Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film

skripsi-ayat-ayat-cinta

Sekarang ini, banyak sekali novel yang diangkat ke layar lebar. Banyak film dengan jumlah penonton dengan angka fantastis karena diadaptasi dari novel yang memang best seller. Sebut saja ada Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, 5 cm, Koala Kumal, Negeri Van Oranje dan masih banyak lagi. Yang terbaru untuk tahun ini ada The Chocolate Chance yang ditulis oleh Yoana Dianika.

Yang paling ditunggu novel diangkat ke layar lebar tahun ini adalah Critical Eleven-nya Kak Ika Natassa. Dan karya yang paling langganan di angkat ke layar lebar adalah tulisan-tulisan Mbak Asma Nadia, Adhitya Mulya, Winna Effendie dan Ilana Tan. Ada juga yang memuaskan, ada juga yang mengecewakan. Salah satunya yang mengecewakan pembacanya adalah Sunshine Becomes You, karya Ilana Tan yang cukup fenomenal ketika diangkat ke layar lebar. Sedangkan Refrain karya Winna Effendie, versi filmnya cukup mirip dengan versi bukunya. Yang paling saya suka adalah buku-buku Aditya Mulya yang diangkat ke layar lebar, mungkin karena penulisnya juga terjun langsung ke proses pembuatan filmnya, jadi cita rasa versi film tidak meninggalkan ruh dari versi bukunya. Karya beliau yang paling anyar diangkat ke layar lebar adalah Sabtu Bersama Bapak. Meski, begitu, film Jomblo masih paling favorit sampai sekarang, para pemainnya pas banget meranin tokoh-tokoh versi bukunya; Christian Sugiono yang playboy, Agus Ringgo yang tengil, ataupun Rizki Hanggono yang mukanya polos-polos kaku gitu.

Ayat-ayat Cinta, yang merupakan objek penelitian saya zaman skripsi, filmnya berbeda dengan novel. Dan menurut saya, versi filmnya dari segi penokohan lebih realistis. Contohnya Fahri, jika di buku dideskripsikan nyaris sempurna, di versi film lebih dibuat manusiawi; bisa salah, bisa sakit juga bisa kalah. Kemudian, jika di buku masalah selesai ketika Aisha menyetujui jika Fahri berpoligami dengan Maria yang saat itu kritis, sebaliknya di film dibahas permasalahan yang justru mulai timbul ketika mereka harus hidup bertiga, menunjukkan bahwa poligami tidak semudah yang dibayangkan, dan lebih realistis sih. meskipun begitu, banyak juga kekurangan versi film terutama dalam segi setting yang memang bukan syuting di Mesir, tapi justru di India, melenceng cukup jauh dari versi bukunya. Faktor penghambat versi filmnya itu, salah satunya adalah masalah perizinan tempat dan juga keterbatasan dana.

Butuh kurun waktu kurang lebih dua tahun untuk menyelesaikan skripsi ini. Banyak yang meragukan atas keputusan yang saya ambil untuk membahas film ini. Apalagi dengan kemampuan saya tentang film sama sekali nol. Tetapi berkat film inilah saya membuka mata lebar-lebar tentang film Indonesia, terutama film adaptasi novel yang selalu dikritik.

Baca tulisan Mas Hanung di blognya http://hanungbramantyo.multiply.com/journal tentang proses pembuatan film Ayat-ayat Cinta yang berliku, juga cerita Gina yang musti bongkar pasang skenario sampai berkali-kali, dan kru-krunya yang bekerja keras, kita bisa melihat betapa susahnya mewujudkan sebuah film yang bisa disuguhkan untuk penonton. Dan itu tidak mudah.

Setelah saya mencoba menyelesaikan skripsi dan objek penelitiannya adalah film, barulah saya mulai (sangat) menyukai film walaupun belum melampui kegilaan seperti membaca. Di tahun 2008, tahun di saat mengerjakan skripsi adalah tahun saat saya banyak menonton di bioskop. Itung-itung buat referensi, malu donk skripsinya tentang film kok buta tentang film!? Apa kata dunia?!? X))

Pengadaptasian dari novel ke film biasanya dikarenakan novel tersebut sudah terkenal sehingga masyarakat pada umumnya sudah tidak asing lagi terhadap cerita tersebut yang akhirnya mendukung aspek komersial. Selain itu ada juga yang menitikberatkan pada ide cerita yang dianggap bagus. Sementara untuk penulis skenario, proses adaptasi cukup membantu dalam menggagas sebuah cerita yang akan disajikan ke dalam sebuah film. Dalam hal ini sastra dijadikan sumber dan bertitik tolak dari karya tersebut.

