REVIEW Wish: Sexual Harassement

img_20170110_124914

“Beberapa manusia yang terlahir di dunia ini memang ditakdirkan memiliki kelebihan dibanding manusia lainnya, kan?” (hlm. 68)

IGO CASANOVA. 16 tahun, tapi memiliki tinggi memjulang sekitar 180 cm. postur tubuhnya ideal, tapi penampilannya membuat orang enggan meliriknya. Rambutnya berwarna merah agak gondrong dan berantakan. Beukan karena diwarnai, rambutnya memang sudah berwarna seperti itu sejak lahir, mungkin karena kekurangan gizi. Wajahnya kusam dan agak berminyak karena sering tidak mandi.

Meski begitu, Igo bukan seperti anak biasa pada umumnya. Dia memiliki kemampuan ESP. sebelumnya saya pernah membaca tulisan Mbak Windry yang membahas pelajar dengan kemampuan seperti ini dalam buku Touche dan Touche Alchemist.

MASHITA PRASETYA. Memiliki tinggi sekitar 160 cm dan bertubuh athletis. Rambutnya yang agak ikal, hitam dan panjang sepinggang selalu dikuncir satu mirip buntut kuda. Dia adalah sahabat baik Igo, mereka pun belajar di sekolah yang sama. Shita inib sebenarnya cantik; kulitnya putih, bibirnya merah merekah, hidungnya mancung, matanya bulat dan bulu matanya pun lentik.

Shita adalah juara pertama O2SN Karate Kumite tingkat SMP, bisa gawat kalau tinju yang dilayangkannya pada orang yang mengganggunya, seperti Igo yang sering jahil terhadapnya.

Selain mereka, ada banyak sekali tokoh lainnya yang muncul dalam buku ini. Penulisnya menjabarkan satu persatu. Ada yang pintar membobol komputer, ada yang memiliki pesona dengan ketampannya, dan masih banyak lagi.

Setelah terpesona dengan Dilatasi Waktu, di buku ini penulisnya kembali memikat pembaca dengan beragam pengetahuan yang bisa kita dapatkan. Ada selipan pengetahuan yang bisa kita dapatkan dalam buku ini:

  1. ESP (Extra Sensory Perception), semacam penerimaan oleh indra khusus. Juga bisa diartikan sebagai sensor informasi yang diterima oleh individu melebihi dari lima panca indra yang ada seperti manusia pada umumnya. Kemampuan ini dapat menyediakan informasi dalam bentuk waktu saat ini, masa lalu dan masa depan. Kemampuan panca indra yang dimiliki individu yang memiliki ESP biasanya bernilai lebih, orang-orang ini bisa merasakan, mendengar dan melihat yang tidak bisa dilakukan manusia pada umumnya. Lewat buku ini, kriteria seseorang yang memiliki kemampuan tersebut lewat tokoh Igo. Karena saya memiliki beberapa keluarga yang juga memiliki ‘bakat’ seperti ini, saya tidak begitu kaget dengan kemampuan Igo. Tapi bedanya, biasanya orang-orang yang memiliki ‘bakat’ seperti ini jarang mengumbar ‘kemampuannya’, apalagi dengan orang yang tidak dikenal. Mereka ini meski bisa melihat, mendengar dan merasakan dengan kemampuan yang berbeda, biasanya harus ‘menguras tenaga’ dan menimbulkan rasa lebih yang lebih, jadi nggak sembarangan menggunakan ‘bakat’ tersebut. Berbeda halnya dengan Igo di buku ini yang lumayan ‘sembarangan’ menggunakan bakatnya.
  2. Aphasia yang merupakan suatu keadaan di mana kehilangan kemampuan berbahasa yang telah dipelajari sebelumnya sebagai akibat dari kerusakan otak. Kemampuan berbahasa mencakup berbicara, menulis, mengarang bahkan membaca. Hal ini dialami oleh Wulan. Dia tidak terlahir bisu, tapi bisu karena suatu trauma yang pernah dihadapinya.

Sama halnya seperti Dilatasi Waktu, buku ini juga ala-ala detetif. Oya, menurut penulisnya buku ini merupakan trilogy, jadi amsih akan berlanjut ke buku berikutnya tentu dengan kasus yang berbeda 😉

Ada adegan epic antara Wulan ama Igo di halaman 121-122, sewaktu mereka mengerjakan ujian bukannya menjawab soal-soal yang diberikan, malah maen telepat-telepatian seperti ini:

Kamu sudah selesai?

Belum, Igo sepertinya sudah selesai ya? Padahal soalnya kan susah-susah, kamu pintar ya

Lebi susah menjawab soal di hatimu..

La, punya peta tidak?

Punya sih, tapi buat apa?

Aku perlu sekali, soalnya aku lagi tersesat di hatimu.. (hlm. 122)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Berani sekali kamu masih memprovokasi orang-orang bermain judi. (hlm. 15)
  2. Semua informasi di facebook bisa dipalsukan sesukanya. (hlm. 28)
  3. Sebaiknya jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja. (hlm. 30)
  4. Emas tak akan berkarat meski dalam kubangan lumpur. (hlm. 31)
  5. Apa mungkin seorang pembunuh mengajak ibu korban ke TKP? (hlm. 67)
  6. Jangan takut, katakan saja. (hlm. 81)
  7. Apa sih malam-malam begini bertamu ke rumah orang? (hlm. 97)
  8. Masa orang sakit makanannya nasi bungkus? (hlm. 101)
  9. Kalau udah kenal dari kecil sama sekali tidak ada yang membuat penasaran, bagaimana bisa tertarik? (hlm. 125)
  10. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. (hlm. 144)
  11. Satu-satunya cara paling ampuh untuk berkenalan dengan cewek adalah berkenalan secara langsung, jika kamu ingin mendapatkan nomornya, mintalah kepada orangnya. (hlm. 153)
  12. Cewek itu suka dengan cowok yang jantan, cowok yang jujur dan percaya diri. (hlm. 153)
  13. Kalau kamu berbicara dengan cewek kamu harus menatap matanya. (hlm. 154)
  14. Cewek tidak akan menolak cowok yang bersikap sopan. (hlm. 156)

Keterangan buku:

Judul                            : Wish: Sexual Harassement

Penulis                         : Rachma Wahyu

Editor                          : Ananda Nizma

Layout                         : Lov S’tar

Cover                           : Rafferty

Penerbit                      : Rafferty Publishing House

Terbit                          : 2016

Tebal                           : 164 hlm.

ISBN                             : 978 602 74908 19

Advertisements

One thought on “REVIEW Wish: Sexual Harassement

  1. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW Who am I + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s