REVIEW Antara Surabaya Solo

img_20170115_215744

Bukankah semua manusia yang hidup di dunia ini, sudah ditakdirkan berpasang-pasangan? (hlm. 18)

BRAMANTYO NUGROHO. Umur empat puluh tahun. Bekerja sebagai Regional Sales Manager untuk wilayah Jawa Timur dan sekitarnya pada sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang farmasi. Status bujangan, dalam artian belum pernah menikah dan tidak punya niat untuk menikah. Meskipun status masih bujangan, tapi dia sudah cukup berpengalaman kalau soal hubungan dengan perempuan.

Kebiasaan main perempuan sudah dilakukannya ketika berumur dua puluhtahunan, saat masih duduk di semester lima fakultas ekonomi di sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di Surabaya. Dalam hal mengingat perempuan, dia memang payah. Karena tak satu pun dari sekian banyak perempuan yang pernah bersamanya, tak bisa ia ingat wajahnya, apalagi namanya. Terlalu banyak perempuan. Dia sendiri juga tidak peduli pada nama-nama mereka.

Bram menjalin hubungan yang rata-rata singkat. Paling lama satu sampai tiga bulan. Dia tak mau repot mengingat satu per satu nama mereka. Yang penting buatnya adalah servis yang sesuai dengan harga yang harus dibayarnya. Seperti hukum jual beli dalam perdagangan, antara produsen dan konsumen harus sama-sama mendapat keuntungan. Juga kepuasan. Bisa juga dibilang semacam hubungan simbiosis mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan. Mereka butuh uang dan Bram butuh kenikmatan.

“Oh, soal itu. Aku memang belum ingin dan mungkin…. nggak ingin menikah untuk selamanya…”

“Lho, kenapa Pak? Pak Bram pernah patah hati atau disakiti perempuan? Sudahlah Pak, yang lalu biarlah lalu!”

“Apa, Tok? Patah hati? Justru terbalik, Tok! Akulah yang sering bikin perempuan patah hati karena pengin kunikahi!”

“Oh, mungkin justru itu yang bikin Pak Bram jadi seret. Mungkin ada salah satu perempuan yang sakit hati, kemudian pakai cara tidak wajar untuk menutup jalan jodoh, Pak. Waduh, kalau begini kita harus cari orang pinter, Pak. Biar dibukain lagi jalan jodohnya. Biar nanti Pak Bram bisa enteng jodoh dan segera menikah.”

“Ngapain cari orang pinter? Aku kan juga pinter, Tok! Masak kamu lupa sama kemampuan bosmu sendiri. Aku ini tergolong pinter banget, bahkan bisa dibilang cukup ahli sekaligus mahir dalam masalah beginian. Kamu tahu sendiri, sudah berapa perempuan yang jatuh ke pelukanku selama ini.” (hlm. 17)

Bram yang sudah berikrar tidak akan menikah, tiba-tiba saja jatuh cinta dengan seorang gadis yang merupakan penumpang bus yang juga dinaikinya antara Surabaya – Solo.

Zaman kuliah, dulu sering naik bus. Kadang tanpa disadari, saya sering mengamati para penumpang bus dan printilan yang melengkapi bus selama perjalanan, mulai dari pengamen sampai para penjual asongan segala macam jajanan mulai dari tisu sampai tahu. Favorit saya selain membeli permen jahe bungkusan, ada satu lagi yang menarik perhatian. Ada seorang bapak penjual majalah (biasanya bekas). Sekilas memang tidak ada yang istimewa dengan beliau, apalagi terkadang majalahnya bukan terbitan yang baru. Yang bikin unik adalah si bapak hapal banget isi majalah yang dijualnya, jadi sangat jelas jika beliau pasti sudah membaca majalah-majalah tersebut lebih dulu. Nah, yang paling epik adalah pas beliau dengan semangat empat lima menyusuri lorong tengah bus sambil bercerita (bisa disebut orasi saking semangatnya) tentang perploncoan salah satu kampus. Yang bikin epik itu adalah tepat di belakang saya adanya segerombolan mahasiswa dengan seragam lengkapnya yang merupakan mahasiswa di kampus yang sedang bapak ceritakan itu x))