Menurut Dwight V Swain dan Joye R Swain yang dikutip Maroeli Simbolon, ada tiga cara utama untuk mengadaptasi karya sastra ke film, yaitu mengikuti buku, mengambil konflik-konflik penting, dan membuat cerita baru. Selanjutkan ia mengatakan bahwa dari ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah yang sering dilakukan. Pernyataan tersebut senada dengan pendapat Krevolin, seorang penulis skenario Hollywood dan pakar dari UCLA, bahwa ketika seorang penulis skenario mengadaptasi sebuah novel, maka ia tak mempunyai hutang terhadap karya asli. Tugas seorang penulis skenario ketika mengadaptasi suatu karya ke dalam skenario film bukanlah mempertahankan sebanyak mungkin kemiripan dengan cerita asli, tapi membuat pilihan terbaik dari materi untuk menghasilkan skenario sebaik mungkin. Dengan demikian penulis skenario berhak mengambil keputusan lain berdasarkan interpretasinya.

Hal tersebut bisa terjadi dalam menentukan tokoh utama. dalam film Shawshank Redemption misalnya, tokoh utama bukan Red seperti dalam novel, melainkan Andi. Sedangkan dalam film Shiloh terdapat tokoh Samantha yang dimunculkan dalam film tetapi tidak terdapat dalam novel. Selain itu, penulis skenario juga dapat menafsirkan ulang sejarah, seperti dalam film O, Brother, Where Art Thou? atau membubuhi fantasi sejarah seperti dalam film The Patriot.

Namun ketika film ditayangkan, sangat mungkin timbul rasa kecewa terhadap hasilnya, baik dari penulis karya yang diadaptasi maupun para pembaca karya tersebut. Timbulnya kekecewaan atau sebaliknya, akan menjadi hal yang sangat lumrah dalam proses adaptasi karena proses tersebut selalu menimbulkan suatu perubahan sebagai akibat dari perubahan media dan pemaknaan.

Ernest Hemingway, sering dikutip orang sebagai sastrawan Amerika yang sering kecewa apabila novel-novelnya difilmkan atau diangkat ke layar lebar. Pemenang hadiah nobel ini malahan bersedia membayar biaya yang dikeluarkan produser film, asalkan salah satu film hasil adaptasi novelnya tidak diedarkan.

Sementara itu penulis novel Indonesia yang kecewa terhadap proses tersebut adalah Motinggo Busye, sehingga ia terdorong untuk terjun ke dunia film. Begitu juga dengan Y.B. Mangunwijaya yang merasa kecewa dengan film Roro Mendut garapan Ami Priono.

Timbulnya kekecewaan tersebut diakibatkan oleh ketidakpuasan penonton terhadap film yang ditonton dengan cakrawala harapan yang hadir pada pembaca. Asrul Sani menegaskan bahwa seorang pembaca novel, mempunyai kebebasan semacam itu. Imajinasi penonton film sangat dibatasi oleh gambar-gambar film yang dihadirkan film, karena itu seringkali seorang penonton atau bahkan novelis merasa kecewa ketika melihat novel kesayangannya diangkat ke layar lebar. Penyebabnya adalah pengalaman-pengalaman individual yang berkesan bagi pembaca saat menikmati, tidak selalu dapat ditemukan dalam film hasil adaptasi suatu novel.

Demikian juga ketika suatu film di adaptasi ke dalam novel, tidak mungkin segala sesuatu yang ada di dalam film diceritakan kembali secara mendetail ke dalam novel. Untuk proses film ke novel, kapan-kapan saya ulas khusus juga yaaa… 😉

Berdasarakan gugatan yang kerap terjadi tersebut, Kloves menulis skenario Harry Potter dengan setia tanpa ada banyak perubahan, karena buku karya JK Rowling itu punya pembaca yang selain banyak, juga fanatik. Adanya perbedaan, sekecil apa pun, pasti akan mengandung gugatan. Jika Kloves tidak mempertimbangkan hal tersebut, pastilah akan menjatuhkan filmnya.

Setelah menonton film The Lord of the Rings yang diadaptasi dari novel Tolkien tahun 1954, Krevolin menyatakan bahwa The Lord of the Rings benar-benar adaptasi yang sempurna. Namun adaptasi tersebut bukan karena betul-betul mirip denga novel aslinya, melainkan karena sukses menangkap esensi, ruh, dan jiwa novel asli. Bukan melakukan transkripsi secara harfiah dan setia terhadap materi sumber, yang dalam banyak hal mustahil untuk dilakukan, melainkan menangkap kebenaran dari karya asli dan membawanya ke layar lebar.

