REVIEW Love in Montreal

img_20170113_155644

Nasib manusia memang berbeda-beda, bagi sepasang kembar sekalipun. Takdir hidup mereka tidak sama. (hlm. 198)

MAGHALI TIFANA SAFRI. Lulusan sekolah fashion di Jakarta, kota tempat tinggalnya yang merupakan cabang dari jurusan fashion di La Mode College. Ya, dia sudah lulus diploma. Lalu membuka usaha butik yang memajang rancangannya. Sudah berjalan empat tahun dan cukup sukses. Membuatnya diundang dan ikut serta dalam pertunjukkan beberapa fashion di beberapa negara. Kemudian dia melamar beasiswa karena ingin lebih memperdalam ilmu fashion sekaligus menambah wawawan dan pengalaman.

“Aku sangat terkesan dengan CV dan contoh-contoh pakaian rancanganmu yang kamu kirimkan ke sini. Aku menyimpannya. Bisa kita manfaatkan jika nanti kita mengadakan fashion show di sini. Aku tertarik dengan konsep modest wear dalam rancangan –rancanganmu, yang memadukan bahan-bahan modern dengan kain tradisional. Itulah sebabnya kami menerimamu belajar di sini selama satu tahun. Beasiswa ini memang khusus kami berikan bukan untuk perancang pemula.” (hlm. 13)

img_20170113_151055

KAI SANGATTA REEVES. Tampan dan berperawakan tinggi menjadi modal utama baginya untuk menjadi model. Tapi Kai bukan model biasa. Kai juga seorang dokter, ini justru pekerjaan utamanya. Dia paling paham bagaimana cara mengatasi orang sakit. Dia juga seorang sukarelawan. Masih belum lengkap, dia juga lihai memanjakan lidah dengan masakannya. Granny sangat menyayanginya. Sempurna bukan? Hanya satu, Kai tidak beragama. Mungkin itulah masalah yang membuatnya ada satu bagian di jiwanya yang kosong.

“Apa kekurangannya, Granny?”

“Kesepian. Itulah kekurangannya. Kalau kau bisa membuat hidupnya lebih penuh warna, kau akan jadi istimewa buatnya, Lili.” (hlm. 76)

img_20170113_160319

Kai seorang model. Bukankah Maghali tidak pernah bisa memercayakan model laki-laki? Manusia yang hanya mengandalkan keindahan fisik? Tapi, bagaimana ini jika Kai bukan sekedar model biasa? Yang mampu membuat hati Maghali kembang-kembis jika berdekatan dengannya?

Ini adalah buku ketiga yang ditulis Mbak Arumi E. untuk serial Around  the World With Love yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. sebelumnya ada Love in Sydney dan Love in Adelaide. Dari semua penulis di serial ini, Mbak Arumi satu-satunya penulis yang paling konsisten menuliskan jalan tokoh utamanya nyambung satu sama lain, dari buku satu sampai buku ketiga.

Masih seperti serial Around  the World With Love sebelumnya, novel ini juga memuat selipan pengetahuan tentang Islam tanpa terkesan menggurui. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Perihal hijab. Maghali konsisten mengenakan hijab meski di negeri dengan masyarakat yang muslimnya minoritas.
  2. Makanan halal. Maghali juga konsisten untuk tetap memilih makanan halal. Beruntungnya dia mendapatkan perhatian soal urusan makanan dari orang-orang baru disekitarnya, dan mau memahaminya.
  3. Modest fashion. Atau bisa juga disebut modest wear. Sekarang ini banyak sekali fashion designer Indonesia yang khusus merancang hijab melebarkan sayapnya ke mancanegara dan tak lupa menyelipkan kain tradisional lokal. Sebut saja Dian Pelangi yang namanya kian naik daun. Begitu juga dengan Maghali di buku ini, dia ingin menunjukkan bahwa dengan pakaian serba tertutup bukan berarti kuno, bisa modis juga bisa kok.
  4. Pandangan Maghali untuk tidak terikat komitmen dengan lawan jenis yang jelas-jelas bukan muhrimnya. Lagipula Maghali merasa belum menemukan orang yang tepat.
  5. Maghali tetap menjalankan puasa yang merupakan kewajiban umat Muslim saat Ramadhan datang. Dan tidak mengganggu aktivitasnya yang padat.
  6. Begitu juga dengan lebaran di negeri seberang yang artinya tidak seramai di Indonesia. Maghali merayakannya secara suka cita meski sederhana dengan mengundang beberapa temannya, itu pun sudah membuatnya bahagia.
  7. Sebagai umat muslim, tidak membeda-bedakan dalam berteman. Maghali berteman dengan Kai yang memilih tidak memiliki agama. Maghali juga berteman, bahkan menolong Isabelle yang terlibat skandal cinta sejenis.
  8. Ini yang paling penting, menunjukkan bahwa Islam tidak sama dengan teroris. Mewujudkannya dengan perbuatan bahwa muslim adalah cinta damai, yang nantinya dapat melunturkan islamphobia yang dialami warga Eropa, seperti buku ini. Maghali meski sederhana, berusaha membuktikannya.

