REVIEW Critical Eleven

1-critical-eleven

Waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit. (hlm. 95)

ALDEBARAN RISJAD. Bagi Anya, Ale punya satu kualitas yang jarang dia temui pada laki-laki lain: dia bisa mengubah situasi secanggung apa pun menjadi sesuatu yang seharusnya memang terjadi dan tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa. Seperti hujan yang sudah sewajarnya membasahi tanah. Atau api yang sudah seharusnya rasanya panas.

Profesi Ale sebagai petroleum engineer, menghabiskan waktunya di tengah laut tanpa perempuan yang bisa dipastikan hidupnya kering. Pokoknya pekerjaan Ale ini keren banget tapi ya hampa gitu, karena waktunya habis untuk kerja, kerja dan kerja. Jauh di ujung dunia, Teluk Meksiko.

TANYA LAETITIA BASKORO. Berprofesi sebagai management consultant, di sebuah perusahaan di Jakarta. Menghabiskan waktunya untuk kerja, menyiapkan persentasi dan lembur. Begitu terus hampir tiap hari. Bisa dipastikan dia sering bepergian jauh. Mungkin orang lain melihat hidupnya sempurna, nyatanya beda; hidup dari satu hotel berbintang ke hotel berbintang lainnya, dibayar pake dolar pula. Kenyataannya: bangun pagi buta, naik pesawat pertama bertiga atau berempat bareng rekan satu tim, sarapan di pesawat, tiba di tujuan langsung ke kantor klien. Belum lagi menyiapkan tempat dan bahan persentasi. Semuanya menguras tenaga.

“Aku kayaknya nggak keberatan deh kalau terpenjara dalam toko buku. Tiga bulan juga nggak apa-apa.”

“Kamu suka banget baca?”

“Nggak juga sih, biasa aja. Tapi aku suka banget toko buku.”

“Toko buku itu kayak surga kecil. Apa sih yang nggak ada di toko buku? Mau baca bisa, tenang nggak berisik, bersih, mau ngopi-ngopi juga bisa. Kadang kalau lagi suntuk di kantor, aku ke toko buku cuma untuk menatap sampul buku yang lucu-lucu di rak. Itu tuh liberating banget buat aku. Eh, aku aneh ya?”

“Agak sih.”

“And don’t you just love the heterogeneity of bookstores? Toko buku itu bukti nyata bahwa keragaman selera bisa kumpul di bawah satu atap tanpa saling mencela. Yang suka fiksi, komik, politik, masak-memasak, biografi, traveling, semua bisa ngumpul di satu toko buku and find their own thing there. Bookstores are the least discriminative place in the world. Dan itu keren.” (hlm. 13-14)

ALE dan ANYA mulai berpacaran hanya sebulan setelah pertemuan mereka di pesawat. Lebih mengejutkan lagi bahwa mereka berpacaran hanya setelah bertemu instens selama tujuh hari. Tidak ada komunikasi apa pun antara Anya dan Ale setelah mereka turun dari pesawat di Sydney waktu itu, walau mereka sudah bertukar nomor telepon.

Dalam dunia penerbangan ada yang namanya critical eleven. Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dalam sebelas menit ini, para air crew harus berkonsentrasi penuh karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu critical eleven ini.

Membaca bab pertama dan sedikit ulasan di kalimat sebelumnya, saya pikir ceritanya bakal nyambung banget ama judul dan cover buku ini. Hal ini mengingatkan novel Paulo Coelho yang berjudul Eleven Minutes, bercerita tentang sang tokoh utama yang bernama Maria. Dalam buku tersebut, judulnya sangat merepresentasikan isinya, tentang bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya hanya diperlukan waktu sebelas menit.

Ternyata saya keliru, novel ini bahkan nggak nyambung ama judul ama cover yang disajikan. Sebelumnya saya sudah membaca bukunya yang berjudul A Verry Yuppy Wedding zaman kuliah. Nah, baru setelah membaca tuntas isi bukunya kita bisa memahami arti critical eleven dalam hubungan Anya dan Ale. Seperti pertemuan pertama mereka yang akan menjadi titik balik hubungan mereka yang hampir di ujung jurang pernikahan.

Sewaktu buku ini muncul, nggak ikutan latah seperti lainnya untuk ikutan pre order yang heboh kala itu. Meski begitu, saya akhirnya membeli buku ini untuk koleksi perpustakaan. Nggak hanya satu, tiga eksemplar sekaligus. Sampai setahun kemudian belum tergerak juga untuk membacanya. Padahal bukunya udah heboh dari dua tahun lalu. Dan baru terbaca awal tahun ini. Sebelum membacanya, udah kebayang kalo ceritanya bakal greget karena banyak yang bilang buku ini keren. Ternyata setelah membacanya sendiri, justru di luar ekspetasi; kurang greget. Entah kenapa, pernikahan yang dijabarkan dalam buku ini justru rasanya kayak pacaran. Meski Anya dan Ale ini bisa dikatakan sebagai pasangan yang nyaris sempurna, justru nggak merasakan chemistry diantara mereka.

