REVIEW Cinderella Teeth

img_20161227_123026

Sesuatu yang tertanam di waktu kecil memang sulit hilang. (hlm. 25)

KANO SAKIKO. Mahasiswa tingkat dua yang berumur delapan belas tahun. Penampilannya biasa saja. Tapi dia punya wajah yang luwes. Tinggi badannya lebih pendek daripada rata-rata. Seperti mahasiswa pada umumnya di Jepang, Saki dan temannya mencari lowongan pekerjaan sambilan. Untuk apa? Mereka, Saki dan Hiro merencanakan untuk jalan-jalan ke Eropa, jadi mereka perlu mengumpulkan uang untuk mewujudkannya. Sangat terlihat bahwa mereka ini representasi remaja Jepang pada umumnya yang mandiri, minimal sudah nggak minta uang saku lagi ama orang tua untuk membeli kebutuhan sehari-hari dengan hasil keringat sendiri. Berbeda sekali dengan remaja Indonesia yang pada umumnya masih bergantung pada orangtua. Jangankan yang remaja, yang sudah dewasa dan bahkan sudah menikah pun masih menadahkan tangan pada orangtua. Upss!! X))

“Kerja paruh waktu yang pekerjaannya mudah dengan gaji per jam besar. Kerja paruh waktu yang pekerjaannya standar dan lokasinya dekat. Atau kerja paruh waktu yang lokasinya agak jauh, gaji per jam besar, waktu kerja sebentar, tapi berat. Kau pilih yang mana?” (hlm. 8)

img_20161227_124212

Tanpa disangka, Ibunya ‘menjebak’ Saki untuk bekerja di klinik gigi yang merupakan milik pamannya. Tempat yang sangat menakutkan bagi seorang Saki. Sebenarnya nggak hanya Saki yang takut ke dokter gigi, ada banyak diluaran sana yang takut akan ke klinik gigi kan? Saya juga. Nggak hanya gigi, pokoknya saya alergi ama yang namanya aroma rumah sakit beserta isinya. Serasa kalo sakit ke rumah sakit bukannya sembuh malah makin sakit karena terkontaminasi aroma rumah sakit. Makanya tiap abis jenguk seseorang dari rumah sakit, langsung bersih-bersih badan dan mandi gitu. Belum lagi muka-muka masam bin senewen para petugasnya yang kadang bikin gondok x))

Nah, begitu kuliah, saya merasakan banyak (calon) dokter gigi yang ramah-ramah. Kebetulan kampus saya ada jurusan Kedokteran Gigi plus rumah sakit khusus gigi, yang artinya masyarakat bisa konsultasi apa pun yang berhubungan dengan gigi. Mahasiswa yang nantinya sebagai cikal bakal dokter gigi emang ramah-ramah. Saya merasakannya. Teteh yang menangani gigi saya, baiknya pake banget. Tiap mau check atau setelah check selalu ditanya kondisi giginya.

Pas balik ke daerah asal pun, saya lebih suka ke klinik gigi yang dimiliki seorang teknisi gigi, ketimbang ke dokter gigi. Kenapa? Karena Om Tukang Giginya ramah banget, beda ama dokter gigi di sini yang kebanyakan gitu deh… Ternyata pendekatan secara psikologis lebih mempengaruhi. Peralatan selengkap apa pun akan kalah dengan keramahtamahan petugas yang melayani pasien x))

img_20161227_123145

Di halaman 29 disebutkan jika klinik tempat Saki bekerja menarik pelanggan dengan layanan yang berbeda dengan dokter gigi lain. Mereka menyebutnya ‘memahami perasaan pelanggan’ sebagai salah satu layanan.

“Aku tahu, tapi tetap tak bisa! Pengalaman pertamaku dengan dokter gigi sangat mengerikan!” (hlm. 4)

“Aku sangat mengerti, Saki-chan. Dokter gigi di masa kecil memang betul-betul pengalaman yang seram.”