Menurut Hanung Bramantyo yang pernah menyutradarai beberapa film yang diadaptasi dari novel, seperti Ayat-ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban, mengatakan bahwa film adalah bahasa visual sedangkan novel adalah bahasa tulis (teks). Teks mampu membimbing imajinasi kita secara bebas, sedangkan visual memberikan bentuk ‘nyata’. Teks juga mampu menggambarkan secara detail suasana hati, sudut lokasi secara berurutan berikut kiasan-kiasannya, juga memaparkan latar belakang persoalan secara berkelindan, meloncat ke masa silam atau mendadak menjamah masa depan seolah tanpa ada beban. Tapi visual, dengan sifatnya yang nyata, bukan berarti tidak mampu menggambarkan detail persoalan, suasana hati dan latar belakang, akan tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Kita bisa melihat teks yang dibuat Ayu Utami dalam Saman. Lompatan bahasa antara orang pertama, kedua dan ketiga dengan bebas Ayu mainkan yang mana belum tentu memiliki kekuatan sama ketika itu divisualkan. Pendeknya, membaca novel dengan menonton film adalah dua pengalaman yang berbeda. (Sumber: http://hanungbramantyo.multiply.com)

Sedangkan dengan Hanung Bramantyo, Riri Reza yang pernah menyutradarai film Laskar Pelangi juga mengatakan novel dan film adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama seni bertutur dengan kata, sedangkan yang kedua adalah bertutur dengan gambar dan bunyi. (Sumber: Tempo, edisi 22-28 September 2008)

Masih membandingkan novel dengan film? Seperti membandingkan makan mie rebus dengan mie goreng. Sama-sama mie, tapi memiliki cita rasa yang berbeda 😉

Advertisements

12 thoughts on “Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film

  1. aaaaa suka pembahasannya. Lagi jatuh cinta juga sm Indonesian Movie. tp cerita dati novel ke film, engga brani expect banyak soalnya suka beda dan bbrp ada yg kecewa juga sih. thanks for sharing this

    1. Karena kalo membaca, setiap orang punya imajinasi masing-masing. A ama B tentu beda imajinasinya pas membayangkan sebuah cerita meski dari buku yang sama, beda halnya sama nonton film, kita musti terpaku ama imajinasi sang sutradara dan juga banyak kru yang terlibat 😀

  2. Selain baca, akhir-akhir ini aku juga suka nonton, Kak Luckty. Nggak ngebanding-bandingin sih, karena emang sensasinya berbeda. Saling melengkapi. Aku gak bisa baca buku sambil makan. Tapi kalo nonton sambil makan sih hayuuuk, bisa nambah nafsu makan juga *efek makan sendirian di kost hihii 😀

    1. Aku juga beberapa bulan ini ketagihan (lagi) nonton kayak zaman kuliah, apalagi pas zaman skripsi, saban hari nonton film, demi nggak jeblok pas bimbingan skripsi, wkwkwk… 😀

      Iya banget, novel ama film memang nggak bisa dibandingin, karena dua hal yang berbeda. Kayak dua mantan, tetap punya kenangan beda kan… #eh 😀

  3. Eh, berarti Luckty ini seangkatan atau malah jangan-jangan setahunan di bawah saya kalau melihat dari tahun penyusunan skripsinya. Selama ini malah manggil “mbak” segala. Hehehe..

    Biasanya saya selalu kecewa saat menonton versi adaptasi dari buku. Ada bebrapa sih yang saya akui, misalnya Sabtu Bersama Bapak dan Jomblo, memang feelnya masih dapet banget. Lucunya, bagi saya yang benar-benar ga suka dengan “Twilight”, versi adaptasi filmnya malahan lebih bagus.

    Sekarang jadinya saya akali, kalau memang saya tahu buku itu akan di angkat kelayar kaca dan kebetulan saya belum baca, maka saya akan menunda membacanya sampai setelah saya nonton filmya duluan. Lumayan efektif buat saya menikmati “Girl On A Train” kedua versi.

    1. Wkwkwk..aku masih unyu kok, nggak perlu dipanggil Mbak 😀

      Twilight aku nggak suka filmnya, apalagi bukunya. Kalo vampir-vampir gitu lebih suka The Vampire Diaries 😀

      Untuk Sabtu Bersama Bapak dan Jomblo feelnya masih dapet karena penulisnya juga terlibat di pembuatan filmnya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s