Untuk ukuran perempuan yang sudah menikah, hal yang dilakukan Anya terhadap Ale sangat kekanakan banget. Apalagi duka yang dijabarkan dalam buku sebenarnya nggak hanya melukai Anya, tapi juga Ale. Hanya gara-gara Ale ‘kepleset omongan’ sekali. Iya, hanya sekali.

Komunikasi. Kunci dari sebuah pernikahan adalah komunikasi dua arah. Anya yang terus-terusan menghindar, tambah bikin Ale merasa bersalah. Untungnya Ale ini sabar banget. Mungkin kalo punya suami nggak kayak Ale, dijamin Anya ini bakal ditinggalin deh. Oke, semua orang pernah merasakan duka, pernah merasakan kehilangan. Saya juga pernah mengalami. Tapi yang dilakukan Anya sebagai perempuan dewasa, bisa dikatakan sangat jauh dari pemikiran dewasa.

Ada banyak hal dalm hidup ini yang mungkin tidak akan dimengerti orang-orang yang belum mengalaminya. (hlm. 93)

img_20170106_064541

Ada beberapa hal yang mengganjal ketika membaca jalan cerita dalam buku ini. Ale kan dideskripsikan lumayan taat beragama, beberapa kali dijabarkan dia mengerjakan solat, tapi kenapa memelihara anjing dan membiarkan Anya minum wine? Sebenarnya kalau mau dibuat novel metropop yang rasa kehidupan urban sekalian seperti novel-novel yang ditulis aliaZalea, saya lebih suka. Ini novelnya masuk urban tapi kok nanggung gitu.

Kemudian hubungan Ale dan adik-adiknya kan dekat. Kalau permasalahan Ale dan Anya bisa dikatakan lumayan kritis, minimal Ale membagi bebannya dengan bercerita kepada adiknya. Siapa tahu bisa memberikan solusi. Biasanya sih kakak adik akan berbagi cerita, nggak hanya dalam suka, tapi juga duka. Lagi pula, saudara akan menjaga rahasia aib saudara lainnya. Biasanya sih gitu.

Dari sekian banyak tokoh yang ada, paling suka ama karakter Ayah Ale meski dideskripsikan galak dan tegas karena memang memiliki latar belakang di bidang militer. Dari semua keluarga yang dekat dengan Ale, yang paling peka terhadap permasalahan yang dihadapi Ale dan Anya justru ayahnya. Ya, sebagian besar di dunia ini merasakan bahwa kasih sayang ayah akan jauh berbeda dibandingkan kasih sayang seorang ibu. Cueknya seorang ayah, tegasnya seorang ayah, dan marahnya seorang ayah terhadap anaknya terkadang justru itu adalah wujud nyata betapa sayangnya sang ayah kepada darah dagingnya.

“Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti Ayah memilih Ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti kita memilih biji kopi yang terbaik, bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita.” (hlm. 56)

“Membuat kopi itu ritual laki-laki. Buat Ayah, semua langkah mulai dari memilih beans, grinding, sampai kopinya siap diseduh, prosesnya seperti hidup seorang laki-laki. Sebagai laki-laki, tugas utama kita adalah mengambil pilihan terbaik untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang dekat dan tergantung pada kita. Sering proses mengambil pilihan ini nggak bisa sebentar, harus sabar. Sama seperti Ayah sabar memilih-milih biji kopi terbaik, sabar juga menjalani proses membuatnya sampai jadi secangkir kopi yang pantas dibanggakan karena enak banget. Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus memulai usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.” (hlm. 31)

Permasalahan yang dihadapi Anya dan Ale dalam buku ini menjadi pembelajaran bagi pasangan muda, bahwa akan banyak kerikil kehidupan yang harus dihadapi. Pilihannya mau melewati jalan lain yang lebih jauh untuk menuju tujuan utama atau tetap melewatinya meski terasa sakit.

Meski nggak puas ama buku ini, bukan berarti kapok membaca buku-buku Kak Ika Natassa lainnya, karena udah ada ada The Architecture of Love di timbunan yang menanti untuk dibaca 😉

