REVIEW A Man Called Ove

a-man-called-ove

Kematian adalah sesuatu yang ganjil. Orang menjalani seluruh hidup mereka seakan kematian itu tidak ada, tapi kematian sering kali menjadi salah satu motivasi terbesar untuk hidup. Pada akhirnya, sebagian dari kita menjadi begitu menyadari kematian sehingga menjalani hidup dengan lebih keras, lebih tegar dan dengan lebih banyak kemarahan. Sebagian lagi memerlukan kehadiran kematian secara terus-menerus untuk menyadari antitesisnya. Sisanya menjadi begitu terobsesi dengan kematian sehingga mereka memasuki ruang tunggu, lama sebelum kematian itu mengumumkan kedatangannya. Kita merasa gentar terhadap kematian, tapi sebagian besar dari kita merasa paling takut jika kematian itu membawa pergi orang lain. Sebab yang selalu menjadi ketakutan terbesar adalah jika kematian itu melewatkan kita. Dan meninggalkan kita di sana sendirian. (hlm. 425)

Orang-orang selalu berkata Ove dan istrinya bagaikan malam dan siang. Tentu saja Ove sadar sepenuhnya bahwa dialah yang disebut malam. Itu tak masalah baginya. Sebaliknya, istrinya selalu merasa geli ketika seseorang berkata begitu. Sebab kemudian, dia bisa menjelaskan sambil terkikik bahwa mereka menganggap Ove sebagai malam karena dia terlalu pelit untuk meyalakan matahari.

Ove tidak pernah mengerti alasan istrinya memilih dirinya. Istrinya hanya menyukai benda-benda abstrak seperti musik, buku, dan kata-kata aneh. Ove adalah lelaki yang dipenuhi seluruhnya dengan benda-benda nyata. Dia menyukai obeng dan filter bensin. Dia menjalani hidup dengan tangan dimasukan mantap ke saku. Istrinya menjalani hidup sambil menari.

“Kau hanya perlu seberkas cahaya untuk mengusir semua bayang-bayang.” (hlm. 145)

Bagi Sonja, Ove adalah setelan cokelat milik ayahnya yang sedikit terlalu ketat di bahu bidang muramnya. Ove sangat meyakini beberapa hal; keadilan, kesetaraan, kerja keras, dan dunia yang menganggap kebenaran. Bukan karena dia ingin mendapat medali, diploma atau tepukan di punggung, tapi hanya karena memang begitulah seharusnya.

Ove tahu benar, teman-teman istrinya tak paham mengapa perempuan itu menikah dengannya. Dia tidak bisa terlalu menyalahkan mereka. Orang mengatakan dia pemberang. Mungkin mereka benar. Ove tidak pernah terlalu memikirkannya. Orang juga menyebutnya ‘antisosial’. Ove menganggap ini berarti dia tidak begitu tertarik dengan orang lain. Dan dalam hal ini, dia bisa setuju sepenuhnya. Orang memang sering bersikap tidak masuk akal..

Ove bukan jenis orang yang suka basa-basi. Dia menyadari, setidaknya belakangan ini, bahwa itu cacat karakter yang serius. Ini, seseorang harus bisa mengoceh mengenai hampir segalanya dengan orangtua mana pun yang kebetulan berada dalam jangkauan lengannya, hanya karena itu sikap yang manis. Ove tidak tahu cara melakukan hal itu. Barangkali itu gara-gara caranya dibesarkan. Mungkin generasinya tidak pernah disiapkan secara memadai untuk dunia yang orang—orangnya bicara mengenai hal-hal yang mereka lakukan, walaupun tampaknya hal-hal itu tidak lagi patut untuk dilakukan.

Teman-teman istrinya tidka bisa mengerti mengapa istrinya itu bangun setiap pagi dan secara sukarela memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian bersamanya. Ove juga tidak bisa mengerti. Dia membuat lemari itu dengan buku-buku karya orang yang menuliskan perasaan mereka hingga berlembar-lembar.

“Kau suka membaca?” (hlm. 171)

“”Kau harus menyimpan buku-buku itu di suatu tempat.” (hlm. 201)

“Anak perempuan tidak boleh membaca  sampah seperti itu: dia akan gila.” (hlm. 203)

Nggak hanya Ove, saat membaca buku ini, saya juga menyukai Sonja. Apalagi hobinya yang suka membaca buku, bahkan kucing kesayangannya sejak kecil di beri nama Ernest, terinspirasi dari nama Enest Hemingway, penulis yang melegenda itu.

up_2009_film

Membaca kisah Ove, mengingatkan saya akan kakek di film UP. Banyak persamaan antara Ove dan Mr. Fredrickson dalam film UP itu. Mereka sama-sama kakek tua yang keras kepala, berpendirian teguh, mencintai rumah dan amat menyayangi istrinya. Di buku ini, juga dijelaskan jika Ove menolak hal-hal digitalisasi, termasuk komputer dan internet. Bagi Ove, sekarang ini, orang begitu sering mengganti barang mereka sehingga keahlian dalam cara membuat segalanya awet menjadi tidak berguna. Tak seorang pun peduli lagi soal kualitas. Kini segalanya harus terkomputerisasi, seola-olah orang baru bisa membangun rumah ketika konsultan berkemeja kekecilan mengetahui cara membuat laptop. Bagi Ove, kini dunia diisi penghuninya yang ketinggalan zaman sebelum hidup mereka berakhir. Jlebb banget, lewat tokoh Ove ini, penulis menyampaikan pesan bahwa kini manusia sangat ketergantungan tekonologi, padahal seharusnya kita hidup dibantu teknologi, bukan diperbudak oleh teknologi.

