REVIEW Room

img_20170123_104744

“Orang tidak selalu ingin bersama orang.” (hlm. 330)

Adalah Jack yang saat itu berumur lima tahun. Seumur hidupnya, dia hanya beraktivitas dalam sebuah ruangan bersama Ma, orang yang melahirkannya. Dia tidak tahu dunia luar. Hanya dalam sebuah ruangan tanpa jendela. Ada kaca di atap, tapi tinggi, tak terjangkau. Selama ini dia merasa bahagia, berteman dengan Lemari, Selimut, Kursi Goyang bahkan Sendok Meleleh. Tapi tidak bagi Ma, dia dikurung di ruangan itu sejak umur sembilan belas tahun, sampai tujuh tahun lamanya, bahkan melahirkan Jack.

Jack sebagai tokoh utama dalam buku. Narasi yang ditulis diceritakan apik oleh penulisnya. Bahasa yang sederhana. Sesuai dengan kepolosan anak berumur lima tahun. Semuanya hampir berpusat pada Jack dan Kamar yang telah menjadi bagian dalam hidupnya.

“Jadi, Jack, kita tidak boleh mencoba menyakitinya lagi. Ketika dia datang kembali malam berikutnya, katanya, nomornya satu, tidak aka nada yang bisa memaksanya mengatakan nomornya. Dan nomor dua, jika aku mencoba melakukan hal seperti itu lagi, dia akan pergi dan aku akan semakin lapar dan lapar hingga aku mati.” (hlm. 123)

img_20170123_104630

Bersama Ma, setiap hari melakukan sebuah rutinitas yang berbeda setiap harinya. Misalnya, Kamis merupakan Hari Mencuci, sedangkan Sabtu adalah Hari Keramas. Jack melihat kehidupan orang luar hanya dari televise di Kamar tersebut. Acara favoritnya adalah acara anak-anak. Dia suka menonton Spongebob ataupun Alice in Wonderland, tapi yang paling menjadi favoritnya adalah Dora. Dia menginginkan tas dan peta seperti yang dimiliki Dora. Ma sangat baik mengasuh Jack, ketika acara iklan, Ma akan mengecilkan volumenya, agar Jack tidak terkontaminasi oleh rayuan iklan. Jack sangat menginginkan permen lollipop, tapi permen lollipop akan memberinya rasa trauma suatu hari nanti.

Selain itu, Ma juga rajin membacakan buku untuknya. Meski hanya ada beberapa buku di Kamar itu, Ma tidak pernah bosan memberi cerita untuk Jack.

Jack merasa aman dan nyaman dengan segala yang dilalui bersama Ma. Namun Ma menginginkan lebih, mereka harus keluar dari Kamar. Dan mereka pun menyusun rencana yang sangat matang.

Salah satu bagian yang paling nyesek adalah saat Ma dan Jack merencanakan untuk mengeluarkan Jack keluar Kamar. Ma berpura-pura histeris bahwa Jack meninggal, dan minta dikuburkan jauh dari daerah Kamar. Jack digulung di karpet dan dibawa Nick Tua untuk dikuburkan. Sesuai rencana, Jack akan melompat dari pick up yang dikendarai Nick Tua. Itulah pertama kalinya Jack melihat dunia.

img_20170123_104655

“Ini sebenarnya sulit. Ketika dunia kita adalah hanyalah tiga meter persegi, segalanya lebih mudah untuk dikendalikan. Banyak hal yang membuat Jack panic sekarang. Tapi aku benci cara media menyebutnya aneh, atau seorang pemuda idiot, atau liar, kata itu…” (hlm. 296)

Ada banyak hal-hal yang mengharukan dalam buku ini, bahkan mengaduk emosi. Kita jadi tahu apa rasanya menjadi anak umur lima tahun yang terisolasi dari dunia luar sejak lahir. Apalagi kedatangan mereka di lingkungan keluarga Ma tidak seperti yang diharapkan Ma. Bahkan Kakek Jack merasa lebih baik jika Ma seperti dulu, tanpa adanya Jackn :’) #PerihBanget

Buku ini terinspirasi dari kisah nyata, Elisabeth Fitzi. Jika Ma dalam buku ini diceritakan terpenjara dalam Kamar selama tujuh tahun, Elisabeth justru lebih lama; 24 tahun dan sampai melahirkan tujuh anak! Dan yang lebih mengenaskan adalah selama puluhan tahun itu tinggal di ruang bawah tanah rumah keluarga mereka dan tidak ada satupun yang mengetahuinya. Ya ampun, kisah nyata ini bikin merinding. Bisa baca kisahnay di SINI.

Sedangkan kisah Ma dan Jack dalam buku ini telah diangkat ke layar lebar tahun lalu. Pas nonton trailernya, jadi penasaran ama film versi lengkapnya! >.<

Pokoknya buku ini wajib baca banget, nyesel jadi timbunan dari tahun lalu, harusnya baca tahun lalu pas filmnya tayang! :’)

img_20170123_104720

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ini disebut kekuatan pikiran. Kalau kita tidak memikirkannya, tidak akan terasa. (hlm. 10)
  2. Dunia lebih mendadak daripada yang kita sukai. (hlm. 241)
  3. Kita percaya kebebasan. (hlm. 331)
  4. Di dunia ini kau boleh mengatakan apa pun yang kau inginkan. (hlm. 351)
  5. Semua ada waktunya. (hlm. 370)
  6. Setiap orang harus memiliki ruang sendiri. (hlm. 383)
  7. Orang-orang di dunia terus-menerus bergerak. (hlm. 387)
  8. Kau harus berubah untuk bertahan hidup. (hlm. 396)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Orang-orang Koran sering salah paham. (hlm. 270)
  2. Tidak ada yang tampak benar-benar berbeda. (hlm. 290)
  3. Orang-orang terlalu menghabiskan banyak waktu di perguruan tinggi. (hlm. 370)
  4. Seorang asing adalah bukan teman. (hlm. 372)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Room

Penulis                                 : Emma Donoghue

Penerjemah                       : Rina Wulandari

Penyunting                         : Jia Effendie

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Agustus 2016

Tebal                                     : 420 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-136-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s