img_20170106_064520

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kita pasti punya batas kebetahan. (hlm. 12)
  2. Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspetasi apa-apa. (hlm. 14)
  3. Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan orang yang sedang dimabuk cinta. (hlm. 17)
  4. Nasib selalu terbang sendiri. (hlm. 18)
  5. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu. (hlm. 34)
  6. Cinta itu untuk dirasakan sendiri kan, bukan untuk dijelaskan ke orang lain? (hlm. 36)
  7. Kalau kamu mau sesuatu, kamu akan perjuangkan habis-habisan. (hlm. 54)
  8. Tidak ada yang bisa mengerti kecuali pernah mengalami rasanya saat kebahagiaan orang lain justru mengingatkan kesedihan diri sendiri. (hlm. 93)
  9. Tuhan memang penulis cerita cinta yang nggak ada duanya. (hlm. 209)
  10. Namun jika sudah takdir, nggak akan ada yang bisa menghentikan seluruh semesta ini berkonspirasi untuk membuat yang harusnya terjadi itu terjadi. (hlm. 210)
  11. Apakah di surga nanti kita bisa memperoleh semua hal yang kita inginkan yang tidak bisa kita alami dan rasakan di dunia? (hlm. 255)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita. (hlm. 8)
  2. Kadang sepanjang hidup kita isinya selalu mengejar sesuatu. (hlm. 11)
  3. Nggak semua kebetulan itu punya makna. (hlm. 14)
  4. Hati itu bisa disetel kayak AC. (hlm. 15)
  5. Ingatan itu sesuatu yang liar ya? Apa adanya kita sekarang, apa yang kita lakukan, reaksi kita terhadap sesuatu, semua produk dari kumpulan ingatan-ingatan kita. (hlm. 20)
  6. Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan. Kita sebenarnya tidak punya kendali untuk memilih mana yang bisa terus kita ingat, dan mana yang bisa kita lupakan. (hlm. 22)
  7. Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film. (hlm. 40)
  8. Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohog yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri. (hlm. 57)
  9. Melamar itu kan udah grand gesture. Kalau kita nggak cinta setengah mati kan nggak kita lamar juga. (hlm. 187)
  10. Hujan dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan. (hlm. 190)
  11. Air dingin nggak bisa membunuh kenangan. Demikian pula dengan pisau, pistol, parang, celurit, api, granat ataupun rasa benci. (hlm. 226)
  12. Kadang cinta saja nggak cukup. (hlm. 265)

Keterangan Buku:

Judul                           : Critical Eleven

Penulis                         : Ika Natassa

Desain sampul             : Ika Natassa

Editor                          : Rosi L. Simamora

Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                           : November 2015 (Cetakan ketujuh)

Tebal                           : 344 hlm.

ISBN                           : 978-602-03-1892-9

Dalam kurun waktu tiga bulan, novel ini cetak ulang sampai tujuh kali. Sebuah pencapaian luar biasa untuk novel lokal. Nama besar penulisnya dan juga penantian pembaca terhadap buku ini, menjadi daya tarik tersendiri. Maka, ada beberapa produser yang melirik buku ini untuk diangkat ke layar lebar. Dan awal tahun ini kita akan menikmat cerita Ale dan Anya versi visual.

Sewaktu membaca buku ini, sebenarnya yang terbayang adalah Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan. Kenapa? Pertama, keduanya memang bintang film dengan banyak pengalaman. Kedua, mereka memang sepasang suami istri. Ketiga, problematika yang dihadapi mereka sekilas sama seperti yang dialami Anya dan Ale dalam buku ini.

critical-eleven

Meski begitu, filmnya yang akan rilis Maret 2017 ini, akan menampilkan bintang film yang nggak kalah menarik; Reza Rahardian sebagai Ale dan Adinia Wirasti. Kemampuan keduanya memang nggak perlu diragukan lagi. Apalagi bukan sekali ini mereka dipertemukan sebagai sepasang kekasih dalam sebuah filmnya. Sebelumnya mereka pernah beradu akting dalam Jakarta Maghrib dan Kapan, Kawin?

Film Critical Eleven akan menjadi daya tarik tersendiri untuk dinantikan. Pertama, oleh penonton Indonesia. Kedua, oleh pembacanya yang penasaran ketika bukunya diangkat ke layar lebar. Ditambah lagi Kak Ika Natassa melalui akun sosial medianya sering ‘membocorkan’ info-infonya, jadi dijamin akurat karena sumbernya langsung dari penulisnya. Penasaran? Catat jadwal filmnya tayang di bioskop yang disutradarai oleh Monty Tiwa dan skenarionya ditulis oleh Jenny Yusuf ini! 😉

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Resensi Novel Critical Eleven – Ika Natassaposter-critical-eleven

Advertisements

5 thoughts on “REVIEW Critical Eleven

  1. Asik baca TAoL sih menurutku Kak, mgkin krna aku blm menikah juga ya hahahaa. Rasa hilang dan rindu nya lebih ngena TAoL kalo aku. Kalo yg kenapa Ale melihara guguk itu pernah ada dijelasin sm kak ika (walau aku nggak sreg juga) kekekee. Yg jelas film nya bakal masuk must watch – ku sih, penasaran! 🙈

      • Semoga aja film Critical Eleven ini beda dari film lain ya mbak, krna sbagian besar film yg diangkat dari novel justru ngga greget. Asyikan baca cerita di novelnya.

        Kalo aku pribadi suka sama diksinya Mba Ika, cukup nyentuh. POV dua arahnya juga ga bikin bingung, justru bikin aku yg baca bisa mahamin apa yg dirasain Ale sama Anya.
        Novel ini juga yang bisa bikin aku nangis sesenggukan waktu pertama kali baca.

  2. Pingback: Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film - Nuwo Balak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s