Nah, begitu juga dengan perjalanan Bram yang mendapatkan tantangan dari teman sekaligus rivalnya, Romi. Bram ingin membuktikan bahwa dia sebagai laki-laki sejati bisa memenangkan tantangan itu. Ternyata takdir berkata lain, perjalanan Surabaya – Solo menggunakan bus ekonomi tak semudah yang dibayangkan. Banyak halangan rintangan yang harus dilaluinya. Bisa banget penulisnya membuat sepertiga cerita dari buku ini berisi pengalaman-pengalaman selama di bus. Mulai dari gangguan asap rokok, aneka macam jualan yang dijajakan silih berganti, pengamen yang unik, sampe hal yang paling dihindari; muntah. Pokoknya sesuai judulnya, buku ini merepresentasikan perjalanan selama di bus. Berhubung bulan lalu saya baru saja melakukan perjalanan dari Sumatera melewati Jawa menuju Bali, sangat merasakan betapa epiknya perjuangan Bram untuk tetap bertahan di bus demi taruhan yang dihadapinya untuk melawan Romi x)) #OmTeloletOm

Pesan moral dari buku ini adalah bahwa apa yang kita tanam adalah apa yang kita tuai. Begitu juga perihal cinta, mungkin mulut berkata tidak, tapi hati tidak bisa dibohongi. Jatuh cinta tidak bisa direncanakan, sekalipun itu di bus ekonomi seperti yang dialami Bram x))

Khas penulisnya, Mbak Netty selalu menyelipkan guyonan-guyonan mulai dari yang bikin mesam-mesem sampai bikin kemekel x))

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bukankah setiap manusia berhak memilih jalan hidupnya masing-masing? (hlm. 5)
  2. Setiap orang pasti akan bertemu dengan jodohnya dan menikah di kemudian hari. (hlm. 18)
  3. Menikah bukan hanya perkara dua orang saling suka terus langsung pergi ke penghulu untuk mengucap janji pernikahan. Tanggung jawabnya terlalu berat. Mengikat. Sekaligus menjerat. (hlm. 60)
  4. Setelah kemalangan pasti ada keberuntungan. Setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan. Karena memang begitulah hidup ini selalu berputar, seperti pergantian antara siang dan malam. (hlm. 107)
  5. Bukankah semua kejadian ini bisa terjadi atas ijin-Nya? (hlm. 137)
  6. Bukankah kesempatan kadang tidak datang dua kali? (hlm. 138)
  7. Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk mengejar cinta. (hlm. 202)
  8. Kalau kamu memang masih suka, nikah saja sama dia. (hlm. 233)
  9. Biarlah waktu yang menjawabnya. (hlm. 242)
  10. Biarlah cinta memilih jalannya. (hlm. 329)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Untuk apa mengingat sebuah nama? (hlm. 5)
  2. Sesama buaya dilarang saling mendahului. (hlm. 10)
  3. Inilah untungnya pergi sama pacar. Kalau ada apa-apa begini sudah nggak usah bingung-bingung lagi. Cinta memang berguna untuk bayar ongkos juga. (hlm. 38)
  4. Jadi orang jangan pelit-pelit. Sekali-kali bagi rejeki dong sama orang kecil. (hlm. 55)
  5. Zaman memang sudah edan. Sudah tua. Sudah mau kiamat. Orang selingkuh sudah nggak dianggap dosa. (hlm. 69)
  6. Apakah sebuah kemalangan dan rasa sakit fisik selalu membangkitkan romantisme pada diri seseorang? (hlm. 85)
  7. Kamu sih, dari dulu lebih suka pacaran sama buku daripada cowok. (hlm. 116)
  8. Cantik? Tidak? Baik juga bukan. (hlm. 139)
  9. Cinta memang terkadang menjadi sebuah misteri yang tak pernah bisa dimengerti. Datang dan pergi sesuka hati. Menyiksa jiwa dengan rindu. Menggoda hati dengan keindahan khayalan. (hlm. 219)
  10. Jangan terlalu serius begitu. Nanti cepat tua. Cepet mati. (hlm. 253)
  11. Siapa sih perempuan yang suka melihat pacarnya dipeluk perempuan lain? (hlm. 263)
  12. Penyesalan memang tak pernah menyelesaikan persoalan. Ketika waktu sudah tidak bisa lagi diputar kembali ke awal. Kecemasan itu terasa semakin mencengkram batin. (hlm. 276)
  13. Nggak semudah itu. Yang namanya perasaan apa yang bisa dioper-operkan begitu saja. (hlm. 291)
  14. Dulu, mengapa resiko ini tak pernah kita pikirkan saat mengumbar kesenangan? (hlm. 302)
  15. Adakah yang lebih pahit dari cinta bertepuk sebelah tangan? (hlm. 333)
  16. Semua orang juga bakal mati. (hlm. 335)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Antara Surabaya Solo

Penulis                                 : Netty Virgiantini

Editor                                    : Innerchild Studio Bandung

Layout                                  :  Innerchild Studio Bandung

Desain cover                      : Innerchild Studio Bandung

Penerbit                              : NetNot

Terbit                                    : Desember 2016

Tebal                                     : 363 hlm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s