REVIEW Sabtu Bersama Bapak

img_20170114_110254

“Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.” (hlm. 217)

CAKRA. Menapak kariernya menjadi Deputy of Director (DD) berkat prestasi kerja yang konsisten selama delapan tahun dalam divisi micro finance . performanya cukup mengesankan sehingga ketika deputi terakhir meninggal karena memakan petai beracun dari klien, Director dari divisi ini dan bahkan Managing Director dari bank ini tidak melihat kandidat lain yang pantas selain Cakra. Dia adalah satu dari dua bankir POD Bank yang berhasil menduduki posisi ini sebelum berumur 30.

Bagi Cakra, ini adalah kesempatan untuk membuktikan ke semua orang bahwa dirinya tidak hanya pantas menjadi Deputy Director, tapi memiliki cukup kapasitas untuk menduduki posisi director suatu saat nanti. Tapi tetap saja, berlaku hukum alam. Dalam dunia kerja, di setiap kantor di muka bumi ini, akan selalu ada satu petinggi di kantor yang sangat berprestasi dan ironisnya belum punya istri. Cakra adalah salah satu di antara mereka.

“Pagi, Pak Cakra.”

“Pagi, Wati.”

“Udah sarapan, Pak?”

“Udah, Wati.”

“Udah punya pacar, Pak?”

“Diam kamu, Wati.”

“Pagi, Pak.”

“Pagi. Firman.”

“Pak, mau ngingetin dua hal aja. Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting.”

“Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?”

“Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo.”

“Enyah kamu.” (hlm. 43)

Sudah menjomblo 13 tahun, berapa tekanan batin yang disimpan di hati si jomblo? Cakra ini representasi para jomblo kualitas nomer satu di muka bumi ini. Di saat yang jomblo santai menjalani hidup, justru orang di sekitar yang sibuk dengan kejombloannya. Saya juga bisa merasakan apa yang dialami Cakra, karena umur kita nggak jauh beda, hehehe… Bedanya jika Cakra sering dibully para anak buahnya di kantor, saya juga sering banget diisengin murid di sekolah dengan pertanyaan seputaran jodoh. Meski saya bukan satu-satunya yang masih jomblo di sekolah, tapi hanya saya yang paling sering diledikin mereka. Seperti halnya Cakra karena dekat dengan anak buahnya, saya pun karena saking dekatnya dengan para murid x))

Nggak hanya mendapat terpaan pertanyaan seputaran jodoh dari lingkungan kerja, tapi juga rentetan percomblangan dari sanak saudara, termasuk orangtua sendiri, begitu juga yang dialami Cakra dalam buku ini, wwkwk… x))

Di halaman 14 disebutkan terminologi ilmiah untuk proses menyakitkan yang dialami seorang jomblo saat berkumpul dengan sanak saudara. Siksaan tersebut berlangsung dengan berbagai tingkatan sakit hati, yang dikemas dalam beberapa pertanyaan oleh berbagai anggota keluarga besar seperti; kapan menikah? Apakah sudah punya pacar? Kenapa belum punya pacar? Dsb #PukPukCakra #TossAmaCakra

“Kamu, kerjaan udah bagus. Rumah udah punya. Tapi punya kamar, dijadiin ruang game gini. Gak usah anak atau istri, pacar aja belum punya. Kalau kamu punya anak dan ngeliat dia kayak gini, menurut kamu, kamu bakal ngerasa apa?”

“Mam…sebenarnya ada kok, alasan kenapa Saka sampai sekarang nggak nikah. Atau belum punya pacar. Saka membuktikan kepada diri sendiri dulu. Bahwa Saka siap lahir batin untuk jadi suami. Makanya ngejar karier dulu. Belajar agama dulu. Nabung dulu. Kalau Saka udah pede ama diri sendiri, Saka akan pede sama perempuan.”(hlm. 17)

Aih, kok Cakra ini pemikirannya sama banget kayak saya. Ada beberapa hal alasan seseorang yang belum menikah, bukan perkara belum laku, tapi belum mau. #TossLagiAmaCakra

img_20170114_120548

SATYA. Berbeda dengan adiknya, Cakra dengan statusnya yang jomblo, lain halnya dengan kakaknya ini. Satya memiliki atribut yang tidak dimiliki banyak orang. Pintar, ganteng, dan mematahkan hati banyak wanita. Begitu pula dengan kariernya yang cemerlang, istrinya pun cantik menawan. Paket lengkap kan? Tinggal jauh dari orangtua, dengan tiga anak, gaji yang tinggi dan istri yang mandiri harusnya Satya bisa mengatakan jika hidupnya sempurna seperti impiannya, tanpa celah. Tapi kesempurnaannya justru menakutkan bagi anak-anak dan istrinya.

