REVIEW Kabut di Bulan Madu

img_20170130_102908

Luka di badan seiring waktu dapat sembuh, tapi luka di hati oleh perkataan kasar, hanya waktu dan kerelaan yang kuasa menghapusnya. (hlm. 200)

ROBY. Tunangannya, Linda, selalu menemaninya dalam kondisi apa pun. Hanya Linda yang mampu menguatkan Roby supaya tetap tabah dan tegar. Roby susah move on, tapi harusnya Roby sadar, Linda kini telah tiada dan mungkin lebih baik mencari pengganti Linda.

ARIEL STALLONE. Nama Stallone adalah harapan orangtuanya supaya ia tumbuh menjadi sosok yang setia kepada Negara dan korps, layaknya sosok John Rambo yang dibintangi actor action berdarah Italia, Sylester Gardenzio Stallone atau Sylvester Stallone. Dia adalah polisi yang menangani kasus Roby.

HELENA. Sangat menggemari bahasa Jepang. Ia telah menyentuh level mahir uji kemampuan bahasa Jepang yang rutin diadakan setiap bulan Desember. Selain menyukai, sepertinya ia memnag berbakat, sehingga minat dan bakatnya saling melengkapi. Semenjak kecil, Helena ingin berkarier di bidang yang memanfaatkan potensi bahasa Jepang-nya. Impiannya itu sudah tercapai, yakni di dunia jurnalistik pada desk bahsa Jepang sebagai news anchor alias pewarta berita. Dalam keseharianya, Helena terbiasa mengenakan kalung emas yang bertuliskan inisial namanya., H. Sebagai bukti eksistensi diri, sebutnya. Jujur andai ditanya alasan mengapa dirinya memakai kalung berinisial H itu. Kalung itu bagai sahabat sejati dalam suka dan duka.

IHDINA SHIROTA. Perpaduan actor ganteng Jepang, Takeshi Kaneshiro, dengan mantan pesonel 1D, Zayn Malik. Mata Ihdina Shirota yang sipit tajam ala hawkeye menyerupai Takeshi Kaneshiro, hidung lebar dan kulit tanning seksi ala terjemur sinar matahari dirasa mirip Zayn Malik. Rupawan.

Ini adalah novel thriller, covernya pun mendukung. Tema yang diangkat pun menarik; pembunuhan dan balas dendam. Tapi sayangnya banyak percakapan yang malah mengandung humor, jadi merusak cita rasa thriller yang harusnya menjadi menu utama dalam buku ini. Meski buku ini ada penyuntingnya, penyusunan buku ini masih perlu banyak polesan sana-sini untuk mempercantik isinya.

img_20170130_103007

Ada banyak hal yang menggangu dalam buku ini beberapa diantaranya adalah:

  1. Dialog yang tidak pada tempatnya. Salah satunya adalah Mungkin maksudnya mau menyelipkan humor, tapi rasanya aneh banget percakapan antara polisi yang sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan dengan tersangka yang akan ditangkap. Seperti di halaman 9 saat Iptu Ariel menanyai korban dengan kalimat; “Jangan ada dusta di antara kita.” Atau di halaman 12 ketika Linda jatuh terjerembap ke lantai sambil bilang; “Sakitnya tuh di sini.” Begitu juga di halaman 62 dengan adanya kalimat; “Tahu apa? Tahu goreng, tahu isi atau tahu bacem?”, padahal ini tentang membahas kematian. Sama halnya di halaman 99 percakapan antara anak buah dengan atasan rasanya nggak pantas adanya kalimat “Mei apa? Maybe yes, maybe not?”
  2. Kalimat yang dipakai Iptu Ariel saat bercakap-cakap, mengganti kata ‘kamu’ menjadi ‘you’, kesannya kayak tentara londo lagi ngomong sama veteran Indonesia.
  3. Ketika Roby dipenjara, disebutkan jika Linda berlibur. Masak sih Linda nggak tahu jika Robby dipenjara, sementara saat Roby ditangkap adalah ketika bersembunyi bersama Linda.
  4. Ada ibu-ibu yang nyidam anaknya pengen kayak Iptu Ariel. Minta nama untuk anaknya kelak. Dikasih yang artinya Jangan Mau Lagi Narkoba. Entah kenapa kok geli aja dikasih nama yang ada kata-kata narkobanya walau maksudnya baik, kebayang nanti kalau anaknya besar apa nggak jadi bahan bully-an teman-temannya.
  5. Korban di kapal pesiar, hanya satu korban?
  6. Pertanyaan yang paling penting intinya adalah apa tujuan balas dendam yang dimaksud buku ini karena sebenarnya kalau dipikir tokoh Helena itu nggak salah, dia hanya diposisi menyelamatkan diri. Jika kita berada di posisinya, mungkin kita akan melakukan hal yang sama.
  7. Panggilan Roby untuk Linda dengan sebutan Adinda. Geli aja, ini kayak remaja tahun 90-an 😀
  8. Daftar isi yang isinya hanya BAB 1 – BAB 55. Jika nggak ada judul BAB, rasanya nggak perlu dicantumkan dengan membuat daftar isi yang memakan dua halaman. Begitu juga di ucapan terima kasih, rasanya nggak perlu juga dituliskan curcolan tentang penerbit G yang menolak naskah ini karena masalah genre, ini sepertinya nggak etis ditulis.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Hati-hati selalu. Jangan lupa menjaga kondisimu. (hlm. 30)
  2. Hokum pasti memberi keadilan bagi semua korban. (hlm. 60)
  3. Manusia hanya dapat berencana, tapi semuanya balik lagi pada di atas yang menentukan. (hlm. 70)
  4. Bukankah kepercayaan itu fondasi terpenting dalam membangun satu hubungan? (hlm. 84)
  5. Mencintai itu mengagumi dengan perasaan. Mengagumi itu mencintai dengan pikiran. (hlm. 248)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Kabut di Bulan Madu

Penulis                                 : Zainul DK

Penyunting                         : Nisaul Lauziah Safitri

Penata letak                       : Yuniar Retno Wulandari

Pendesain sampul           : Hanung Norenza Putra

Penerbit                              : Ellunar Publisher

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 249 hlm.

ISBN                                      : 978-602-0805-73-3

img_20170130_103142

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s