“Apalagi sampai berdarah. Aku ingat, waktu kecil aku pernah mengira aku muntah darah dan akan mati.” (hlm. 28)

img_20161227_124310

Begitu juga dengan kisah Saki dalam buku ini yang nggak hanya menceritakan kisah pribadi Saki, tapi juga rekan-rekan kerjanya di klinik dan para pasiennya yang beraneka ragam. Lewat buku ini pula kita bisa mendapatkan pengetahuan seputaran dunia gigi. Apa sajakah itu? Beberapa diantaranya:

  1. Tekniker gigi membuat karya berdasarkan sendok cetak. Artinya adalah benda yang digunakan untuk mengambil bentuk gigi.
  2. Di halaman 35 disebutkan mahkota gigi tiruan adalah benda yang digunakan untuk menutupi gigi asli. Seperti bagian emas di gigi emas.
  3. Ternyata masalah kerot sangat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang. Seperti salah satu pasien di klinik dalam buku ini. Kekuatan yang tidak bisa dikeluarkan saat kita berpikir ingin melakukannya. Itu adalah kekuatan kerot.
  4. Di kedokteran gigi, ada ilmu khusu yang lebih mempelajari kecantikan seperti gigi. Sebutannya aesthetic gigi.
  5. Ilusi bau. Ini juga sangat mengganggu kepercayaan diri seseorang. Bau mulut bisa muncul karena lambung kering dan luka. Penyakit diabetes juga memiliki gejala seperti ini.
  6. Medical girl. Menilai seseorang berdasarkan seragam yang dikenakan mereka. Yang termasuk medical girl adalah perawat gigi, tenaga administrasi, atau manajemen di rumah sakit, atau bisa juga resepsionis di klinik seperti Saki dalam buku ini.
  7. Doctor shopping seperti yang dijelaskan di halaman 160. Mereka berpindah-pindah ke beberapa dokter karena tidak menyukai cara perawatan dokter yang melakukan pemeriksaan.

Itu tadi beberapa sedikit bocoran pengetahuan seputaran kedokteran khususnya dunia gigi, dan masih banyak lagi yang dijabarkan dalam buku ini. Meski kita dijejali banyak pengetahuan, pesan yang disampaikan penulis nggak terkesan menggurui, tapi justru menarik karena melalui para pasien yang datang ke klinik ini.

img_20161227_123202

“Tapi kau datang ke sini, berarti rasa takutmu pada dokter gigi sudah berkurang, ya?” (hlm. 15)

Meskipun romancenya sedikit, tapi suka banget ama interaksi antara Saki dan Yotsutya si teknisi gigi yang misterius. Salah satu bagian epik hubungan mereka adalah saat Saki mendapat semacam tiket nonton yang diberikan seorang pasien sebagai ucapan terima kasih untuk mereka berdua, dan Saki bingung bagaimana mengajak Yotsutya x))

img_20161227_123727

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Manusia dan hewan sama-sama mahluk hidup. (hlm. 27)
  2. Karena hati dan tubuh itu satu kesatuan, pasti akan berhubungan. (hlm. 74)
  3. Kalau bersikap dingin terhadap orang yang tidak akan bisa kau temui lagi, setelahnya akan terus menerus tidak enak, kan? (hlm. 92)
  4. Kita tidak ingin berpisah dengan cara yang tidak menyenangkan terhadap orang yang tidak akan kita temui lagi. (hlm. 92)
  5. Meskipun sudah dewasa, boleh kok punya sisi imut. (hlm. 168)
  6. Mungkin itu juga merupakan pintu masuk komunikasi. (hlm. 245)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Mana ada orang yang menyukai dokter gigi. (hlm. 15)
  2. Mungkin ada kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan di depan orang-orang. (hlm. 27)
  3. Kecemburuan bisa memunculkan kekuatan aneh. (hlm. 34)
  4. Mungkinkah dia dicintai sampai terkekang? (hlm. 37)
  5. Jangan mengusik singa yang tidur. (hlm. 49)
  6. Jangan dipikikan terlalu serius. (hlm. 135)
  7. Sibuk kerja sih boleh, tapi tidak baik loh kalau sampai tidak memedulikan pacar. (hlm. 153)
  8. Kalau tidak tahu, jadi terasa lebih menyenangkan. (hlm. 194)
  9. Ada kenyataan yang lebih menyeramkan daripada yang kau bayangkan. (hlm. 194)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cinderella Teeth

Penulis                                 : Sakaki Tsukasa

Penerjemah                       : Nurul Maulidia

Penyunting                         : Nyi Blo

Proofreader                       : Dini Novita Sari

Ilustrasi isi                           : @teguhra

Design cover                      : Bambang ‘Bambi’ Gunawan

Penerbit                              : Haru

Terbit                                    : Oktober 2015

Tebal                                     : 272 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7742-63-5

img_20161227_123214

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s