220px-up_at_the_66th_mostra

Selain itu, dengan cerdas penulisnya banyak sekali pesan moral yang kita dapatkan. Tapi yang paling menyentuh adalah ketika seseorang yang menua kehilangan pasangan hidup,  biasanya separuh hidupnya juga akan terbawa pergi. Dan menganggap bahwa sisa hidupnya di dunia tak berarti lagi. Karena tidak ada lagi yang menyambut dan memberikan senyum serta semangat untuknya menatap dunia.

Wajib baca buku ini, karena perasaan kita akan dibuat campur aduk oleh kisah Ove dalam buku! Kesal, kasian, nyesek jadi satu! 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk merindukan ibu dibanding memikirkan Tuhan. (hlm. 56)
  2. Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan. (hlm. 105)
  3. Semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu. (hlm. 107)
  4. Takdir adalah seseorang. (hlm. 107)
  5. Konon, lelaki terbaik lahir dari kesalahan mereka sendiri, dan mereka sering kali menjadi lebih baik setelahnya, melebihi apa yang bisa mereka capai seandainya tidak pernah melakukan kesalahan. (hlm. 200)
  6. Begitu kau mulai benar-benar menggali masa lalu seseorang biasanya kau akan menemukan sesuatu yang lebih suka mereka simpan sendiri. (hlm. 395)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Mereka yang berniat jujur tidak perlu mengkhawatirkan kebenaran. (hlm. 10)
  2. Kehidupan tidak pernah dimaksudkan untuk berubah menjadi seperti ini. (hlm. 12)
  3. Tak seorang pun ingin kerja. Negara dipenuhi orang yang hanya ingin makan siang sepanjang hari. (hlm. 14)
  4. Bukankah sedikit bersantai akan menyenangkan? (hlm. 14)
  5. Banyak lelaki sok pamer berusia tiga puluh satu yang bekerja dengan komputer dan menolak minum kopi biasa. (hlm. 31)
  6. Banyak juga orang yang tidak punya sopan santun. (hlm. 59)
  7. Apakah kau selalu tidak ramah seperti ini? (hlm. 81)
  8. Mayoritas tidak selalu benar. (hlm. 85)
  9. Konon otak berfungsi lebih cepat ketika sedang mengalami kemerosotan. Seakan ledakan mendadak energy kinetic itu akan memaksa segenap kemampuan mental untuk melakukan percepatan, hingga persepsi mengenai dunia luar berubah menjadi gerak lambat. (hlm. 108)
  10. Apakah seseorang dianggap payah karena meyakini perlunya beberapa batasan? (hlm. 112)
  11. Peraturan adalah peraturan. (hlm. 126)
  12. Tiga puluh? Dan tidak punya SIM? Apa ada yang salah dengan dirimu? (hlm. 141)
  13. Jika kau tidak bisa mengandalkan seseorang agar tepat waktu, kau juga tidak bisa memercayakan sesuatu yang lebih penting kepadanya. (hlm. 175)
  14. Kau bisa berkata apa pun sesukamu, tidak apa-apa. (hlm. 331)
  15. Jangan terlalu mengkhawatirkan orang lain, kau sendiri sudah cukup banyak masalah. (hlm. 337)
  16. Keputusan adalah keputusan. Kau tidak bisa berbuat apa-apa. (hlm. 352)
  17. Pertempuran sederhana yang dimenangkan tidaklah ada artinya dalam rencana lebih besar menyangkut segalanya. (hlm. 357)
  18. Semua orang ingin menjalani kehidupan bermartabat, tapi arti bermartabat berbeda bagi orang yang berbeda. (hlm. 359)
  19. Terkadang sulit menjelaskan mengapa beberapa orang mendadak melakukan hal-hal yang mereka lakukan. (hlm. 369)
  20. Kita selalu mengira masih ada cukup banyak waktu untuk melakukan segalanya bersama orang lain. Masih ada waktu untuk mengucapkan segalanya kepada mereka. Lelu terjadi sesuatu, dan kita berdiri di sana sambil menggelayuti

Keterangan Buku:

Judul                                     : A Man Called Ove

Penulis                                 : Fredrik Backman

Penerjemah                       : Ingrid Nimpoeno

Penyunting                         : Jia Effendi

Penata letak                       : CDDC

Perancang sampul           : Muhammad Usman

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Januari 2016

Tebal                                     : 440 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-023-5

A Man Called Ove Trailer:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s