“Aku percaya, dengan tetap bersikap baik, suatu saat mereka sadar, Islam yang sebenarnya membawa damai dan kebaikan. Teroris itu kriminal, nggak ada hubungannya dengan agama.” (hlm. 19)

img_20170113_151146

Membaca kisah Maghali dalam buku ini, sekilas teringat Elenaor yang juga di tulis Mbak Arumi. Tokoh utamanya sama-sama menggeluti bidang fashion, dan mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri selama setahun. Meski begitu, permasalahan yang dialami mereka berbeda.

Suka sekali ama intensitas hubungan antara Kai dan Maghali. Banyak adegan yang memperlihatkan betapa meltingnya Maghali jika di hadapan Kai. Duh, yang baca jadi ikut-ikutan melting juga, ketularan Maghali x))

img_20170113_160255

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Suami istri memang punya hak istimewa satu sama lain. (hlm. 27)
  2. Apa pun yang kamu rasakan, jujurlah pada perasaanmu. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan keterpaksaan. (hlm. 75)
  3. Hidup ini sesungguhnya indah, andaikan semua orang sebahagia ini, bebas dari rasa benci dan saling curiga, meluapkan rasa ingin berbagi kasih. (hlm. 103)
  4. Kamu bebas mengembangkan kariermu menjadi apa saja. (hlm. 177)
  5. Berbuat baik bisa di mana saja. Di mana pun pasti akan ada orang-orang yang membutuhkan bantuan sukarelawan.(hlm. 223)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Generasi tua punya hak untu memilih cara hidup yang paling nyaman dibuatnya. (hlm. 8)
  2. Untuk menjadi pribadi yang bahagia, tidak harus memiliki suami dan anak. (hlm. 12)
  3. Perempuan mana yang tak akan meleleh jika dihadapannya berdiri sosok laki-laki tinggi tegap, tampan, cerdas, dan ahli memasak? (hlm. 56)
  4. Tidak ada yang melarangku makan daging apa pun. Tuhan pun tidak melarangnya. (hlm. 57)
  5. Cinta tak seharusnya salah arah. (hlm. 62)
  6. Bagaimana bisa dua gadis dengan fisik nyaris sempurna saling menyukai? (hlm. 66)
  7. Seenak-enaknya di negeri orang, tetap lebih menyenangkan di negeri sendiri. (hlm. 85)
  8. Lain kali berhati-hatilah. Jangan pergi malam-malam sendirian. (hlm. 101)
  9. Apa salahnya punya ibu sakit jiwa? Itu bukan kesalahan. Itu kekurangan yang harusnya mendapat simpati kita. (hlm. 135)
  10. Kamu bukan model, nggak perlu menahan lapar berlebihan. Kamu butuh banyak sumber energi. (hlm. 154)
  11. Jangan terlalu lama berhubungan dekat dengan seorang laki-laki tanpa ada kejelasan. (hlm. 202)
  12. Kalau nggak ada dokter yang mau dengan sukarela ditugaskan di pedalaman, siapa yang akan mengobati mereka saat mereka sakit? (hlm. 216)
  13. Beranikah kamu bilang, menyukaiku juga tanpa ada keragu-raguan? (hlm. 224)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Love in Montreal

Penulis                                 : Arumi E.

Editor                                    : Donna Widjajanto

Desain sampul                   : Orkha Creative

Desain isi                             : Nur Wulan

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 228 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-3460-8

img_20170113_160850

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s