“Dia bukan kamu. Dan saya juga bukan kamu!” (hlm. 25)

“Rumah kurang rapi karena ya, namanya juga ada tiga anak. Ryan tidak dapat menjawab kamu karena pertama, sensor visualnya lebih baik dari sensor audio. Kedua, dia takut sama kamu yang lagi bernada tinggi. Saking takutnya, dia takut salah. Saking takutnya, dia beneran jadi salah. Dan terakhir, masakan saya selalu salah.” (hlm. 27)

Dia juga memaksa dirinya tumbuh menjadi anak yang cadas. Benar-benar cadas. Bapaknya meninggal saat dia berumur sembilan tahun. Dia tahu, bahwa sebelum dirinya beranjak remaja, dia sudah menjadi nomor satu dalam keluarga. Jika dia lembek, dia takut ibu dan adiknya terinjak-injak. Metode problem solving-nya adalah berkelahi. Salahnya, sifat ini terbawa sampai dia sendiri berkeluarga. Dan dia baru sadar mungkin dia menjadi sosok yang menyeramkan bagi ketiga anaknya.

Saat itu, Satya baru sadar. Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah mereka tidak dapat menggantinya.

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya, menjadi panutan adalah tugas orangtua untuk semua anak. (hlm. 106)

img_20170114_110415

Meski Cakra dan Satya ini kakak adik, kehidupan mereka sangatlah berbeda. Yang satu hidupnya lurus kayak jalan tol, yang satunya lewat jalan biasa dan lama sampai ke tujuan. Tapi sama-sama berliku. Sesuai dengan judulnya, dalam buku ini kita bisa membayangkan bagaimana Cakra dan Satya sedari kecil bapak sudah meninggal, tapi video bapak yang selalu mereka tonton setiap sabtu mengiringi perjalanan hidup mereka, seolah bapak ikut berperan bahkan berpengaruh besar dalam perjalanan hidup pilihan mereka.

Lewat video yang direkam oleh bapak, anak-anak banyak mengambil hikmah kehidupan yang bisa didapat. Meskipun penulisnya menyelipkan banyak sekali seputaran pelajaran hidup, nggak terkesan menggurui. Khas penulisnya disetiap tulisannya, selalu ada kalimat-kalimat epik yang bikin kita nggak hanya terharu, tapi juga bikin mesam-mesem bacanya, terutama dari sisi Cakra.

IBU ITJE. Jadi inget almarhumah mama. Kebetulan sakitnya sama seperti yang dialami Ibu Itje dalam buku ini. Mama juga tipikal perempuan tangguh, nggak mau ngerepotin orang lain saat sakit. Jika Cakra dan Satya nggak tahu penyakit yang dialami ibu mereka, begitu halnya dengan mama yang saat dulu sakit nggak seperti kelihatan sakit agar anak-anaknya nggak beban. Suka banget lah ama tokoh Ibu Itje, tokoh Bapak Gunawan juga suka.

Lewat tokoh bapak, setiap videonya menyelipkan banyak pesan-pesan sederhana tapi bisa diterapkan di kehidupan anak-anaknya kelak, terutama untuk urusan dalam membina rumah tangga. Beberapa diantaranya:

  1. Kewajiban suami adalah siap lahir dan batin. Ketika seorang laki-laki menikahi perempuan, artinya meminta perempuan ini untuk percaya dengan sang laki-laki. Percaya untuk memindahkan bakti sang perempuan, yang tadinya ke orangtua, menjadi kepada sang suaminya kelak.
  2. Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Bukan berarti seorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi harus punya rencana. Punya persiapan.
  3. Mengajarkan pada anak-anaknya tentang arti pentingnya meminta maaf ketika salah yang merupakan salah satu wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogan. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.
  4. Di halaman 223 tentang Cakra yang mempertanyakan sikap rekan kerjanya perihal urusan nafkah. Pemimpin keluarga macam apa yang minta istrinya percaya sama suami, tapi dia sendiri menyembunyikan nafkahnya. Saya jadi ingat, dulu bapake tiap gajian selalu menyerahkan semua amplop gajinya (masih utuh belum dibuka) ke mama. Karena memang tugas istrilah yang mengatur keuangan keluarga.

