

Terbit                                    : Oktober 2016 (cetakan kedua)

Tebal                                     : 524 hlm.

ISBN                                      : 978-602-0822-34-1

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Resensi Tentang Kamu

lomba-resensi-tentang-kamu

Advertisements

6 thoughts on “REVIEW Tentang Kamu

  1. ‘let it flow’ yah kak~~~~ ^^
    hmmm~~~ saaya pernah baca buku, yang menanyakan para pemegang prinsip ‘biarkan seperti air yang mengalir’, bukankan air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah? Kalau menurut kak Luckty gimana?

    • Dulu aku tipikal sering cemas dengan motto “nanti gimana”, sekarang lebih nyantai menyikapi hidup dengan motto “gimana nanti”. Dua kata yang dibalik, tapi memiliki makna yang berbeda 😀

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2016 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: [Serba-serbi] 6 Buku yang Bersetting Kota/Pulau Unik | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s