REVIEW A Shoulder to Cry On

a-shoulder-to-cry-on

Kita semua akan hidup bahagia. (hlm. 310)

DAMAR ADI WIJAYA. Banyak hal yang terjadi setelah perceraian orangtuanya. Perceraian yang hampir membuat kehidupan dia dan adiknya berantakan, dan membuat Damar dengan sisa harga diri dan kenekatannya membawa Danu ke Jakarta. Mereka tinggal di kamar kos yang sempit, memulai kehidupan baru di Jakarta.

Sebelum mendapat pekerjaan yang layak dan sesuai dengan tingkat pendidikannya, Damar rela melakukan pekerjaan kasar, seperti pekerja bangunan, sopir taksir, sampai buruh kasar di pabrik baja untuk membayar uang sekolah Danu dan mencukupi biaya hidup mereka. Dari tinggal di kosan sempit sampai tinggal di rumah nyaman dengan fasilitas lengkap, Damar tak henti bekerja keras demi kehidupan mereka. Perjuangan hidup yang membuat Danu begitu mengagumi dan menghormati Damar sebagai kakak dan panutannya. Hingga Danu mendikte dirinya agar menjadi seseorang yang membanggakan untuk Damar. Seperti ia bangga memiliki Damar sebagai kakaknya.

“Bagus kalau keputusan kamu seperti itu. Kakak senang kamu mengerti alasan yang membuat kakak meminta kamu untuk bicara di sini. Kakak sama Danu hanya tidak mau kamu terlalu keras terhadap diri sendiri.”

“Jangan khawatir, An. Kami pasti akan selalu bantu selama kamu masih bersedia menerimanya. Kamu sudah kakak anggap sebagai orang yang harus kakak jaga dan kakak sayangi.” (hlm. 166)

DANU ADI WIJAYA. Empat tahun lalu, pertama kali menginjak kaki ke Jakarta, Danu datang bersama kakak laki-lakinya. Kedatangan Danu ke Jakarta selepas perceraian orangtuanya. Ia lebih memilih pindah dan ikut kakaknya, ketimbang selalu menjadi objek lempar tanggung jawab keduanya orangtuanya yang seakan enggan terbebani oleh anak-anak mereka. Entah apa yang ada dalam pikiran dua orang dewasa itu, yang mengaku dulunya menikah atas dasar cinta.

Awalnya Danu sempat khawatir dengan kehidupan barunya. Jakarta jelas berbeda dengan Bandung, tempat tinggalnya dulu. Kekhawatiran tidak dapat menyesuaikan diri sempat dirasakannya. Keterasingan begitu terasa di sekitar lingkungan barunya. Dan Anka-lah orang pertama yang begitu baik dan ramah menyapanya.

Di tengah upaya Danu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, Anka selalu membantu. Membantunya dalam segala hal yang dirasa Danu sulit dipahami orang baru sepertinya. Seiring berjalannya waktu, pertemanan mereka yang sudah terjalin sejak mereka duduk di kelas IX, berubah menjadi persahabatan. Tidak ada yang lebih tahu soal Anka selain Danu, begitu pula sebaliknya. Sampai-sampai mereka tahu kapan salah satu dari mereka sedang naksir seseorang, atau kapan salah satu dari mereka patah hati karena seseorang.

“Di sini gue nggak akan jadi orang yang sok ngerti apa yang lo rasain. Gue tahu cuma lo sendiri yang bener-bener ngerti apa yang lo rasain. Tapi selain ngerti perasaan lo sendiri, cobalah buat ngerti perasaan orang-orang di sekitar lo, orang-orang yang peduli sama lo, An..”

“Kenapa An? Kalau mau nangis, nangis aja. Nggak perlu ditahan. Lo bisa nangis di depan gue karena itu alasan gue ada di sini. Untuk jadi sandaran lo, bantuin lo bangkit lagi setelahnya.” (hlm. 41)

ANKA PUTRI RENGGANA. Sejak kecil, Anka memang bermimpi memiliki kisah cinta seperti kisah cinta kedua orangtuanya. Sejak kecil ia sangat senang ketika sebelum tidur ibunya bercerita tentang kisah cinta ibu dan ayahnya dulu, menggantikan dongeng tentang pangeran dan putri raja. Bagi Anka kisah cinta kedua orangtuanya jauh lebih romantis dan cerita cinta negeri dongen mana pun.

Anka terkadang bingung, terlalu banyak orang yang menyalartikan kedekatannya dengan Danu. Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa kedekatannya dengan Danu murni persahabatan yang tidak mungkin dengan begitu gegabah dicampur dengan rasa yang akan merusak persahabatan itu sendiri. Karena sebenarnya, Anka tidak berani kehilangan sahabat seperti Danu.

Dengan tiga tokoh utama, tiga kepribadian dan tiga masalah. Setiap tokoh memiliki kehidupan masing-masing yang merepresentasikan permasalahan yang dialami orang dewasa dan remaja. Danu yang harus bekerja keras menghidupi adiknya, Danu yang memendam perasaan kepada Anka, dan Anka yang harus berjuang keras menghadapi kenyataan hidup. Dari sekian tokoh yang ada, meski Damar bisa dikatakan tidak sempurna bahkan memiliki banyak kekurangan, tapi justru bikin memikat. Wajar saja jika banyak perempuan yang mendekat.

Pesan moral dari buku ini adalah belajar dari masa lalu, belajar memaafkan, dan belajar memahami perasaan orang lain 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Nggak ada salahnya kan, ngerjain tugas lebih awal? (hlm. 47)
  2. Jangan pernah nunda pekerjaan. (hlm. 47)
  3. Kenapa harus malu? Semua orang pernah melewati masa-masa sulit, itu sangat manusiawi. (hlm. 121)
  4. Walaupun yang baru kita alami hal yang terburuk yang berani dibayangkan, hidup terus berjalan dan seakan enggan memberi jeda meski sebentar. (hlm. 163)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Lama-lama betis lo bisa segede talas Bogor kalo tiap hari naik sepeda! (hlm. 9)
  2. Namanya juga baru jadian, jelas aja lagi lengket-lengketnya. (hlm. 15)
  3. Cewek kalo udah ngasih coklat Valentine sama cowok, terus cokelatnya dipitain segala, udah jelas tuh cewek ada rasa. (hlm. 17)
  4. Kehilangan orang yang dicintai benar-benar mimpi buruk. Mimpi yang membuat siapa pun menjerit ketakutan saat terbangun. (hlm. 35)
  5. Terima aja, dapet hadiah kan nggak mesti pas ultah tahun doang. (hlm. 76)
  6. Hidup memang tidak sempurna, ada saja celah di dalamnya, bahkan dalam hidup yang selama ini dianggap berjalan sempurna. (hlm. 79)
  7. Bilang lapar aja susah. (hlm. 145)

Keterangan Buku:

Judul                     : A Shoulder to Cry On

Penulis                 : Ria N. Badaria

Desain sampul   : Marcel A. W.

Editor                    : Raya Fitrah

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : September 2015 (Cetakan Kedua)

Tebal                     : 312 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-2160-8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s