Nggak hanya para tokoh utama, tokoh-tokoh sampingannya juga suka. Apalagi para anak buah Cakra; Wati, Firman dan Bambang. Suka banget email berjamaah mereka, meski nyampah banget tapi malah yang bikin mesam-mesem tiap bacanya. Apalagi tiap usaha mereka untuk mengubah Cakra menjadi lebih baik dan menghapus image jomblo yang melekat di Cakra, bos mereka x)) Ayu dan Rissa juga suka, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai menantu dan juga calon menantu.

Pesan moral dari buku ini adalah bahwa harta yang paling berharga di dunia ini adalah keluarga. Penulis menyelipkan peran laki-laki nggak hanya untuk menjadi diri sendir, tapi menjadi suami dan juga menjadi ayah bagi anak-anaknya.

Jujur, saya menyesal baru membaca buku ini. Padahal sudah membelinya saat cetakan pertama. Waktu itu menunda-nunda karena bukunya malah dibaca duluan oleh orang lain dan berpindah tangan. Duh, nyesel nggak baca dari dulu! X))

img_20170114_110515

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Manusia ditempatkan di dunia untuk membuat dunia ini lebih baik untuk sebagian orang lain. (hlm. 30)
  2. Kembangkan bakat kalian, apa pun itu. Luangkan waktu untuk semua itu. Tapi satu saja, jangan lupa sama tiketnya. (hlm. 52)
  3. Ada orang yang berguna untuk diri sendiri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna untuk keluarganya. (hlm. 86)
  4. Harga dari diri kita, datang dari ahlak kita. (hlm. 120)
  5. Beberapa orang dapat mengubah dunia dengan mimpi mereka. (hlm. 150)
  6. Mimpi hanya baik jika kita melakukan planning untuk merealisasikan mimpi itu. (hlm. 150)
  7. Carilah pasangan yang dapat menjadi perhiasan dunia dan akhirat. (hlm. 180)
  8. Karena Tuhan pun melihat manusia dari yang benar dan salah. Dan yang benar itu yang baik. Bukan dari mana dia berasal. (hlm. 207)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Rumah sudah jadi, istrinya kapan? (hlm. 12)
  2. Hati dipakai main PS. Noh, cari pacar pakai hati. (hlm. 15)
  3. Setiap anak berhak cari dan dapat orang yang saling mencinta. Bukan karena mereka mengejar umur senja orangtua. (hlm. 16)
  4. Suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. (hlm. 17)
  5. Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari mana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang. (hlm. 36)
  6. Orangtua selalu ingin memberikan contoh kesuksesannya. Kebanyakan, malu untuk memberikan contoh kegagalan sendiri. (hlm. 49)
  7. Menjadi menantu dari seseorang yang jago masak itu ternyata berat. (hlm. 73)
  8. Ada orang yang merugikan orang lain. Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. (hlm. 86)
  9. Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. (hlm. 119)
  10. Dilepehin sama perempuan itu selalu lebih sakit daripada ditolak kerja. (hlm. 177)
  11. Ketika ditolak seseorang, itu pusing. Soalnya orang cari jodoh kan ngeliat the whole package. Agamanya, kelakuannya, values yang dipegang, pendidikannya, materilnya. Ketika ditolak, yang terasa adalah this whole package. (hlm. 178)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Sabtu Bersama Bapak

Penulis                                 : Adhitya Mulya

Penyunting                         : Resita Wahyu Febiratri

Proofreader                       : Yuke Ratna

Desainer sampul              : Jeffri Fernando

Penata letak                       : Landi A. Handwiko

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2014 (cetakan pertama)

Tebal                                     : 278 hlm.

ISBN                                      : 979-780-721-5

img_20170114_120654

Advertisements

4 thoughts on “REVIEW Sabtu Bersama Bapak

  1. Buku ini jadi salah satu buku favorit saya. Banyak banget pesan yang bisa dipraktikkan oleh saya sebagai pria. Pokoknya sangat menginspirasi sekali.

    1. Setuju banget, banyak pesan yang bisa diterapkan dari buku ini untuk kehidupan sehari-hari. Dan buku ini sebelumnya beberapa kali dipinjem, rata-rata temen adik yang cowok-cowok ;’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s