REVIEW Remember Amsterdam

img_20170126_065621

Kau memang membuat segalanya menjadi rumit, tapi itu yang membuatku sadar kau pantas diperjuangkan. (hlm. 366)

AMY MAYCOTT. Selain menjadi asisten kurator, dia adalah seorang pelukis. Dengan cukup melihat mata saja, dia bisa melukis perasaan seseorang.

Seharusnya Amy jujur pada ayahnya kalau ia tak setuju atas keputusan ibunya yang ingin Amy menikah dengan Ton van der Deen. Karena ibunya dan orangtua Ton berkarib, perjodohan Amy dan Ton tentu saja menjadi ide yang bagus. Namun di mata Amy, hal itu jelas sebuah kekeliruan. Dan salahnya, Amy terlanjur menerimanya tanpa perlawanan.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar bagi Amy menjalin hubungan dengan Ton van der Deen. Ia tidak bisa berpura-pura mencintai laki-laki itu selamanya. Amy hanya pelukis, bukan aktris layar lebar.

Tentang Ton, ia model asal Belanda yang menetap di London. Tampan dan mempesona. Tetapi ada hal lain tentang Ton yang mengganggu pikiran Amy selama ini. Sikap posesif dan abusive laki-laki itu membuatnya ketakutan, mungkin karena usianya beberapa tahun lebih muda dari Amy, entahlah.

“Maaf, Mama. Aku tidak bisa mengikuti keinginanmu kali ini. Pernikahan bukan sesuatu yang kurencanakan dalam waktu dekat. Kalaupun aku berubah pikiran, kurasa aku yang paling berhak memilih pasanganku.” (hlm. 23)

LIAM SPARKS. Dia penyanyi Amerika, salah satu yang paling terkenal saat ini. Dia legenda. Dan popular di kalangan remaja, terutama gadis-gadis. Musiknya beraliran folk dengan sentuhan komposisi pop. Gitar dan violin, sering ditentengnya kemana-mana. Kadang ketenarannya itu justru membuatnya tidak nyaman saat di keramaian. Belum lagi sang mantan yang sudah tunangan dengan orang lain masih mengejarnya. Dia lelah, lelah dengan kehidupan percintaannya, dan lelah dengan popularitasnya. Cara paling ampuh untuk menangkal dua kelelahan tersebut harus ada perempuan yang bisa menjadi pasangannya. Dan Amy yang baru dikenalnya di bandara, adalah perempuan yang tepat untuk menjadi pilihannya saat itu.

“Aku hanya berusaha menjadi orang yang menyenangkan saat menghibur pendengarku. Mereka senang, aku lebih senang. Tapi ketika mereka kecewa dengan musikku, aku akan menyalahkan diriku. (hlm. 119)

Dua orang yang awalnya tidak saling kenal ini akan melewati hari-hari bersama tanpa pernah mereka bayangkan sebelumnya. Masing-masing punya alasan tersendiri untuk memutuskan bersama. Amy menghindari pacar hasil perjodohan orangtua mereka, sedangkan Liam menghindari mantan pacarnya yang terus menerus mengharapkannya. Semacam simbiosis mutualisme.

“Lihatlah dirimu, Ange. Apalah arti kesuksesanmu selama ini jika kau tidak bisa membahagiakan anakmu sendiri? Jika kau tidak membagi kebahagiaanmu bersama Amy, apakah itu tidak berarti sesuatu untukmu? (hlm. 160)

Selain membahas hubungan antara Amy dan Liam, yang juga menarik dibahas adalah hubungan antara Amy dan Ange. Ange ini representasi orangtua yang terlalu memaksakan kehendak. Anak seakan robot yang harus menjalankan segala perintah. Ange lupa, bahwa semua anak di dunia ini memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan Amy.

Poin lebih dari buku ini terletak pada settingnya. Ini adalah buku kedua dari Mbak Vira Safitri yang say abaca. Sebelumnya ada New York After the Rain. Di buku ini, penulisnya kembali menghadirkan suasana luar negeri. Bukan sekedar tempelan, tapi kita serasa diajak menelusuri suasana Amsterdam. Salah satunya adalah saat Amy dan Liam berkunjung ke Museum Amstelkring. Puncak bangunan serbaguna yang dikenal sebagai Ons’ Lieve Heer op Solder itu membentuk unsur segitiga dengan beragam detail. Bagian mukanya berwarna kecoklatan dan datar, tanpa penonjolan yang berarti. Seperti pada gambar ini:

amsterdam-2 amsterdam-1

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Dengarkan kata hatimu. Lakukanlah apa yang menurutmu tepat. (hlm. 14)
  2. Hidup terlalu singkat untuk menyimpan semua perasaan yang tak bisa kauungkapkan. (hlm. 18)
  3. Kalau kau mencintaiku, kau akan merindukanku kapan saja. (hlm. 69)
  4. Cinta itu abadi, tapi bisa berpindah ke hati yang lebih menghargai. (hlm. 78)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan bilang kau sudah merindukanku. (hlm. 11)
  2. Kau lebih tahu tentang hidupmu dibandingkan ibumu. (hlm. 14)
  3. Apa bepergian harus selalu memiliki tujuan? (hlm. 52)
  4. Jangan coba-coba membohongiku. (hlm. 71)
  5. Jangan coba-coba melakukan hal yang ada di pikiranmu saat ini. (hlm. 71)
  6. Menatap wanita lain saat sedang berjalan dengan seorang wanita adalah perbuatan tercela. (hlm. 72)
  7. Memangnya apa yang kau lakukan setelah menemuinya? Memohon-mohon cintanya lagi? (hlm. 78)
  8. Jangan menjadi egois. Kau akan kehilangan segalanya bila terus seperti ini. (hlm. 79)
  9. Kurasa kau sudah tahu risiko membaca dalam kegelapan. (hlm. 95)
  10. Apa meminta pendapat kepada laki-laki selalu sesulit ini? (hlm. 123)
  11. Kau tidak perlu gugup. Semua orang akan melalui masa-masa seperti ini. (hlm. 134)
  12. Kau masih mendesakku menikah meski aku menolak? (hlm. 135)
  13. Kau membiarkanku menikahi laki-laki yang tidak kucintai? (hlm. 135)
  14. Kau hanya terlalu percaya diri. (hlm. 163)
  15. Hubungan kita sudah berakhir, apa kau sudah lupa? (hlm. 197)
  16. Katakana sesuatu. Jangan biarkan hubungan ini berakhir begitu saja. (hlm. 231)
  17. Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? (hlm. 315)
  18. Jangan berpikir terlalu jauh. (hlm. 350)

Keterangan:

Judul                                     : Remember Amsterdam

Penulis                                 : Vira Safitri

Editor                                    : Astheria Melliza

Perancang sampul           : Marcel A. W.

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 368 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-23336-7

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW Remember Amsterdam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s